
Ting~~ Suara sistem berbunyi dan Rado segera mengarahkan matanya kearah option sistem. Selama ini Rado tidak takut membuka jendela sistem dimanapun ia berada karena sistem itu hanya bisa dilihat olehnya seorang saja.
Point Close Range meningkat 4
Point Ranger meningkat 3
Rado Gavriel [The Archon]
Status Transfer 26%
-PointSkill-
Point Skill Close Range 33/100 point
Point Skill Ranger 15/30 point
Aura kepemimpinan 1,75%
Ketahanan Fisik 100%
-Ketahanan Elemen-
Air 13%
Api 7%
Tanah 23%
Angin 37,2%
Kringggg...
Suara sistem itu memberitahu sebuah pencapaian yang berkaitan dengan skill bertempur jarak dekat milik Rado, setelah suara itu berhenti berbicara, sebuah tabel tambahan muncul dihadapan Rado.
skill pasif ini akan akftif untuk meningkatkan critical 10% dan attack power 20% selama 1 menit\ data-tomark-pass >
"Eh apa ini?!! Skill bonus setelah menggunakan Gale Blade?! tapi efek dari skill pasif ini sangat gila! Waktu status transfer ku sudah mencapai 20%, aku telah mendapat sebuah anugerah mengenai penambahan kekuatan serangan 20% dan itu membuat ku jauh lebih kuat dari sebelumnya secara instan, tapi kali ini.." Rado tersenyum senang karena skill pasif baru itu bisa membuatnya menjadi lebih gila dalam bertempur karena tambahan kritikal yang bisa menyebabkan kerusakan fatal bagi yang terkena serangannya nanti.
"Tuan Porter.." Kenji berjalan menghampiri Rado dengan tampilannya yang runyam.
Rado segera menoleh kearah Kenji dan jendela sistem tertutup dengan sendirinya.
"Ah kau... maafkan aku soal katana mu" Rado mencoba untuk meminta maaf.
Kenji melihat kearah Katana miliknya yang sekarang sudah menjadi abu berwarna hitam, setelah itu ia segera mengalihkan tatapannya kembali kearah Rado dengan wajah tersenyum dan lega.
"Tuan... siapa kau sebenarnya?" Ia masih penasaran dengan sosok Rado.
Rado hanya menatapnya dalam diam kearah Kenji, Kenji yang mengetahui maksud dari tatapan Rado tersebut segera tersenyum dan menggeleng pelan.
"Maafkan aku, aku hanya penasaran"
"Tak apa.. sebaiknya kita membantu yang lain"
Setelah kekalahan bos Scorpion King ruangan itu menjadi lebih kondusif, bagi mereka yang masih sanggup berdiri segera memberikan pertolongan bagi yang terluka dengan memberikan potion merah. Isak tangis dari Lili dan Vira meramaikan ruangan yang sedikit hening itu, Vira begitu terpukul atas kematian Jims yang tragis dalam raid kali ini, tangisan Vira terdengar lebih menusuk ditelinga teman-teman yang mendengarkannya.
Setelah pertempuran usai, batu yang menghalangi jalan keluar hancur begitu saja. Kerugian yang dialamin tim raid dari Guild Nova grup D adalah dimana hanya ada satu korban yang tidak tertolong dan sisanya mengalami luka fisik. Pada kali ini ada rasa iba dari diri Rado mengenai kematian salah satu orang pada tim tersebut, namun itu tidak akan menghantuinya karena ia merasa kematian dari satu orang tersebut bukanlah kesalahannya.
Locus yang sudah mulai merasa lebih baik menghampiri Rado.
Tiba-tiba dari lain sisi Vira datang menghampiri Rado dengan tergesa-gesa dan menarik Hoodie milik Rado, "Kenapa?!!!!! Kenapa kau tidak menolong saat Jims terkena serangan?!" Vira tak sanggup menahan tangisnya dan mencoba untuk membenamkan wajahnya ke tubuh Rado, "Andai saja... andai saja tadi kau segera mengambil tindakan.. Jims tidak akan mati!!"
"Maafkan aku.." Dengan nada datar Rado meminta maaf karena kematian Jims.
Vira yang mendengar itu segera menarik kepalanya dari tubuh Rado dan menatapnya dengan kesal, "Maaf??!!! hanya maaf?!! dilihat dari mata mu dan cara kau meminta maaf, kau seperti tidak menyesalinya!!! tunjukan wajah mu dan meminta maaf lah dengan benar, dasar pengecut!"
Saat Vira ingin membuka paksa masker Rado, Rado secara reflek menangkap tangan Vira yang begitu kecil bagi dirinya. Vira mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Rado saat ini, beberapa anggota yang lain hanya bisa menyaksikan protes dari Vira mengenai kematian Jims kepada Rado.
Plak~~~
Vira menampar Rado dengan tangannya yang lain dengan tangisan yang masih berlanjut. Sebenarnya Rado bisa saja menghalau tamparan tersebut, tapi Rado membiarkan tamparan itu terjadi sebagai bayaran karena ia telah membiarkan satu orang mati.
Heni dengan sigap menarik Vira dari Rado untuk menenangkan dirinya.
