The Archon

The Archon
Kerusuhan dari Hutan



Hari menjelang sore itu Jeffry seperti biasa membawa setumpukan berkas yang akan diberikan kepada Rado, semenjak ia ditunjuk sebagai asisten dari Rado, hidupnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jeffry membuka handle pintu tersebut dengan tangan kirinya dan mendapatkan ruangan tersebut kosong.


"Eh?! Tidak ada siapa - siapa? Tuan Rado dan tuan Albert sedang tidak ada disini? Atau tuan Rado sedang..." Jeffry sekilas mengingat pesan Rado ketika ia ingin melakukan kegiatan secara diam - diam.


"Jeffry.. Bila aku sedang tidak ada dan Albert juga sedang keluar.. Jangan biarkan ada yang mengetahuinya..." Kata Rado saat berdua dengannya di dalam ruangan tersebut.


"Tapi.. Bagaimana dengan tugas mu tuan?!" Panik Jeffry.


"Nanti ku kerjakan setelah aku kembali, lagipula kau ingin membantu ku bukan?" Senyum Rado kepada Jeffry.


Jeffry yang saat itu hanya sebagai asisten tidak bisa menolaknya.


"Hah... Kenapa menjadi seperti ini.." Jefrry mengeluh saat keluar dari ruangan Rado.


Secara kebetulan ada Julie dan Watz yang ingin menemui Rado untuk melapor kegiatan patroli mereka disekitar wilayah ras manusia.


"Ee..... Maaf saat ini tuan Rado sedang tidak ingin di ganggu..." Kata Jeffry dengan gugup.


"Apa yang terjadi memangnya?" Tanya Watz tanpa curiga.


"Karena... Karena tuan Rado sedang kesal dengan tuan Albert dan membuatnya sedang dalam keadaan mood yang tidak bagus.." Jawab Jeffry mengingat pertengkaran mereka berdua pagi tadi.


"Begitu... Baiklah, sampaikan saja pada tuan Rado kalau wilayah bagian timur sudah aman..." Kata Watz sambil meninggalkan Jeffry.


Saat itu Julie menoleh kembali kearah pintu ruangan Rado karena merasa khawatir dengan dirinya. Beberapa saat kemudia baru saja Jeffry berhasil mengelabui mereka berdua, datanglah Yoga yang ingin berbincang dengan Rado.


"Ah.. Tuan Yoga... Maaf tuan Rado sedang tidak ingin diganggu.." Gugup Jeffry.


Yoga yang tidak bisa dibohongi dan juga lebih mengenal Rado dari siapapun mengacuhkan peringatan dari Jeffy.


"Mengapa?" Tanya Yoga tetapi sambil membuka pintu.


"Aaaaaaa Itu....." Telat Jeffry mencari alasan.


Yoga terdiam melihat ruangan itu telah kosong, karena kesal melihat Rado tidak ada dalam ruangan tanpa memberitahunya, Yoga menoleh kearah Jeffry dengan wajah datar namun mengeluarkan aura mengerikan.


"Jeffry sebaiknya kau memberitahu ku kemana dia pergi.." Kata Yoga mengancam.


"Ba - baik...." Jawab Jeffry ketakutan.


Sementara itu, Albert yang baru saja menyelesaikan tahap pertama untuk membangun kamp akademi militer di distrik bawah segera masuk kedalam ruangan Rado seperti biasanya. Namun dalam kelelahannya itu, ia terkejut melihat Yoga yang sedang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya dibawah dada dengan Jeffry yang sedang terduduk menyesal.


"Eeee.... Dimana tuan Rado...?" Tanya gugup Albert melihat kejadian tersebut.


"Albert.... Kenapa kau memberikannya izin untuk itu..." Geram Yoga tanpa ekspresi segera menoleh kepada Albert.


"Ahhh itu karena..." Gugup Albert.


"Jadi alasan Rado kemarin itu tidak datang lebih awal karena ini...?" Tanya Yoga sekali lagi.


