The Archon

The Archon
Balasan



Didalam hutan kabut dimana Rado dan yang lainnya melarikan diri dari kejaran pasukan tentara demigod. Hutan itu dipenuhi oleh kabut dimana pun Rado melihat, dalam keadaan sakit karena cidera yang ia dapat dari Achilles membuatnya harus tersiksa dalam pelarian tersebut.


"Apa kau mengingatnya tuan Rado?" Tanya Devian kepada Rado yang sedang berjalan didepan mereka.


"Aku lupa - lupa ingat dimana letak portal tersebut.." Katanya tanpa menoleh kearah Devian.


"Bagaimana dengan luka mu?" Tanya Rhea khawatir.


"Sedikit lebih baik.." Rado mencoba untuk berbohong mengenai kondisi tubuhnya.


Meskipun Rhea melihatnya tersenyum dan berjalan layaknya sudah seperti tidak merasakan sakit lagi, tetapi raut wajahnya saat itu seperti berbeda. Rhea memilih untuk diam dan tidak menanyakan hal itu lagi. Sudah seharian ini mereka menyusuri hutan tersebut. Dengan berbekal kompas dan alat transmisi pendeteksi portal yang dibawa oleh Devian menjadi harapan satu - satunya bagi mereka.


Devian terus mengarahkan alat tersebut kesegala arah untuk mencari sinyal dari portal yang telah ditanam oleh Riko kala itu, namun mereka belum membuahkan hasil.


"Ssttt!" Rado berhenti dan menaruh jari telunjuk pada bibirnya.


Ia melirik kesana kemari karena mendengar ada sebuah langkah kaki disekitar mereka. Devian dan yang lainnya mengerti akan hal itu dan mulai terlihat waspada. Rado pun menoleh kearah mereka dan mengangkat dagunya tanda untuk berpencar. Mereka yang mengerti akan hal itu segera menyebar untuk menghindari pengejaran, Rado mencoba untuk melakukan cara gerilya untuk menumbangkan para demigod yang berhasil masuk dan mengejar mereka.


Rado melompat keatas pepohonan yang tertutup oleh kabut, dibawahnya terdapat puluhan demigod yang sedang mencari mereka dalam keadaan waspada. Tombak serta pedang sudah mereka kerahkan untuk membunuh manusia yang telah membuat onar di wilayah mereka, Olympus atas perintah Achilles. Rado yang masih bertengker diatas pohon menunggu saat - saat yang tepat untuk melakukan penyerangan.


Disaat iring - iringan sekelompok kecil demigod melewati dirinya, Rado segera turun dan menyergap mereka yang berada dibarisan paling belakang. Para demigod yang berada didepan terkejut dengan teriakan demigod yang berada dibelakang mereka. Rado dengan tangan kosong nya segera memukul, menendang ataupun memelintir kepala mereka.


Sebuah tombak di tusukan kearahnya dari arah belakang, Rado yang memiliki insting yang cepat segera membungkuk dan segera mengunci tombak tersebut dengan kedua kakinya setelah ia berputar. Rado dapat meraih tombak itu dan menggunakannya sebagai senjata untuk melakukan perlawanan. Dengan adanya senjata yang berada ditangannya membuat Rado menjadi lebih mudah untuk melawan mereka semua, force yang berada didalam tubuhnya, ia tuangkan kedalam tombak itu. Sebuah bakat yang tercipta dari medan pertempuran membuatnya dapat menggunakan tombak tersebut dengan dasar insting miliknya.


Rado menusuk, memutar dan melempar tombak itu demi menumbangkan para demigod yang sedang mengepung dirinya. Beberapa gerakan kasar yang ia lakukan membuat tubuhnya tidak dapat menahan beban tersebut dan pada akhirnya luka yang semulanya tidak terlalu sakit membuatnya kwalahan. Demigod yang masih mengepungnya terus menerus berdatangan karena keributan yang ia ciptakan. Dalam keadaan terdesak karena tubuh yang tidak prima membuatnya kesulitan untuk menumbangkan mereka yang berjumlah banyak.


Disaat itulah, Rhea yang telah selesai menumbangkan demigod yang berada di timur Rado menolongnya dan mengibaskan kapak miliknya untuk menerbangkan para demigod. Ruang besar tercipta diantara mereka dan membuat Rado dapat meloloskan diri dengan bantuan Rhea. Mereka berlari memasuki hutan kabut itu kembali untuk menghindari kejaran tentara demigod.


