
Dihutan kabut dimana Rado dan Rhea sedang menelusuri hutan tersebut demi mencari Devian dan yang lainnya. Kabut di hutan itu masih lebat hingga mengganggu penglihatan mereka. Suara semak yang mereka lewati sangat ramai karena gesekan tubuh mereka. Disaat mereka sedang menelusuri hutan tersebut, sebuah ledakan terjadi dan membuat mereka teralihkan oleh suara tersebut.
"Dimana suara itu?!" Tanya Rhea.
"Sepertinya dari arah sana!" Kata Rado lalu mereka mengikuti arah suara tersebut.
Arah suara itu berasa dari pistol milik Devian, ia saat ini sedang dikejar oleh puluhan tentara demigod.
"Hei mereka disini!" Teriak tentara demigod yang sedang mengejarnya.
Devian dan dua orang yang tersisa berlari menerjang hutan tersebut tanpa arah. Wajahnya yang terlihat khawatir terlukis diwajahnya saat ini. Dilain kesempatan ia menembakan pistolnya kearah belakang demi memperlambat lajut meraka. Setiap peluru yang di muntahkan oleh pistol Devian menghasilkan sebuah ledakan dan beberapa tentara demigod berhasil diperhambat.
"Kapten bagaimana mana ini?! Dimana tuan Rado?" Tanya bawahannya terlihat panik.
"Aku tidak tau keberadaan dia dimana... Tapi ku harap dia mendengar ledakan dari pistol ku..!" Kata Devian menjawab.
Tentara demigod yang mengejarnya semakin ramai, Devian dan yang lainnya hanya bisa melarikan diri tanpa bisa melawan sedikit pun. Dari arah belakang, salah satu tentara demigod memposisikan tombaknya untuk di lemparkan kearah mereka, beberapa saat ia membidikan tombak itu sambil berlari, demigod itu segera melemparkan tombak itu kearah mereka.
Tombak itu dilesatkan dengan cepat dan mengenai salah satu bawahan Devian.
"Akh!!!!!!" Teriaknya saat terkena tancapan tombak ditubuhnya.
Devian dan orang terakhir yang membawa pedang sampai menoleh kebelakang melihat keadaan orang tersebut.
"Sial! Cepat kita harus mempercepat laju kita!" Kata Devian mulai panik.
Mereka berdua terus berlari tanpa arah tujuan, para tentara demigod pun semakin dekat dan Devian pun mulai menembakan pistolnya kembali kearah belakang. Namun tembakan penghambatnya itu tidak membuahkan hasil yang signifikan, laju mereka tidak terhambat sedikit pun dan semakin mendekat.
"Kapten! Aku akan menahan mereka.!" Kata bawahanya.
"Jangan bodoh!" Kata Devian menoleh.
"Hiduplah!" Katanya lalu berbalik dan berlari kearah berlawanan.
"Kepar*t!" Kesal Devian menoleh kebelakang.
Devian segera beralih kembali kearah depan dan mencoba untuk melarikan diri dengan penuh penyesalan. Beberapa saat kemudian ia mendengar suara teriakan dari bawahannya yang mengorbankan diri. Ia menutup matanya karena tidak kuat mendengar teriakan penderitaan tersebut. Devian terus berlari dan berlari untuk lepas dari pengejaran tentara demigod.
Ia terus menembakan sebuah peluru ledakan untuk memberitahu posisinya kepada Rado dan Rhea sekaligus menghambat para demigod. Disaat pelariannya itu sebuah tombak pun dilesatkan kembali oleh mereka kepada Devian, tetapi Devian dapat mengantisipasinya dengan menghindari tombak tersebut. Ia terus berlari tanpa arah tujuan, dan berharap bertemu dengan Rado.
Pada akhirnya ia mendapatkan jalan buntu dimana setelah hutan - hutan itu habis, ia dihadapkan oleh tebing yang sangat tinggi dan membuat pelariannya terhenti. Devian berbalik arah lalu menodongkan kedua pistolnya kepada para demigod tersebut. Para demigod itu seiring waktu memenuhi jalan buntu tersebut dengan sebuah senyuman.
