The Archon

The Archon
Dia Datang!



"Tolong pukul aku.... Apa benar itu Shenlong?!" Kata Bosman dengan getaran disekujur tubuhnya.


Seperti apa yang ia minta, Guren segera memukulnya dengan keras sampai membuat Bosman terjatuh.


"Kenapa kau memukul ku?!" Teriak Bosman kepada Guren sambil memegang pipi kanannya.


"Kau yang minta bukan?" Tanya heran Guren kepada Bosman.


"Kalian! Berhenti lah bercanda" Levi mengingatkan mereka.


Shenlong hanya diam dilangit sambil memperhatikan mereka, para pemburu yang mendongak keatas merasa takjub dan juga cemas dalam waktu bersamaan. Naga legenda yang hanya ada didongeng itu sekarang berada didepan mereka sebagai bos dungeon. Rossi pun mendekat kearah Rudy yang saat ini sedang menatap Shenlong dengan tersenyum.


"Mengapa kau tersenyum?" Tanya Rossi menatap Rudy.


"Tidak apa, aku hanya terkagum melihatnya"


"Apa kau tidak takut mati?"


"Sepertinya tidak"


Mendnegar demikian Rossi melihat kearah tangan Rudy, tangannya bergetar menahan rasa takut yang ia tutup-tutupi, "Dasar pembohong" Dalam benaknya Rossi mengatakan itu, "Tenang saja, kita akan baik-baik saja" Rossi mencoba untuk menenangkan Rudy.


"Yah... semoga" Rudy menoleh kearah Rossi terkejut akan maksud dibalik perkataan itu dan berangsung tersenyum kembali.


Dilain sisi para guild White Lotus berada disatu lingkaran berkumpul sambil menatap bos terakhir itu.


"Geraldo, terimakasih" Gai mengatakan hal yang amat membingungkan kepada Geraldo.


"Apa maksud mu dengan berterimakasih?" Ia tidak mengerti arti kata dibalik semua itu.


"Dasar kau bodoh!" Senyum Selica kepada Geraldo.


Geraldo masih tidak menangkap maksud dari teman-temannya itu, ia menatap satu persatu wajah mereka yang pernah berjuang bersama dirinya dan Rado diwaktu itu. Wajah yang tersenyum tulus tersirat diwajah mereka semua, beberapa saat kemudian ia berpikir keras akhirnya ia menyadari maksud dari perkataan Gai. Matanya mendadak berkaca-kaca dan mulutnya terbuka akibat kata yang tertahan.


"Tidak! Jangan mengatakan seperti itu... Kita akan berhasil, percaya lah.. disini.... disini ada pemburu top 10 bukan?"


Suaranya bergetar demi menangkal takdir tersebut, tetapi tanggapan dari mereka tetap memberkan senyuman tulus mereka kepada Geraldo. Para pemburu yang lain pun juga ikut terbawa suasana dan mulai pundung akan hal itu. Para Kapten hanya bisa menyaksikan kesedihan tersebut dengan rasa simpati yang mendalam.


"Geraldo... jika dipikirkan lagi, waktu terjadinya breakdown akan terjadi kurang lebih dalam satu hari lagi.. pergunakan itu untuk melarikan diri keluar bersama kapten Rudy, kami akan sebisa mungkin menahan bos tersebut" Gai sudah membulatkan tekadnya bersama yang lain.


"Tidak... kalau kalian tidak ada, aku tidak tau harus bagaimana?" Geraldo memaksa untuk menutup matanya karena kesedihan.


"Perjalanan kalian masih panjang, tidak perlu untuk mengorbankan diri.. aku dan Joon Sung akan mencoba mencari cara untuk mengeluarkan kalian semua" Kata Lucero berjalan kearah mereka.


"Setidaknya, jika kami gagal.. tolong bawa Aamber bersama kalian" Sambung Lucero sambil melihat Aamber yang digotong menggunakan jubah salah satu pemburu yang dibuat menyerupai tandu.


"Kapten Lucero.." Geraldo terenyuh dengan perkataan Lucero.


"Dia datang!" Peringatan dari Kirisaki setelah melihat pergerakan Shenlong.


Shenlong menggeliat diatas langit dan selalu bersembunyi dibalik asap yang diyakini sebagai awan. Awan itu tercipta dari salah satu kemampuan Shenlong. Dikarenakan tebalnya awan tersebut, awan itu mampu menutupi tubuh Shenlong yang besar.


"Kemana dia?!" Teriak Guren sudah bersiap dengan senjata miliknya.


Para pemburu yang memiliki kemampuan serangan jarak jauh, segera membidik kearah awan-awan yang ada kemungkinan Shenlong akan hadir disana.


"Aku tidak melihatnya.." Kata Julie membidik anak panahnya.