"Aku sebanarnya juga kecewa, kecewa dengan diri ku yang tidak sanggup melawan lagi tadi.. tapi.. Jims itu teman kami, meskipun terkadang menjengkelkan karena tidak bisa memilih dan tidak bisa tegas" Kata Heni dengan lirikannya yang mengarahkan kearah lain sambil memeluk Vira.
Rado sempat berfikir kalau cara berpikirnya adalah pemikiran yang salah, dia begitu egois karena terbawa kehidupannya yang lalu, selama ini kematian dari seseorang yang tidak ada kaitan dengannya bukanlah hal yang terlalu berarti untuknya. Tetapi setelah mendengar Heni berkata seperti itu, ia baru tersadar kalau kematian seseorang bisa berpengaruh pada orang lain.
Selama ini Jims memang tidak menonjol. Dia terlihat hanya tertawa, tersenyum dan sesekali seperti mengekor kepada Billy ataupun Kenji. Sekarang ini Rado begitu malu dengan cara berpikirnya yang begitu saja menyimpulkan keadaan tanpa mengetahui lebih jauh, selama ini dia mengira kalau tim ini ada sebuah keretakan kubu, namun ternyata itu hanya sebagiannya saja.
[Sepertinya aku telah membiarkan orang baik mati] Dalam benak Rado yang mulai menyesal.
Tidak lama dari itu, suara gemuruh langkah kaki terdengar dari luar ruangang. Beberapa orang dengan perlengkapan lengkap dan warna yang seragam datang.
"Kami dari pemerintahan datang membantu"
Saat mereka datang, mereka segera menyadari kalau pertempuran telah usai. Mereka hanya bisa melihat situasi yang saat ini sedang terjadi dengan bos yang sudah dikalahkan dan satu orang mati dengan tragis. Dari belakang kerumunan tim pemerintahan, Steven keluar sambil menghisap rokoknya.
"Sepertinya kami terlambat datang"
Firasat super yang ia miliki mengarahka matanya kepada Rado yang saat ini sedang menutupi identitas.
"Cepat bantu yang terluka dan kita keluar dari sini segera" ia memerintah dengan tatapanya yang masih mengarah kearah Rado.
Dalam perjalanan keluar dari dungeon tersebut, mereka dibantu penerangan dari tim pemerintahanan.Bagi mereka yang sudah tidak bisa berjalan akan di tandu dengan sebuah tank kecil yang dikhususkan untuk mengangkat yang terluka.
"Maafkan aku yang telah menyembunyikan kekuatan asli ku" Rado membuka pembicaraan bersama Locus.
"Itu bukan salah mu, beberapa orang memang ada yang tidak ingin menunjukan identitas dirinya" Locus menoleh kepada Rado.
Keheningan terjadi beberapa saat setelah percakapan itu, "Kau tahu? dulu sebelum kami di rekrut oleh guild Nova, kami hanyalah tim party kecil" Rado menoleh kearah Locus yang mulai bercerita.
"Dulu Billy tidak seperti itu, ia seorang yang baik.. Ia memiliki kaka yang ia kagumi, Tetapi kakaknya terbunuh didalam dungeon karena melindungi seorang porter yang lemah.. Setelah itu sifatnya berubah drastis, mungkin dia melarang kami melindungi mu karena ia takut kami akan mengalami hal yang serupa seperti kakanya dan terkadang sifatnya itu membuat beberapa dari kami jengkel"
Rado hanya bisa mendengarkan cerita dari Locus dan mendapat sebuah kebenaran.
"Sejak dulu Billy memang bersaing dengan Kenji mengenai kepemimpinan, namun setelah kami di rekrut oleh kapten Watz, Billy lah yang diberikan amanat... apa kau tau tanggung jawab yang besar kalau kau menjadi seorang pemimpin?!" Locus menatap Rado dengan serius.
"Sedikit" Rado mengalihkan pandangannya kedepan.
Melihat Rado yang seperti itu membuat Locus tersenyum, "Melihat mu yang tenang seperti itu, membuat ku iri"
Rado menoleh kembali kearah Locus dan segera beralih kearah tank yang mengangkut tubuh Jims yang sudah tertutupi oleh kain.
"Dia orang yang baik, dia mulai pacaran dengan Vira seminggu yang lalu.. dia agak sedikit kikuk hahaha.." Locus mengenalkan sifat Jims kepada Rado.
Rado mengeritkan keningnya sesaat tanda ia merasa bersalah sekali lagi, tidak terasa mereka sudah berjalan menelusuri dungeon tersebut dan melihat pintu keluar. Pada Saat mereka keluar, sudah banyak orang yang menunggu untuk melihat apa yang terjadi, bila tim pemerintah masuk kedalam gate itu berarti ada sesuatu.
Mereka begitu terkejut saat melihat ada seseorang yang mati dan secara samar beberapa dari mereka berbisik menanyakan apa yang terjadi didalam sana? Rado melirik kesana kemari sambil membawa ransel super besarnya itu. Tiba-tiba orang yang berada didepannya berhenti dan menoleh.
"Bisakah kita berbicara sebentar diluar nanti?" Kata Steven dengan serius dan Rado mengangguk setuju atas permintaannya itu.