The Archon

The Archon
Manusia Vs Troll Part 6 - Bantuan Telah Tiba!



Saat ini pemburu top yang dapat diandalkan hanya tersisa Kuhler, Nikolai dan Yoga saja. Mereka yang telah berhasil menumbangkan Troll Prajurit dibelakang hanya bisa tercengang melihat dua Raja Troll yang berada dihadapat ketiga pemburu andalan tersebut. Nagatomo, Jason dan Jaquile terlihat berbaring tidak sadarkan diri. Beberapa dari mereka mulai menunjukan rasa takut kepada dua Raja Troll yang menjadi lawan terkahir.


Dalam pikiran mereka saat ini adalah jika seorang top dunia bisa mereka kalahkan, maka mereka bukanlah tandingan monster besar tersebut. Raja Troll yang baru saja datang kedalam pertempuran tersebut, memiliki rupa yang sama dengan Raja Troll pertama. Perbedaan yang mencolok diantara keduanya adalah dari segi warna kulit mereka. Raja Troll yang pertama cenderung berwarna gelap, sedangkan Raja Troll yang baru saja datang berwarna kecoklatan.


Ditengah tercengangnya mereka, Raja Troll yang berwarna kecoklatan itu mengambil sebuah mobil yang terparkir dan segera melemparkannya kearah para pemburu. Mobil tersebut melewati barisan Kuhler dan langsung menuju barisan pemburu yang berada dibelakang. Para pemburu pun segera menghindari serangan mobil yang terlempar tersebut dengan sigap.


Tidak ada korban jiwa akibat serangan pembuka itu, Raja Troll yang berkulit kegelapan mulai melangkahkan kakinya kedepan dan guncangan pun terjadi. Ia segera melesatkan sebuah serangan dengan pemukulnya kearah barisan Kuhler. Bagian gedung yang berada didekatnya hancur karena pemukul yang ia kerahkan terlihat mengenai dan menyeret bagian tersebut hingga membuat bongkahan gedung yang hancur tersebut menjadi serangan ekstra bagi para pemburu.


Kuhler yang tidak memiliki perisai berjalannya lagi mulai kelimpungan, insting menghindarnya hampir sepernuhnya tumpul karena sudah terbiasa dilindungi oleh Jason dan Nagatomoto, juga seorang mage memang terkenal sulit untuk menghindari serangan beruntun meskipun memiliki serangan yang kuat dibanding kelas yang lain.


"Cih!" Kuhler terlihat kebingungan.


"Kuhler!" Teriak Nikolai yang sudah menghindar terlebih dahulu.


Namun, Yoga dengan sigap menjadi perisai bergerak milik Kuhler sebagai pengganti sementara Jason yang sedang tidak sadarkan diri. Bongkahan batu tersebut mengenai perisai Yoga hingga membuatnya bergetar, lalu serangan pemukul yang menyusulpun Yoga tahan dengan perisai miliknya yang mulai lusuh itu. Yoga terseret kebelakang hingga menabrak Kuhler disaat ia mencoba untuk menahan pemukul tersebut.


Kuhler yang berada dibelakangnya pun ikut terseret kebelakang, ia dengan cekatan mendorong punggung Yoga sebagai usahanya untuk membantu Yoga menahan serangan tersebut meskipun itu tidak membuahkan hasil.


"Woahhhhh!!!!!!!!!!" Yoga berteriak saat menahan serangan tersebut.


"Bertahanlah!" Teriak Kuhler saat membantunya bertahan.


Yoga mengeluarkan semua force yang ia miliki, tubuhnya mulai diselimuti oleh force yang membludak. Lambang demicles tanda seorang pendampiingnya pun semakin menyala terang dan terlihat sedikit membesar. Perlambatan mulai terjadi hingga pemukul itu mencapai batas rotasinya. Yoga yang sudah terlepas dari serangan tersebut masih terdorong kebelakang bersama Kuhler dengan cepat.


Nikolai segera memposisikan dirinya dibelakang mereka untuk ikut menahan laju terdorongnya mereka. Tubuh Nikolai juga ikut terseret kebelakang akibat menahan Kuhler dan Yoga. Kaki mereka bertiga sampai mengeluarkan asap berkat gesekan antara sepatu mereka dengan aspal. Beberapa meter mereka terdorong, pada akhirnya mampu menghentikan efek dari serangan tersebut. Yoga segera tumbang kelelahan dengan satu lutut yang menyentuh tanah, ia menancapkan pedangnya kebawah sebagai tumpuan tubuhnya agar tidak tumbang sepenuhnya.