"Maafkan aku... Ini permintaan darinya, aku tidak bisa menolak.." Mohon Albert dengan amat menyesal.


"Hah..." Yoga menghela nafasnya sambil duduk disofa yang berada disana.


"Aku tidak menyangka kalau dia orang yang lalai dalam pekerjaan..." Sambung Yoga mengomentari Rado yang kabur dari ruangan.


Saat Yoga sedang menghilangkan penat karena kelakuan Rado, ia menoleh kearah mejanya yang dipenuhi oleh berkas - berkas.


"Pantas saja ia lari... Ia pasti merasa bosan hanya duduk melihat kertas - kertas itu.." Iba Yoga dalam hati terhadap Rado.


"Baiklah kalian berdua... bantu aku untuk menyelesaikan pekerjaanya... Hari ini aku memberikan dirinya pengecualian.." Kata Yoga mencoba baik.


Yoga segera mengambil salah satu berkas yang berada di mejanya. Isi berkas tersebut merupakan kumpulan dari laporan - laporan mengenai perdagangan, pembangunan, sosial dan juga masukan - masukan yang diberikan oleh para rakyatnya, semenjak Rado menjadi seorang pemimpin dinegara tersebut dan mengganti sebutan "Raja" yang melekat dengan sistem monarki, ia memperbolehkan rakyatnya untuk mengirimkan pemikiran mereka kepada dirinya.


"Rado ini... Karena kebijakannya sendiri, ia jadi tenggelam dalam lautan kertas ini.." Keluh Yoga.


"Apa kita harus memberitahunya untuk menghentikan ini?" Tanya Albert kepada Yoga secara langsung.


"A - aku sebenarnya juga sudah pusing membaca laporan yang diterima oleh tuan Rado..." Keluh Jeffry yang selama ini membantu Rado.


"Sepertinya kita memang harus menghentikannya..." Jawab Yoga sambil membaca satu persatu laporan tersebut.


Kembali ke kamp pelatihan yang berada didistrik menengah dimana Rega dan Ranz sedang bertemu didalam sebuah kelas. Mereka sedang bertatap - tatapan dengan Ranz yang berjongkok diatas meja sambil tersenyum gila kepada Rega.


"Aku ingin kau membantu ku untuk membereskan pemuda bermasker itu..." Kata Rega.


"Hahahaha maksud mu orang yang menghajar mu habis - habisan?" Tawa kencang Ranz mengngat kejadian kemarin.


"Diam kau..." Geram Rega gemetar dan juga malu.


"Baiklah.. Aku akan membantu mu, tapi kau akan menjanjikan ku apa?" Tanya Ranz.


"Setiap bagian yang kau patahkan, akan ku bayar sebesar satu koin emas..." Cetus Rega.


"Dua koin emas atau tidak sama sekali.." Tawar Ranz.


"Cih! Baiklah... Aku tunggu kabar baik dari mu.." Kesal Rega dan segera meninggalkan mereka.


"Hati - hati dijalan bos muda... Hahahahaha" Ejek kelompok Ranz kepada Rega saat ia beranjak pergi.


"Hihihihi... Kalian sudah dengar bukan apa kaya tuan muda pengecut itu?! Cari pemuda yang mencari masalah dengannya dan patahkan setiap sendi yang ada pada tubuhnya..." Perintah Ranz tersenyum menyeringai.


"Baik Ranz!" Jawab kelompoknya dan mulai mencari Rado.


"Hihihiihi aku suka dengan orang kaya yang lemah..." Kata Ranz senang mendapat pekerjaan.


Saat itu, Rado yang mengurungkan niatnya untuk makan karena tidak ingin melepas maskernya, beranjak pergi dari akademi.


"Sobat! Sobat!" Panggil Ranbu.


Rado terus berjalan mengacuhkan Ranbu tanpa alasan apapun. Tetapi Ranbu terus mengejarnya karena ingin mengetahui alasan mengapa ia pergi begitu saja.


"Hei tunggu...!" Ranbu pada akhirnya mampu mengejar Rado.


"Apa yang terjadi pada mu?" Tanya Ranbu kepada Rado.