"Akhirnya tertangkap juga kau!" Kata salah satu tentara demigod.
Devian menempati posisi yang terdesak dengan dikelilingi oleh para tentara demigod, tidak ada jalan keluar yang dapat ia raih dan melawan lah satu - satunya cara untuk bertahan hidup meskipun dia tau kalau itu adalah hal yang sia - sia. Devian pun tersenyum sebelum menghadapi akhir hayatnya dan berkata dalam hati.
"Mungkin ini akan menjadi akhir bagi ku.." Katanya dalam hati.
"Setidaknya aku sudah berjuang membantu tuan Rado untuk pergi..." Sambungnya tersenyum.
Disisi lain para demigod sudah menyiapkan senjata mereka untuk membunuh Devian, Devian yang terbangun dari lamunannya pun mulai berteriak.
"Kemarilah kalian para Kepar*t!" Kata Devian meneguhkan hatinya.
Para tentara demigod pun mulai menyerang secara serentak, Devian mulai menembakan beberapa peluru dari pistolnya sambil berteriak. Beberapa Demigod berhasil di tumbangkan olehnya karena terkena tembakan yang akurat pada kepala mereka. Devian terus menerus menarik pelatuknya sampai amunisinya kosong, ia pun segera mencoba untuk melakukan isi ulang dengan tangan yang gemetar akibat kepanikan yang melanda, namun sialnya karena tangan gemetar membuat amunisinya terjatuh.
Disaat bersamaan tentara demigod pun mulai mendekat dan bersiap untuk menyerangnya, Devian yang terkejut hanya bisa menatap mereka dengan wajah yang pucat, akan tetapi ajalnya belum menjemput. Rado dan Rhea datang pada waktu yang tepat dan menolong Devian. Rhea segera menghantamkan kapaknya ketanah untuk membuat mereka menjauh dari Devian.
Disisi lain Rado yang mengudarakan demiclesnya pun membuat para demigod yang lain bergidik takut, Rado segera menarik katana panjangnya kearah belakang kanan hingga melewati kepalanya, Disaat ia mengayunkan katana tersebut, Rado menurunkan sedikit postus tubuhnya untuk menambah dorongan kekuatan saat mengayunkan katana tersebut.
Katana yang sudah di aliri force ungu miliknya pun mengeluarkan kilatan yang terang, saat Rado mengerahkan tebasan pertamanya pada katana tersebut. Sebuah sayatan dahsyat pun terjadi, skala yang dihasilkan dari tebasan katana tersebut melibas seluruh tentara demigod menjadi dua potongan tubuh, tidak sampai situ saja, lesatan dari tebasan force itu hingga memangkas hutan kabut dalam skala luas yang mana membuat kabut disekitar sana menghilang sejenak.
Devian dan Rhea yang melihat kemampuan dar Rado hingga membuka mulut mereka karena keterkejutan. Seluruh tentara demigod yang mengejar Devian berhasil dikalahkan, Rado pun mulai tidak merasakan sakit lagi dari tubuhnya karena berangsur pulih. Saat ini ia hanya merasakan sakit yang tidak terlalu parah seperti sebelumnya.
"Cepat kita harus mencari alat itu kembali!" Kata Rado menoleh kebelakang.
Mereka pun segera menelusuri hutan tersebut dengan bantuan alat deteksi pelacak portal. Disaat pencariannya itu, Rado dan Rhea melibas seluruh tentara demigod yang menghalangi mereka. Hari mulai malam, mereka terus mencari portal tersebut tanpa henti dihutan yang luas itu dan pada akhirnya dimalam puncak, alat detektor yang dipegang oleh Devian menunjukan indikasi penemuan dilayar detektornya.
"Tuan Rado! Aku menemukannya!" Lapor Devian.
"Bagus! Bawa kita kesana!" Kata Rado.
"Baik!" Jawab Devian.
Devian segera mengambil peran pembimbing untuk menuju portal tersebut, Rado dan Rhea saat ini berlari dibelakang Devian untuk mengikuti dirinya karena ia lah yang mengetahui letak dimana portal tersebut. Langkah demi langkah mereka menelusuri hutan tersebut dan pada akhirnya mereka menemukal alat tersebut. Portal yang tertanam didalam tanah mengeluarkan bola cahaya berwarna biru di atas tanah tersebut.
