The Archon

The Archon
Perbincangan Mereka



Ditengah salah satu kota dinegara Amerika Serikat, Yoga tertegun melihat dua orang yang baru saja menyelamatkannya dari para Troll. Kedua orang itu adalah Devian dan Mye yang baru saja keluar dari dalam black dungeon. Pakaian mereka terlihat sudah lusuh akibat pertempuran melawan para Troll didalam sana. Namun didalam benak Yoga ada sesuatu yang mengganjal saat melihat mereka, yaitu mengapa dungeon bisa mengalami breakdown padahal kekuatan mereka mampu merubuhkan banyak Troll.


Devian dan Mye pun segera menghampiri Yoga yang sedang mencoba untuk bangkit setelah dikeroyok oleh para Troll.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Devian kepada Yoga yang sudah babak belur.


Sambil mencoba untuk berdiri dengan perisai yang menjadi tumpuannya, "Aku tidak apa-apa..." Balas Yoga memberitahu keadaannya.


"Ini potion merah tingkat tinggi.. semoga ini bisa menyembuhkan luka mu beberapa" Mye memberikan potion merah kepada Yoga.


Jika dilihat dengan baik, potion merah yang sudah berkualitas tinggi akan berubah warna menjadi keunguan dan menghilangkan warna merahnya. Yoga hanya bisa memandangi potion tersebut karena ia baru pertama kali melihat potion merah dengan kualitas setinggi itu.


"Apa kau yakin?! Potion ini sangat mahal.."


"Tak apa.. cepatlah minum itu, kita tidak punya waktu banyak untuk berdiam diri" Kata Mye sambil menyodorkan potion tersebut.


"Baiklah.." Yoga pun segera meminum potion itu dan seketika luka yang ia terima dari Troll tersebut menguap menutup.


"Hebat!" Ia sambil melihat kesemua lukanya berada.


"Ku lihat kau mampu menahan serangan para Troll itu.. berarti kau bukanlah pemburu sembarangan" Kata Devian ingin mengulik siapa Yoga.


Yoga pun segera memandang kearah Devian yang menatapnya serius, "Aku wakil kapten dari aliansi The Titan, Kalau tidak salah... kalian ini Devian Grissham dari Inggris dan Mye dari China bukan?" Tebak Yoga setelah memperkenalkan diri.


Sekarang ini mereka bertiga saling memandang dengan aura permusuhan imbas dari pernyataan Rado pada beberapa hari lalu di Italia.


"Hmm ternyata kau bagian dari aliansi itu... Yasudahlah, sekarang ini bukanlah waktunya untuk berdebat, ada hal yang lebih penting dari itu..." Devian mencoba untuk menunda perseteruan tersebut.


"Aku ingin menanyakan satu kepada kalian..." Potong Yoga sebelum Devian melanjutkan perkataanya. "Mengapa dungeon bisa mengalami breakdown? Melihat kekuatan kalian yang bisa membunuh para Troll itu dengan mudah, bukankah kalian bisa menyelesaikan dungeon itu?"


Devian dan Mye menatap ke Yoga dengan wajah serius, lalu disambung oleh Devian yang agak sedikit ketus saat memberitahu Yoga fakta didalam dungen tersebut.


"Kau yang belum memasuki dungeon itu tidak akan mengerti! Mereka itu memang dungu dan hanya bisa mengayunkan senjatanya demi membunuh mangsanya, tetapi ada sekelompok dari jenis mereka yang berbeda. Mereka jauh lebih kuat dan lebih berakal dibanding para bawahan yang sedang kau lawan itu!" Ketus Devian.


"Apa?! Jadi maksud mu ada jenis lain yang belum menunjukan dirinya?!" Yoga sedikit terkejut.


"Mereka itu adalah pengawal dari raja Troll yang mendiami black dungeon itu" Devian memberitahu identitas monster yang sedang ia bicarakan.


"Kami sudah mencoba untuk menumbangkan mereka.. tetapi kekuatan kami tidak cukup" Mye ikut menjelaskan kronologi yang terjadi.


"Para pemburu yang lain sangat lemah.. mereka tidak mampu menahan para monster meskipun hanya sedetik pun... Aku kecewa kepada mereka, karena mereka lemah.. aku dan Mye jadi tidak leluasa menyerang" Devian bernada sombong berbicara kepada Yoga.


"Shh... Kau tidak pantas berbicara seperti itu! Mereka sudah berjuang dan mengorbankan nyawa mereka untuk menutup dungeon itu!" Kesal Yoga kepada Devian.


