The Archon

The Archon
Mengawali Hari sebelum Dungeon



Dalam sebuah kamar yang begitu rapih dan terlihat seperti kamar pria pada umumnya, pada dinding kamar tersebut terdapat poster Tisa WhitePink hampir disetiap sisi dinding. Sinar matahari yang masuk melewati jendela pada kamar itu membangunkan Rado dengan rambut hitam yang sudah tercukur rapih.


"Hhmmpphhh" ia menutupi matanya dengan lengan karena sinar matahari itu menyilaukan dirinya. Setelah beberapa saat ia menutupi matanya, ia mencoba untuk membuka mata perlahan menatap dinding kamarnya yang terdapat Tisa WhitePink.


"Ahh... selamat pagi Tisa.."


Rado terbangun dan duduk dikasurnya setelah mengucapkan salam pada poster itu. Kemarin setelah Rado menyelesaikan dungeon ia segera mendatangi Hamstore untuk menjual hasil buruannya, sedangkan kristal yang ia dapat, ia dijual kepada gate keeper yang menangani masalah penampungan kristal dari monster.


-Kilas balik saat berada di Hamstore-


~Kling Suara lonceng berbunyi saat pintu terbuka.


"Selamat datang di... Ahh ternyata kau" Kata Levi yang mengetahui kalau Rado yang datang ke toko.


"Hahaha begitu kah cara mu menyambut pelanggan Levi?" Rado yang membawa sebuah metal besar, beberapa chip dan sebuah bola force yang diikatkan pada punggungnya seperti sebuah ransel.


[Seperti biasa, dia membawa barang bawaanya seperti orang aneh] Pikir Levi dalam benaknya.


*Brukkk Rado yang meletakan bawaannya kelantai.


"Aku ingin menjual ini semua"


Levi segera keluar dari meja kasir dan mengecek hasil buruan yang dibawa oleh Rado.


[Eh?! ini metal dengan kualitas yang cukup baik], Levi sedikit terkejut dan segera menoleh ke Rado, "Dari mana asal metal ini?"


"Ahh.. itu bagian tubuh dari Daralo Robo Alpha dari Green Dungeon" Dengan nada santai Rado memberitahu asal metal itu.


"Bos itu? Beruntung sekali kau... ayo ikutlah kebelakang"


Mereka berdua masuk ketempat penimbangan dan meletakan metal itu pada alat timbang. Pengukur digital itu menunjukan angka 88 kg dan Levi segera mengeluarkan Cek disakunya seperti biasa.


"Ini 3,7jt rupiah untuk metal dan bawaan mu yang lain" Levi sambil menyodorkan cek pada Rado.


Rado menerima cek itu dengan tangan kanannya dan memasukannya kedalam saku.


"Apa kegunaan Chip dan bola force itu?" Tanya Rado sambil melihat barang bawaannya sedang diangkut oleh karyawan yang lain.


"Ahhh itu.. Kalau chip itu bisa berguna untuk membuat scope pada senjata ranger, sedangkan bola force itu bisa dijadikan inti sihir untuk senjata mage, sayangnya chip dan bola force yang kau bawa ini memiliki kualitas yang buruk" Levi mencoba untuk menjelaskan itu kepada Rado. Note: Rado hanya membawa chip dan bola force dari Daralo Robo biasa. sedangkan metalnya baru dari bos daralo .


- Kembali kepada Rado yang sedang dikamarnya -


"Sialan kau Geraldo! kau mengambil barang mahal dari bos itu untuk kepentingan mu sendiri"


Rado sedikit kesal sambil membayangkan wajah Geraldo yang menjengkelkan. Namun rasa kesal itu segera hilang dan berubah menjadi senyum karena itu bukan hal yang begitu penting.


Saat ini tabungan milik Rado sebesar 4,6 jt dengan biaya yang telah ia keluarkan kemarin yaitu perbaikan katana, pembelian amunisi, pembelian potion dan cukur rambut.


