The Archon

The Archon
Rapat Pemburu Indonesia



Indonesia, Jakarta. Ruang rapat dalam gedung pemerintahan terlihat Vasco sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa pemburu dan semua kepala divisi di pemerintahan, kecuali kepala divisi Hubungan Internasional. Beliau digantikan oleh wakilnya atas ketidakhadirannya hari ini.


"Mengapa Tuan Berry dari divisi hubungan internasional tidak hadir?" Tanya seorang pria menggunakan jas rapih kepada pria disebelahnya.


"Mungkin dia masih mencari putrinya yang hilang beberapa hari yang lalu.." Kata Pria satunya menjawab.


"Hilang?!"


"Kau tidak tau?"


"Ah.. aku terlalu sibuk dalam perdagangan di negara ini sampai tidak tau jika ada kejadian seperti itu"


Vasco dan Steven hanya bisa mencuri pandang dalam diam menanggapi perbincangan mereka, beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka dan Rudy beserta orang-orang yang awalnya berniat membrontak hadir dalam rapat tersebut. Mereka segera duduk ditempat yang telah disiapkan oleh penyelenggara rapat. Keheningan terjadi sesaat, hanya mata yang saling bergerak memandang satu sama lain.


Tanpa bermaksud untuk membuang waktu yang sedikit ini, Vasco segera memulai rapat darurat mereka.


"Baiklah, kalian mungkin sudah mengetahui masalah yang mengancam dunia ini... Beberapa hari yang lalu aku menghadiri rapat pemburu di Inggris dan mereka berencana untuk membentuk sebuah kerjasama dengan negara yang memiliki pemburu berkualitas. Kita mendapat kehormatan bisa bersanding dengan pemburu Jepang untuk menutup black dungeon di timur tengah"


Vasco terus memberikan informasi penting kepada mereka yang ikut dalam rapat tersebut, Ia berencana untuk membagi menjadi 6 tim dengan tiap tim dipimpin oleh ketua guild 6 teratas. Keenam tim ini diharapkan bisa membantu atau bekerjasama dengan pemburu dari negara Jepang nantinya. Steven pun yang sejak tadi berdiri dibelakang Vasco menoleh kebelakang menatap layar lebar dengan proyektor yang menyala.


Ia segera menekan sebuah remot yang berada ditangannya dan sebuah skema tempur dari tim Indonesia terproyeksi dilayar tersebut.


Tim 1 akan diketuai oleh Kan Basungkak dari guild The Ultimate.


Tim 2 akan diketuai oleh Kenny Auglaug dari guild The Reaper.


Tim 3 akan diketuai oleh Watz Quer dari guild Nova.


Tim 4 akan diketuai oleh Din Susi Wakdoyo dari guild The Joker.


Tim 5 akan diketuai oleh Kimberly Fasah dari guild Flower.


Tim 6 akan diketuai oleh Rudy Hams dari guild White Lotus.


Din Susi Wakdoyo adalah kaka dari pemburu lisensi internasional ke 77, Don Tri Wicaksono. Din adalah wanita yang memiliki perawakan seperti petarung beladiri dengan dada yang hanya ditutupi oleh kumpulan perban yang mengelilinginya, sebuah jubah hitam panjang dengan bagian depan yang ia buka membuat kesan seperti seorang preman wanita. Tulisan "Kehormatan" tertulis kebawah dibagian belakang jubahnya, Wajah ayu namun tegas dengan rambut yang dikuncir kuda berwarna hitam menambah kesan manis darinya. Senjata yang Din gunakan adalah sebuah Kanabo, pentungan besi besar yang bagian pemukulnya dipenuhi dengan banyak tonjolan atau duri besi.


Kimberly Fasah, ketua guild yang membawahi dua pemburu lisensi internasional peringkat 78 dan 79, yaitu Viola Afani dan Merry Putri. Kimberly memiliki perawakan seperti anak kecil dengan tubuh pendek dan rambut yang dikuncir gaya kepang dua. Rambutnya berwarna kuning karena ia memiliki ayah berdarah Inggris, ia menggunakan sebuah Palu dengan motif bunga yang memiliki ukuran melebihi tubuhnya.


"Ahh... Akhirnya aku beraksi" Kata Din sambil meletakan kaki nya diatas meja.


"Kaka, semangat!" Kata Don yang berada dibelakangnya.


"Apa monster disana bisa kuajak minum teh?" Kata Kimberly sambil mengaduk cangkir tehnya dan dibelakangnya terlihat Viola sedang menunduk dengan kesuramannya, serta Merry yang tersenyum percaya diri.


Vasco tersenyum mendapat respon antusias dari mereka semua, Kan yang menyilangkan tangannya dengan wajah yang super seriusnya itu bertanya kepada Vasco.


"Jadi... siapa tim yang akan bersama Nagatomo?"


"Nagatomo dan 4 pemburu terbaik lainnya tidak akan ikut" Kata Vasco dengan senyumannya.


"Apa?!" Semua yang berda disana terkejut kecuali mereka yang sudah mengetahuinya.


"Hei-hei apa kau bercanda?! Pemburu terkuat tidak ikut dalam penutupan dungeon yang sakral ini?!" Kata Kenny sambil menyingkap kebelakang topi coboynya.