"Tetapi benar apa yang dikatakan Devian... karena tidak ada seorang tank yang memumpuni untuk menahan pergerakan mereka, kami jadi sulit bertindak.." Mye dengan nada lembutnya berkata kepada Yoga.


Setelah Yoga menoleh kearah Mye, ia segera beralih kembali menatap Devian, "Aku mengerti kemana alur pembicaraan ini.. Kau ingin kita bekerjasama bukan?" Yoga mencoba untuk menebak apa yang mereka inginkan.


"Heh??!! Siapa yang ingin bekerjasama dengan mu? Yang ku maksud adalah kau bantu kami sebagai kacung seperti yang lainnya.." Nada Devian yang terdengar biasa namun menusuk.


"Hah?!! Apa kau bilang?!" Yoga mulai naik pitam dibuatnya.


"Devian..!" Mye menatap tajam kearah Devian.


"Huu... baiklah... baiklah..." Devian tersenyum canda kearah Mye dan beralih kembali kepada Yoga. "Baiklah... untuk sekarang ku izinkan dirimu untuk sejajar dengan kami untuk membasmi para monster jelek itu" Senyum Devian berbeda bila ia tuju kepada Yoga, senyum itu seperti senyum yang meremehkan.


"Cih" Yoga masih terlihat jengkel dibuatnya.


Saat ini mereka sedang berada disebuah minimarket untuk merencanakan bagaimana operasi pembasmian para Troll dilakukan. Sampai detik ini Troll pengawal dengan Raja Troll belum terlihat melintasi dungeon tersebut, maka dari itu misi Yoga, Devian dan Mye untuk sekarang ini adalah membersihkan prajurit Troll dari seluruh kota. Yoga dan Mye terlihat sudah duduk pada meja yang disediakan oleh minimarket tersebut, tetapi Devian masih saja santai sambil mengambil minuman serta snack sebagai bekal mereka berunding.


"Orang itu masih sempatnya santai begitu.." Kesal Yoga melihat tingkah laku dari Devian.


"Biarkanlah dia, kalau kau sudah mengenalnya... mungkin kau akan terbiasa dengan kelakuannya" Mye mencondongkan sedikit tubuh putihnya kearah Yoga.


Tatapan yang diberikan Mye membuat Yoga agak sedikit salah tingkah dengan mata yang sulit ia tempatkan kearah mana.


"B-baiklah.." Pada Akhirnya ia memilih membuang muka kearah samping untuk menutupi rasa malunya.


"Kau bilang, kau dari aliansi bukan? Bagaimana kondisi disana?" Tanya Mye masih tersenyum menggoda.


Yoga pun beralih kembali kepada Mye dengan tatapan serius, "Aku tidak bisa berbicara mengenai aliansi dengan musuh"


"Hooo jadi kau masih menganggap kami musuh?" Tanya Mye kembali. Namun Yoga memilih untuk tidak menjawabnya dan kembali membuang mukanya kearah luar minimarket.


"Kalau begitu bisakah kau ceritakan padaku tentang orang itu?" Mye mencoba mengganti topik.


"Maksud mu Rado?" Yoga beralih kembali dengan cepat kepada Mye.


"Yah.. dia... melihat dari cara bagaimana kau menanggapinya setelah aku mengungkit orang itu, sepertinya kau menghormati dia, apakah begitu?" Mye sambil memangku dagunya.


Yoga pun menunduk dan ekspresi wajahnya pun berubah menjadi lebih lembut, "Dia adalah orang yang kuhormati sampai sekarang ini. Dari bagaimana cara ia bertindak dan ambisi dalam dirinya membuat ku ingin terus mengikutinya.. Selebihnya mungkin karena kekaguman atas sosok pemimpin yang berada pada dirinya yang membuat ku hormat kepadanya"


"Hooo bisakah kau kenalkan aku padanya? Aku sedikit tertarik mengenai dirinya" Mye terlihat lebih antusias dibanding sebelumnya.


Tiba-tiba Devian datang membawa berbagai makanan ringan dan minuman, lalu menaruhnya dengan kasar diatas meja.


"Mye.. kau tidak ada niatan untuk pindah sisi bukan?!" Devian bertanya dengan nada yang sedikit menekan sambil duduk diantara mereka.


"Kau!!" Devian terlihat kesal mendengar jawaban dari Mye dan ia segera memulai strategi perangnya.


