
Didepan mansion milik keluarga Alavonte, Rado dan Lucy Cs berdiam memandang kedalam perkarangan mansion tersebut. Mansion itu sangat luas dengan dikelilingi taman bunga serta air mancur ditengahnya, pedagang didaerah tersebut berada dibawah kendali langsung keluarga Alavonte. Mereka setiap bulannya harus membayar sebuah upeti demi keamanan disana.
Selama hampir seminggu berada dinegara tersebut, Rado mendapat banyak informasi dari salah satu keluarga Morctis yang menyelinap dikeluarga tersebut dan Rado mendapat sebuah informasi berupa fakta bahwa negara Italia ternyata sudah hampir semuanya berada dibawah kendali keluarga mafia terbesar ini, praktek nepotisme pun sudah terjadi dan hampir seluruh staf kepresidenan diisi oleh keluarga Alavonte. Presiden dinegara inipun hanya dijadikan sebuah boneka untuk kepentingan politik.
Perdagangan senjata dengan kualitas terbaik seperti golongan Kyokai sangat mudah didapatkan dinegara ini, salah satu keluarga Morctis itu juga mengatakan, kalau senjata yang mereka peroleh tersebut adalah barang rampasan dari seluruh pemburu didunia yang mereka bunuh didalam dungeon. Tidak hanya itu saja, mereka juga sedang memproduksi sebuah potion adrenalin bernama Berserk, dimana potion itu bisa meningkatkan 200% kekuatan namun kesadaran mereka akan menghilang dan mengamuk secara brutal.
Potion itu belum dijual bebas, tetapi peminatnya sudah banyak diperdagangan pasar gelap. Jika saja potion itu berhasil terjual bebas, maka ada kemungkinan kerusuhan akan terjadi dimana-mana.
"Kapten apa kita akan masuk?" Tanya Bobby menatap Rado yang sedang memandang kedalam mansion tersebut.
"Yah... tentunya.. kita harus membuat kedatangan kita dengan meriah"
Rado pun tersenyum dan menarik mundur lengan kanannya untuk memukul gerbang besi tersebut. Pukulan keras dari Rado membuat pagar rumah itu hancur lalu terhempas jauh kedalam. Sirene mansion pun berbunyi, penjaga yang bertugas memantau diruang cctv pun menoleh kearah monitor yang menjaga gerbang. Mereka terkejut melihat 4 orang dengan santainya berjalan dihalaman depan mereka.
"Penyusup! ada penyusup!" Teriak penjaga dari depan mansion.
"Tuan Fredo ada penyusup!" Kata seorang penjaga yang datang kesebuah ruangan kerja.
"Apa?! siapa yang berani menyusup kesini?!" Fredo segera melihat monitor yang berada diruangannya. "Cih! Bocah itu!!!" Ia terlihat kesal melihat tamu yang tidak diundang itu.
"Panggil Toni dan yang lain!" Kata Fredo panik.
"Tapi tuan.... Tuan Toni baru saja pergi untuk melakukan misi penutupan Black dungeon!" Kata penjaga yang juga sedang panik.
"Sial!..Cepat.. bunuh dia dengan orang yang tersisa! Berhati-hatilah.. dia adalah anak Silva yang sedang dibicarakan oleh para petinggi keluarga" Dengan cemas Fredo memerintahkan penjaga untuk bersiaga.
Ia pun duduk kembali dikursinya sambil berfikir, [Gozie!!!! lihatlah berbuatan mu... kau sudah membiarkan anak kucing menjadi seekor singa dewasa].
Dilain sisi, Rado berjalan didepan Lucy Cs sambil mengeluarkan satu ninjatonya, [Menurut informasi dari Joro, kalau pemburu terkuat di negara ini sedang pergi untuk misi dunia... hmm kalau begitu, mungkin pertarungan kali ini akan membosankan]
Para penjaga mulai menghadang mereka dengan berbagai senjata.
"Berhenti! Kalian telah memasuki kekuasaan keluarga Alavonte... jangan harap kalian bisa keluar hidup-hidup" Kata seorang penjaga style mafia memegang sebuah senjata api modifikasi.
Peter mendekat kepada Rado, "Kapten, bagaimana ini??? Jumlah mereka sangat banyak" Dengan raut wajah tidak percaya diri Peter bertanya.
Rado hanya tersenyum setelah mendengar pertanyaan Peter, "Kita akan baik-baik saja... tetaplah dibelakang ku" Kata Rado sambil melirik Peter.
Setelah Peter mundur ketempatnya semulah, Rado pun beralih kembali kearah penjaga yang menghadang. "Aku Rado Morctis, anak dari Silva Alavonte.. Salahkah aku kalau pulang kerumah?" Rado tersenyum.
