
Disisi belakang perisai yang membentuk tempurung, Joon yang terduduk melihat kearah Lucero yang saat ini sedang memberikan perlindungan kepadanya bersama para tanker yang lain.
"Lucero!" Sapa terkejut yang datar dari Joon Sung.
"Sepertinya aku tepat waktu hehehe" Lucero menoleh kearahnya dengan senyuman.
Setelah beberapa kembalinya Lucero kedalam pertempuran, ia merasa bersalah atas kematian anggotanya. Tanpa diberitahu oleh Joon mengenai kondisi saat ini, Lucero memasang wajah melasnya karena ketidakmampuannya dalam melindungin anggota. Abu hitam yang menumpuk disekitar sana sudah menjawab pertanyaan Lucero saat pertama kali datang mengenai perginya seluruh anggota.
Naga pun kembali sadar dari hentakan serangan yang dilontarkan oleh Julie dan Rudy, Naga itu terlihat sangat kesal akibat semburannya bisa mereka patahkan. Didepannya sekarang ini terdapat tumpukan perisai yang dibuat oleh kumpulan tanker. Ia meraung kesal dan segera mengayunkan ekornya kearah kumpulan perisai itu.
"Dia datang!" Teriak Kirisaki memberi peringatan.
Mereka segera menggabungkan force secara bersamaan dan memperkuat barisan pertahan demi menyambut serangan ekor yang sudah menerbangkan Lucero dan Aamber. Ekor itu semakin dekat dengan kecepatan yang amat menakutkan. Setelah ekor itu menabrak pertahanan perisai ada sebuah ledakan angin yang terjadi. Dorongan dari ekor itu benar-benar kuat sampai-sampai mampu memaksa para tanker terdorong sedikit demi sedikit meskipun mereka bertahan bersama.
"Dorong!!!! Apa hanya segitu kekuatan kalian?!" Pancing Lucero untuk menaikan semangat para Tanker.
Para tanker pun terpacu akan pancingan dari Lucero dan menguatkan pijakan serta dorongan mereka demi menahan serangan ekor tersebut.
"Ini gawat! Ketahanan perisai ku sudah tidak baik setelah menerima semburan itu!" Kan memberitahukan informasi mengenai perisainya.
"Alirkan force mu lebih banyak ke perisai untuk memperlambat turunnya ketahanan perisai" Kirisaki memberikan arahan.
"Kita harus memberi jeda untuk mengganti perisai yang rusak, aku tadi melihat banyak perisai yang berserakan bekas pemburu yang gugur" Kata Lucero memberi saran.
"Baiklah kalau begitu-"
Sebelum Kan menyelesaikan omongannya, Julie berteriak kearah mereka, "Awas semburan itu datang lagi!"
Sontak itu membuat mereka lebih tambah panik karena jika perisai mereka terkena serangan semburan itu, dapat dipastikan perisai mereka akan meleleh.
"Cepat serang lagi kepalanya jangan sampai ia mengeluarkan serangan itu!" Teriak Lucero kepada mereka yang memiliki serangan jarak jauh.
Para mage dan ranger segera mengeluarkan serangan terbaik mereka kearah kepada sang naga, namun cara itu tidak berhasil untuk kedua kalinya. Naga itu menutupi diri dengan sayapnya yang sangat lebar dan mencegah serangan tersebut mengenai kepalanya. Ketika sayap itu terbuka, api dalam mulut naga itu pun sudah terkumpul dan siap ditembakan. Semburan api yang kesekian kalinyapun Naga itu lepaskan dan mengarah ke mereka.
Tatapan cemas pun mereka tunjukan dari belakang perisai yang tertata rapih itu, mereka pun sudah siap dengan resiko yang akan datang sekian detik lagi. Tetapi disaat semburan itu hampir sampai kepada mereka, sebuah trisula pun terbang dengan cepat dan mengenai bagian dagu sang naga yang membuatnya mendongak dan sekali lagi mampu membuatnya untuk mengubah laju semburan tersebut.
"Joon!" Lucero reflek menoleh kebelakang.
"Hahahaha hanya tinggal itu yang bisa kulakukan" Joon tersenyum lemas setelah berhasil menyelamatkan mereka.
Tanpa membuang-buang waktu, para tanker pun segera membuka pertahanan mereka dan segera maju kedepan, para damage dealer tipe jarak dekat pun juga ikut melesat dibelakang para tanker menuju sang naga yang sedang terhentak akibat trisula milik Joon.
Setelah jarang yang dianggap pas oleh mereka, para damage dealer segera melompat secara bersamaan dengan bantuan pijakan dari perisai para tanker. Mereka terbang kelangit menuju kepala sang naga dan memberikan serangan beruntung yang amat banyak. Sang naga pun mulai merasakan sakit karena ketahanan sisiknya yang mulai melemah karena force yang ia miliki mulai habis karena semburan api yang ia pakai berkali-kali.
Sekarang ini serangan para pemburu mulai menunjukan efek yang merusak bagi tubuh sang naga, lebih tepatnya pada bagian kepala. Raungan kesakitan dari naga putih pun mulai menggema keseluruh kota dengan amat keras, setelah waktu diudara para close range sudah habis dan mereka kembali ketanah. Para Mage dan ranger segera menghujani kepala naga tersebut dengan serangan yang sama sekali lagi.
Ledakan pada kepala sang naga pun membuat kepalanya terkoyak pada bagian atas kanan. Ia meronta-ronta menyerang membabi buta untuk menyingkirkan para pemburu yang mengelilinginya, namun tidak mengenai satupun pemburu. Lucero yang segera berlari dari belakang dan meminta sebuah pijakan dari Kan yang saat itu berada didepannya.