"Tetaplah bersabar... dia seorang bos yang memiliki strategi" Kata Watz sudah memposisikan lengannya untuk menyerang.


Kenny pun juga sudah siap dengan pistol andalanya, sedangkan para tank mengelilingi para damage dealer untuk segera sigap bila ada serangan datang. Mereka terlihat sangat tegang menunggu Shenlong menyerang, awan yang semulanya berwarna abu-abu berubah menjadi kehitaman dengan guntur yang menyinarinya serta kilat yang berkecamuk pada awan tersebut.


Para pemburu terlihat kebingungan dengan apa yang akan terjadi, tetapi karena kesigapan yang dimiliki Levi ia segera memperingati para pemburu terhadap apa yang akan terjadi.


"Semuanya menghindar cepat!" Teriak Levi segera.


Para pemburu segera menghindar setelah Levi memperingati mereka secara spontan. Levi mengambil langkah yang  tepat dan membuat keputusannya itu sampai menyelematkan mereka dari maut, sebuah semburan berwarna biru disertai kilat yang hebat jatuh ketanah dan membelah tempat mereka berkumpul sebelumnya. Tembakan yang berasal dari awan itu seperi laser besar yang sangat panas, para pemburu menoleh kearah tempat laser itu jatuh. Mereka terlihat sangat terkejut dan tidak menyangka kalau efek dari serangan itu akan sangat parah. Daratan disana sudah terbagi menjadi dua bagian dengan jurang yang memiliki celah selebar 10 meter sebagai pemisah daratan tersebut.


Raungan itu pun kembali terdengar dari balik awan yang tebal itu, Shenlong yang menggeliat sesekali memperlihatkan tubuh dan ekornya yang meliuk-liuk didalam awan tersebut layaknya ular dalam air.


"Bagaimana cara kita menyerang dia?!" Kata Geraldo menanyakan hal itu kepada para kapten.


"Ini sulit! dia terlalu tinggi!" Kata Kirisaki sambil menatap keatas.


Awan itu pun kembali berubah menjadi berwarna hitam dengan kilat disekitarnya. Kejadian yang tidak terduga setelah awan itu berubah kembali menjadi hitam, angin seperti berkecamuk tidak terkendali. Kota yang awalnya terbakar pun mulai padam akibat hujan yang mulai turun derasnya. Suara guntur yang menyambar dan cahaya kilat yang menyinari langit membuat atmosfer didalam dungeon itu berubah menjadi mencekam. Ditambah raungan Shenlong yang menakutkan dari balik awan membuat psikis mereka sedang dipermainkan.


Para pemburu yang jiwanya sudah kelelahan mulai menunjukan efek perubahan atmosfer ini, mereka seperti orang yang sudah kehilangan akal dengan meringkuk ketakutan sambil memegangi kepala mereka. Tubuh mereka menggigil ketakutan dan juga bergumam layaknya sedang ditakuti oleh sesuatu.


"Tolong aku... tolong aku, aku takut.. tolong singkirkan awan itu... Suara... Suara... apa ini?! Tolong!" Gumam ketakutan dari seorang pemburu mage sambil menutupi kupingnya.


Hal demikian mulai dilakukan oleh beberapa pemburu yang lain, para kapten dan beberapa dari mereka yang berhasil bertahan akibat serangan psikis itu seperti kebingungan dengan apa yang terjadi.


"Ada apa ini?! Suara?! Suara apa yang mereka maksud?!" tanya Lucero kebingungan.


"Levi?!" Rudy menoleh kearah Levi untuk mencari jawaban.


"Ini?! Apa kalian tidak mendengarnya?! Seperti ada suara bising yang mengganggu mereka!" Kata Levi sambil meletakan tangannya dibelakang telinga untuk mendengar kejelasan suara itu.


"Suara?! Aku tidak mendengar apapun!" Kata Kan sambil mengikuti apa yang Levi lakukan.


"Cepat tutupi mereka! Ini seperti suatu kemampuan dari bos tersebut!"


Setelah Levi menyarankan hal itu, para pemburu yang masih bertahan membantu mereka untuk menutupi telinga mereka dengan jubah ataupun dengan tangan mereka. Hal itu terlihat berhasil dengan kondisi para pemburu yang mulai membaik. Tetapi itu tidak berlangsung lama, mereka kembali seperti orang yang kehilangan akal dan berteriak-teriak layaknya orang yang sedang tersiksa.


"Ada apa ini?! Kenapa semakin menjadi?!" Tanya Joon Sung yang saat ini sedang menutup telinga salah satu pemburu.


"Akkhhh!!!!!" Teriak Geraldo dan beberapa orang lainnya yang mulai terkena gejala aneh itu.