"Potion yang ku pakai masih tergolong tingkat rendah, aku mendapat info dari toko alchemist kalau bahan pembuatan potion itu ada pada monster dan tumbuhan yang tumbuh pada dungeon menara lantai 1, mereka bersedia membuatkan ku bila aku membawa bahan-bahannya"


Drrttttt.... ting.. Smartphone Rado berbunyi.


-Room Chat dari Grup Raid Geraldo Tampan-


Geraldo : Yo..yo...yoo hari ini kita akan dungeon pada siang hari jam 2 ya...


Gai : Siap kapten!!!!


Selica : Emot Ok


Rovi dan Cloe : juga emot Ok


Hendry : Ok!! nanti aku menyusul.. aku sedang menyiapkan makan pagi untuk kekasih ku.


Bon : tidak nanya!


Hendry : Hei jomblo diam kau!


Choksi mengirimkan sebuah Foto (Foto itu berupa tangannya yang patah)


Geraldo : Cepat sembuh kawan!!


Semua : Gws Choksi..


Geraldo : Sobat apa kau ikut? [Tanya Geraldo untuk Rado]


Gavriel : aku akan ikut tapi bisakah kita mengambil gate yang berada di lantai 1?


Geraldo : medan hutan? baiklah itu tidak masalah.. aku akan memesannya pada gate keeper


Selica : Gavriel bagaimana pagi mu?


Read 8


Cloe : wahahaha sabar Selica mungkin Gavriel sedang mandi..


Selica : Emot Sedih


Saat itu Rado melakukan kegiatan rutinnya, ia memakan sepotong roti dengan selai kacang dan segelas susu.  Setelah itu ia mengenakan sepatu dengan sweeter runningnya, ia tidak lupa memakai headphone saat sebelum berlari, ~Hit you with that du du du, aye aye~ dan ia segera mulai berlari keluar rumahnya.


"Huh huh huh"


Rado berlari dengan kecepatan yang stabil, matanya begitu fokus kedepan sambil mengatur nafasnya. Namun, dari sebuah gang seorang gadis rambut pirang bermata hijau dengan baju running muncul tiba-tiba menabrak tubuh Rado dan terjatuh. Rado secara reflek menarik tangan gadis itu sebelum menyentuh tanah.


"Maafkan aku" Dia melihat kearah gadis berambut pirang itu dan meminta maaf.


"Ahh tidak, ini salah ku karena tidak berhati-hati" Gadis itu sambil membereskan bajunya yang sedikit tersingkap


"Kau tidak apa-apa?" Rado menatap pada gadis itu.


Setelah gadis itu membereskan bajunya, ia segera menoleh kearah wajah Rado.


[Ehh? sepertinya aku pernah melihat orang ini..] Wajah gadis itu terheran saat melihat Rado. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Gadis itu memastikan dugaannya pada Rado.


"Sepertinya tidak" Dengan cepat dan nada dingin Rado menjawab pertanyaan tersebut.


Gadis pirang itu terdiam sambil berfikir memandangi wajah rado.


"Kalau kau sudah tidak apa-apa aku akan melanjutkan lari ku" Kata Rado sambil memasang headphonenya kembali.


Gadis itu masih penasaran dengan Rado dan menatapnya yang sedang berlari hingga Rado menghilang dari pandangannya.


[Apa itu hanya perasaan ku saja?] Gadis itu terdiam sambil berfikir sejenak dan segera melanjutkan larinya.


---------


Setelah Rado sudah menyelesaikan aktifitas rutinnya, sebuah notif sistem masuk.


Ting~~~


Ketahanan fisik saat ini 93%


Rado segera menutup notif itu dan masuk kedalam rumah. Jam pada dinding menunjukan pukul 9 lewat 10 menit.


[Masih ada waktu sebelum raid dimulai, apa aku harus mengunjunginya?]


