
Keesokan paginya, Disebuah kamar apartemen mahal didaerah kuningan Jakarta Selatan. Terlihat Vasco yang sedang tertidur dikasurnya mulai terlihat gelisah dan mengeluarkan keringat karena mimpi yang ia alami sekarang.
Dimimpi itu, Vasco terlihat mengenakan pakaian tempur yang dulu pernah ia gunakan saat masih aktif menjadi seorang pemburu dan dalam mimpi itu ia seperti sedang kesulitan menghadapi sesuatu, matanya terbuka lebar serta mulutnya tidak bisa tertutup karena apa yang sedang ia lihat dimimpi itu.
"Vasco, tolong jaga adik ku.." Samar wajah seorang pemuda yang tersenyum berlumuran darah dengan lubang besar yang berada di dadanya. Beberapa saat kemudian sebuah kapak besar terayun ke arahnya secara vertikal dan darah menyebar kesekitarnya.
"Kevin!!" Vasco segera terbangun dengan wajah yang penuh keringat, nafasnya tersenggal-senggal karena mimpi buruk yang ia alami. Ia mencoba untuk bangun dari kasurnya dan berjalan pelan untuk membuka gorden jendela besar yang membuat matahari pagi masuk menyinari kamarnya yang gelap.
"Dasar bodoh! amanat mu baru bisa kujalani sekarang karena baru menemukan dirinya" Dengan mata yang berkaca-kaca ia menatap jauh ke luar jendela.
---------------------------------
Disebuah kamar dengan poster girlband White Pink namun didominasi dengan poster Tisa. Rado sedang melakukan push up seperti apa yang ia lakukan tiap pagi hari. Tubuhnya terlihat atletis dan beberapa keringat yang menetes jatuh kelantai kamarnya.
"998,999,1000!"
Setelah Rado menyelesaikan push upnya, ia beranjak dan mengambil salah satu pedang yang terletak disebuah kake katana diatas meja kamarnya. Pedang itu baru saja ia dapatkan dari Levi sesaat setelah ia turun dari ruangan Vasco.
~Kilas balik kemarin malam di lobby gedung pemerintahan.
"Bagaimana kau tau aku ada disini?" Tanya Rado heran dengan kehadiaran Levi.
Setelah mengatakan itu, mata Rado tertuju kearah sarung panjang yang membungkus sesuatu.
"Rudy sepertinya memiliki ikatan batin dengan mu.. dan ini? ini milik mu.., penempa kami telah menyelesaikan apa yang kau minta" Levi segera memberikan apa yang sedang ia bawa.
Rado dengan hati-hati menerima barang pemberian dari Rudy yang telah ia minta sebelumnya.
"Kenapa ada dua buah?" Rado terheran setelah ia melihat 2 pedang dalam sarung tersebut.
"Rudy meminta dibuatkan dua buah pedang karena ia mengingat cara bertarung mu yang sangat brutal" Kata Levi dengan wajah sedikit jengkel.
Mendengar itu, Rado segera membuka pedang tersebut dari sarungnya.
"Eh? bentuknya sedikit berbeda.." Heran Rado saat melihat bilah pedang tersebut.
Penampilan dari pedang baru Rado didominasi oleh warna hitam, Tsuka (handle), Nagasa (bilah pedang) dan saya-nya (Sarung) pun berwarna hitam. Hanya Tsuba-nya (Pelindung tangan) saja berwarna kuning keemasan yang menjadi pembatas dari ujung bawah sampai ujung atas dan bentuk dari pedang itu sedikit berbeda dari pedang yang biasa Rado pakai sebelumnya, karena nagasa dari pedang tersebut memiliki bentuk yang lurus tidak seperti katana yang memiliki bentuk sedikit melengkung.
"Yah pedang itu juga berasal jepang, namun dengan jenis berbeda... pedang yang sekarang kau pegang itu berjenis Ninjato. Pedang itu memiliki karakteristik yang hampir sama dengan katana, namun Ninjato lebih ringkas dan ringan sehingga mudah dimasukkan kedalam baju. Yah bisa juga dibilang kalau katana itu dipakai oleh para samurai, sedangkan kalau ninjato dipakai oleh ninja pada waktu itu." Jelas Levi kepada Rado.
Setelah mendengar itu Rado tersenyum dan segera memasukan Ninjato itu kedalam sarungnya kembali.
"Sepertinya tugas ku sudah selesai disini" Sambil mengacak-ngacak rambut belakangnya Levi dengan canggung berkata dan segera beranjak pergi dari sana.
"Terimakasih" kata Rado sambil menatap belakang Levi yang sedang berjalan keluar.
"Berterimakasihlah padanya, bukan pada ku" Sambil melambai tanpa menoleh, Levi pergi.
~Kembali kepada Rado yang sedang didalam kamar menatap Ninjatonya.
"Aku harus bersiap-siap dan segera ke bandara, tapi sebelum itu..." Rado tersenyum sambil memasukan Ninjatonya ke dalam sarungnya.
Jam didinding sudah menunjukan pukul 8. Rado yang sudah siap melakukan perjalanan terlihat membawa muatan yang tidak begitu banyak pergi membawa motornya.
