The Archon

The Archon
Kehidupan yang Baru



"Selamat tinggal!" Teriak Folk dan mengarahkan belatinya kearah Rado yang sedang tertunduk diam.


Bergeser kearah benteng Utara milik wilayah ras elf, dimana Jaquile yang sedang tidak bisa bergerak karena titik urat tubuh yang menghubungkan seluruh bagian tubuh yang dapat bergerak diputus oleh Ivar. Ia terbaring telungkup dengan berlumuran darah karena ketidakfokusannya dalam pertempuran akibat rasa khawatir kepada Rado. Ivar yang sudah melarikan diri keluar benteng pun membuat pasukan ras elf pun dapat bernafas lega untuk sementara waktu.


Lefti yang saat itu berdiri didekat Jaquile pun segera berlari menujunya dengan rasa khawatir. Jaquile yang saat itu hanya bisa menatap kearah tanah terlihat kesal dan itu terpancar dari kedua bola matanya.


"Sial! Kenapa bisa begini?! Aku tidak bisa menggerakan tangan dan kaki ku!" Kata Jaquile mencoba untuk bangun namaun tanang dan kakinya tidak merespon dengan baik.


Kaki dan tangannya hanya merespon sedikit perintah dari otaknya karena urat yang tidak sempurna. Lefti dengan segera mengambil obat yang dibuat oleh Zowie dari dalam tas kecil yang berada dipinggannya, lalu segera menelentangkan Jaquile.


"Minumlah!" Kata Lefti sambil menyuapi botol obat kearah mulut Jaquile.


Jaquile segera meminumnya dengan keadaan obat yang tertumpah - tumpah. Meskipun obat itu belum sesempurna potion yang berada di dunia sebelumnya, tetapi itu sudah cukup memulihkan tubuh Jaquile meskipun tidak 100%. Tubuhnya saat ini mulai dapat digerakan dengan baik, namun masih dalam keadaan lemah dan beberapa dari luka tidak mendapatkan kepulihan yang merata.


"Apa kau sudah baikkan?!" Tanya Lefti dengan kahwatir.


"Yah.. Meskipun kaki dan tangan ku masih terasa mati rasa.." Kata Jaquile sambil menggerakan pergelangan tangannya.


"Tapi si kepar*t itu!" Geram Jaquile mencoba untuk bangkit namun terjatuh kembali.


"Biarkan dia! Yang lebih penting sekarang adalah keadaan archon ras manusia! Aku tau alasan mu menjadi tidak fokus dalam benturan terakhir itu.. Sebaiknya kita keluar terlebih dahulu, karena sepertinya di luar juga menjadi sedikit lebih tenang.." Kata Lefti mengajak Jaquile untuk keluar.


Lefti memberikan rangkulannya untuk membantu Jaquile untuk berjalan keluar dari benteng tersebut. Sesampai diluar benteng, ia melihat sebuah lubang yang sangat besar tepat didepan gerbang utama tersebut.


"Apa yang terjadi?!" tanya Lefti terkejut, juga dengan Jaquile.


Diluar gerbang saat ini, hanya menyisakan pasukan gabungan dari ras manusia dan juga ras elf. Tidak ada satupun dari pasukan dwarf yang tersisa, demikian juga Mjorn. Beberapa saat kemudian, runtuhan puing dari tanah yang di hancurkan oleh Mjorn bergerak. Hamdall, Albert, Slyvrin, Kuluk beserta beberapa prajurit elf pun keluar dari timbunan tersebut.


"Ratu!" Teriak Lefti melihat Slyvrin keluar dari puing tersebut.


Mereka terbatuk - batuk karena tertimbun runtuhan tanah tersebut.


"Kemana dwarf itu?!" Tanya Slyvrin sambil terbatuk.


"Dia sudah melarikan diri bersama pasukannya.." Kata Sarka yang sudah sejak awal keluar dari puing tersebut.


"Kemana mereka?!" Tanya Albert dengan panik.