"Aku hanya tidak ingin makan disana..." Jawab Rado.


"Haaaa... Padahal aku baru saja memakannya sedikit.." Eluh Ranbu sambil memegang kepala belakangnya.


"Aku tidak memaksa mu untuk ikut dengan ku..." Kata Rado tanpa menatapnya.


"Shsihsihsi kenapa kau berbicara seperti itu? Bagaimaa kalau kita makan diluar saja..." Ajak Ranbu.


"Tidak terimakasih..." Tolak Rado.


"Heeee Aku yang traktir..." Ranbu terus merayu Rado.


"Tidak.." Tolak Rado sekali lagi.


"Apa ini menyangkut wajah mu?" Sontak Ranbu bertanya.


Rado terhenti setelah Ranbu menanyakan hal tersebut.


"Berhentilah mencari tau.." Jawab Rado, lalu kembali berjalan.


"Hei... Kita ini teman kan? Mengapa kau masih menyembunyikan diri mu pada ku.." Ranbu mulai kesal.


"Diamlah.." Jawab Rado mulai meninggi.


Ranbu yang juga mulai kesal berlari dan menghadang Rado.


"Aku tidak akan melihat wajah mu... Tapi kita harus makan sesuatu.." Kata Ranbu.


Karena merasa lelah diikuti orang seperti Ranbu, pada akhirnya Rado melunak.


"Baiklah... tetapi aku ingin tempat makan yang sepi..." Syarat dari Rado.


"Shishsihsi itu mudah.. Ayo ikut aku..." Kata Ranbu merasa senang.


Rado dan Ranbu akhirnya berjalan bersama keluar gerbang akademi. Disisi lain, beberapa pemuda yang sudah menunggunya sejak tadi mulai bergerak dan mengikuti mereka berdua secara diam - diam menggunakan jubah hitam panjang dan tertutup tudung kepala. Matahari mulai terbenam, Rado dan Ranbu mulai berjalan ditengah - tengah kerumunan orang - orang yang melakukan aktifitasnya seperti biasa.


"Kau tidak bersama kelompok orang yang tadi?" Tanya Rado mengingat Ranbu ingin masuk kedalamnya.


"Kalau kau tidak ikut, aku juga tidak..." Jawab Ranbu enteng.


Didalam kerumunan orang banyak, kelompok dari Ranz berjalan mengikuti mereka sambil berbaur didalam keramaian kota. Rado yang memiliki kepekaan yang luar biasa sudah mengetahui tingkah mereka semenjak keluar dari akademi, namun Rado belum mengambil tindakan.


"Sobat.. Kemari..." Ajak Ranbu kedalam sebuah restoran yang cukup besar.


Suasana restoran itu masih belum disinggahi oleh banyak pengunjung karena masih diawal malam, restoran itu bercampur dengan sebuah penginapan bagi mereka yang berasal dari luar ibukota dan memilh untuk menginap disana.


"Ah tuan Ranbu, anda datang.." Sambut pelayan yang bekerja disana.


"Shsihsihsi... Bisakan aku memakai ruangannya?" Tanya Ranbu.


"Baiklah.. Akan saya siapkan.." Ramah pelayan tersebut.


"Anda ingin memesan apa?" Tanya pelayan tersebut.


"Seperti biasa saja.." Jawab Ranbu tersenyum.


"Baiklah, tunggu sebentar tuan..." Senyum pelayan tersebut.


Setelah pelayan itu pergi, Rado terus menatap kearah Ranbu yang sedang tersenyum senang.


"Ada yang ingin kau tanyakan sobat?" Tanya Ranbu.


"Bagaimana bisa kau mendapatkan tempat seperti ini?" Tanya Rado.


"Shishishsih ini karena ayah ku suka makan disini bersama ku sejak dulu... Lalu pemilik restoran ini menjadi kenal dengan keluarga kami dan setiap aku datang kesini, aku selalu diberikan diskon sampai 50%" Jawabnya dengan senang.


"Hoo begitu.." Rado menanggapi.


