The Archon

The Archon
Rhea Sang Kapak Kebajikan



Olympus tempat para demigod tinggal di planet Antares, wilayah yang saat ini sedang mengalami kerusuhan yang disebabkan oleh sekelompok kecil dari ras manusia. Rado Gavriel, seorang yang ditunjuk oleh para dewa sebagai penguasa tunggal ras manusia untuk ikut berpartisipasi dalam pertempuran akhir dunia bersama ras - ras yang terpilih lainnya, mengacau di wilayah keturunan dewa murni.


Ia bertarung seorang diri melawan ratusan prajurit demigod yang berada di Olympus. Rado dengan kecepatan berpedangnya melakukan pertahanan sekaligus menyerang ditengah kepungan para pasukan demigod. Berbagai macam serangan dari tombak yang ada dapat ia halau dengan baik. Senyuman yang terus menghiasi wajahnya menandakan kalau pertempuran ini masih dalam kendalinya.


Sebaik apapun Rado menghindari serangan itu, tetap saja ia tidak bisa menghalau seluruh serangan tombak dari para prajurit. Beberapa serangan mampu menggores tubuhnya. Rado terus menerus memancarkan aura demiclesnya demi mengintimidasi mereka semua. Force yang berwarna ungu pun terlihat menyinari medan pertempuran seiring pergerakan pedang Rado yang menebas para demigod yang ada.


"Tubuh ku memanas..?! Tetapi aku merasa kalau badan ku lebih ringan dan kekuatan ku menjadi meledak" Rado terlihat heran.


Ia pun melompat keatas untuk menghindari pengepungan, para prajurit demigod pun menoleh keatas kearah dimana Rado melompat. Dari atas ia tersenyum menatap ramainya para pasukan tersebut, saat itulah ia segera mempersiapkan sebuah manuver berputar untuk menghantam mereka semua dari atas.


[Thunde....]


"Tunggu? Apa aku bisa mengaktifkan kekuatan tanpa menyebutkan nama kemampuan itu?" Rado berpikir saat berada diatas langit.


Ia pun tersenyum dengan gigi yang terlihat. Ia segera bermanuver memutar cepat tubuhnya layaknya sebuah gangsing yang tajam. Ia menghantam ketanah lalu menghasilkan sebuah ledakan, force yang terpancar dari kedua ninjatonya pun mengeluarkan sambaran listrik yang mana membuat pasukan demigod yang berada didekatnnya terlempar dengan aliran listrik yang terpancar.


"Hmm aku mengerti, karena ini dunia yang sebenarnya jadi selain sistem yang menghilang, tetapi status penggunaan skill pun juga menghilang.. Aku jadi bisa mengaktifkan kemampuan tanpa harus mengatakannya, hanya memikirkannya lalu melakukan gerakan kemampuan apa yang akan aku gunakan..." Senyum Rado sambil menatap kearah pedangnya yang masih mengeluarkan sengatan listrik.


Ia mengangkat kepalanya dan menggunakan seluruh kemampuan yang ia dapat. Ia menerjang masuk kearah Juliver dan Aslav sekali lagi menggunakan Slash Attack. Mata para prajurit demigod seperti dikelabui, Rado yang berada ditengah mereka, tiba - tiba menghilang dan beberapa teriakan pun terjadi karena prajurit yang menghalangin Rado menuju kedua pendamping itu dihempaskan begitu saja.


Dalam sekejap Rado sudah kembali didepan hadapan Juliver dan Aslav. Mereka berdua yang masih dalam keadaan belum siap terkejut melihat Rado sudah berada dihadapan mereka. Rado mengeritkan dahi dan matanya, kemampuan intimidate pun telah aktif. Tekanan dari aura forcenya pun meningkat dan membuat kedua pendamping itu seperti mengalami kekakuan disekujur tubuhnya.


Rado menyiapkan kembali kedua pedangnya dan sekarang gale blade lah yag ia gunakan, serangan bertubi - tubi dari tebasan pedang Rado pun segera menerjang mereka berdua yang masih dalam keadaan kaku.


"Bergerak - bergerak lah!" Dalam pikir Juliver sambil melirik kearah Aslav.


Juliver pun mengigit bibirnya didetik - detik akhir lalu menendang Aslav jauh darinya untuk menyelematkannya.


Saat pedang Rado menghampirinya seorang diri, Juliver segera menaikan instensitas kekuatan forcenya. Ia mencoba menahan serangan Rado menggunakan gagang tombak yang ia miliki. Beberapa serangan Rado dapat ia halau, namun selanjutnya berujung sayatan - sayatan yang lumayan fatal ia dapat.