"Mereka kesana.." Tunjuk Sarka kearah hutan dimana mereka berasal dan juga terlihat kepulan asap yang diakibatkan oleh pijakan pasukan dwarf.


Jaquile yang memiliki pemikiran kalau di hutan itu terdapat sebuah portal yang menuju langsung kedekat dimana tempat Rado dan Folk bertempur, Jaquile segera berteriak kearah mereka semua.


"Tidak! Mereka pasti ingin membantu archon mereka untuk menghabisi Rado!" Kata Jaquile dalam rangkulan Lefti.


"Kita harus bergegas mengejar mereka!" Kata Albert terlihat panik setelah Jaquile berkata.


"Cepat! Cepat! Bangun kalian! Kita akan menuju kesana!" Kata Slyvrin juga khawatir.


Seluruh pasukan yang tersisa bersatu dan bersiap menuju kearah Rado yang sedang dalam keadaan bahaya. Mereka semua terlihat khawatir karena demicles miliknya terlihat meredup.


"Kau disini saja!" Kata Albert kepada Jaquile yang sedang dirangkul.


"Aku akan ikut!" Tegas Jaquile.


"Dengan keadaan mu yang seperti itu?" Tanya Albert bertanya meninggi.


"Aku bisa - " Jaquile pun terjatuh saat ia mencoba untuk berjalan tanpa bantuan dari Lefti.


Lefti segera memegangnya saat ia terjatuh. Jaquile yang terkejut dengan tubuhnya yang masih belum pulih hanya bisa berusaha untuk meyakinkan Albert kalau dirinya masih bisa ikut bertempur.


"Beristirahatlah.. Biarkan kami yang mengurusnya..." Kata Albert lalu berbalik memunggungi mereka berdua.


"Tolong jaga dia.." Sambung Albert kepada Lefti.


Albert pun segera menyusul pasukan yang sudah terlebih dahulu mengejar pasukan ras dwarf yang sedang menuju kearah Rado dan Folk melewati hutan yang terapat portal. Saat ini dimana ras dwarf yang sedang dipimpin oleh Mjorn dalam keadaan babak belur dan darah yang menetes setiap langkahnya terlihat fokus untuk memasuki hutan.


Ditengah perjalanan mereka menuju kedalam hutan itu, Ivar dalam keadaan terluka juga mulai bersatu pada pasukan dwarf dan berlari mendekat kearah Mjorn.


"Kau terlihat parah.." Senyum Ivar melihat Mjorn.


"Kau juga..." Balas Mjorn melihat Ivar dengan senyuman.


"Hahahahahahahhaa" Tawa mereka berdua secara bersamaan.


"Kita sepertinya hampir mati.." Ujar Mjorn.


"Kau benar! Tapi sayang aku tidak sempat membawa wanita ku.." Sesal Ivar setelah tertawa.


"Wanita mu?!" Mjorn menoleh kearahnya.


"Yah.. Wanita elf yang membuat birahi ku menaik.. Hahahahaha" Tawa Ivar.


"Hmph! Kalau begitu setelah ini kita akan menjemput wanita mu... Untuk sekarang ini kita harus membantu Folk.." Senyum Mjorn sambil menoleh kearah demicles Rado dan Folk.


"Hahahaha kau benar! Kita harus membantunya untuk menghabisi archon manusia, tetapi sepertinya archon manusia tidak akan bertahan..." Kata Ivar melihat redupnya demicles Rado.


"Setidaknya kita harus menyaksikan detik - detik Folk mengalahkannya.." Kata Mjorn.


"Kau benar Hahahahahha" Tawa Ivar.


"Tuan Mjorn!" Teriak pasukan barisan belakang.


Mjorn pun menoleh kearah belakang.


"Apa?!" Tanyanya.


"Sepertinya mereka mengikuti kita!" Lapor dwarf tersebut.


Mjorn pun mengalihkan pandangan kearah belakang dimana kepulan asap yang disebabkan oleh pasukan gabungan berada. Ivar pun juga menoleh kebelakang untuk memastikan laporan tersebut. Kepulan asap itu berada cukup jauh dari posisi mereka saat ini.