"Mereka memiliki misi yang lain dibelakang kita,.. Jadi ini kesempatan kita untuk unjuk gigi kepada dunia mengenai kekuatan pemburu dari Indonesia" Dengan perkataan yang penuh dorongan Vasco menaikan hasrat pemburu.


"Lalu bagaimana dengannya?" Julie menatap kearah Vasco.


Vasco pun menatap kearah Julie, mata mereka saling bertemu dan saling berkomunikasi mengenai siapa yang dimaksud oleh Julie. Mereka yang mengetahui maksud dari Julie hanya bisa menghela nafas dan menunggu jawaban dari Vasco.


"Aku tidak tau, tapi kemungkinan Gozie akan memakainya"


Julie yang mendengar itu segera meletakan tangannya di dada dan tersenyum dan Karen yang berada dua bangku darinya melirik kearah Julie.


Setelah rapat usai, mereka semua membubarkan diri meninggalkan ruangan tersebut. Rudy dan ketua yang lain berjalan bersama keluar dari gedung pemerintahan. Para wartawan yang sudah menunggu mereka diluar mulai ricuh dan mengambil gambar mereka secara bergantian.


"Tuan Kan, lihat kesini!" Kata seorang wartawan sambil mengambil gambar.


Dilain sisi ada seorang reporter yang mendekat dan menyodorkan sebuah mic kepada Rudy, "Tuan Rudy bagaimana hasil rapat tadi?"


Rudy tersenyum kearahnya dan mendekat pada mic tersebut, "Yah... kami akan mulai beroprasi besok pagi, kita memiliki waktu seminggu lebih untuk menutup dungeon tersebut"


Reporter itu menarik mic kearahnya, "Lalu bagaimana persiapan anda dan pemburu yang lain?" Reporter itu menyodorkan kembali mic tersebut kepada Rudy.


"Yah.. kami akan melakukan yang terbaik untuk misi yang berat ini, doakan saja"


Mereka pun meninggalkan para wartawan dengan sebuah mobil yang sudah disiapkan pemerintah untuk membawa mereka keluar dari kerumunan. Sementara itu Vasco dan Steven sedang berjalan menuju suatu pintu didalam gedung tersebut, pintu itu terletak diujung lorong lantai teratas yang hanya boleh dimasuki oleh presiden dan beberapa orang kepercayaannya saja.


Vasco membuka pintu dan terlihat Nara yang sedang duduk termenung diatas kasur dengan Melly yang menjaga di kursi dekat pintu tersebut. Nara segera mengangkat wajahnya dan menatap Vasco yang baru saja tiba.


"Keluarkan aku!" Dengan wajah sembab ia memohon dengan paksa.


"Tidak.. ada perubahan rencana, kau disini sampai semuanya beres" Kata Vasco.


"Apa kau gila?!" Nara segera turun dan menghampir Vasco, namun dengan sigap Melly menghalanginya. "Ayahku.. dia pasti sedang mencari ku!"


"Hmm.. ya! sejak kemarin dia mencari-cari mu dan tidak akan berhasil.." Vasco tersenyum. "Jadilah wanita yang baik sampai waktunya tiba.. kau adalah kunci untuk menjebak Rado"


"Vasco brengsek! kalau ini terkuak.. kau akan kehilangan semuanya!" Teriak Nara saat dihalangi Melly.


Vasco pun keluar dari kamar itu dan Stevenpun mengikutinya dengan lirikan mata iba kepada Nara sebelum ia menutup pintu tersebut.


Di benua Eropa Selatan, Italia, Rado dan Lucy CS sedang berjalan dikeramain salah satu kota yang indah. Seperti biasa Rado memakai setelan berwarna hitam, warna kesukaan dirinya.


"Kapten... bagaimana dengan berita mengenai munculnya black dungeon? apa kita tidak turut ikut?" Tanya Bobby dibelakang Rado.


"Itu tidak penting untuk sekarang... bukankah aku sudah menjelaskannya kepada kalian mengenai misi ini?" Rado menoleh kearah belakang sambil tetap berjalan.


"Aahh... baiklah"


"Apa kau yakin kalau sisa keluar Morctis berada di negara ini?" Tanya Lucy kepada Rado.


"Yah.. semoga"


Peter yang sejak tadi melihat sana-sini terlihat sangat antusias dengan perjalanan dirinya.


"Kapten kau ingin membawa kita kemana? kita sudah beberapa hari mengelilingi Italia" Kata Peter. Selama ini mereka hanya mengikuti Rado menjelajahi Italia dan tidak mengetahui tujuan mereka.


"Sebentar lagi kau akan mengetahuinya"


Perjalanan mereka pun terhenti disebuah Mansion besar dengan pagar tinggi sebagai pintu masuk dan disetiap pagarnya dihiasi dengan inisial A berwarna emas. Lucy Cs tidak mengetahui siapa pemilik mansion ini dan mereka pun bertanya-tanya kepada Rado mengenai maksud ia datanga ke sini.


"Kapten... apa ini mansion kenalan mu?" Tanya Bobby kepada Rado.


"Yah.. ini mansion kenalan ku..." Rado tersenyum sambil menutup matanya.


"Mansion ini adalah dikediaman milik Alavonte"


Senyuman dan mata puas dari Rado menatap kedalam perkarangan Mansion tersebut dan sebuah kerusuhan dikediaman Alavonte akan terjadi sebentar lagi.


______________________________________________


Note : Kanabo tuh senjata yang seperti dipakai Kaido di Onepiece