Beberapa saat mereka menunggu, pelayan itu datangan kembali membawa sebuah troli makanan dengan berbagai macam menu diatasnya. Pelayan itu segera menaruh makanan tersebut diatas meja yang cukup mewah tersebut. Setelah ia telah selesai menyiapkan makan kepada Ranbu dan Rado, pelayan itu menarik diri dan keluar dari ruangan vip tersebut. Setelah semua sudah aman dan sepi, Rado perlahan ingin membuka maskernya didepan Ranbu.


"Eh?! Sobat... Bukankah kau tidak ingin membuka masker mu?! Biarkan aku makan dengan keadaan terbalik.." Usul Ranbu.


Rado yang baru memegang maskernya terhenti mendengar ucapan Ranbu.


"Dalam keadaan terbalik? Bagaimana caranya kau makan kalau begitu?" Tanya Rado tersenyum.


"Sudahlah... hanya ada kita didalam ruangan ini.." Sambung Rado.


Rado pun membuka maskernya didepan Ranbu, saat masker itu diletakan diatas meja oleh Rado, Ranbu pun terkejut melihat siapa dibalik masker tersebut.


"A - Anda...." Wajahnya terkejut sekaligus berkeringat.


Rado tersenyum kepadanya tanpa mengenakan masker.


"Maafkan kelancangan ku selama ini tuan..." Seketika Ranbu berdiri dari duduknya dan memberi hormat kepada Rado dengan wajah tertunduk.


Tubuhnya gemetar setelah mengetahui identitas Rado yang sebenarnya, tubuhnya tidak berhenti bergetar mengingat perlakuannya kepada orang nomor satu di negeri ini. Rado tidak terusik dengan perilaku Ranbu yang tiba - tiba berubah menjadi sangat formal dan kaku, ia mengambil sebuah pisau dan juga garpu lalu memotong daging yang sudah berada didepannya.


"Duduklah dan temani aku makan..." Perintah Rado dengan tenang.


"Tapi.." Ranbu masih dalam kekuan.


"Duduk.." Potong Rado.


Ranbu segera duduk didepan Rado dan mencoba untuk menyantap makanan yang berada didepannya, sifatnya berubah 360 derajat setelah mengetahui identitas Rado. Rado merasa tidak nyaman dengan tingkah Ranbu yang tidak seperti biasanya.


"Bersikap lah seperti biasanya diri mu..." Pinta Rado.


"Tapi itu sama saja tidak sopan dengan orang nomor satu di negara ini.." Gugup Ranbu.


"Dengarkan.... Saat ini aku sedang menyamar menjadi salah satu murid di akademi untuk mengetahui sesuatu... Selama aku disana kau harus bersikap seperti biasanya diri mu dan menganggap ku sebagai Raka, bukan Rado pemimpin ras manusia.." Kata Rado sambil memotong daging tersebut.


"Ba - baiklah tu-.." Jawab Ranbu, namun Rado menatapnya dengan tajam.


"Raka... Maksud ku, Baiklah Raka.." Canggungnya.


Malam itu mereka menghabiskan malam dengan makanan super enak dan juga sebuah keheningan. Setelah mereka selesai melakukan makan malam, Ranbu dan Rado segera keluar dari restoran tersebut dan berjalan - jalan sebentar dikeramaian kota. Rado kembali mengenakan maskernya selama ia berjalan dikeramaian tersebut, malam ini sama seperti malam - malam sebelumnya dimana aktifitas warga yang amat ramai dengan berbagai kalangan.


"Ranbu... Aku ingin mengetahui beberapa hal yang kau ketahui selama ini.." Pinta Rado.


"Anda ingin mengetahui apa tuan?" Jawab Ranbu yang mulai terbiasa.


"Ceritakan kepada ku mengenai akademi tahun ini..." Kata Rado meminta kepada Ranbu.


"Hmmm aku tidak begitu tau banyak seluk beluk akademi, akan tetapi yang ku ketahui.. Tahun ini adalah tahun keemasan dimana anak - anak dari petinggi militer dan orang - orang penting lainnya memasuki akademi tahun ini" Jelas Ranbu.


