
Langit kemerahan di sore hari dengan gradasi awan menambah keindahan di langit, perjalanan pulang tim Rado dari menara menaiki tank kargo yang mereka sewa dengan muatan penuh. Rado saat itu terlihat sedang memegang bekal dari Nara yang tidak sempat ia makan.
"Sobat.. bekal dari siapa itu?" tanya Geraldo saat melihat Rado sejak tadi memegangi bekal itu.
Rado yang mendengar itu segera membalikan tubuhnya dari Geraldo.
"Aku tidak minta!!!!!!" Geraldo berteriak kepada Rado.
"Aaahh.. ini dari teman kampus ku dulu" Dengan santai ia menjawab sambil menoleh ke Geraldo.
"Apa dia perempuan?!" Tanya Selica dengan canggung
"Ya.." Singkat Rado menjawab.
Buakkk~~~~ Selica memukul wajah Gai yang sedang santai diatas kargo itu.
"Selica!!!! Sialan kau!!" Dengan pipi yang mengeluarkan uap Gai emosi dengan Selica.
"Tapi sobat.. terimakasih atas lencana yang kau berikan, beberapa lencana dengan Roh Cohort yang kau berikan, membuat kami sudah mencapai Begio dengan instan, kami sangat berterimakasih kepadamu" Kata Geraldo tersenyum.
Mereka semua menoleh kearah Rado yang saat itu sedang menatap gedung-gedung dan tersenyum kepadanya. Rado yang mendengar itu merasa tersanjung, ia tersenyum tetapi tetap mengacuhkan mereka.
"Aaaa hahaha setidaknya kau memberikan sepata atau dua kata sobat" Kata Geraldo tertawa maksa.
Tank berjalan melewati perkotaan pada kecepatan 20km/jam dengan suara khas yang dikeluarkan oleh kendaraan tersebut, suara itu seperti menambah efek tenang disore hari setelah lelah melakukan dungeon seharian.
"Gavriel kita akan pergi kemana?" Kata Hendry yang sedang mengendarai tank tersebut.
"Kita ke Hamstore untuk menjual muatan kita" tanpa mengalihkan pandangannya dari gedung-gedung itu..
"Ah.. maksud mu ke toko kaka ku?" Geraldo dengan santainya memberitahu hal itu.
Rado yang saat itu sedang duduk tenang seketika menoleh dengan cepat kearah Geraldo yang sedang tersenyum dan memperhatikan perlengkapannya.
[Cincin mage baru itu, pakaian yang bagus dan kenyamanannya dipenuhi uang,, apa mungkin aku menjadi salah satu penyokong uang untuknya dengan membeli katana dan pistol ku ini?!] Dalam benak Rado tidak ikhlas setelah mengetahui itu semua. Ia segera berdiri diatas kargo dan mengeluarkan katananya.
"Sobat??!!!!!! Apa yang ingin kau lakukan?" Geraldo mundur dari posisi duduknya dan ketakutan melihat Rado mengeluarkan hawa force yang mengancam.
"Diam... Kaka mu itu sudah menghasut ku untuk mengeluarkan uang yang banyak!"
Semua yang berada disana memberikan senyum canggung melihat kekonyolan yang sedang terjadi.
"Tidaakkkkkk!!!!!" Teriak Geraldo..
------
Kling Kling.. Suara bel pintu terbuka
"Selamat datang di... Aaaaaaaa!! tuan muda ada apa dengan mu?!!" Levi terkejut melihat adik bosnya bonyok saat pertama datang.
"Aku tidak apa-apa.. dimana kaka?" Dengan wajah bonyoknya Geraldo bertanya.
"Dia diruangannya, akan ku panggilkan dia untuk mu" Levi yang segera mengambil telepon kasir.
Beberapa setelah Levi menutup telepon itu, Rudy keluar dari ruangannya.
Brak....
"Adik ku!!!! kenapa kau?!!!!!!" Rudy dengan khawatir saat menerima laporan kalau adiknya babak belur.
Ia segera menghampiri Geraldo dan memegangi mukanya, setelah ia selesai memeriksa keadaan adiknya, Rudy beralih menatap kearah Rado yang saat itu sedang memakai masker.
"Kau pasti yang melakukan ini kepada adik ku kan?!" Dengan marah Rudy berdiri dihadapan Rado.
Rado saat itu membuka maskernya didepan semua orang dan mengejutkan teman-teman berburunya itu kecuali Selica.