Rado Gavriel [The Archon]
Status Transfer 38%
-Point Skill-
Point Skill Close Range 67/100 point
Point Skill Ranger 23/30 point
Aura kepemimpinan 25%
Ketahanan Fisik 100%
-Ketahanan Elemen-
Air 68%
Api 73%
Tanah 75%
Angin 72%
[Sudah sebulan ini aku melakukan raid terus menerus dan tanpa terasa status ku sudah seperti ini] Dalam pikiran Rado sambil mengendarai sepeda motornya ke suatu tempat.
Selama sebulan penuh Rado mendapatkan 2 skill baru, yaitu : Intimidate, skill yang bisa meningkatkan kemampuan aura force menjadi lebih kuat. Rado pun juga mendapat skill Sonic Blade, Skill ini memungkinkan Rado untuk menyerang secepat kilat. Kemampuan ini sudah ia gunakan saat melawan bos pada waktu itu, anggota party yang saat itu sedang melakukan raid bersama Rado sampai tercengang menyaksikannya menggunakan skill ini, mereka tercengang karena kecepatan serangan yang dilancarkan oleh Rado sampai membuat pedangnya tidak terlihat.
[Akhir-akhir ini aku sudah jarang menggunakan pistol ku karena bertarung sambil mengisi peluru itu sangat merepotkan, apa nanti akan berimbas kepada Status transfer?] Dengan wajah flatnya ia mengeluh mengenai peluru.
Kekayaan Rado saat ini sebesar 480jt rupiah dan ini masih terbilang sedikit bagi seorang pemburu dikelas dirinya dan terdapat fakta yang mengejutkan dibalik itu semua, yaitu ternyata selama ini.. pendapatan yang Rado dapat dari hasil menjual item monster ia sisihkan untuk kegiatan amal. Tetapi sekarang ini Rado tidak perlu lagi memikirkan uang, karena Vasco berkata kalau kebutuhannya mulai sekarang akan ditanggung negara.
Mengenai status Aura Kepemimpinannya Rado, sekarang ini status tersebut terus menaik dengan sendirinya akibat kasus tersebarnya aksi Rado kemarin, Rado pun juga ikut terkejut melihat status itu naik dengan sendirinya..
[Sepertinya aura kepemimpinan lebih berpengaruh dalam menaikan status transfer secara signifikan]
Tidak terasa perjalanan dari rumahnya ke tempat yang ia tuju sudah terlewati, ia mengunjungi kampusnya yang dulu untuk menemui Nara.
-Room Chat Nara-
Rado : Kau dimana?
Nara : Aku dikelas, kau sudah sampai?
Rado : Ya.. aku ditaman waktu itu.
Nara : Aku akan kesana.
Beberapa saat Rado menunggu, akhirnya Nara muncul dengan kemeja seperti biasanya.
"Bagaimana kabar mu? sepertina kau sudah terkenal dikalangan para pemburu.." Nara tersenyum sambil melihat Rado yang sedang dudukdibangku taman.
"Meskipun kau menutupi wajah mu sekalipun aku bisa langsung mengenali mu Rado" Nara mengambil posisi duduk disebalah Rado.
Keheningan terjadi beberapa saat, angin yang membawa daun berterbangan juga membuat rambut Nara yang mulai panjang tersingkap kearah samping. Rado yang melihat kecantikan Nara menjadi terpesona sampai tidak bisa mengedipkan matanya.
"Kuhitung sampai tiga, kalau kau tidak menghentikan tatapan itu... aku akan mencolok mata mu!" Nara mengancam dengan senyuman.
"Kau masih saja galak seperti dulu" Rado membalas dengan senyum juga.
Wajah nara memerah saat melihat senyuman Rado dan ia segera mengalihkan pandangannya kebawah kakinya.
"Aku serius loh... kalau kau tidak menghentikan itu aku akan mencolok mu"
"Baiklah-baiklah"
Keheningan terjadi kembali.
"Rado, Nara" Mereka bersamaan memanggil satu sama lain.
"Kau dulu.." Rado yang mengalah
"Aku sudah mendengarnya dari ayah, kau akan pergi keluar Indonesia.." Nara bertanya dengan tatapan serius kearah Rado.
"Ah.. kau sudah tau.." Rado menyembunyikan senyumnya dengan mengalihkan pandangannya kebawah.
"Kau akan pergi kemana? untuk apa?" Nadanya sedikit memaksa.
"Ini bukan hal yang serius, kau tidak perlu tau" Nadanya sedikit ketus.
Ada sebuah rasa sakit saat Nara mendengar Rado berbicara seperti itu.
"Hei.. kenapa kau bersikap dingin seperti itu, kau tidak seperti yang aku kenal dulu.. selama ini aku menghubungi mu, tapi kau tidak menjawabnya.. baru saat ini kau mengabari ku, tapi dengan sebuah perpisahan" Dengan mata yang memerah Nara terus menatap Rado.