"Kau tidak apa?!" Tanya Rhea sambil berlari dibelakang Rado.


Rado hanya terdiam. Rhea yang menatap punggung kepalanya hanya menatap khawatir.


"Kesini!" Kata Rado mengarah pada goa yang ia lihat disana.


Mereka segera melipir dan segera masuk kedalam goa yang gelap tersebut untuk menghindari kejaran dari para demigod. Goa itu sangat gelap namun kering. Mereka terus masuk kedalam goa itu jauh kedalam demi menghilangkan jejak.


"Ini sangat gelap.." Kata Rhea.


"Tetaplah didekat ku.." Kata Rado.


Mereka menelusuri goa itu secara perlahan karena sudut pandang mata yang terbatas. Ketika goa itu semakin dalam kegelapan semakin menjadi dan mengharuskan mereka untuk mengeluarkan force dalam sekala kecil untuk menghindari deteksi dari mereka yang sedang mengejar. Rado mengalirkan forcenya ke telunjuk kanannya saja demi membuat penerangan darurat dan itu dapat membantu mereka untuk melihat dalam kegelapan meskipun kecil.


Jarak pandang mereka masih terbatas karena pencahayaan yang minim.


"Dimana Devian dan yang lainnya?" Tanya Rado saat menelusuri goa tersebut.


"Aku tidak tau dimana keberadaan mereka.." Jawab Rhea dalam kegelapan.


"Semoga mereka baik - baik saja.." Kata Rado berharap.


Mereka terus menelusuri goa itu lebih dalam, dalam perjalanan itu Rado mulai mengeluarkan keringat yang banyak dan nafasnya mulai berat, cahaya yang dihasilkan forcenya pun mulai berkelip - kelip karena ketahanan tubuhnya.


"Apa kau baik - baik saja?" Tanya Rhea.


"Ya... Aku baik - baik saja..." Jawab Rado.


Namun tubuhnya tidak bisa berbohong, ia mulai merasa lelah karena rasa sakit yang ia terima. Rado pun terjatuh dan membuat Rhea merasa khawatir. Goa itu seketika gelap gulita dan membuat Rhea tidak dapat melihat apa - apa. dengan inisiatifnya ia pun mengikuti cara Rado untuk menerangi goa tersebut.


"Rado!" Kata Rhea lalu menghampirinya.


Rhea segera membantu Rado dan menyandarkannya ke dinding goa yang gelap itu. Ia melihat Rado yang sedang tersenggal - senggal dengan keringat yang amat banyak. Rhea yang khawatir pun segera merobek kaos hitam Rado demi melihat apa yang terjadi. Tubuhnya memiliki memar dan ia terlihat mengigil mungkin karena infeksi yang ia dapat, ditambah dengan keadaan goa yang sedikit lembab karena sudah berada jauh didalam.


Rhea yag merasa panik karena kondisi Rado mulai mencari cara untuk menghangatkan tubuhnya. Ia mengarahkan telunjuknya kedalam gua demi menemukan sesuatu yang dapat dibakar, akan tetapi hanya batu yang bisa ia temukan. Rado terlihat seperti orang yang terkena demam, karena luka yang belum seutuhnya sembuh.


"Tunggu disini, aku mencoba masuk lebih dalam dan semoga mendapat beberapa benda yang dapat dibakar untuk menghangatkan tubuh.." Kata Rhea kepada Rado.


Rhea melanjutkan jauh kedalam gua tersebut untuk mencari benda yang dapat dibakar, ia terus menelusuri gua itu lebih dalam dan berharap bisa menemukan keajaiban. Disaat ia sudah mencapai gua yang terdalam, Rhea dikejutkan dengan sebuah tengkorak yang sedang terduduk menunduk sambil memeluk katana panjang. Ia terhentak dan membuat force ditelunjuknya mati, setelah ia lebih tenang force itu pun ia nyalakan kembali dan disitulah Rhea menerangi sekitar tengkorak tersebut.


Disekitarnya, ia menemukan sebuah potongan kayu yang sudah terlihat lama, beberapa akar serabut dan juga ranting - ranting yang mungkin dikumpulkan oleh tengkorak tersebut pada masa hidupnya. Disampingnya juga terdapat sebuah kotak dan Rhea segera membukanya.