"Ahh... ternyata kau..." Rudy mulai santai saat mengetahui identitas pria yang memakai masker itu dan memberikan senyum padanya.
"Ehhh?? kaka kenal dengan sobat Gavriel?!" Geraldo menanyakan hal itu pada kakanya.
"Ya.. dia pelanggan kita" Dengan santai Rudy berjalan kearah Levi.
Anggota tim yang lain terlihat terpesona saat pertama kali melihat wajah Rado yang baru saja membuka maskernya. Rado memilih untuk mengungkap identitasnya kepada mereka, karena Rado sudah mempercayai mereka dan sepertinya sudah ada kenyamanan dihatinya. Bagi Rado tidak baik untuk terus menyembunyikan identitas diri kepada orang yang sudah menganggapnya seperti teman.
"Gavriel.. ternyata kau memiliki wajah yang tampan" Kata Rovi terkejut.
"Baru saja kau bilang kepada ku untuk tidak memberitahu ke yang lain, tetapi kau malah membuka identitas mu sendiri" Kata Selica sambil tolak pinggang.
Setelah Selica berbicara seperti itu, seketika semua menoleh kearahnya.
"Kau sebelumnya sudah mengetahui wajah dari Gavriel?!" CLoe Bertanya.
"Ya.. dia tidak sengaja membuka maskernya saat ku beri potion didalam dungeon tadi"
"Kalau begitu janji kita batal ya.. karena semua sudah tau wajah ku" Rado tersenyum dengan manis kearah Selica.
[Ahhhh.... aku tidak kepikiran soal itu itu, kenapa aku bisa lupa... apa ini yang dinamakan PHP?] Ia terduduk lesu saat Rado membatalkan kencannya, [tapi.... se..seeenyumnya manis sekali, aku merasa itu hal yang cukup pantas sebagai pengganti pembatalan itu]
"Hooo.. bukankah kau yang ingin merampasnya saat di**Area Tambang**?" Rudy melihat kearah Bosman yang saat itu ikut kedalam toko miliknya.
Sekarang semua orang tertuju kepada Bosman saat itu.
[Hooo sekarang kami mengerti kondisi saat mereka pertama ketemu di depan gate] Dalam benak semua sambil menatap Bosman dengan sinis.
"Heiii kenapa kalian menatap ku seperti itu!!!!!???, Aku memang punya salah dulu dengan bos.. tetapi sekarang aku sudah mengabdi kepadanya" Kata Bosman sambil teriak.
Rado menghela nafasnya karena kericuhan yang terjadi.
"Sudahlah, aku kesini ingin menjual muatan ku, bukan untuk membahas yang lain" Rado memotong pembicaraan yang menurutnya tidak penting itu.
"Maafkan aku.. jadi apa yang kau bawa hari ini?" Kata Rudy tersenyum.
"Semua muatan kami ada diluar kaka" Kata Geraldo memberi tau.
Rudy dan Levi segera keluar untuk melihat muatan yang berada di tank tersebut, saat mereka melihat isi dari muatan itu, seketika Rudy berteriak kearah Geraldo.
"Geraldo cepat tahan Levi!!!!!" Dengan segera Rudy memberi perintah kepadanya.
Semua orang terkejut dengan apa yang akan terjadi, apa maksud dari tahan Levi?
"Huahuasdhwausdhwuahusdwadhuwauhdawu" Mata Levi berubah menjadi merah dan air liurnya berjatuhan, ia seperti monster yang sedang kelaparan."Gamuraaaaaaa!!!!! aku ingin sop rebusan Gamura dan nasi Tunas!!!" Levi menjadi liar karena melihat bahan makanan yang ia suka.
[Ahh... ternyata dia kelaparan] Dalam benak semua orang melihat keliaran Levi.
"Hahahahaha kalau begitu bagaimana kalau kita olah bahan itu menjadi makanan dulu?" Rudy mengusulkan itu kepada yang lain.
Dengan sigap Rado menghampiri Rudy, "Kami menjualnya, bukan memberi!" Rado dengan tatapan sinisnya melihat kearah Rudy.
"Aaaaa.... baiklah ayo kita kebelakang" Rudy yang tertawa maksa melihat tingkah Rado.
Tank itu segera dimasukan kedalam garasi yang berada disamping toko, garasi itu menyatu dengan ruangan belakang yang mengurusi soal muatan dan penimbangan.