"Baiklah...ini akan menjadi misi yang sulit karena kita cuma bertiga.. Aku mengutuk para pemburu yang memilih untuk lari itu. Kukira pemburu yang tergabung dalam Aliansi akan lebih berani, ternyata mereka sama saja seperti kroco-kroco diluar sana" Devian sedikit mengolok Yoga.


"Kau....!!!!!" Yoga mulai kesal kembali. "Kalau begitu bagaimana dengan kalian?! Pemburu PPMD juga memilih lari setelah mereka berhasil keluar dari dungeon tersebut!"


"Yah.. itu karena memang mereka itu lemah dan memiliki mental lemah.." Devian sambil mengunyah makanan ringan. "Oiya.. kuberi tau sesuatu. Kau ini dari negara Genosha kan?"


"Sebenarnya aku berasal dari Indonesia, namun aku mengikuti Rado dan menjadi warga negara disana, memangnya ada apa?" Yoga penasaran dengan apa yang akan Devian katakan.


"Apa kau tau tentang pembagian tim tiap negara untuk menyelesaikan black dungeon?"


Disaat mereka sedang berbincang-bincang sebuah ledakan terjadi didekat mereka dan menyebabkan daratan disana sedikit bergetar, namun mereka tetap saja melakukan perbincangan yang mulai serius itu dan hanya Mye saja yang terpengaruh lalu menoleh keluar jendela.


"Aku tidak tau, apakah ada kaitannya dengan negara Genosha?"


"Hoi... Apa kalian tidak ingin menghentikan pembicaraan ini?" Tanya Mye kepada mereka berdua sambil melihat keluar, tetapi tidak digubris oleh mereka.


"Hahahahaha bodoh sekali.. kau datang kesini tidak mengetahui apa-apa?" Devian tertawa saat mengetahui ketidak tahuan Yoga.


"Sebenarnya aku sudah datang ke AS sebelumnya, namun aku tidak tahu dengan apa yang kau maksud dengan pembagian itu" Yoga masih tidak tau akan yang dikatan oleh Devian.


"Jangan bilang kalau kapten mu itu tidak memberitahu kalian mengenai ini?" Devian tersenyum kepada Yoga dan itu membuat Yoga berdiri dari kursinya.


"Cepat katakan, apa yang terjadi dengan Genosha?" Yoga menatap tajam kepada Devian.


"Hei tenanglah..." Devian menahan Yoga yang terlihat mulai tidak sabar, "Kau tau? Dari data yang kami terima sebelum memasuki dungeon tersebut, kami mengetahui kalau negara Genosha termasuk kedalam negara yang menangani black dungeon di Amerika Serikat"


"Apa?! Lalu apa yang terjadi kepada mereka?!"


"Mereka semua mati..." Dengan tempo nada yang pelan Devian mengatakan fakta tersebut.


"Tidak mungkin...." Yoga terduduk lemas karena mendengar informasi tersebut, "Padahal waktu itu aku berada disini untuk mengumpulkan para Morctis... tapi mengapa... mengapa Rado tidak memberitahu ku?"


"Hahahaha ku kira dia tidak akan menyembunyikan apapun dari kalian, padahal kau tadi menyanjung dia sampai aku muak mendengarnya, tetapi... hahahaha" Devian tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi kesal Yoga.


Saat ini Yoga seperti terkhianati karena Rado tidak memberitahukan hal penting itu kepada dirinya, Mye yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka hanya bisa diam sambil memandangi wajah Yoga.


"Lalu siapa yang menjadi kapten negara Genosha?" Yoga masih dengan sedikit kesal bertanya kembali.


"Hmmm.... seingat ku, Wen - Wen.. Wen Li.. ya Wen Li yang menjadi kapten negara Genosha, Apa kau mengenalnya?" Devian sontak menyebutkan nama Wen Li setelah berusaha mengingat nama kapten dari negara Genosha.


"Wen Li?!" Yoga terkejut dengan mata yang bergetar lebar.


"Hahaha dari ekspresi mu, sepertinya kau mengenal dirinya"


"Bagaimana bisa Rado membiarkan Wen Li pergi lalu membuatnya terbunuh?"


Setelah itu kilas balik mengenai Wen Li yang tidak pernah terekpose muncul dalam diri Yoga. Terlihat dibeberapa kesempatan Wen Li berjalan bersama dengan Yoga dan Rado, juga terlihat dia berlatih bersama mereka berdua. Ternyata selama ini Wen Li menjadi salah satu pemburu yang dekat dengan mereka berdua selain Lucy Cs. Disamping itu ada memori tersendiri tentang Wen Li dalam diri Yoga, yaitu ia sudah menganggap Wen Li sebagai adiknya sendiri selama ia tinggal di negara tersebut.