"Uwe!" Rhea segera menutup hidungnya karena melihat bongkahan kenyal yang sudah tidak jelas bentuknya.


Tanpa berfikir panjang lagi, Rhea segera membawa beberapa serabut akar dan beberapa potongan kayu dengan satu tangan lalu kembali ketempat dimana Rado disandarkan. Ia segera membuat api dari gesekan batu dan kapak miliknya dan membuat percikan api yang membakar di akar serabut tersebut lalu diteruskan ke batang kayu yang sudah disusun rapih.


Rado yang saat itu masih menggigil membuat Rhea semakin khawatir meskipun sudah berada didekat api unggun. Rhea pun memberanikan diri untuk mendekat kearahnya dan merasakan force yang berada didalam tubuh Rado, saat ia menyentuh tubuh Rado, disitulah Rhea menyadari kalau tubuhnya kekurangan tenaga serta force yang menjadi pondasi dalam tubuhnya.


Rado terus mengigil dan harus cepat dibuat hangat.


"Apa yang harus aku lakukan?! Apa energi force bisa di berikan kepadanya?! Aku merasakan kalau forcenya semakin melemah... kalau dibiarkan begini terus kemungkinan ia tidak akan bertahan... Bagaimana dengan ramuan yang ia minum saat itu?" Tanya Rhea sambil merogoh tas milik Rado namun tidak menemukannya.


Ia terhenti dan memenadangi Rado yang semakin pucat.


"Apa bisa?" Tanyanya dalam hati.


"Dari yang kutahu, force yang meraka miliki adalah pemberian dari dewa tingkat atas yang kemungkinan memiliki dasar yang sama dengan milik ras kami... Kalau begitu..." Rhea berpikir sambil melihat kearah bibir Rado.


"Harus ku coba..." Kata Rhea lalu berdiri dan segera melucuti pakaiannya didepan Rado yang sedang terbaring lemah, iapun juga melucuti satu persatu pakaian yang sedang dikenakan Rado.


Dalam keadaan tidak mengenakan apapun Rhea segera menghampiri Rado dan memeluk dirinya demi memberi kehangatan. Rhea pun segera menyalurkan force miliknya kepada Rado dari mulut ke mulut dan berharap Rado dapat mencerna force milikya. Dengan wajah yang memerah dan mata yang bergetar karena malu, Rhea berharap Rado dapat pulih kembali. Bibir mereka berdua disinari force berwarna keemasan karena Rhea membagi force miliknya.


Beberapa saat ia mencoba, Rado tanpa sadar merespon kehangatan tersebut dengan menggenggam erat bokong Rhea dan itu mengejutkan dirinya.


"Ra -" Rhea terhentak karena terkejut namun Rado yang tidak sadarkan diri terus melakukan hal tersebut.


Rhea tidak dapat melepaskan diri dari pelukan erat Rado dan berangsur membuatnya tidak dapat berkutik. Hari itu dilewati dengan sebuah hal yang tidak terduga dan keesokannya Rado terbangun dalam keadaan yang lebih baik. Tubuhnya terasa ringan dan dipenuhi oleh tenaga. Tubuhnya masih merasakan sakit namun tidak separah kemarin. Disamping itu, ia juga merasakan berat yang terdapat pada tubuhnya dan saat ia menoleh, Rado dikejutkan dengan Rhea yang tertidur tanpa mengenakan pakaian sehelai pun.


"A - pa?!" Ia pun terbangun dengan terkejut.


Rado segera melihat kearah sekitar, didekatnya terdapat kayu yang sudah menghitam karena sehabis terbakar. Dari situlah Rado segera menyangka kalau Rhea sudah menyelematkannya, namun ia masih tidak bisa menemukan jawaban mengapa dirinya dan Rhea tidak mengenakan pakaian sehelai pun. Rado segera menepis hal itu dan segera tersenyum kearah Rhea yang sedang tertidur, sebagai laki - laki sejati Rado segera menyelimuti dirinya dengan pakaian yang tersisa untuk menutupi tubuh Rhea agar tidak kedinginan.