"Hoo... Apa yang membuat mereka serentak masuk kedalam akademi tahun ini?" Tanya Rado.


"Itu karena kemunculan anda tuan... Pemuda di negara ini berlomba - lomba masuk kedalam akademi militer selain karena tuntutan mengikuti jejak orang tuanya, juga mereka meyakini kalau ranah kemiliteran akan berkembang pesat... Umur para pemuda yang memasuki akademi militer tahun ini, rata - rata seumuran dengan ku, yaitu berumur 26 tahun dan mungkin ada yang berumur dibawah maupun diatas, tetapi dari pemuda yang ku kenal tahun ini mereka seumuran dengan ku..." Jelas Ranbu.


Rado terus menyimak.


"ini mungkin tidak sopan, tetapi aku penasaran dengan umur anda.." Toleh Ranbu kepada Rado.


Rado menutup matanya dan tersenyum, "Aku sudah lupa berapa umur ku... Tetapi mungkin sekarang ini umur ku diantara 25 sampai 29 atau mungkin 40 tahun" Jawab Rado bercanda.


"Eh apa anda sedang bercanda tuan?! Tetapi kalau memang umur tuan masih dalam kepala 2, berarti anda sangat hebat karena diumur yang sangat muda, anda sudah menjadi seorang penguasa!" Ranbu terkejut.


"Jangan menyebut ku sebagai penguasa.. Itu membuat telinga ku sakit.." Rado merasa tersentil.


"Maafkan aku.." Panik Ranbu.


Rado terdiam memikirkan sesuatu, "Saat ini aku sampai tidak tahu umur ku sudah berapa tahun karena terlemparnya diri ku ke dunia ini... Mengingat cerita mengenai Zowie yang dua tahun lebih dulu masuk kedunia ini, bukan berarti tidak menutup kemungkinan kalau roh kami ditahan oleh para dewa sampai berpuluh - puluh tahun lamanya sebelum dunia ini terbentuk.." Pikir Rado.


Ada sebuah keheningan diantara mereka setelah percakapan terakhir itu, Ranbu terlihat menunduk menyesal karena mengatakan hal demikian. Sementara itu, orang - orang Ranz masih mengikuti mereka berdua dalam keramaian, Rado yang mulai risih mulai mengambil tindakan secara diam - diam tanpa diketahui oleh Ranbu. Rado memanfaatkan keramaian yang sedang terjadi ditengah kota dan memisahkan diri dari Ranbu ke pinggir keramaian.


"Eh?! Dimana tuan Rado?" Panik Ranbu baru tersadar Rado sudah tidak ada disebelahnya.


Rado berjalan kesebuah gang yang sangat gelap dan jauh dari keramaian. Bodohnya, orang - orang Ranz mengikuti dirinya dan merasa puas karena berhasil mendapat kesempatan karena bisa menghabisi Rado saat itu juga.


"Kalian ini... Apa kalian ada perlu dengan ku?" Tanya Rado dibalik maskernya sambil memunggungi mereka.


"Hihihihi... Akhirnya kau sendirian juga" Kata Ranz keluar dari belakang kelompoknya yang sedang tertawa kecil.


"Hooo jadi kau ketuanya.." Kata Rado saat melihat Ranz.


"Hahaha ya.. aku ketuanya, sepertinya kau sangat bodoh... Kenapa kau melipir ke jalan yang sepi? Apa kau sudah bosan hidup?" Tanya Ranz tersenyum seperti kuda.


"Aku melipir untuk memancing kalian keluar.." Jawab Rado tenang.


"Eh?!" Mereka semua terkejut.


Ranz yang semulanya tersenyum, terkejut dengan jawaban Rado.


"Hihihihi omong kosong sekali... Jangan harap kau bisa keluar dari sini dalam keadaan normal... Serang dia!" Perintah Ranz.