Lucero pun melompat dengan perisai dan palu thornya. Ia melompat dengan memposisikan perisainya yang berduri kearah depan dan mengincar mata kanan naga tersebut. Naga itu semakin meronta akibat benda asing menancap dimatanya, Lucero pun segera memukul tengkorak naga itu dengan palunya yang sudha terbalut force berkali-kali. Wajahnya sangat kesal dan napsu akan membunuh naga tersebut.
Pukulan demi pukulan dari Lucero mulai membuahkan hasil, tengkorak sang naga putih pun mulai retak dan berujung pecah hingga darah kehijauannya menyembur keluar. Untuk terakhir kalinya, serangan palu milik Lucero pun sangat terang akibat force yang ia fokuskan pada satu titik. Lucero terlihat sangat perkasa diatas sana dan disaksikan oleh para pemburu yang menyaksikan dari bawah.
Palu terkahirpun ia daratkan dengan pasti kearah luka yang sudah besar dan seketikan membuat naga itu diam dan roboh. Lucero yang saat itu masih berada diatas kepalanya pun jatuh dari ketinggian dan mengakibatkannya terbentur ke aspal dengan keras.
Lucero saat ini sedang terkapar disebuah retakan yang ia buat sendiri, para pemburu segera mengerubunginya dan memastikan keadaan dirinya yang baru saja jatuh dari ketinggian yang mana mampu membunuh orang biasa.
"Lucero! apa kau baik-baik saja?!" Tanya Joon khawatir.
"Hahaha aku baik-baik saja" Senyum lebar Lucero kepada teman pemburu dekatnya.
Joon pun tersenyum lega melihat Lucero baik-baik saja, tetapi ada sesuatu yang mengganja dalam pikirannya. Ia menoleh kesana kemari dan berakhir kembali menatap Lucero.
"Aamber..."
Sebelum Joon Sung ingin memberitahu keadaan Aamber, Karen yang saat itu tidak ikut bertarung mendekati Joon Sung.
"Dia baik-baik saja" Karen yang berbicara sambil menoleh kearah Aamber yang saat ini sedang terbaring disebuah gedung.
Melihat Aamber yang sudah ditangani membuat Joon Sung lega, Mereka pun segera membantu Lucero untuk bangun dari tidurnya. Raut wajah dari para pemburu yang tersisa terlihat sangat senang dan beban yang mereka pikul selama ini seperti hilang begitu saja.
"Hahaha akhirnya kita mengalahkan bosnya" Dengan naif Lucero berkata demikian.
"Selamat!!"
"Kita berhasil!!!"
"Ahh... didetik-detik akhir kita berhasil!"
Sorak gembira dan tangisan mereka keluarkan secara bersamaan setelah memenangkan pertarungan itu. Dikarenakan tanda-tanda ruangan bos yang tidak ditemukan dalam dungeon tersebut, mereka semua menyangka kalau naga putih itu adalah bos pada dungeon tersebut. Sekarang ini mereka hanya tinggal keluar dari black dungeon tersebut dan otomatis dungeon tersebut akan tertutup dengan sendirinya. Mereka berjalan menuju gerbang tempat pertama kali mereka memasuki dungeon tersebut. Tawa, senyum dan kebahagian menyertai jalan mereka untuk mencapai gerbang keluar.
Jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan pertama kali mereka memasuki dungeon, sebuah pembantaian pemburu terulang kembali didalam black dungeon yang fenomenal itu. Namun, mereka terlalu cepat untuk merayakan kemenangan.
"Eh?!" Heran Geraldo saat ingin keluar gerbang.
Gerbang itu masih terkunci sama seperti sebelumnya.
"Geraldo, ada apa?" Tanya Rudy menghampiri adiknya.
"Gerbang ini tidak mau terbuka" Dengan gemetar Geraldo memberitahu kondisi gerbang saat ini.
"Apa?!" Sontak membuat para pemburu amat sangat terkejut.
"Kalau begitu..." Asumsi dari Kirisaki pun mulai ia lontarkan.
Ditengah keheranan para pemburu, sebuah erangan dari makhluk yang tidak diketahui terdengar amat keras melebihi naga putih sebelumnya.
"Tidak... ini tidak mungkin" Sangkal Din yang terlihat kelelahan.
Dentuman dan getaran kembali terjadi didalam dungeon tersebut dibarengi dengan asap tebal yang tiba-tiba muncul, namun dentuman itu tidak seperti langkah kaki, lebih jelasnya seperti dentuman dari benda berat yang jatuh menghantam ketanah dengan keras. Dentuman dan getaran itu semakin terasa, asap tebal pun juga ikut menebal seiring dengan dekatnya sosok tersebut. Para pemburu mulai terlihat waspada akan hadirnya makhluk yang diyakini sebagai bos yang menunggu black dungeon ditimur tengah.
Beberapa saat kemudian sebuah sosok yang memiliki tubuh panjang seperti menggeliat didalam asap yang tebal tersebut, ia seperti ular dengan tandung dikepala serta kumis yang panjangan. Dentuman dan getaran itu berasa dari ekornya yang panjangan berkecamuk sampai ketabawah.
"Itu....." Lucero terkejut melihat makhluk yang sudah menampakan dirinya. "Ini mimpi bukan...? Hei kalian..." Lucero meminta kejelasan kepada para pemburu yang lain.
"Kita tidak sedang bermimpi kapten Lucero, makhluk itu adalah Shenlong!" Rudy memberitahukan kepada Lucero kalau ia tidak sedang bermimpi.