Juliver terhempas kebelakang setelah terkena serangan bertubi - tubi dari Rado. Aslav yang baru saja terbangun setelah mendapat tendangan dari Juliver pun terkejut melihat dirinya sudah terkapar bersimbah darah. Rado berdiri tersenyum menatapnya yang terbaring dengan tubuh yang bergetar, Rado mulai merakan keringanan dari tubuhnya kembali karena skill pasif miliknya sudah aktif.


"Kau mencoba menyelamatkan ku?" Tanya Aslav kepada Juliver.


Juliver yang mencoba bangun dengan tubuh penuh darah pun menjawab.


"Karena kau sudah mati sekali... Bila kau terkena serangan itu, kemungkinan kau akan benar - benar hilang.." Kata Juliver yang mencoba berdiri.


"Hooo... Jadi kalian bisa hidup untuk kedua kalinya? Bagaimana dengan mereka? Aku tidak melihat mereka bangkit kembali?" Tanya Rado mengarah pada prajurit demigod yang telah tewas.


"Mereka tidak diberikan anugerah spesial seperti kami oleh tuan Achilles... Kalau mereka mati, tidak ada kesempatan kedua bagi mereka.." Kata Juliver menjawab sambil terengah - engah.


Aslav segera melindungi Juliver yang mengalami luka yang parah.


"Kau!" Juliver geram melihat Aslav datang membantunya.


"Diamlah! Kita harus melawanya bersama, sayap sejati ketiganya telah muncul, itu berarti dia bukanlah makhluk yang bisa kita kalahkan dengan mudah.." Kata Aslav.


"Sayap sejati?" Rado terheran dalam hati dengan maksud Aslav.


Rado pun menoleh keatas dimana demiclesnya berada, dan ia baru tersadar kalau demicles miliknya memiliki tiga sayap, setelah itu ia melihat kearah demicles milik Juliver dan juga Aslav yang hanya memiliki dua sayap saja.


"Apa maksud mu dengan sayap sejati?" Tanya Rado kepada Juliver dan Aslav.


"Sayap itu adalah tanda dimana kekuatan mu akan mendekati level para dewa.." Jawab Juliver dengan waspada.


"Kalau begitu, aku bisa menjadi dewa?" Tanya Rado tersenyum.


"Jangan bermimpi!" Kata Juliver.


"Kami para pendamping hanya dapat mengembangkan kekuatan demicles kami, tetapi tidak dengan menumbuhkan sayapnya.. Jadi kalau aku boleh jujur, sepertinya tidak mungkin.." Senyum Juliver yang bersimbah darah.


"Kalau begitu matilah kalian.." Senyum Rado lalu melesat kearah mereka berdua.


Disisi lain diatas bukit landai tempat Rado dan tim Devian memasuki wilayah Olympus, Devian dan timnya tercengan melihat pertarungan Rado melawan ratusan prajurit demigod.


"Apa tuan Rado sekuat itu?!" Tanya bawahan Devian.


"Aku tidak begitu mengerti.. Tetapi melihat dirinya tidak merasa kesulitan, bisa dibilang seperti itu.." Jawab Devian.


Rado melesat kearah Juliver dan Aslav, untuk mengimbangi kecepata Rado, Juliver dan Aslav mengkombinasi pola serangan mereka. Rado memilih melesat kearah Juliver, namun Aslav segera memasang badan untuk menghalaunya. Pedang milik Rado terbentur oleh tombak milik Aslav, karena perbedaan kekuatan Aslav pun sedikit terdorong dan kehilangan keseimbangan. Namun, celah yang diberikan oleh Aslav dapat di pergunakan baik oeh Juliver.


Ia menusukan tombaknya tepat kearah wajah Rado dalam jarak yang dekat. Langkah penyerangan Rado dibuat sulit oleh kombinasi dari mereka berdua, Rado dengan cekatan menggeser kepalanya kearah kanan demi menghindari serangan tombak tersebut. Pipinya tergores oleh serangan Juliver dan itu membuatnya kesal, Rado menaikan kembali aura forcenya dan membanting tubuhnya kearah samping kanan lalu melakukan akrobatik dengan melakukan pijakan menggunakan tangan kanannya ditanah lalu menendang Aslav dan juga Juliver dari arah samping.


Aslav yang menjadi sasaran pertama dari tendagan itu segera mengangkat tangan kirinya untuk menahan serangan tiba - tiba dari Rado untuk menghindari area kepalanya. Tangan yang dijadikan pertahanan oleh Aslav dapat menahan tendangan dari Rado, Namun hentakan dari kakinya membuat ia terlempar kearah Juliver yang berada di sampingnya.