Nafas yang tersenggal-senggal dengan keringat yang cukup banyak menandakan kalau forcenya telah terkuras habis. Lambang demiclesnya pun terlihat mulai meredup dan perlahan menghilang. Seketika para pemburu yang masih mempunyai mental termasuk Bobby dan Kolo segera memasang badan untuk melindungi mereka.


"Wakapten kau tidak apa-apa?!" Tanya Kolo kepada Yoga.


"A-aku... Sial!" Yoga bergumam dengan lelah.


Kaki dan tangan kanannya terlihat gemetar setelah menerima serangan tersebut.


"Apa ini batas ku?" Tanya Yoga dalam benak kepada dirinya.


Nikolai yang mulai membuka mata setelah susah payah ikut menghentikan mereka berdua, segera memeriksa keadaan Yoga.


"Dia sudah tidak bisa bertarung lagi.." Kata Nikolai segera mengetahui kondisi Yoga.


"Apa?!" Kuhler terkejut.


"Tangan kanannya sudah mencapai batas.. kalau dilanjutkan mungkin dia bisa pensiun menjadi pemburu"


"Bagaimana kau bisa tau?!" Kuhler terlihat panik.


"Aku langsung bisa mengetahuinya karena memang tekhnik beladiri ku juga terkada mengincar persendian" Kata Nikolai memperjelas.


"Aku masih bisa bertarung.." Yoga mencoba menyangkal perkataan dari Nikolai.


Yoga pun mulai berdiri dengan bantuan pedangnya meskipun kedua kakinya terlihat sudah bergetar menolak untuk berdiri.


"Berentilah memaksakan diri!" Nikolai meninggi.


"Aku masih bisa.." Yoga tetap dengan dedikasinya.


Kuhler dan Nikolai hanya bisa melihat dirinya sedang berdiri dengan susah payah.


"Ayo kita lanjutkan.." Yoga dengan nada yang kurang meyakinkan.


"Tidak perlu sok kuat begitu.. Apa kau masih mampu mengangkat perisai mu?" Nikolai mencoba untuk mengetes Yoga.


Yoga mencoba untuk mengangkat tangan kanannya namun tidak berhasil.


"Lihat? Kau sudah tidak bisa bertarung" Kata Nikolai.


"Lalu bagaimana?! Dua tank yang mampu menahan serangan dari monster tersebut hanya dia dan Jason!" Kuhler mulai kesal dengan hasil pertarungan yang mulai terlihat.


Sementara itu dua raja troll mulai berjalan menghampiri mereka yang mana membuat para pemburu menjadi lebih was-was. Saat ini tanker yang berkompeten sudah tidak bisa bertarung lagi. Guncangan yang membuat daratan bergetar semakin terasa getarannya. Para pemburu yang ketakutan hanya bisa berdiam diri sambil menatap datangnya kedua monster tersebut.


"Nikolai? Apa kau masih bisa bertarung?" Tanya Kuhler menoleh kebelakang.


Nikolai hanya mengangguk menanggapi pertanyaan dari Kuhler.


"Bagus.. Setidaknya kita harus mencoba sampai Nagatomo, Jason dan orang bodoh itu bangun" Kuhler sambil berjalan kedepan para pemburu.


"Kalian.. mundurlah dan rawat yang terluka! Biar aku dan Nikolai yang mengulur waktu" Sambung Kuhler menoleh kearah para pemburu.


"Biarkan aku membantu!" Yoga tetap ingin membantu.


"Diamlah dan ikuti mereka.. kau hanya akan menjadi beban nantinnya" Kuhler menolak Yoga yang ingin ikut bertarung.


Dua raja Troll semakin dekat dengan mereka, para pemburu yang lain pun segera mundur sambil membawa mereka yang terluka maupun yang sednag tidak sadarkan diri. Saat ini, hanya Kuhler dan Nikolai saja yang berhadap-hadapan dengan dua raja tersebut.


"Baik!"


Nikolai yang mengerti maksud dari Kuhler segera melesat dengan cepat kearah dua Raja yang sedang menghampiri mereka. Nikolai membuang senapan apinya untuk mempercepat gerak tubuh. Ditengah perjalanannya menuju dua raja tersebut, Nikolai mengambil sebuah amunisi dan melakukan isi ulang pada kedua pistolnya. Nikolai segera melompat untuk melakukan manuver keatas raja Troll, lalu ia mencoba untuk menembakkan pistolnya kearah mata raja Troll yang memiliki warna kecoklatan tersebut.