"Itu dia!" Kata Devian.
Mereka bertiga segera menghampiri bola cahaya tersebut dan tanpa berlama - lama Devian segera mengeluarkan alat pembuka portal dan mengaktifkan portal tersebut. Bola biru kecil itu mulai mengembang dan membuat sebuah lingkaran besar selayaknya sebuah portal. Mereka bertiga pun segera memasuki portal dan tersebut dan berpindah ke De Hoorn dalam sekejap.
Dimalam yang gelap itu wajah mereka bertiga dihiasi dengan warna kemerahan dan hawa panas yang amat sangat. Mereka bertiga segera terkejut melihat De Hoorn sudah terbakar hebat. Rado yang saat itu terkejut membuka matanya lebar - lebar atas insiden yang menimpa De Hoorn.
"A - apa yang terjadi?" Tanya Devian kepada mereka berdua.
Rhea pun juga terkejut melihat keadaan De Hoorn yang terbakar hebat, mereka bertiga segera memasuki De Hoorn untuk memeriksa keadaan didalam sana. Seluruh bangun terbakar hebat dan banyak warga yang mati akibat sayatan sebuah benda tajam. Rado yang melihat itu amat khawatir dan segera menuju akademi dimana Martinez dan Silvi berada.
Namun akademi juga sudah tidak berbentu karena terlahap api, Rado menyuruh Rhea dan Devian untuk berpencar untuk mencari mereka yang masih selamat. hal yang terbesit dalam pikiran Rado adalah menuju rumah Jefry yang berada didistrik bawah. Ia dengan cepat melesat kearah rumahnya dan menemukan rumahnya masih utuh. Ia segera masuk, tetapi ekspetasinya dipatahkan saat melihat seluruh keluarga itu sudah terbantai habis.
Dengan wajah penuh geram dan iba, Rado membalikan tubuhnya untuk keluar dari rumah tersebut. Namun disaat ia ingin keluar, Rado mendengar sebuah bisikan dari belakang dan ternyata itu adalah Jefry yang masih hidup.
"Tu - tuan Rado..." Panggilnya sambil menjulurkan tangannya.
Rado yang terkejut segera menoleh kebelakang dan menghampiri Jefry yang sedang terbaring di lantai dalam keadaan rumah yang mulai tersambar api.
"Jefry! Apa yang sedang terjadi?!" Tanya Rado.
"Aku senang kau masih hidup..." Senyum Jefry.
"Ya.. Aku masih hidup.." Jawab Rado tersenyum.
Jefry mengelus pipi Rado dengan tangannya yang penuh dengan darah, ia tersenyum dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Rado.
"Para demigod..." Bisiknya pelan.
Mendengar itu membuat Rado sangat marah sekaligus menyesal, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi bila ia tidak menyerang wilayah demigod beberapa hari lalu. Dalam penyesalannya Rado menutupi ekspresi itu dengan sebuah senyuman sedih kepada Jefry.
"Maafkan aku Jefry..." kata Rado dengan mata berkaca - kaca.
"Mangapa anda meminta maaf... Ini bukanlah salah anda.." kata Jefry tersenyum.
"Ini semua salah ku... Maafkan aku.." Kata Rado merasa bersalah.
"Tuan... Jangan menyalahkan diri anda... Mungkin ini sudah takdi para manusia karena berlaku sombong... Beberapa dari kami masih ada yang selamat dan melarikan diri ke Moria.. Tolong lindungi mereka dan balaskan dendam kami.." Kata Jefry dengan nada terbata - bata.
"Hmm.. Aku akan melakukannya.." Kata Rado tersenyum.
Setelah mendapatkan ucapan yang ingin didengarnya, tangan Jefry pun melemas dan akhirnya jatuh. Matanya tertutup dengan sebuah senyuman, melihat Jefry yang sudah tidak bernyama membuat Rado mengingat kilasan balik tentangnya. Dengan kesedihan yang amat mendalam Rado meninggalkan Jefry terbaring disana dan terbakar bersama rumahnya.
