
Dalam pos 3 benteng barat wilayah manusia yang segera diporak poranda oleh ras dwarf. Ubba, salah satu pendamping atau jenderal dari ras dwarf mengambil sentuhan pertama dalam serbuan hari itu. Rasa takut yang saat ini melanda semua semua prajurit ras manusia akan sosok Ubba yang memiliki hawa keberadaan yang kental akan penghancuran. Selama ini para jenderal atau pendamping dari tiap ras memang memiliki hawa keberadaan mereka masing - masing.
Ubba terus berdiam diri ditengah - tengah prajurit manusia yang melingkari dirinya. Demicles berwarna biru yang menawan pun ia aktifkan tanda peperangan dimulai. Cahaya biru yang terang dari dalam benteng tersebut, membuat sorakan dari pasukan dwarf yang berada diluar benteng meramaikan suasana kembali. Para prajurit manusia yang saat ini berada dalam kandang sendiri merasa seperti tikus dalam perangkap. Mereka menjadi ragu dan takut akan kematian yang sedang menunggu mereka.
Dengan hadirnya salah satu pendamping dalam suatu pasukan musuh, sama saja berperang menuju kematian itu sendiri bila tidak ada dampingan dari seorang jenderal ras. Kenny yang saat ini melihat kearah Ubba, terlihat amat panik akan keselamatan dirinya dan juga pasukan pos 3. Ia beralih melihat kearah puing portal yang baru saja dihancurkan dan merasa menyesal karena tidak sigap di tiap watunya.
"Andai saja..... Andai saja aku tidak bodoh mengadakan pesta setelah penyerbuan monster itu.... Mungkin saja keadaan ini tidak akan terjadi..!" Gumam Kenny saat mencoba berdiri dari puing - puing.
"Dwarf itu....! Bagaimana kami bisa mengalahkannya! Dia seorang jenderal!" Sambungnya terdesak sambil menatap Ubba yang berdiri diam.
Setelah beberapa saat Ubba terdiam dan hanya memancarkan aura keberadaannya pada prajurit manusia, ia mulai menoleh kesana kemari melihat satu persatu prajurit yang sedang mengepungnya. Tatapan tanpa ekspresi dari Ubba membuat para prajurit disana merasa terhentak takut. Kaki mereka seolah - olah memaksa tubuh mereka untuk melarikan diri. Keringat mulai membasahi tubuh dalam pakaian tempur mereka, sesak dan juga panas yang saat ini mereka rasakan.
"Jangan gentar! Ia hanya sendiri!" Teriak Kenny bangkit dari puing - puing tersebut.
Para prajurit yang mendengar itu masih tidak dapat menaikan moral mereka.
"Ta - tapi dia seorang jenderal.... Bagaimana kita bisa mengalahkan dia...?" Dengan nada gemetar salah satu prajurit menanggapi Kenny.
Mengerti dengan situasi ini dan tidak ada kesalahan dari ujaran prajurit tersebut, membuat Kenny merasa semakin frustasi.
"Aku tau itu bodoh! Tetapi perkataan mu sudah membuat teman - teman kita semakin terpuruk!" Kesalnya dalam benak hati menanggapi pertanyaan prajurit itu.
"Cepat habisi dia! Kalau dia mati, seluruh pasukan Dwarf akan mundur!" Kenny mencoba untuk meyakinkan seluruh prajurit.
Namun perkataannya tidak membuahkan hasil, mereka semua masih dalam keadaan takut terhadap Ubba.
"Apa ini dampak dari seorang jenderal mengudarakan lambang mereka?!" Gumam Kenny dalam hati.
Karena merasa tidak ada pergerakan dari seluruh prajurit, Kenny merasa harus ada yang memulai terlebih dahulu untuk menyulut api semangat mereka untuk melawan. Kenny memberanikan diri mengambil kedua pistol dari sarungnya untuk memulai serangan pertama kepada Ubba.
"Ah.. Sial.... Kenapa harus terjadi kepada ku? Masih ada banyak hal yang mau ku lakukan setelah keluar dari situasi ini.. Contohnya seperti menikahi seorang perempuan cantik dengan tubuh yang sexy?" Gumamnya sambil menarik pistol.