"Tuan Silva sudah dicap sebagai pengkhianat keluarga, tidak ada tempat untuk mu pulang!" Kata penjaga tersebut.
"Kalau begitu..."
Rado segera melesat dan menyerang mereka semua, kecepatan yang Rado memiliki bukanlah tandingan mereka. Rado terus menerus mengayunkan pedangnya tanpa pandang bulu, ia menebas manusia layaknya menebas seekor monster. Lucy Cs hanya bisa melihat kengerian tersebut dengan wajah terkejut, mereka mulai merasakan ketakutan saat melihat wajah Rado yang tersenyum saat membantai mereka semua.
"Bobby... bagaimana menurut mu tentang kapten?" Kata Lucy perlahan bertanya.
"Dia seperti hewan buas yang baru saja keluar dari kandangnya, apa ini pengaruh dari para Orc itu?" Bobby bertanya balik kepada Lucy.
"Entahlah, tapi... sekarang ini aku merasa takut padanya"
Tidak perlu waktu lama sampai Rado menghabisi mereka semua dan meninggalkan satu orang saja.
"Dasar Monster!" teriak ketakutan dari orang yang tersisa.
Rado pun mendekat kearahnya dengan sorot mata yang tajam, "Yah.. aku adalah monster... monster untuk kalian yang menjadi akar dari kematian ibu,ayah dan... Kevin"
Ayunan terakhir dari pedang milik Rado pun berakhir diseimbangi dengan teriakan histeris dari orang tersebut. Para warga pun mulai memenuhi gerbang karena penasaran akan kejadian yang sedang terjadi. Tetapi hal tidak terduga terjadi, mereka memasuki dengan senyuman namun dengan ekspresi yang masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Hei lihat... ada yang melawan mereka.. ha.haha..." Kata seorang pria dari luar gerbang.
Mereka mulai masuk kedalam dengan wajah yang sama.
"Hei.. kalian-" Saat Lucy ingin menghentikan mereka, Lucy terkejut dengan perlakuan mereka terhadap penjaga.
"Mati kau brengsek!" kata seorang pria menendang mayat penjaga.
"Ini balasan atas kematian anak ku!" Kata warga yang lain.
"Karena kalian.. aku hidup melarat!"
Melihat kemarahan dari warga sekitar, Rado Cs hanya bisa memandangi perlakuan tersebut, Rado tidak ingin membuang waktu soal kejadian pilu itu, ia segera berbalik dan masuk kedalam mansion.
"Ayo kita masuk, biarkan mereka"
Lucy dan yang lainnya pun mulai meninggalkan para warga yang sedang menginjak-nginjak mayat penjaga dengan perlahan. Mereka segera menuju pintu utama didalam mansion tersebut, suara teriakan dari penjaga diluar pintu terdengar oleh Fredo yang saat itu berada didalam. Ia mulai takut dengan apa yang akan masuk kedalam ruangannya, pintu pun dibuka secara kasar oleh Rado dan mengejutkan dirinya yang saat itu memang sudah merasa ketakut.
"M-mau apa kau?!" Tanya Fredo.
Rado yang tersenyum segera menghampirinya dan mencengkram kerah bajunya, "Katakan! dimana petinggi yang lain?!"
"Mereka tidak ada disini!" dengan nada yang bergetar Fredo menjawab Rado.
"Aku tau itu! Dimansion mana mereka tinggal?!" Rado menarik paksa kerah pria berkumis tipis itu.
"Aku tidak tahu!" Ia memalingkan wajahnya dari Rado.
"Baiklah mati lah kau disini" Rado pun mencodongkan jari-jari dengan maksud untuk menusuk leher Fredo dengan jemarinya. Namun, saat tangan Rado yang terlbalur force hampir menembus leher Fredo, Fredo berteriak sambil menutup mata.
"Mansion utama di Roma!" Tangan Rado pun berhenti saat hampir menyentuh lehernya.
"Hmmm, Terimakasih"
Rado tersenyum setelah mengetahui letak dari petinggi yang lain, tetapi tidak menghentikan Rado untuk tetap membunuh Fredo. Tanganya yang semula terhenti, kemudian menembus leher Fredo.
"Hah?!" Lucy terkejut dengan apa yang Rado lakukan.
Rado menarik tangan dari lehernya yang berlumuran darah dan segera meninggalkan mayat Fredo disana.
Rado terhenti dan menoleh kearah Peter, "Haruskah aku menaru hati kepada keluarga yang membunuh keluarga ku?"
"Apa maksud mu?" Kata Lucy
Rado tidak menggubrisnya dan segera beralih melanjutkan jalannya, "Nanti ku ceritakan, untuk sekarang kita keluar dulu"
Dengan kebingungan dengan maksud Rado, Lucy menanggapi perintah tersebut. "Baik.."