"Sepertinya mereka mengikuti kita..." Kata Ivar tersenyum.


"Kau benar.. " Jawab Mjorn.


"Apa kita akan melawan mereka?" Tanya Ivar.


"Tidak... Tidak disini... Tetapi didalam hutan.." Kata Mjorn merencanakan sesuatu.


"Percepat laju kalian!" Perintah Mjorn.


Langkah kaki dari seluruh pasukan pun dipercepat sesuai perintah dari Mjorn. Pasukan dwarf yang berada didepan semakin meninggalkan pasukan gabungan yang mengejar mereka.


"Mereka sepertinya tidak ingin meladeni kita!" Kata Albert.


"Nona.." Hamdall menoleh kearah Slyvrin.


"Akan ku coba!" Jelas Slyvrin mengerti maksud dari Hamdall, lalu ia berhenti berlari untuk merapalkan sihir.


[Sand Wave]


Tongkat milik Slyvrin pun menciptakan rapalan sihir berwarna cokelat. Setelah itu hembusan dari partikel pasir yang terkumpul dari area terbuka itu memadat. Slyvrin segera melemparkannya kearah pasukan dwarf yang saat ini sedang berlari menjauh dari kejaran mereka. Kemampuan dari Slyvrin itu seperti sebuah badai pasir yang padat namun dalam skala sedang. Hembusan pasir itu melaju dengan cepat seperti sebuah panah yang ditembakan dari busur.


Pasukan dwarf yang berada dibelakang menoleh kebelakang dan dibuat terkejut dengan kedatangan serangan yang berupa kumpulan pasir yang memadat datang menghampiri mereka. Setelah pasir itu berada diatas pasukan dwarf, Slyvrin segera menjatuhkannya dan pasir itu menerjang pasukan dwarf yang berada dibelakang layaknya ombak.


"Akhhh!!!" Teriak pasukan dwarf yang berada dibelakang.


Mjorn, Ivar beserta pasukan yang lain sontak segera menoleh kearah belakang akibat keributan yang dibuat oleh pasukan garis belakang. Ombak yang terbentuk dari pasir tersebut seperti mencari korban, berkat kontrol jauh dari Slyvrin membuat pasir itu layaknya hidup mencari musuh.


"Pasir apa itu?!" Tanya salah satu dwarf yang berada didekat Mjorn dan Ivar.


Mjorn segera memfokuskan pandangannya kearah belakang dan melihat Slyvrin sedang mengacungkan tongkatnya kearah depan demi mengontrol laju ombak pasir tersebut.


"Itu serangan dari ratu elf!" Mjorn terkejut.


"Hah?!" Ivar terkejut.


Ombak pasir itu terus mengejar mereka dan menelan beberapa prajurit dwarf yang terkena jangkauannya. Laju ombak pasir itu sangat ganas diatas tanah yang mana membuat pasukan dwarf lari terkocar - kacir.


"Mjorn! Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?!" Tanya Ivar.


"Apa kau bodoh?! Melihat pasir itu saja aku sudah mengetahuinya, kalau force yang berada didalamnya sangat hebat! Kau menyuruh ku untuk mati?!" Tanya Mjorn membentak.


"Cih!" Ivar mencoba melempar belati yang ia perkuat dengan force miliknya.


Namun belati itu segera tertelan dan tidak lagi tampak wujudnya. Pasukan dwarf terus berlari dengan cepat untuk memasuki hutan sekaligus untuk melarikan diri dari ombak pasir yang diciptakan oleh Slyvrin. Ombak pasir itu semakin mendekati barisan depan setelah melahap bagian tengah pasukan ras dwarf. Ivar dan Mjorn pun berlari sambil menoleh kearah belakang untuk melihat laju ombak yang semakin dekat.


Namun, disaat detik - detik ombak itu hampir menerjang pasukan garis depan, ombak itu seketika runtuh menjadi kumpulan pasir biasa diatas tanah kembali.