"Cih.. Dasar prajurit - prajurit bodoh! Kenapa kalian takut sampai mengabaikan perintah ku untuk menyerang dwarf itu? Kemana rasa hormat kalian tadi saat berhasil meraih kemenangan dari serbuan monster?" Lanjutnya, dan sekarang ia sudah mengusungkan kedua pistolnya kearah Ubba.
Kenny mulai membidik kearah kepala Ubba yang sedang terdiam ditengah benteng. Entah apa yang tejadi dengan Kenny, tetapi ia merasa kalau jari telunjuknya terasa sangat berat untuk menarik kedua pelatuk pistol.
"Ayo tarik.. Tarik!" Sugesnya untuk segera menarik pelatuk pistol.
Jarinya mulai perlahan menarik kedua pelatuk itu, namun tiba - tiba mata Ubba bergerak cepat kearah Kenny yang sedang mengusungkan moncong pistol kearahnya. Dalam sekejap mata, gada besar yang sedang ia genggam Ubba lemparkan kearah Kenny. Kenny seperti disihir oleh sesuatu yang membuatnya membatu melihat gada besar mengarah kepadanya.
"Benarkah?!" Kejut Kenny.
Gada itu melaju sangat cepat menuju Kenny yang sedang menodongkan pistolnya. Kenny yang mulai dapat mengendalikan tubuhnya kembali segera menarik kedua pelatuknya dengan sangat cepat. Amunisi yang diperkuat dengan force miliknya. 6 peluru yang ditembakan oleh Kenny melesat dengan cepat kearah gada milik Ubba, ia melancarkan tembakan itu bertujuan untuk mengubah laju gada milik Ubba, akan tetapi kekuatan dari kedua serangan tersebut sangat berbeda dalam segi kekuatan.
"Eh?! Ingatan apa itu?!" Bingungnya saat mengingat selintas kehidupannya di bumi.
Beberapa detik kemudian, gada tersebut menghantam kepala hingga tubuhnya karena kepala gada tersebut cukup besar. Tubuhnya seketika terbawa oleh gada milik Ubba hingga menghancurkan gerbang utama yang tepat berada dibelakang Kenny berdiri. Gerbang itu hancur bekeping - keping dan terjatuh tepat didepan barisan para dwarf, para dwarf yang saat itu sudah menunggu hancurnya gerbang tersebut, terlihat menatap kearah gada besar milik jenderal mereka.
Dibawah kepala gada yang kembali berdiri diatas tanah dengan gagang diatas, ada sebuah tubuh yang terjepit dibawahnya dan hanya menyisakan sepasang kaki untuk diperlihatkan kepada mereka. Melihat kekuatan dari jenderal mereka, para dwarf pun mengangkat senjata mereka keatas dan bersorak atas hal itu. Ratusan pasukan itu pun mulai melangkah kan kaki mereka menuju kedalam benteng melalui gerbang yang telah dihancurkan. Suara dari dentingan perisai yang dipukul - pukul menggunakan senjata para dwarf tanker terdengar riuh.
Para ras manusia pun semakin ketakutan saat mengetahui Kenny telah tewas. Tetapi salah satu dari prajurit ras manusia yang saat ini sedang berada didekat Ubba melihat suatu kesempatan, yaitu Ubba saat ini sedang tidak memiliki senjata apapun dan beranggapan kalau Ubba menjadi sasaran empuk saat ini.
Salah satu prajurit itu memanfaatkan keadaan tersebut dan segera melesat kearah Ubba dengan membawa sebuah pedang besar dikedua tangannya. Namun, saat ia ingin membelah Ubba dari atas kebawah, ayunan kedua lengannya dihentikan oleh tangan kiri Ubba dengan cara menghentikan bagian triceps lengan kanan prajurit tersebut agar tidak dapat mengayunkan pedangnya kebawah.
Prajurit itu terkejut dengan keadaan lengan yang menjadi kaku seperti dipaku oleh besi kuat. Ia tidak dapat melanjutkan ayunannya maupun melepaskan dari cengkraman Ubba. Wajahnya sangat ketakutan ketika melihat mata Ubba yang terus menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Ia terus meronta - ronta untuk lepas dari cengkraman Ubba, akan tetapi...
"Lepaskan aku!" Pintanya kepada Ubba.