Kelompoknya pun menyerang Rado secara bersamaan menggunakan berbagai macam jenis senjata jarak dekat, Rado hanya berdiri di sisi gang yang berlawanan sambil memperhatikan mereka. Saat mereka sedang berlari kearah Rado, selintas ia melihat pakaian akademi yang tersingkap dibalik jubah orang yang menyerangnya.


"Mereka benar - benar dari akademi?!" Mata Rado melebar.


"Sepertinya aku tau siapa yang memerintah mereka.." Sambung Rado tersenyum.


Saat mereka berada dijangkau Rado, Rado dengan cepat menghajar mereka dengan tangan kosong. Ranz terkejut saat melihat kelompoknya ditumbang dengan cepat. Saat ini Rado terlihat berdiri ditengah - tengah para murid yang sedang tumbang disekitar kakinya. Rado pun menoleh kearah Ranz yang terdiam kaku, ia sedikit mengeluarkan auranya dan membuat Ranz ketakutan yang luar biasa.


Rado perlahan berjalan mendekat kearah Ranz yang terdiam kaku dengan mata bergetar. Giginya bergidik hanya merasakan aura Rado yang menutupi nafasnya. Perlahan Rado melangkahkan kakinya, suara setiap langkah kakinya seperti sebuah ancaman bagi Ranz. Lalu, saat mereka saling berhadap - hadapan...


"Ma - Maafkan a-" Pinta Ranz.


Namun Rado segera meninju dirinya hingga terpental jauh melewati gang - gang yang saling terhubung. Para warga yang saat itu sedang melintas dijalan utama, terkejut melihat seseorang terbang sekilas melewati mereka. Rans berhenti setelah menabrak tembok dengan semua giginya yang hancur.


Ranbu yang saat itu panik mencari keberadaan Rado, akhirnya bertemu kembali dengannya tidak lama dari perkelahiannya.


"Tuan! Kemana saja kau!" Ranbu khawatir.


"Ah.. Maaf, aku terbawa arus orang lain.." Senyum Rado.


"Huft... Aku kira kau marah dengan ku..." Lega Ranbu.


"Hahahah marah? Itu tidak mungkin.." Jawab Rado.


Malam itu berakhir begitu saja, setelah beberapa kejadian menimpanya di akademi. Diwaktu yang sama dibagian barat wilayah ras manusia, Kenny yang saat ini sedang bertugas menjaga perbatasan dibuat waspada dengan kepulan asap yang datang mendekat.


"Tuan Kenny! Gawat!" Teriak salah satu prajurit yang berada di tower perbatasan.


Kenny yang sedang membaca buku dengan sebuah rokok elektrik dimejanya, segera beranjak dan berjalan mendekat kearah prajurit yang berada diatas tower.


"Ada apa?!" Tanya Kenny saat baru sampai dipuncak.


"Itu.." Tunjuk prajurit.


Kenny segera melihat kearah tulunjuk prajurit itu mengacung, kepulan asap yang selama ini tidak pernah terjadi, muncul mendekat kearah pos penjagaan ras manusia.


"Uwa... Banyak sekali! Semuanya cepat bersiaga!" Perintah Kenny.


Suara sirine berbunyi sangat keras dan memaksa para prajurit berkumpul didalam lapangan pos penjagaan. Peralatan lengkap sudah terpasang pada tubuh mereka dan bersiap untuk melakukan pertempuran dimalam hari itu. Kenny yang saat ini masih berada diatas tower terlihat gelisah melihat sesuatu yang datang itu.


"Ini... Bagaimana mungkin para monster dari hutan secara bersamaan menyerang?!" Pikirnya sambil menatap jauh berbagai macam monster berbagai ukuran sedang berbondong - bondong menuju pos bagian barat.


"Tuan Kenny! Semua sudah siap!" Lapor salah satu prajurit.


"Baiklah.. Aku akan turun.." Jawabnya dengan serius.


Kenny beralih kembali menatap kepulan asap tersebut.


"Aku harus membereskan kekacauan ini sebelum tuan Kan hadir disini..!" Tekadnya untuk membereskan kekacauan yang datang tiba - tiba