"Aku tidak ingin membahas ini, kedatangan ku kesini hanya untuk memberikan selamat atas pertunangan mu dengan anak dari kepala Wiro Group"
Nada Rado begitu dingin, setelah mengatakan itu ia memutuskan untuk beranjak pergi dari sana. Nara yang kesal dengan sifat Rado yang begitu dingin, berdiri dan berteriak.
"Hei bodoh.. berhentilah bersifat seperti itu..." Tubuhnya bergetar dan ia mengigit bibir bawahnya, "Selama ini aku suka pada mu.." dengan perlahan namun jelas Nara mengatakan itu.
Mendengar itu Rado berhenti dari langkahnya, Matanya melebar dan wajahnya begitu terkejut. tetapi keterkejutan itu hanya sesaat dan ia menoleh kearah Nara yang berada dibelakang.
"Lupakanlah aku mulai sekarang" Tatapannya tajam dan ia segera beralih kembali meninggalkan Nara.
Mendengar pernyataannya ditolak, Nara mulai mengeluarkan air mata.
[Aku tidak bisa menyeret mu dalam bahaya yang telah menanti ku] Dalam benak Rado yang perlahan menghilang dari pandangan Nara.
______________________
Pukul 11 dibandara Soeta, Rado mengendarai santai sepeda motornya masuk kedalam landasan terbang. Dari kejauhan terlihat beberapa orang menunggu didepan pesawat pribadi.
"Yo.. adik kecil, kami sudah menunggu mu" Sambut Vasco yang mengenakan jas rapih.
[Adik kecil?] Rado memasang muka aneh saat mendengar Vasco memanggilnya dengan sebutan tersebut. "Jadi mereka yang akan ikut dengan ku?" Rado melihat dua orang yang mengenakan jas rapih berdiri dibelakang Vasco.
Saat Rado berbicara seperti itu, kedua orang tersebu maju kedepan dan memperkenalkan diri.
"Aku Yoga Putra, aku seorang Close range.. siap menemani anda!" Pria berambut orange dengan tubuh tegap berisi memperkenalkan diri.
"Melly Aini, aku seorang Ranger.. siap menemani anda!" Wanita berambut panjangan berwarna putih dengan tubuh yang ideal memperkenalkan diri.
Setelah perkenalan itu Vasco maju kedepan mereka dengan senyuman.
"Mereka berdua adalah orang kepercayaan ku, aku mengirim mereka untuk mendapampingi mu dalam misi yang berbahaya ini"
Rado tersenyum dan seidkit mengejek, "Mengapa kau tidak ikut? kau takut?"
Mendengar itu Melly menjadi kesal kepada Rado, "Jaga omongan mu!"
"Hei..hei, tenanglah.. adik kecil ku ini hanya bercanda" Vasco tersenyum menghentikan Melly, setelah Melly meminta maaf kepada Vasco atas tindakannya tadi, Vasco beralih kembali menatap Rado, "Sebenarnya aku ingin ikut dengan mu, tapi... aku kan seorang presiden... mana bisa aku meninggalkan negara hahahahhaa" Dengan wajah riangnya Vasco bercanda.
Setelah perjumpaan yang singkat itu, Rado dan kedua orang pemerintahan itu akhirnya masuk kedalam pesawat pribadi tersebut dan meninggalkan bandara. Dalam pesat yang sedang mengudara, Rado yang duduk sendiri memulai pembicaraan perdana mereka didalam pesawat.
"Bagaimana orang aneh seperti dia bisa menjadi presiden?" Kata Rado yang sedang memangku dagunya sambil melihat keluar jendela.
"Hei.. jangan berkata yang aneh tentang tuan Vasco" Melly mulai naik pitam kembali.
Rado yang melihat reaksi tersebut, segera menoleh kearahnya.
"Mengapa kau selalu kesal saat aku mengejeknya? apa kau menyukainya?"
Mendengar itu Wajah Melly menjadi merah dan tertunduk kebawah.
"Bu-bukan menyukainya.. tapi lebih tepatnya menghormatinya"
"Tuan Vasco adalah seorang mage berbakat dan terkenal pada 5 tahun lalu, ia diangkat menjadi presiden karena kemampuannya dalam mengambil keputusan dan gagasan-gagasannya dalam mengembangkan kemajuan negara. Setelah fenomena menara dungeon ini, kemampuan seseorang menjadi sebuah pertimbangan penting untuk menjadi seorang pemimpin negara" Kata Yoga menanggapi pertanyaan dari Rado.
"Hooo kalau begitu, aku bisa saja menjadi presiden kelak nanti" Rado dengan entengnya tersenyum dan berkata demikian.
"Jangan harap orang seperti mu menjadi presiden!!!" Melly dengan nada meninggi.
"Aku menunggu kejadian seperti itu tuan" Yoga dengan tenang berbicara.
"Hei bodoh kenapa kau seperti mendukungnya?!" Melly yang kesal dengan pernyataan Yoga.
Perjalanan pertama Rado dalam pencarian Gozie diawali dengan keributan didalam pesawat.
________
Dalam sebuah rumah sakit, terlihat Julie yang terbaring diatas kasur mulai membuka matanya perlahan.
"Dimana aku?"