Juliver yang terkejut, melihat Aslav yang mendapat sebuah tendangan dari Rado, segera menahan tubuhnya dengan kedua tangannya. Juliver juga ikut terseret karena menahan tubuh Aslav yang terlempar karena menahan serangan dari Rado. Kakinya menyeret ditanah, dan otot tangannya pun mengembang demi menahan tubuh Aslav.


"Ukh!" Karena menaha tubuh Aslav, tubuh Juliver mengeluarkan darah dari luka bekas sayatan dari serangan Rado.


Beberapa meter Juliver terseret karena mencoba menahan Aslav. Setelah terseret jauh kearah kiri, pada akhirnya ia dapat menghentikan tubuh Aslav yang terlempar. Juliver memuntahkan sekaligus mengeluarkan darah dari tubuhnya karena tekanan yang ia dapat dari percobaan untuk menghentikan Aslav.


Aslav yang baru saja tersadar setelah terlempar dari tendangan Rado segeera mengkhawatirkan kondisi Juliver yang bertekuk lutut dengan darah yang bersimbah.


"Juliver, kalau begini kau bisa mati kehabisan darah!" Kata Aslav.


"Tenang lah, aku masih bisa bangkit satu kali lagi... Tetapi kalau kau, kau akan benar - benar mati.." Ulangnya mengenai status Aslav yang tidak bisa bangkt lagi.


Aslav yang mendengar perkataan itu dari Juliver merasa tersentuh, ia kembali mengingat dimana masa - masa mereka masih hidup dengan damai di dunia tersebut. Dengan wajah geram, ia menoleh kearah Rado yang tidak menunjukan senyumannya sedikit pun.


"Dasar iblis! Kenapa dewa atas mengutus kalian untuk masuk kesini?! Kepar*t!" Teriak Aslav kepada Rado.


"Kau menyebut ku iblis karena mengganggu ketentraman kalian? Harusnya aku yang bilang seperti itu karena dewa menghancurkan dunia ku yang tentram! Bila saja mereka tidak memunculkan monster dan memberikan kekuatan seperti ini... Tatanan dunia tidak akan berubah!" Kata Rado menatapnya tajam.


"Diam! Dasar makhluk rendahan!" Kata Aslav membentak.


"Aslav!" kata Juliver sambil menatap kebawah.


Aslav tidak mendengarkan perkataan dari Juliver dan segera melesat kearah Rado. Saat Aslav menerjang kearahnya dengan emosi yang meluap, disitulah kekalahannya sudah digenggam oleh Rado. Ia berteriak sambil mempersiapkan tombaknya yang ditujukan kepada Rado. Rado terus menunggunya datang sambil menatap tajam kearahnya.


Saat Aslav sudah berada didekatnya dan ingin menghantamnya menggunakan tombak dari atas. Rado dengan cepat maju kedepan dan menusuk perutnya. Aslav yang terkejut tidak dapat bereaksi atas serangan cepat Rado, dengan mulut yang terbuka dan tombak yang belum selesai ia ayunkan, perut Aslav mulai mengalirkan darahnya.


"Aslav!" Teriak Juliver terkejut melihat Aslav tertusuk.


Rado hanya terdiam disamping Aslav yang sedang ia tusuk dengan pedang ditangan kanannya.


"Ketika emosi sudah mengendalikan mu, disitulah waktu kekalahan mu dalam pertarungan" Rado berkata disamping Aslav dengan serius.


Rado segera merobek perut Aslav kearah samping dan ia pun mulai terjatuh perlahan. Tiba - tiba sebelum sepenuhnya tubuh Aslav terjatuh ketanah. Serangan kejutan dari seorang demigod pun menghampiri Rado. Rado yang menyadari itu dengan cekatan mengambil langkah mundur untuk menghindari serangan tersebut. Ledakan dahsyat dari serangan itu menutupi pandangan Rado terhadap Aslav. Ketika asap dari ledakan itu mulai menipis, terlihat Rhea sudah merangkul Aslav yang sudah tidak sadarkan diri.


"Kau! Beraninya mengotori tanah suci ini!" Kata Rhea dengan geram sambil merangkul Aslav dibagian kiri dan kapak yang ia genggam di tangan kanannya.


Rado yang melihat Rhea datang kepertempuran, kembali tersenyum. Ia pun juga melirik kearah belakang dimana para prajurit demigod kembali mengepungnya.


"Aku sungguh senang.... Karena kalian mampu memberikan perlawanan yang sukup intense terhadap ku.." Katanya memuji para demigod.