"Eh?!" Albert terheran dengan ombak Slyvrin yang gagal menggapai barisan Ivar dan Mjorn.


"Sihir nona Slyvrin sudah sampai batas jarak yang bisa ia kontrol!" Jelas Hamdall sambil menoleh kebelakag dimana Slyvrin berdiri.


"Huft!" Slyvrin terlihat kecewa dengan serangannya yang hampir dapat menelan seluruh pasukan dwarf yang sedang melarikan diri.


Sebagian pasukan dwarf kali ini berhasil terhindar dari maut yang datang mendekat. Mereka berhasil memasuki hutan tersebut dan salah satu prajurit dari ras dwarf mengeluarkan kontrol yang dapat mengaktifkan portal tersebut. Portal pun terbuka dan mereka semua memasukinya lalu berpindah kedekat perkemahan.


"Apa?!" Mjorn terkejut dengan keadaan perkemahan yang sudah hancur.


Disisi lain mereka juga mendengar suara dentuman keras yang berasal dari gada Ubba yang sedang mendesak Yoga. Ubba masih terus menghatamkan gadanya keaarah perisai milik Yoga yang mana membuatnya kewalahan.


"Ubba!" Panggil Ivar yang mana membuat Ubba terhenti.


Melihat kesempatan dari berhentinya serangan Ubba, membuat Yoga memiliki waktu untuk bangun dan meloloskan diri.


"Tuan Yoga!" Khawatir seluruh pasukan manusia yang sedang bertarung dengan pasukan dwarf yang tersisa.


Keadaan sekarang berbalik dimana pasukan dwarf sedang diperuntungkan dengan keadaan Ivar dan Mjorn. Yoga yang bsia merasakan aura force yang kuat dari Mjor dan Ivar tanpa demicles yang mengudara mulai merasa cemas. Pasukan dari kedua kubu pun berhenti berperang dan melakukan regurp.


*"*Tuan Yoga!" Sapa Kirisaki dan Hawal yang juga ikut berkumpul didekatnya.


"Apa?! Dua orang pendamping?!" Kirisaki terkejut sambil melihat kearah Mjor dan juga Ivar.


Pasukan ras manusia pun dibuat terdesak dengan kehadiran pasukan tambahan dari ras dwarf.


"Kita tidak memiliki waktu! Ada pasukan pengejar yang membuntuti kami! Kita harus membereskan mereka dan menuju Folk!" Mjorn menjelaskan situasi kepada Ubba.


"Kalau begitu ayo cepat selesaikan!" Gelombang besar dari pasukan dwarf yang bersatu itu menerjang Yoga dan sisa pasukan.


"Sial!!!" Teriak Yoga dalam hatinya melihat seluruh pasukan dwarf datang.


Disebuah bukit yang teduh dan sejuk, Rado terduduk dibawah pohon besar sambil menikmati hembusan angin yang menyejukan dirinya. Ia terlihat menutup matanya dan tersenyum karena kenyaman yang ia dapatkan dari angin tersebut. Ladang hijau yang luas mengitari bukit itu seperti sebuah surga yang menanti dirinya.


"Hah... Ini sungguh nyaman..." Pikir Rado saat menikmati kenyaman saat - saat itu.


"Kapan terakhir aku merasakan hal seperti ini?" Tanya Rado sambil merasakan tiupan angin.


Rambutnya terlihat mengibas mengikuti arah angin yang menerpanya. Ia pun membuka matanya setelah merasakan seseorang datang mendekat kearahnya.Suara pijakan kakinya sungguh lembut saat menyentuh rerumputan yang berada disekitar bukit tersebut. Rado yang baru saja membuka matanya, terkejut melihat sosok wanita yang selama ini menjadi cahaya semasa hidupnya.


"Nara?!" Rado terkejut menatap lebar kearah Nara yang sedang berdiri didepannya sambil menyeka rambut karena tertiup angin.


"Rado.. Sudah lama ya.." Senyum Nara.


Saat itu Nara mengenakan pakaian yang memiliki bawahan rok sampai diatas lutut. Wajahnya sungguh cantik dan bersih sampai dapat membuat Rado terlena jatuh dalam pancaran wajahnya.