Namun, Raja Troll yang diincar oleh Nikolai mampu menahan serangan tersebut dengan satu tangannya. Percobaan yang gagal tersebut disambut baik oleh raja Troll yang satunya, Ia segera melancarkan pukulan kearah Nikolai yang masih berada diatas tersebut, karena tubuhnya yang besar membuat gerakannya tidak terlalu cepat bagi Nikolai. Ia memutar tubuhnya dan mengarahkan kakinya kearah pukulan tersebut dengan maksud untuk menjadikan pukulan itu menjadi tumpuannya untuk menghindar.


Nikolai pun berhasil terhindar dari serangan yang fatal dengan cara mendorong kakinya saat pukulan tersebut menyentuh telapak kakinya. Dengan sedikit menekuk lututnya saat mendarat pada pukulan sang raja Troll membuat ia terhindar dari cedera dan juga menjadi daya dorong untuk mundur lebih jauh.


"Kerja Bagus!"


Puji Kuhler yang ternyata sedang menyiapkan sebuah serangan force yang cukup mengura forcenya. Cahaya putih kembali menyinari kedua tangannya, namun kali ini lebih terang dari sebelumnya dan simbol rapalan dari sihir forcenya pun juga terlihat lebih besar. Sebuah es yang terkumpul menjadi satu dan membentuk sebuah kristal es yang sangat besar.


Setelah ukurannya sudah cukup besar, Kuhler berniat untuk segera melancarkannya kearah raja Troll yang baru saja menyerang Nikolai. Dikarenakan posisi tangannya masih terbentang diudara setelah gagal menumbangkan Nikolai, membuat tangan tersebut menjadi sasaran empuk bagi Kuhler. Sebelum ia melancarkan serangannya itu, Raja Troll yang satunya menghentakan kakinya ketanah dan membuat darata berguncang kembali. Akibat guncangan tersebut, serangan es dari Kuhler terganggu dan melesat dengan cepat, namun tidak sesuai dengan apa yang sudah ia tergetkan.


Serangan itu hanya dapat menggores bagian atas lengan milik raja Troll yang satunya karena saat dilancarkan terganggu akibat guncangan yang dibuat oleh Raja Troll yang lain. Kuhler mulai terlihat lelah seketika karena force yang ia keluarkan untuk serangan tersebut sangat menguras tenaga. Nikolai tanpa membuat waktu segera memberondong tembakannya kearah dua raja tersebut.


Tembakan yang diberikan oleh Nikolai sangat tidak berpengaruh kepada mereka, hal ini dikarenakan force milik Nikolai juga mulai terkuras karena kelelahan. Mereka tidak memiliki waktu untuk istarahat yang cukup karena black dungeon yang terbuka secara bersamaan. Kedua Troll itu pun terlihat kesal dengan Kuhler dan Nikolai, mereka segera datang menghampiri dan mencoba untuk memukul Kuhler dari arah atas agar meratakan tubuhnya dengan tanah.


Kuhler berhasil menghindarinya setelah melompat kearah belakang, tanah berguncang dan tanah menjadi hancur terkena serangan mematikan tersebut.


"Bagaimana ini?! Force ku sudah muai ingin habis.." Nikolai melapor mengenai kondisinya.


"Potion biru?" Tanya Kuhler.


"Habis!" Balas Nikolai.


"Cih... apa kita harus mundur?!" Dalam benak Kuhler, "Tidak..! kalau aku mundur akan merusak reputasi ku"


"Nikolai! Ayo kita Coba lagi!" Sambung Kuhler.


"Baiklah... pastikan kali ini berhasil Kuhler"


Nikolai segera melesat kembali untuk menjadi dirinya sebagai pengalihan.


"Sial.. aku baru sadar, sejak kapan dia memanggil ku tidak menggunakan kata tuan?" Kuhler berbicara dalam benaknya sambil tersenyum.


Nikolai segera melompat kembali dan bersiap untuk melakukan manuver, namun kali ini raja troll dengan kulit gelap tidak akan membiarkan itu terjadi dua kali, ia menampar gedung yang ada disampingnya dan membuat bongkah-bongkahan yang hancur tersebut membuat serangan dari Nikolai gagal dan malah membuatnya jatuh akibat terkena serangan bongkah tersebut.