Rado segera menelusuri gua tersebut hanya menggunakan celana panjangnya saja dan tidak mengenakan kaos. Saat ia menelusuri gua tersebuat, Rado menemukan tengkorak yang telah ditemukan oleh Rhea sebelumnya.


Rado segera mendekati tengkorak tersebut dan terlena melihat katana panjang yang berada dipelukan tengkora tersebut. Katana itu memiliki sarung berwarna hitam dengan gagang berkain putih yang sudah lusuh. Rado mengambil pedang tersebut dan menarik bilahnya dari sarung katana tersebut. Bilah itu masih mengkilap dan terlihat tajam meskipun sudah Rado perkirakan terkubur bertahun - tahun bersama tengkorak itu.


"Ini masih terlihat bagus.." Kata Rado tersenyum sambil memandangi bilah yang tajam tersebut.


Rado segera membawa pedang tersebut kembali kemana Rhea tertidur. Saat ia sampai, Rhea pun terbangun dan melihat kearahnya.


"Kau sudah terbangun? Ayo kita lanjutkan perjalanan.." Kata Rado tersenyum.


Rhea hanya mengangguk pelan sambil melihat Rado mengenakan kaosnya kembali. Rado yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Rhea, segera bertanya kepadanya.


"Apa ada yang terjadi?" Tanya Rado terheran.


"Ti - tidak..." Rhea segera membuang wajahnya dengan malu.


"Baiklah.. Ayo kita lanjutkan perjalanan.." Kata Rado.


Rhea pun mengangguk pelan kembali dan Rado segera meninggalkannya untuk memberinya waktu untuk mengenakan pakaian. Dalam perjalanan Rhea terlihat memikirkan sesuatu sambil memegangi bibir lalu turun ke perutnya, Rado yang merasa aneh menanyakan keadaannya.


"Apa kau baik - baik saja?" Tanya Rado spontan.


"Ahh... Aku tidak apa - apa!" Jawab Rhea spontan dengan wajah memerah.


Rado yang terheran tidak ingin mengambil pusing mengenai itu dan segera tersenyum.


"Baiklah.." Kata Rado.


Rhea yang merasa tidak bisa seperti itu terus, segera mengambil tindakan untuk mengalihkan pikirannya.


"Pedang itu?" Tanya Rhea mengarah pada pedang panjang yang dibawa oleh Rado.


"Ah.. ini yang ku temukan di tengkorak dalam gua... Bilahnya masih tajam dan baik... mungkin ini bisa membantu kita untuk meloloskan diri dari mereka.." Kata Rado tersenyum.


"Pedang yang aneh..." Katanya Rhea.


Mendengar itu membuat Rado menatap kearah pedang tersebut.


"Pedang ini sejenis dengan pedang yang ku miliki.. Tetapi.. dengan ukuran seperti ini mungkin memiliki tipe yang berbeda... Aku harus bertanya pada Rudy terlebih dahulu mengenai-" Rado terhenti berkata mengingat Rudy yang sudah tidak memiliki ingatan mengenai benda - benda di dunia sebelumnya.


Rhea yang terheran karena Rado berhenti pun terdiam menatap dirinya.


"Lupakan..." Kata Rado tersenyum sedih.


Beberapa saat mereka menelusuri gua tersebut, akhirnya mereka menemukan cahaya terang.


"Cahaya...!" Kata Rhea terlihat senang.


Mereka segera berjalan menghampiri cahaya tersebut dan disambut oleh matahari.


"Apa kau tidak keberatan melawan ras mu?" Tanya Rado.


"Aku sudah merasa sendiri sejak ratusan tahun lalu.." Jawabnya enteng.


Rado yang mendengar itu tersenyum mengingat umur Rhea yang sudah ratusan tahu namun masih terlihat menawan dan cantik.


"Ayo Rhea.. Kita selamatkan Devian terlebih dahulu..." Kata Rado menatap kedalam hutan.


"Baiklah.." Kata Rhea mempersiapkan kapaknya.


Mereka berdua pun segera berlari memasuki hutan kabut sekali lagi untuk mencari keberadaan Devian. Disamping itu, didepan ibukota De Hoorn. Achilles dan Juliver sudah berada didepan gerbang utama membawa pasukan demigod yang tersisa.


"Tidak sulit menemukan tempat mereka tinggal.." Senyum Achilles menatap De Hoorn yang telah ditinggalkan oleh para tentaranya.