Rado segera memakai hoodie dan topinya, serta tidak lupa sebuah masker ia masukan kedalam tas kecil yang berada dibelakang pinggangnya tempat potion diletakan. Ia segera mengambil helm dan memacu motornya keluar rumah.


Beberapa lama ia berkendara, tibalah dia pada sebuah kampus yang berada di Jakarta Barat. Ia segera memarkirkan motornya dan berjalan dalam kampus sambil menatap smartphonenya.


- Room Chat Nara -


Rado : Apa kau sedang sibuk? Aku ada dikampus mu.


Typing....


Nara : Ah serius? sudah lama kita tidak bertemu, aku sedang berada ditaman dekat parkiran bersama teman ku.


Rado : Baiklah aku akan kesana.


Nara : Emot OK


Rado mengunjungi kampus lamanya yang sempat tidak bisa ia selesaikan karena kekurangan biaya, ia menelusuri parkiran dan melihat seorang gadis berambut hitam pendek mengenakan kemeja sambil memangku buku sedang berbincang dengan teman-temannya.


"Nara.." Sapa Rado mendekat yang saat itu sedang mengenakan topi.


"Rado.! bagaimana kabar mu? ku dengar kau masuk rumah sakit karena dungeon" Nara segera berdiri menyambut kedatangan Rado.


Teman-temannya memandangi Rado dan mulai berbisik-bisik layaknya perempuan saat menemui wajah baru. Rado hanya tersenyum manis pada teman Nara dan itu membuat teman-temannya tersipu mulu.


"Hei..hei jangan tebar pesona disini! tetapi apa yang telah kau lalui? tubuh mu jadi lebih tinggi dan terlihat begitu...."


Nara memandangi Rado dari kaki sampai wajahnya.


*Deg Deg Deg


Jantungnya seketika memompa lebih cepat setelah melihat tatapan mata Rado. Wajahnya sedikit memerah dan ia mundur sedikit dari pijakan sebelumnya.


"Nara?" Rado terlihat keheranan karena sikap Nara yang aneh.


"Ahhh..... apa kau sudah makan? aku bawa bekal ditas ku, apa kau mau?" Nara dengan segera merogoh kedalam tasnya untuk mengambil bekal untuk menutupi kegugupannya.


"Bagaimana kuliah mu?" dengan spontan Rado menanyakan hal itu.


"Kuliah ku lancar dan mungkin tahun depan sudah bisa lulus.. aku sudah direkomendasikan oleh ayah untuk masuk kedivisi hubungan internasional di pemerintahan" Nara yang menjawab itu sambil memberikan kotak bekalnya pada Rado.


Rado segera mengambil bekal dari Nara dengan senyumnya. Nara adalah putri dari seorang kepala divisi hubungan internasional di pemerintahan, ia kenal dengan Rado saat pertama kali masuk dalam universitas.


Pertemuan mereka tidak disengaja karena pada saat itu Rado membantunya untuk memperbaiki mobilnya yang mogok dan dari situ hubungan keduanya mulai dekat.


"Nara!" Tiba-tiba Seorang pria dengan tubuh tinggi berambut rapih tersisir kebelakang menghampirnya.


Rado dan Nara menoleh kearah pria tersebut dan seketika perilaku Nara berubah. Sikapnya seperti orang yang canggung dan tidak berani menatap kearah wajah pria itu, ia mengusap-ngusap telapak tangannya tanda tidak nyaman. Rado yang sudah mengetahui perilaku dari Nara untuk sementara diam dan menunggu apa yang akan terjadi.


"Aku menghubungi mu tapi kenapa kau tidak mengangkatnya?!!" Dengan nada sedikit tinggi ia berbicara pada Nara.


"Aaa.. aku.." Nara yang gugup dan tidak menatap ke wajah pria itu.


"Siapa orang ini?" Kata pria itu sambil menatap Rado.