"Bu - bukankan kau sudah..." Rado mencoba untuk mencerna kehadiran Nara yang sudah tewas.


Nara berjalan kedekat Rado yang tiba - tiba berdiri terkejut setelah melihatnya. Dalam keheningan sesaat setelah pertemuan yang tidak terduga, mereka berdua pada akhirnya memilih untuk duduk berdua dibawah pohon yang teduh itu. Rado tidak bisa menatap Nara yang saat ini berada disampingnya, Rado hanya bisa menunduk diam karena kala itu tidak dapat menyelamatkan Nara saat perang di pesisir pantai.


"Bagaimana kabar mu? Apa kau makan dengan teratur?" Tanya Nara tersenyum kearahnya.


"Maafkan aku.." Kata Rado menunduk menyesal dengan mata hitam tertutup rambutnya.


"Hei - hei kenapa kau seperti itu?" Senyum manis Nara kepada Rado.


"Tapi-" Rado sedikit meninggikan intonasinya.


"Kau tau?" Potong Nara.


"Saat pertama kali aku bertemu dengan mu saat di kampus?" Nara mulai bercerita sambil melihat langit cerah di bukit itu.


Rado pun menoleh kearahnya saat Nara mulai bercerita dengan wajah yang polos.


"Saat itu aku melihat mu seperti orang yang lemah.. Kurus dan seperti orang yang tidak terurus. Tapi setelah lebih dekat dengan mu, aku menjadi mengerti kalau di dunia ini masih terdapat orang yang benar - benar tulus dan juga baik hati... Dan aku mulai menyukai mu.." Kata Nara mengakui sambil terus menatap langit.


Rado terkejut dengan wajah yang tidak berubah selama beberapa detik.


"Ups... Aku mengakuinya.." Senyum Nara menatap Rado.


Rado hanya bisa terdiam melihat senyuman Nara.


"Tapi ntah apa yang terjadi dengan mu setelah beberapa lama tidak bertemu... Kau datang dengan penampilan dan juga sikap yang berbeda... Kau jadi lebih mengintimidasi dan juga dingin... Tidak seperti dulu yang lugu dan juga hangat.. Tetapi aku akan tetap menyukai mu meskipun kau berubah sampai aku tidak bisa mengenali mu lagi.." Kata Nara lembut sambil tersenyum tipis kepada Rado.


Mata Rado terlihat berkaca - kaca mendengar ucapan manis dari Nara. Ia tidak menyangka kalau selama ini teman wanita yang selama ini berada didekatnya ternyata memendam rasa, dan rasa itu sudah ada pada saat ia masih menjadi seseorang yang lemah. Rado pun sedikit menggeser tubuhnya kearah Nara.


"Kalau begitu.. Aku sudah ada disini! Kita tidak akan bisa terpisah lagi..!" Kata Rado dengan senyum dan juga rasa senang yang tertahan.


Namun jawaban yang diberikan oleh Nara adalah sebuah gelengan kepala. Rado pun terheran dengan jawaban tersebut.


"Kau masih belum boleh datang kedunia yang sama dengan ku..." Kata Nara tersenyum kepada Rado.


"Mengapa?!" Tanya Rado sedikit mengintrogasi.


"Karena kau masih mempunyai tanggung jawab yang berada dipundak mu, dan tanggung jawab itu adalah tanggung jawab yang sangat besar..." Jelas Nara.


"Kau harus menyelesaikannya terlebih dahulu, lalu kau boleh menemui ku disini.." Senyum Nara dengan tulus.


"Tapi Nara! Jalan menuju itu akan dipenuhi darah! Mana mungkin aku bisa mendapat tempat yang sama dengan mu disini! Kata Rado terlihat khawatir.


"Tenang saja... Kemana pun kau pergi, aku akan terus berada disamping mu meskipun itu adalah dunia yang tidak berujung sekali pun.." Ujar Nara sambil mengelus pipi Rado yang sedang merasa khawatir.