Namun hal yang diterima oleh prajurit tersebut adalah sebuah tatapan tajam tanpa berkedi dari Ubba. Melihat mata dari Ubba sudah membuat prajurit tersebut menjadi keringat dingin. Setelah lama menatap prajurit tersebut, Ubba mencoba untuk meraih wajah prajurit yang lebih tinggi darinya dengan telapak tangannya. Anehnya, dalam aksinya itu, tidak ada satupun dari prajurit lain yang ingin membantunya keluar dari cengkraman tangan Ubba.
Ubba terus mengulurkan tangan kanannya kepada wajah prajurit tersebut, saat telapak tangan itu menyentuh wajah si prajurit, hal yang mengejutkannya lagi adalah mengenai diameter kelebaran telapak tangan Ubba yang dapat menutup seluruh wajah prajurit tersebut.
Prajurit itu terlihat panik sekaligus sesak karena wajah yang tertutup oleh telapak tangan Ubba, Ia berteriak namun suaranya sangat senyap. Semakin lama cengkraman dari Ubba semakin mengencang hingga membuat wajah dari prajurit tersebut mengerut dan berakhir hancur. Darah yang keluar dari wajah remuknya terlihat tersebar kesegala arah hingga mengotori wajah Ubba sekalian.
Masih dalam keadaan tanpa eskpresi, Ubba segera melempar prajurit yang sudah tidak bernyawa itu kearah prajurit didepannya. Disisi lain, ratusan dwarf pun mulai memasuki benteng tersebut sambil membawa gada milik Ubba yang terlihat diangkut oleh 4 dwarf sekaligus. Dengan moral yang sudah runtuh, prajurit manusia perlahan mundur kearah gerbang belakang. Ubba yang sudah mendapatkan kembali gadanya, terlihat terdiam sekali lagi sambil menatap tanpa arti kearah prajurit manusia yang sudah mengumpul pada satu titik.
Demiclesnya pun tetap ia pampang diatas kepalanya hingga ratusan prajurit dwarf melewatinya. Perlahan sosok Ubba tertelan oleh pasukan tersebut hingga tidak menunjukan wujudnya. Kali ini Ubba membiarkan bawahannya untuk membereskan sisa - sisa prajurit manusia yang tersisa. Terlihat prajurit manusia ingin mencoba untuk melarikan diri melalui gerbang belakang. Namun sayang, gerbang hanya bisa dibuka dengan cara menekan tombol di dalam ruang monitor pos tersebut yang terletak pada pertengahan benteng.
Prajurit manusia sekarang ini hanya bisa pasrah menunggu pembantaian bagi mereka, suara gemuruh langkah kaki dari pasukan dwarf pun mendekat beserta lautan bayangan dari mereka. Wajah pucat serta ketakutan menghiasa mereka yang terdesak hingga suara teriakan atas pembantaian terjadi.
Beberapa hari kemudian, regu Albert berhasil sampai di benteng pos 3 dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi mengingat pos tersebut terlihat porak poranda dari kejauhan. Hawl dan Jason beserta satu prajurit lainnya di utus oleh Albert untuk memeriksa keadaan benteng tersebut. Mereka bertiga awalnya terlihat mengendap - ngendap untuk mencoba lebih dekat dengan benteng tersebut. Akan tetapi, melihat situasi yang sunyi membuat ketiga orang tersebut memutuskan untuk segera memeriksa keadaan benteng tersebut dari pintu utama.
"Tuan Hawl, tuan Jason!" Panggil prajurit yang telah menemukan tubuh prajurit yang hancur pada bagian atasnya
Hawl dan Jason berjalan bersama menghampiri prajurit tersebut lalu reaksi pertama yang diperlihatkan oleh mereka berdua adalah kemualan yang luar biasa melihat mayat tersebut.
"Dia... Dia Kenny.." Kata Hawl segera mengetahui saat melihat dua pistol yang tergeletak disebelah mayat tersebut.
Wajah mereka bertiga terlihat berkabung dan juga merasa mual melihat kondisi mayat Kenny. Setelah selesai meratapi kondisi mayat Kenny, mereka bertiga mulai masuk kedalam benteng pos 3.
"Ya tuhan...." Kata Jason terkejut melihat sesuatu didalam benteng tersebut.
"Ini sungguh biadab..." Sambung Hawl tercengang.
Ketiga orang itu terkejut sekaligus miris melihat tumpukan mayat prajurit manusia yang bersimbah darah menggunung didalam benteng tersebut.