
Julie perlahan membuka matanya.
"Dimana aku?"
Ia telah terbangun disebuah kamar mewah rumah sakit tengah kota. Setelah itu Julie mencoba untuk bangun dan mengingat kejadian yang telah terjadi sebelumnya.
"Jadi itu dirimu yang sebenarnya.." Julie memeluk erat tubuhnya mengingat tatapan Rado yang tajam pada saat itu. Ada sesuatu yang membuat dirinya takut akan tatapan tersebut.
"Kiyaaaa~~~"
Tiba-tiba sebuah teriakan perempuan sontak membuat Julie terkejut, ia segera menghampiri jendela kamar tersebut dan melihat kearah luar.
Matanya melebar karena terkejut melihat sebuah gate berwarna biru muncul ditaman kota dekat rumah sakit tersebut.
"Apa?! Sebuah gate breakdown?!
Dilain tempat dalam menara dungeon sirine bahaya menyala karena sebuah eksistensi portal tertangkap oleh sensor satelit.
"Hei sirine breakdown menyala, apa ada yang gagal dalam melakukan raid?" Kata salah satu gate keeper yang sedang melihat kearah layar kontrol.
Gate Keeper yang lainnya segera memeriksa gate yang telah menghilang namun tidak ada konfirmasi dari pemburu yang telah menyelesaikannya.
"**Ahh... blue dungeon yang mengalami breakdown, sepertinya kelompok ini telah terbunuh dalam dungeon tersebut!"
"Dimana letak portal itu muncul**?!" Mereka berkomunikasi dengan panik.
"Taman kota dekat rumah sakit St Carilis!" Sambung gate keeper yang telah mengetahui letak gate tersebut.
Kembali ke Julie yang berada di rumah sakit tersebut.
Gate itu semakin lama semakin membesar dan beberapa saat kemudian monster Lava Golem keluar dari portal tersebut.
Semua orang yang saat itu sedang melintas diarea itu berteriak histeris dan mulai berlarian.
Melihat kejadian itu Julie tidak tinggal diam saja, [Aku harus menghalau monster-monster itu..] Nada bicaranya sangat lemah karena ia baru saja bangun dari tidur yang cukup lama.
[Tongkat ku?] Julie baru tersadar kalau peralatan tempurnya tidak ada didekatnya.
Monster-monster itu mulai membuat rusuh diarea tersebut. Setiap mereka berjalan, rerumputan yang berada ditaman kota terbakar karena lelehan lava yang jatuh dari tubuh batunya.
Salah satu lava golem menadahkan tangannya dibawah dagu untuk mengambil lava yang terus mengalir dari dalam tubuhnya, lalu setelah lava itu cukup memenuhi tangannya, ia melempar lava tersebut secara acak dan mulai melelehkan benda yang terkena lava tersebut.
"Saat-saat seperti ini...." Wajah Julie terlihat syok, namun ia menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran ragu, "Tidak! aku tidak boleh ragu.. aku harus turun untuk mengevakuasi para warga"
Tanpa berfikir panjang, Julie segera turun dari lantai 3 dan mendarat tidak sempurna. Tubuhnya yang masih belum stabil membuat dirinya terjatuh setelah menapak dibawah.
[Ukh.. aku harus..]
Saat ia mencoba untuk berdiri, seorang membawa katana dan beberapa orang lainnya datang didepan dirinya.
"Nona Julie lebih baik kau beristirahat saja, biar kami yang mengurus gate rusak itu" Kata Kenji yang datang bersama Locus, Billy dan beberapa tim D yang sudah sembuh dari tragedi Scorpion King.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Julie.
"Kebetulan kami ingin menjenguk nona, namun gate keeper memberikan misi darurat kepada semua pemburu yang sedang berada didekat St Carilis" Ungkap Billy menanggapi pertanyaan Julie.
"Ayo teman-teman kita bereskan gate ini sebelum mereka menghancurkan lebih banyak" Ajak Billy dengan gagah kepada timnya.
Tidak butuh waktu yang lama untuk mereka mengalahkan monster beserta bos terakhir tersebut. Bantuan dari para pemburu yang juga datang pada saat itu, memudahkan mereka untuk menutup gate yang mengalami breakdown tersebut.
Kehancuran tidak bisa dihindari pada area tersebut, tim D yang telah selesai menutup gate tersebut segera menghampiri wakapten guild mereka.
Billy yang sebagai ketua tim tersebut memberikan bantuan untuk membantu Julie berdiri.
"Sepertinya kalian mulai berubah, terutama kau.." Julie tersenyum dan padangan mengarah kepada Billy.
Billy yang tidak kuat menahan kecantikan Julie pada saat itu, memalingkan wajahnya dengan keadaan memerah.
"Ini karena orang itu.." Ia dengan pelan memberitahu motif dibalik perubahan mereka.