"Berhentilah meratapi orang yang sudah mati" Kata Mye mencoba untuk mencairkan suasana.


"Apa yang kau tau tentang dia?! Dia sudah... sudah ku anggap seperti adik ku sendiri!" Nada Yoga meninggi dan membuat Mye membuang wajahnya dari Yoga karena tidak ingin menghadapi orang yang sedang terlihat lemah.


"Hei.. Jaga bicara mu! Mye juga baru saja kehilangan tunangannya saat bertempur di black dungeon.." Devian membela Mye yang baru saja dibentak oleh Yoga.


"E-eh?!" Yoga pun tersadar setelah mendengar itu dari Devian, "Maafkan aku" Yoga menundukan kepalanya menyesal.


"Tak apa.. lagipula aku sebenarnya tidak ingin bertunangan dengannya,, tetapi karena ayah sudah menyukai orang itu jadi aku hanya bisa pasrah saja" Mye dengan mood yang kurang baik menceritakan sedikit apa yang terjadi tentang percintaanya.


"Dia seorang pria India bernama Ashwin Bhagwandas dan ia juga seorang pemburu dalam jajaran top 10 peringkat 7. Dia adalah pria yang baik.. namun bagi ku pria yang terlalu baik itu sangat tidak menantang dan membosankan. Tetapi bagi ayah ku, Ashwin adalah sosok pria yang ideal buat ku, dia selalu memberikan aku bunga dan selalu tersenyum lembut kepada ku. Awalnya aku merasa risih, tetapi semakin lama.. aku semakin ingin mengetahui tentangnya lebih jauh. Namun naas, disaat aku ingin membuka hati ku kepadanya.. ia malah mati terbunuh dengan kondisi kepala yang hancur akibat terpukul oleh Troll pengawal, sungguh malang nasib Ashwin" Mye bercerita sambil meletakan dagu ditelapak tangannya sambil menatap kehancuran kota yang disebabkan oleh para Troll.


Setelah sesi pengeluaran curahan hati, mereka memasuki sesi yang lebih serius. Mereka mulai membahas formasi apa yang harus mereka ambil. Devian segera mengambil sebuah map pada ruangan ganti didalam minimarket tersebut. Map itu merupakan tata letak perkotaan yang telah diserangan oleh para Monster Troll saat ini.


"Aku tidak pandai dalam hal formasi, bagaimana dengan mu?" Devian berkata kepada Yoga setelah sekian menit menatap map tersebut.


"Dasar Bodoh! Ku kira kau memiliki ide yang bagus.." Setiap Yoga berbicara kepada Devian ia selalu naik darah.


"Kalian para pria begitu bodoh... Kita tidak mengetahui letak pasti kemana para Troll itu akan menginvasi... cara satu-satunya adalah kita harus menyisir seluruh kota sampai prajurit Troll itu habis" Kata Mye berdiri dari duduknya.


"Aaa... kau pinta Mye, Ayo kita lakukan!" Devian menyusul Mye berdiri.


"Hah... mengapa aku harus terjebak bersama orang bodoh ini" Gerutu Yoga.


Mereka pun keluar dari minimarket itu dan segera menyisir seluruh kota untuk membasmi para Troll. Getaran pada Smartphone milik Yoga tidak ia gubris karena Yoga tidak ingin berbicara dengan orang yang menghubunginya saat ini. Sementara itu secara bersamaan dimana mereka baru memulai penyisiran, dari dalam black dungeon muncul sebuah kaki besar dengan kuku panjang menapaki dunia manusia.


__________________


Disebuah bandara dengan sebuah pesawat yang sudah siap lepas landas. Rado terlihat baru saja mencoba untuk menghubungi seseorang namun tidak dijawab, lalu ia segera memasukan smartphonenya itu kedalam sakunya kembali dan segera menuju pesawat tersebut. Dibelakangnya saat ini para pemburu yang sudah berkontribusi pada black dungeon di negara timur tengah, terlihat mengikuti jejak Rado untuk menaiki pesawat yang sudah menunggu.


"Kita akan pergi ke Amerika sekarang.." Kata Rado dengan tatapan tajamnya diikuti oleh para pemburu yang dominan adalah orang Indonesia.


"Siap!" Teriak mereka semua menanggapi Rado,