"Tuan... Aku tidak menemukan mereka yang masih hidup..." Lapor Devian.
"Aku juga tidak menemukan manusia yang selamat.." Kata Rhea.
Rado menatap tajam kearah Rhea dan itu membuatnya takut.
"A - pa yang terjadi?" Tanya Rhea kepada Rado dengan wajah khawatir.
"Para demigod datang kemari.." Jawab Rado.
Rhea yang mendengar itu terkejut sambil memegang mulutnya, matanya bergetar dan dipenuhi rasa bersalah.
"Ini pasti semua salah ku..." Kata Rhea sambil mundur menyesal.
Devian yang terkejut segera membuah wajahnya kebawah dan menahan kesedihan.
"Tidak ini bukan salah mu... Ini karena Achilles bajing*n itu!" Kata Rado meluruskan.
"Mereka yang selama mengungsi ke Moria... Devian, kau pergilah kesana dan lihat keadaan mereka..." Perintah Rado.
"Lalu apa yang akan tuan lakukan?" Tanya Devian.
"Aku akan menuju pertempuran.. Sekaligus mencari keberadaan Achilles sekali lagi... Ia pasti mencari ku dan Rhea, sebaiknya kita berpisah disini.." Kata Rado.
"Tapi tuan, anda sedang terluka.." Kata Devian merasa khawatir.
"Tenanglah.. tubuh ku mulai pulih..." Jawab Rado sambil berjalan meninggalkan Devian.
"Rhea.. Ayo kita pergi.." Ajak Rado.
Rhea pun mengikuti Rado dengan penyesalan yang mendalam, ia terus menunduk dan tidak berani mengangkat kepalanya. Rado berjalan menuju ruangan kerjanya di gedung pusat untuk mengganti pakaian, Rhea yang mengikutinya hanya melihatnya mengganti pakaian di sofa dalam ruangan tersebut. Gedung itu terhintar dari lahapnya api yang sedang membara di De Hoorn. Listrik yang padam membuat ruangan itu gelap gulita, hanya cahaya api saja yang menerangi ruangan tersebut.
Rado mengganti pakaiannya dengan sebuah jubah bertudung dengan dalaman kaos hitam kembali, rambut yang ia sisir kebelakang pun membuatnya terlihat lebih fresh. Rado juga tidak lupa membawa ramuan obat yang ia stock didalam ruang kerjanya untuk berjaga - jaga. Katana barunya pun ia gengggam ditangannya tanpa menggunakan sabuk.
Setelah semua sudah siap, Rado segera beranjak pergi melewati Rhea yang masih tertunduk, saat Rado memegang gagang pintu Rhea pun berkata.
"Maafkan aku.." Katanya dengan penyesalan.
Rado pun terhenti dari membuka pintu dan mendekat kearah Rhea.
"Ini bukanlah salah mu... Ini adalah salah ku karena sudah menyerang wilayah kalian... Berhentilah merasa menyesal dan tebus itu dengan membunuh dirinya..." Kata Rado kepada Rhea.
Rado pun berbalik dan berjalan kembali untuk keluar. Disaat perjalanan menuju portal, alat komunikasi yang berada ditangannya pun menyala dan Rado segera menyambungkan alat tersebut.
"Rado!" Suara Yoga terdengar.
"Yoga?!" Rado terkejut.
"Kau berada dimana?!" Tanya Yoga terlihat panik.
"Aku sedang berada di De Hoorn.." Jawab Rado.
"Syukurlah! Cepat kemari! Kami mulai terdesak, para badut itu malah pergi meninggalkan kami! Para Orc sulit ditanganin!" Kata Yoga dengan penempatan kalimat yang kurang baik.
"Apa?! Dimana kalian sekarang?!" Tanya Rado khawatir.
"Kami sedang berada di tebing putih wilayah elf! Nona Slyvrin sedang berusaha untuk menghambar mereka! Akan tetapi kekuatan para orc sangat sulit dibendung, cepat lah!" Kata Yoga.
"Baik, aku akan kesana segera!" Kata Rado
Komunikasi pun terputus, dan Rado pun segera bergegas menuju tebing putih.