Pengukuran digital menunjukan keangka 92kg meskipun itu terlihat banyak tetapi karena itu hanya sebuah jenis rumput laut tetap saja memiliki berat yang tidak sebanding dengan ukurannya.
[Hah..... aku kira bisa dapat 200kg] Rado kecewa melihat berat muatannya.
"Ini 48 jt" Levi memberikan cek kepada Rado.
Rado dengan santai mengambil cek itu dan berfikir sejenak.
[Hah???] Ia terkejut dengan nominal itu. "Hei apa kau tidak salah memberi harga?" Rado terheran tetapi dengan wajah santainya.
"Tidak... harga dari Gamura memang segitu.. ia memang memiliki harga yang mahal meskipun kualitas menengah,, tetapi karena kau membawa dari Bos Gamura.. itu adalah bahan yang cukup baik.. jadi kami memberi mu dengan harga terbaik juga" Kata Levi memperjelas.
Rado memandangi cek itu dan menoleh kearah CLoe yang terbiasa mengurus pembagian hasil kepada anggota tim, ia segera mengasi cek itu agar tidak tergoda dengan nominal yang diberikan.
*syuppp.... Suara angin dari tangan cepat Rado saat memberi cek itu kepada CLoe yang saat itu langsung terkejut melihat sodoran cek.
Geraldo yang membawa sebuah kristal dari dungeon mendekat kearah kakanya.
"Kakak... ini Kristal coklat dari Gamura.." Geraldo memberi beberapa kristal dropan kepada Rudy.
"Ahh... baiklah" Rudy menerima kristal itu dan memberikannya kepada pegawai yang lain,"Ekstrak kristal itu menjadi pupuk" Rudy memerintah karyawanya.
"Pupuk?" Rado bertanya dengan cepat kepada Rudy.
"Ya... apa kau tidak tau kalau kristal dari tubuh monster bisa menjadi hal yang bermanfaat juga?" Kata Rudy bertanya pada Rado.
Rado hanya menggelengkan kepadanya tanda tidak tahu.
"Ah.. kau ini banyak tidak tahunya,, ayolah kita keruang makan dulu sambil berbincang-bincang" Ajak Rudy kepada yang lain.
Kristal yang dijatuhkan oleh monster setelah terbunuh bisa menjadi suatu yang bermanfaat juga, itulah mengapa negara mau membeli kristal tersebut dengan harga borongan. Kristal itu seperti bahan mentah yang harus diolah kembali agar menjadi barang jadi dan beberapa negara sudah mulai melakukan ekspor/impor untuk melakukan perdagangan kristal dan setiap kristal memiliki kegunaannya masing-masing seperti contoh kristal coklat itu jika di ekstrak bisa menjadi pupuk alternatif untuk menggantikan pupuk kompos atau kandang.
Dalam ruang makan di toko Hamstore, Rudy datang membawa makanan dengan bahan dari Gamura. Ia menyajikan tumis rumput Gamura dan nasi tunas Gamura. Bahan makanan yang terbuat dari Gamura memiliki harga yang lumayan mahal, bahkan jika bahan itu terbuat dari Gamura kelas terbaik dan diolah oleh koki yang hebat, harga dari makanan itu bisa menyaingi harga pistol yang digunakan oleh Rado. Itulah mengapa jika seorang bertemu dengan Gamura mereka sebisa mungkin untuk memburu mereka habis-habisan.
Selain Gamura terdapat beberapa monster yang menghasilkan bahan makanan yang mahal juga. Serat pada Gamura juga bisa dijadikan sebuah bahan untuk membuat pakaian tempur yang kuat namun ringan, tentu saja ditambah dengan campuran dari kristal BU - Coral yang terdapat pada Area Tambang lantai 2 untuk menambah kekuatannya.
"Apa kau sudah mengundangnya untuk makan bersama kita?" Kata Rudy bertanya kepada Levi yang saat itu sedang makan dengan rakus.
Mendengar Rudy berbicara kepadanya, Levi menghentikan makannya dan menoleh ke Rudy.
"Ya.. sebentar lagi dia akan datang"
Beberapa saat kemudian pintu ruang makan terbuka dan terlihat seorang pemuda masuk kedalam. Mereka semua menoleh kearah pemuda itu dengan biasa, namun tidak dengan Rado.
"Eh?!" Rado melihat pemuda itu dengan mata yang sedikit elebar terkejut.
Pemuda itu pun juga tidak kalah terkejutnya melihat Rado.
"Rado?!"