"Dia teman baik ku sewaktu pertama kuliah" Kata Nara dengan cepat memperkenalkan Rado.


Karena merasa tidak ada hal penting lagi, pria itu menarik tangan Nara.


"Cepat ikut dengan ku"


Dia menarik tangan Nara dengan kasar, namun dengan cepat Rado menarik tangan Nara yang satunya lagi untuk menghentikannya. Pria itu terhenti dan menoleh kearah Rado, Nara pun juga menoleh dengan mata yang seperti ingin menangis kepadanya.


"Kau!!!! Apa maksud mu?!" Kata pria itu sambil menghampiri Rado yang lebih pendek darinya.


Rado sedikit mendongak keatas dengan wajah santainya karena pria ini lebih tinggi dibanding dirinya.


"Jangan memaksa seseorang untuk mengikuti keinginan mu, itu tidak baik"


"Heeee... Kau nyari mati?! kau tidak tau siapa aku? aku ini Gerry Hawson, kapten guild Knight dan rank ku sudah Begio yang ingin naik ke Anchor" Pria itu menyombongkan diri.


"Hoo... aku tidak pernah mendengar nama guild itu" Masih dengan santainya Rado menanggapi omongan Gerry.


"Sialan kau!" Gerry mulai panas dan mulai mendekati Rado.


"Gerry tunggu! maafkan lah dia, aku akan ikut dengan mu" Kata Nara yang mencoba menghentikan Gerry.


"Minggir!!!" Gerry mendorong Nara sampai terjatuh dan segera melesat untuk memukul Rado dengan tangannya yang besar.


Rado yang melihat Nara disakiti dengan cepat berpindah tempat untuk mengecek keadaan Nara yang saat itu sedang terjatuh. Pukulan dari Gerry pun tidak mengenainya dan sekaligus membuatnya terkejut dengan kecepatan Rado.


"Kau tidak apa-apa?" Kata Rado sambil memegangi Nara untuk bangun dari jatuhnya.


Nara hanya mengangguk tanda ia tidak apa-apa, "Sialaaannn!!!", Dari belakang Gerry mencoba untuk melakukan serangan sekali lagi.


Tetapi.. hanya dengan memiringkan kepalanya sedikit kekanan tanpa menoleh, Rado dengan mudah menangkap pergelangan tangan milik Gerry dengan tangan kanannya, lalu Rado segera berbalik dan menatap tajam kepada Gerry.


"Hei.. apa kau sadar sudah membuat kesalahan?!" Rado sambil menatap matanya dengan dingin.


Gerry terkejut dan sedikit merinding saat menatap sorot mata Rado, Krakkkkk~~~ Rado mematahkan pergelangan Gerry dengan kekuatannya.


"Aaaakhhhhhhh"


Gerry berteriak kesakitan dan para gadis yang berada disana terlihat menutup telinga mereka karena suara yang mengerikan dari pergelangan patah milik Gerry.


"Habis ini aku akan mematahkan pergelangan yang satunya lagi" Masih dengan sorot matanya yang tajam.


Nara dengan sigap menghentikan Rado yang sedang menggenggam erat pergelangan tangan milik Gerry.


Rado segera menoleh kepada Nara yang saat itu menggelengkan kepalanya mengisyaratkan untuk melepaskannya. Rado menuruti kemauan Nara dan melepaskannya segera.


Gerry langsung berlutut meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang patah. Setelah itu Rado segera berbalik dan meninggalkan mereka begitu saja.


"Rado, mau kemana kau?" Kata Nara sambil meletakan tangannya pada dada sebelah kirinya.


"Dungeon..." Kata Rado sambil mengangkat kotak bekal milik Nara.


Nara tersenyum saat melihat bekal itu dan merasa detak jantungnya mulai tidak karuan saat bertemu kembali dengan Rado yang baru.


"Hati-hati" Nara dengan pelan mengucapkan itu tanpa sepengetahuan Rado dengan senyum manisnya.