Rudy mulai kebingungan bercampur dengan panik ditengah para pemburu yang terlihat kesakitan. Tanpa berfikir panjang ia segera membidik busurnya kearah atas untuk melakukan serangan. Anak panah pun ia lepaskan secara acak kearah awan tersebut. Anak panah milik Rudy yang melesat dengan cepat itu mampu meraih awan tersebut dan menghembuskannya hingga terpencar.


Hal yang sangat mengejutkan terlihat oleh mereka saat awan yang amat tebal itu mulai menghilang sebagian akibat panah Rudy. Kepala Shenlong yang besar itu sedang terbuka dan mengarah kepada mereka, ternyata Shenlong sedang mengeluarkan gelombang frekuensi yang mampu mengganggu otak manusia dengan skala besar. Bagi para pemburu yang sudah kelelahan maka efek gelombang itu sangat berpengaruh besar.


"Ha.. hah....!!" Bosman histeris melihat ukuran kepala Shenlong yang amat besar.


Setelah kedok dirinya diungkap oleh panah milik Rudy, Shenlong segera menutup mulutnya dan menghentikan gelombang frekuensi itu. Tetapi hal yang dilakukan oleh Shenlong adalah hal yang paling mematikan bagi mereka yang tidak mengetahui langkah Shenlong selanjutnya. Ia segera membuka mulutnya kembali dan mengganti gelombang tersebut menjadi sebuah konsentrasi api berwarna biru yang padat dan membuatnya seperti sebuah bola cahaya yang amat menyilaukan.


"Gawat! Semuanya menghindar! Dia akan-"


Sebelum Levi menyelesaikan kata-katanya, sebuah laser yang mampu membelah daratan itu kembali Shnelong kerahkan kepada para pemburu. Para pemburu yang masih mampu bermanuver dengan baik berhasil menghindari serangan tersebut. Tetapi tidak dengan mereka yang sudah terkapar akibat gelombang pertama dari Shenlong, mereka terkena serangan api biru tersebut dan menghilang begitu saja bersama munculnya sebuah jurang baru.


Aamber yang saat itu tidak sadarkan diri juga ikut tewas akibat serangan tersebut. Dunia telah kehilangan salah satu pemburu terhebat yang pernah ada. Mereka yang selamat mulai kewalahan dengan jumlah mereka yang disapu bersih setengahnya hanya dengan satu kali serangan saja. Julie terbatuk-batuk akibat asap yang ditimbulkan oleh serangan Shenlong, didepannya terdapat seorang pemburu yang tubuhnya sudah terpotong didekat jurang baru dengan mata yang terbuka lebar.


"Hiii" Sontak keterkejutannya melihat mayat didepannya.


Ia sangat syok melihat mayat dan juga para pemburu yang tersisa. Mereka semua terlihat sangat putusasa dan kelelahan, mata yang sudah tidak ada api semangat pun terpancar dari para pemburu. Julie tidak menyangka kalau keadaannya akan setragis ini. Pemburu wanita yang tersisa hanya bisa menangis ketakutan dan meringkuk sambil menutupi wajah mereka. Para kapten sudah kehabisan akal untuk mengalahkan sang bos dungeon tersebut.


Disaat Julie melamun, sebuah cahaya biru perlahan menyinari tubuhnya, "Julie!!!!!!!!" Teriak Watz dari kejauhan.


Julie pun menoleh kearah cahaya tersebut yang mana itu adalah serangan lanjutan dari Shenlong, ia hanya bisa terdiam dengan wajah yang syok karena serangan yang mengarah kepadanya. Sebuah kilasan balik mengenai dirinya dengan Rado pun mulai terputar kembali diingatannya. Sebuah cerita yang berkesan baginya seperti hadiah terindah selama ia menjalani hidup sebagai pemburu.


"Rado.. mungkin kita memang belum lama mengenal satu sama lain, tapi-" Raut wajah yang syoknya itu berubah menjadi senyuman tulus, "Mungkin ini akhirnya...." Ia mulai meneteskan air mata.


"Ah.. seandainya aku bisa melihat mu sekali lagi untuk terkahir kalinya" Dalam benak Julie berkata.


"Selamat Tinggal.." Julie menutup matanya sambil menunggu ajal.


Disaat serangan Shenlong hampir mengenai dirinya, Seorang pria dengan pakaian serba hitam menggunakan dua buah pedang muncul didepannya dan membelokan serangan Shenlong dengan mudah. Julie sangat terkejut dengan kehadiran pria tersebut secara tiba-tiba, ia sangat syok untuk kesekian kalinya tetapi dengan perasaan yang berbeda. Setelah ia membelokkan serangan tadi, pria itu segera menoleh kearah Julie dengan senyuman hangat.


"Hai.. kita bertemu lagi"


"Rado..." Tetesan air mata dari Julie pun berubah menjadi senyuman akan harapan.