"Nikolai!" Teriak Kuhler melihat Nikolai tidak berdaya di jalan.


Ia pun beralih kembali kearah dua raja troll yang tersenyum.


"Apa?! Mereka tersenyum?!" Heran Kuhler.


"Ma-nu-sia...." Salah satu Raja Troll berbicara kepadanya.


"Eh?! Dia berbicara?!" Kuhler makin terheran.


Kuhler dipenuhi rasa heran yang amat besar setelah mendengar monster bisa berbicara, ini baru pertama kalinya ia mendengar hal tersebut. Dalam keheranannya, salah satu Raja tiba-tiba berlari kearah Kuhler, ini suatu momen yang baru saja diperlihatkan oleh Raja Troll tersebut bahwa ia bisa berlari. Kuhler segera bersiap untuk menghadapi salah satu Raja yang sedang berlari menghampirinya.


Setelah jarak mereka sudah menyempit, Raja Troll tersebut mengepalkan tangannya, lalu melancarkan sebuah pukulan. Kuhler yang memiliki banyak pengalaman bertempur segera mengeluarkan sebuah sihir ledakan sebelum pukul tersebut mengenainya yang mana membuatnya terdorong dan berhasil selamat dari pukulan maut tersebut. Namun dengan cepat Raja Troll yang satu lagi tidak memberikan nafas bagi sang mage nomor tersebut.


Raja Troll yang satunya berusaha untuk menginjak Kuhler, namun sekali lagi Kuhler dengan refleknya meledakan forcenya kebawah dengan segera yang membuatnya terdorong kebelakang. Kuhler mulai kehabisan nafas, ia mulai merasa jengkel dengan senyuman dari dua raja tersebut. Ia menoleh kearah Nikolai yang masih terbaring tak sadarkan diri, dan ia kembali beralih kepada dua raja yang berada didepannya.


"Sial! Sial! Mengapa dungeon ini begitu sulit!, Jason kepar*t! Disaat negaranya terancam, dia malah tumbang dengan cepat!" Gumam Kuhler kesal dalam benaknya.


Ia terus menerus menghindar tanpa ada kesempatan untuk menyerang. Melawan dua bos sekaligus, merupakan pengalaman pertama bagi Kuhler. Terlihat ia benar-benar mulai kelelahan dengan kecepatan menghindar yang semakin turun. Hingga salah satu serangan dari raja Troll yang ingin menginjak telat ia antisipasi membuat dirinya terpental akibat hentakan kaki tersebut.


Ia terguling-guling ditanah, namun hebatnya ia segera sigap meskipun belum sepenuhnya berdiri. Dalam ketidak siapannya itu ada sebuah bongkahan batu yag sudah melayang kearahnya.


"Sial!"


Kuhler mengeritkan dahinya karena serangan yang akan itu sudah tidak mungkin ia hindari. Batu itu semakin dekat dan semakin dekat. Tetapi disaat batu itu hampir mengenai dirinya, tiba-tiba seorang tanker datang memasang badan lalu menghalau batu tersebut dengan perisainya. Kuhler terkejut dengan kehadiran tanker tersebut disaat-saat yang pas.


"Lucero?!"


"Pemburu itu menoleh kebelakang, Yo tuan Kuhler.. maaf aku terlambat.." Kata Lucero yang menjadi pahlawan baginya.


"Lucero.. bagaimana bisa kau..."


Kuhler segera menoleh kebelakang dan melihat kearah gerombolan dari tim pemburu yang baru saja datang. Pemburu yang baru datang itu adalah tim yang telah menyelesaikan black dungeon di negara timur tengah. Terlihat Joon Sung, Kirisaki dan pemburu dari Indonesia bergerombol sedang berlari kearahnya.


"Bantuan telah tiba tuan Kuhler.." Kata Lucero kepada Kuhler.


Setelah tim yang baru saja datang sampai dimana Kuhler berada, tiba-tiba dua Raja yang sejak tadi tersenyum, berubah ekspresi menjadi wajah yang lebih serius bersamaan dengan seseorang dengan mata yang memantulkan warna keunguan keluar dari kerumunan tersebut.


"Kau!!"


Kuhler dengan wajah kesalnya melihat Rado yang tersenyum kearahnya telah tiba dipertempuran tersebut.