"Kemana kita?" Tanya Rhea dengan sangat hati - hati.
"Kita akan menuju ke wilayah istri ku.." Kata Rado dengan tegas.
"Istri?" Rhea terkejut didalam hatinya.
Dengan kegaduhan dalam hatinya, Rhea mencoba untuk mencari tau tentang informasi tersebut.
"A - pa kau -" Baru saja ia ingin mengatakan sesuatu, Rado sudah memotong perkataannya.
"Bersiaplah.. Karena kita akan bertempur dalam skala besar.." Kata Rado tanpa menoleh.
Rhea yang mendengar itu mengurungkan niatnya untuk bertanya dan wajahnya pun mulai menunjukan keseriusan sekali lagi.
"Baik.. Aku siap mengikuti mu kemana pun.." Kata Rhea.
Bergeser pada pertempuran yang sudah berlangsung selama seharian lebih, para tentara gabungan elf dan manusia dibuat kewalahan dengan pasukan orc yang menyerang. Dogol terlihat tidak turun dalam peperangan tersebut, ia hanya berdiam di barisan paling belakang bersama Laguun. Frago lah yang menjadi kepala dalam pertempuran tersebut. Dalam keganasannya yang sudah melebihi batas dapat memporak porandakan barisan depan tentara gabungan tersebut.
Seorang Orc yang berkepala plontos dan memiliki perawakan seram yang diduga sebagai pendamping ketiga Dogol pun juga turut andil dalam bertempuran tersebut, mereka berdua dapat membuat pendamping elf dan manusia merasa kewalahan. Tentara biasa mereka pun dapat menekan kekuatan dari tentara aliansi. Greg dan para bawahannya sudah melarikan diri kearah hutan kembali dan meninggalkan barisan setelah melihat laju peperangan mengarah pada ke kalahan mereka.
"Kemana si kepar*t itu?!" Tanya Slyvrin sambil mengeluarkan force untuk menciptakan siihir.
"Ia sudah melarikan diri!" kata Yoga.
"Kita mulai kesulitan! Kedua pendamping orc itu sangatlah kuat! Aku baru kali ini melihat Hamdall kesulitan melawan nya meskipun dibantu oleh Kuluk!" Kata Slyvrin sabil membersihkan para tentara orc dengan forcenya.
"Dia memang gila.. Saat aku melewannya terkahir kali, di belum sekuat ini!" Jawab Yoga menjurus kepada Frago.
Disaat bersamaan, Yoga pun melirik kearah Jaquile dan Lefti yang sedang kesulitan melawa pendamping orc yang baru saja muncul.
"Mengapa ada sosok yang merepotkan lagi?! terlebih, salah satu pendamping dan Archon mereka belum ikut turun dalam pertempuran ini!" Pikir Yoga sangat keras.
"Kalau mereka berdua turun, sudah dipastikan kalau kami akan terbunuh semua disini..." Sambung Yoga mulai khawatir.
"Andai saja **** itu tidak lari!" Imbuh Yoga menyesali Greg yang lari.
Yoga pun mulai mempersiapkan perisainya.
"Sarka! Tolong jaga nona Slyvrin! Aku akan maju kedalam pertempuran!" kata Yoga lalu berlari maju kedepan.
"Baik!" Kata Sarka sambil melesatkan anak panahnya kearah tentara orc.
Dibelakang tentara Orc Dogol yang sedang memperhatikan lajunya perang terlihat menyilangkan tangannya.
"Tuan.. Sepertinya dia tidak ada disini..." Kata Laguun.
"Laguun... Kejar orang yang mengaku - ngaku sebagai penguasa itu dan bawa kepalanya kehadapan ku.." Perintah Dogol.
"Baik tuan.." Kata Laguun lalu segera pergi dalam kegelapan malam.
Sementara itu, Dogol mulai mengambil kedua kapaknya yang terdapat di punggung miliknya dan tersenyum dalam kegelapan.
"Sepertinya aku akan mengambil kepala dari wanita elf tersebut.." kata Dogol melihat kearah Slyvrin yang sedang menembakan force miliknya dengan demicles yang sudah ia udarakan.