"Bangunlah... Manusia masih membutuhkan mu.." Nara mencoba untuk menyemangati Rado.


Nara pun perlahan menghilang dari Rado, Rado yang merasa belum merelakan kematiannya pun mencoba untuk menggapainya. Namun tubuh Nara hilang begitu saja sesampai tangan Rado ingin menyentuhnya. Dunia yang semulanya indah dengan bukit dan pemandangan indah berubah menjadi ruang hampa berwarna hitam dan juga riak air dibawah kaki Rado. Ia tertunduk sekali lagi dengan wajah yang tertutup rambut.


"Hmph.." Rado tersenyum ketus.


"Apa dunia indah seperti itu masih terlalu cepat untuk ku?!" Tanya Rado yang berdiri sambil memandangi genangan air dibawahnya.


Pantulan dari genangan itu menampilkan wajah Rado yang tertutup rambut itu, ia pun mengangkat kedua tangannya dan memandanginya.


"Apa tangan yang sudah berlumuran darah ini bisa mengantarkan ku ketempatnya?" Sambung Rado bertanya.


"Kau bisa!" Suara Nara bergema kembali menyadarkan Rado sekali lagi.


Rado pun tersadar, wajahnya pun tidak lagi tertutup rambut yang membuatnya tidak percaya diri. Ia pun mengepalkan tangannya dengan erat sekali lagi dan tersenyum layaknya dirinya.


"Kau benar! Aku bisa melewati ini semua dan menemui mu sekali lagi... Untuk sekarang, aku harus membereskan dunia yang menyusahkan itu terlebih dahulu.." Senyumnya dengan mata yang memantulkan warna force mliknya.


Seketika ruang hampa itu berubah menjadi lautan force berwarna ungu. Rado pun bangkit dari tidurnya setelah salah satu hal yang selama ini menjadi sebuah belenggu di hatinya telah hilang. Laju dari tangan Folk yang sedang menggenggam sebuah belati pun, ditahan oleh tangan kiri Rado.


"Hah?!!!!" Folk berteriak heran ketika tangannya dapat ditahan oleh Rado dalam jarak yang hampir mengenai jantungnya.


"Kau masih hidup?!" Tanya Folk dalam keadaan tangan yang sedang dicengkram hebat.


"Kau pikir siapa aku?" Tanya Rado tersenyum layaknya tidak terjadi apa - apa namun masih dalam keadaan menunduk.


Cengkraman Rado mendadak mengerat kuat hingga mematahkan pergelangan tangan Folk.


"Akhh!!!!!!!!!" Teriak panjang Folk setelah tangannya patah.


"Kepar*t lepaskan!" Pinta Folk dengan rasa sakit yang amat sangat.


Namun permintaan itu dijawab oleh remasan tangan Rado yang semakin menguat.


"Akhhhh!!!!! Kepar*t!" Teriak Folk sekali lagi namun kali ini ia mengacungkan pistolnya yang lain kearah Rado.


Dalam jarak sedekat itu seharusnya sudah menjadi titik akhir bagi Rado karena peluru yang akan keluar dari pistol milik Folk adalah kemampuan yang sangat hebat, yaitu Invisible Shot. Akan tetapi, saat peluru itu dimuntahkan tepat kearah kepala Rado, Rado dengan cepat memiringkan kepalanya hingga peluru itu meleset.


"Mustahil..!" Folk terkejut dan berkeringat.


Lambang demicles milik Rado yang semulanya meredup, kembali bersinar terang namun dalam keadaan ukuran yang membesar. Folk merasa merinding dengan kebangkitan Rado yang baru. Ia mulai mengigil dan dengan panik mengacungkan kembali pistolnya.


"Mati kau!!!" Teriaknya dalam keadaan panik.


Saat sebelum pelatuk itu ditarik, Rado mengangkat kepalanya dan mendekat kewajah Folk lalu menusukan pedangnya kearah dagu Folk hingga menembus tengkoraknya. Wajah Folk yang terkejut membuat Rado muak dan ia segera menempakatkan kedua tangannya didagu dan diatas dahi Folk lalu mematahkan tulang lehernya.