Mereka keluar dari mansion tersebut dan dihadapkan oleh warga yang sudah menunggu Rado Cs sejak tadi.
"Anak muda... terimakasih sudah menghancurkan keluarga keparat ini didaerah kami" Kata salah satu pria yang tadi menginjak mayat penjaga.
Rado hanya berjalan sambil tersenyum mendengar ucapan tersebut, para warga yang menghalangi jalan Rado perlahan membuka jalan untuknya. Mereka tersenyum dan ucapan terimakasih terus terdengar selama Rado berjalan.
Ting~~ Suara Sistem terdengar.
Status Transfer 45%
-Point Skill-
Skill Close Range 79/100
Skill Ranger 23/30
Aura Kepemimpinan 35%
Ketahanan Fisik 100%
-Ketahanan Elemen-
Air 75%
Api 76
Tanah 75%
Angin 79%
[Sepertinya ada kenaikan yang signifikan dalam kepemimpinan... apa yang lain berhasil mengumpulkan pengikut?] Dalam benak Rado tersenyum.
"Kita akan kemana lagi kapten?" Tanya Peter saat mereka keluar dari gerbang.
"Roma" Rado menoleh dan tersenyum.
__________________________________________
Di Amerika Serikat, Yoga yang memimpin tim 1 terlihat sudah mulai berhasil mengumpulkan beberapa keluarga Morctis yang tersebar.
"Yoga... apa kita harus ikut dalam penyelesaian Black Dungeon?" Kata seorang wanita berambut ungu mengenakan seragam polisi.
"Kita tunggu perintah Rado"
Sekarang ini Yoga dan beberapa orang yang mengikutinya sedang menonton siaran tv mengenai Dungeon tersebut di sebuah tempat persembunyian.
_________________________________________
Di Asia, Kolo saat ini masih menyelidiki keberadaan keluarga Morctis yang tersebar.
"Hei! itu dia orangnya" Tunjuk seorang pemburu.
"Ah... kenapa begini sih?!" Kata Kolo sambil lari menghindari kejaran mereka.
"Itu karena kau memukul salah satu dari mereka" Kata salah satu tim yang ikut lari.
"Itu hal yang pantas untuknya karena menginjak sepatu ku!" Dengan nada kesal Kolo menjawab.
Saat ditengah kejaran para pemburu di salah satu negara asia, Kolo melihat seorang pria mengenakan jubah melambaikan tangannya. Tanpa berfikir panjang Kolo segera mengikutinya masuk kedalam sebuah gang lalu masuk kedalam sebuah rumah.
Setelah mereka aman dari kejaran tersebut dan suara langkah kaki yang melewati tempat itu sudah jauh, Kolo dan bawahannya membuka tudung jubahnya.
"Terimakasih, sudah menyelamatkan kami" Kolo tersenyum pada orang bertudung itu.
Namun orang bertudung itu segera menodongkan sebuah pisau kepada Kolo.
"He-hei.. apa maksudnya ini?!" Kata Kolo saat ditodong.
"Sudah lama kita tidak bertemu.. Kolo" Pria tersebut membuka tudungnya.
Kolo pun terkejut saat pria itu membuka tudungnya, "Kau!!!!"
_______________________________________
Keesokan harinya di negara bagian timur, Pemburu Indonesia baru saja tiba dan segera bergabung dengan pemburu dari Jepang. Saat itu juga mereka segera pandu langsung menuju ketempat ketempat dungeon itu muncul menggunakan kendaraan. Menurut informasi, dungon sudah muncul hampir seminggu yang lalu dan terbuka ditengah kota.
"Apa kita bisa menutup dungeon tersebut?" Kata Karen dibelakang Kan dengan ketidak percayaan dirinya.
"Karen, percayalah pada kekuatan mu!" Kata Kan memberikan semnagat.
"Kita telah sampai!" Kata pemandu yang mengendarai mobil tersebut.
Mereka semua terkejut didalam mobil melihat betapa besarnya Black dungeon yang akan mereka masuki, sambaran kilat dan awan hitam yang menyelimutinya seperti menambah kesan horor bagi pemburu yang menyaksikannya.
"Semoga tuhan melindungi kita semua" Kata Rudy tanpa berkedip sedikit pun melihat dungeon tersebut.
"Yah... baru kali ini tubuh ku bergetar sebelum memasuki dungeon" Kata Kan yang satu mobil dengan Rudy.
Sebuah dungeon dengan konsentrasi besar yang akan mereka masuki, menjadi sebuah tantangan berat bagi mereka para pemburu. Setelah mereka menginjakan kaki didalam dungeon itu, maka mereka akan dikenang sebagai pahlawan. Pahlawan yang bisa menceritakan pengalamannya didalam sana atau pahlawan yang hanya bisa dikenang.