Setelah mengatakan demikian, Julie kembali sempoyongan dan berakhir pingsan kembali.
"Nona Julie!!" Julie sempat melihat mereka yang panik melihat ia yang mulai kehilangan kesadaran.
"Apa kau merasa baikan?" Watz dengan kemeja rapihnya bertanya.
"Yah aku sudah lebih baikan" Julie tersenyum dan mencoba untuk duduk.
"Dokter bilang force mu sedang tidak stabil, apa yang telah terjadi saat kau memegang dirinya?" Tanya Watz.
Julie tertunduk mengarah ke sprei putih yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Aku tidak tau.., tapi rasanya seperti tubuh ku seperti ditekan hebat dan rasa mual yang tak tertahankan", setelah mengatakan itu Julie segera menoleh dan menatap Watz.
"Dimana dia sekarang?" Julie menanyakan keberadaan Rado kepada Watz.
Watz terdiam beberapa detik menatap Julie sebelum ia membuka mulutnya, "Keberadaannya tidak diketahui sekarang, ia seperti hilang ditelan bumi"
"Eh?? bagaimana bisa?" Julie terkejut dan segera mengambil smartphonenya.
Ia mencari kontak Rado dan segera menghubunginya.
-Nomor yang anda tuju sudah tidak aktif-
Julie menurunkan smartphonenya secara perlahan dari telinganya.
"Jadi.. tatapan itu.., adalah tatapan perpisahan?" Mata Julie memerah, "Padahal aku baru saja merasakan hal yang baru dari diriku karenanya.. tapi mengapa... mengapa dia.." Air matanya mulai jatuh membasahi sprei tersebut.
_____________
Digedung pemerintahan ruang Vasco.
"Apa kau datang memberi laporan mengenai gate breakdown hari ini?" Vasco bertanya kepada Steven yang baru saja tiba.
"Bukan.. kalau soal itu, tuan Vasco mungkin sudah mengetahuinya.. Aku kesini ingin memberitahu kalau sindikat mafia Gozie telah mendeklarasikan dirinya sebagai presiden dan mengajukan diri sebagai anggota PPMD"
"Apa?! Bagaimana bisa?! Vasco berdiri dari duduknya dan menggebrak meja sampai hancur.
"Lebih jelasnya tuan dengarkan di konfers yang ditayangkan mendadak hari ini"
Setelah mendengar itu dari Steven, Vasco segera menyalakan Tv yang berada diruangan tersebut.
Dalam acara tersebut, ruangan konfres sudah dipenuhi oleh para wartawan dan beberapa orang berjas hitam juga terlihat berdiri tegap didepan para wartawan untuk mencegah kerusuhan.
Flash dari kamera mulai berkedip saat Gozie yang mengenakan setelan layaknya mafia dengan rambut hitam klimis tersisir rapih kebelakang datang kedalam ruangan besar tersebut.
Gozie dirumorkan memegang kendali penuh atas hampir semua wilayah asia tenggara dengan kekuasaan bisnis ilegal yang ia selundupkan dari tanah kelahirannya.
Kegiatan dibalik layarnya itu telah didukung oleh beberapa petinggi-petinggi negara asia tenggara karena suap yang ia alirkan terus menerus.
Indonesia sekarang ini aman karena masih adanya Vasco dan keikutsertaannya dalam PPMD yang membuat negara Indonesia sulit dimasuki oleh sindikat Gozie karena dilindungi oleh persatuan yang bergensi itu.
Tetapi hari ini mungkin Indonesia bisa dalam bahaya.
"Hari ini, aku menyatakan kalau diriku sebagai presiden tunggal dari gabungan beberapa negara asia tenggara" Suara Gozie menggema dengan tegas, kedipan flash dari kamera semakin cepat untuk mengambil momen tersebut.
"Tidak sampai itu, aku juga berniat untuk mengirim para pemburu kami untuk mengikuti lisensi internasional guna mengatakan kalau negara baru ku ini akan ikut dalam jajaran anggota PPMD"
Semua wartawan terkejut mendengah hal itu. sampai salah satu wartawan bertanya.
"Apa nama negara baru ini tuan Gozie?"
Gozie yang mendengar itu tersenyum sebelum menyebut nama negara baru itu.
"Negara ini akan bernama Genosha!"
Seluruh dunia terkejut mendengar pembentukan negara gabungan itu. Sedangkan ditempat lain, disuatu negara yang padat penduduk. Terlihat Rado yang memakai kemeja hitam sedang duduk disuatu bar sambil melihat tayangan tersebut.
"Kalau begini.. itu akan memudahkan ku untuk mencari mu"
Ia tersenyum sambil meminum sebuah alkohol dalam gelas kecil.
_______
Note : Maaf kalau banyak typo, saya masih ngetik di hp