Folk rubuh begitu saja dengan demicles milikinya yang tiba - tiba hilang dari udara. Dengab kematian Folk membuat kekuatan pendamping ras dwarf pun juga ikut menghilang.


Ubba dan pendamping lainnya yang saat itu sedang menerjang Yoga dan pasukan ras manusia mendadak kehilangan kekuatan yang mana membuatnya jatuh lemas. Prajurit ras dwarf pun terhenti melihat ketiga pendamping mereka terjatuh lemas.


Ubba yang seperti tidak bertenaga dan merangkak kearah Yoga masih tetap dalam pendiriannya untuk menghajar Yoga. Yoga dan yang lainnya begitu terheran dengan kondisi yang dialami para pendamping ras dwarf secara spontan itu.


Saat melihat Ubba yang sedang susah payah merangkak kearahnya sambil menyeret gadanya membuat Yoga merasa muak. Ketika Ubba tepat berada dibawah kakinya, Yoga segera menusuk wajahnya dengan pedang.


Ubba seketika menyusul Folk yang sudah terlebih dahulu pergi dari dunia perang itu. Setelah membunuh Ubba dan memastikan tidak ada lagi ancaman dari ras dwarf yang sedang berkabung, Yoga dan prajurit lain menoleh melihat kearah demicles Rado yang bersinar terang.


"Kau berhasil..." Senyum Yoga.


Sementara itu, diwaktu yang sama rombongan Slyvrin pun datang. Ia terlihat bahagia melihat demicles milik Rado yang tetap bersinar terang di udara sana.


Pasukan gabungan itu segera bersorak akan kemenangan mereka diatas kepedihan ras dwarf. Ditengah sorakan itu, Rado perlahan menunjukan diri dari dalam hutan dengan keadaan bersimbah darah dan tersenyum.


Ia masih menahan rasa sakit yang dibuat oleh Folk, melihat Rado terluka Slyvrin segera menghampirinya karena rasa khawatir.


"Rado!" Panggil Slyvrin khawatir.


Rado hanya berdiri sambil menunggu kedatangan Slyvrin dengan wajah khawatir, disisi lain ada sebuah kecemburuan yang tersirat dari wajah Julie.


"Kau terluka?!" Tanya Slyvrin sambil melihat luka diperut Rado.


"Hanya sedikit.." Jawab Rado tersenyum.


"Minum ini!" Slyvrin memberikan botol berisi obat buatan Zowie.


Rado pun segera meminumnya dan luka lebar yang terdapat pada perutnya terlihat membaik lalu menghentikan pendarahan.


"Apa kau membunuhnya?" Tanya Yoga mendekat.


"Ya.." Jawab Rado tersenyum.


Rado pun melihat kearah pasukan dwarf yang sedang menangis terisak dengan kematian Folk dan Ubba. Namun, tidak sedikit pun rasa iba dari dalam diri Rado melihat mereka semua.


"Bunuh mereka semua.." Perintah Rado dengan wajah datar.


Seluruh pasukan terkejut mendengar perintah Rado tersebut. Slyvrin dengan wajah yang terheran mencoba merubah pikiran Slyvrin.


"Mereka sudah tidak lagi melawan! Kenapa kita harus membunuh mereka?!" Tanya Slyvrin kepada Rado.


Rado hanya terdiam memandang wajah Slyvrin yang terlihat bingung, karena merasa malas menghadapi pertanyaan itu, Rado segera berbalik arah dan meninggalkannya.


"Terserah pada mu.." Jawab Rado tanpa tersenyum sedikit pun.


Mereka semua terus memandangi Rado yang pergi meninggalkan mereka. Sementara itu, setelah kematian Folk, disebuah ruangan tahta bernuansa dewa, Achilles tersenyum kedepan.


"Sepertinya akan ada iblis yang terlahir di dunia ku.." Senyumnya sambil merasakan sebuah kekuatan yang bangun.