The Archon

The Archon
Kehilangan



Dibibir pantai saat ini Rado berdiri seorang diri menunggu datangnya para pemburu yang tergabung dalam PPMD. 2000 pemburu datang menyerang secara bersamaan kearah Rado. Tidak jauh dari tempat mereka bertempur, beberapa awak media mulai berdatangan dan mengambil video pertempuran mereka secara live. Saat ini semua channel tv yang ada diseluruh dunia sedang menyiarkan pertempuran akbar yang menentukan siapa yang berkuasa didunia ini.


"Apakah sudah terhubung?" Tanya seorang reporter.


"Ok sudah!" Kata para Editor.


"Eh?!" Apa yang ia lakukan sendiri? Bunuh diri?" Kata seorang kameramen yang sedang menyoroti Rado.


Bukan hanya kameramennya saja yang dibuat bingung dengan Rado, tetapi seluruh dunia dia buat bingung karena aksinya yang seorang diri melawan para pemburu yang tergabung dalam PPMD. Para masyarakat yang menonton dibuat tegang disaat - saat mereka ingin berbenturan.


"Kakek! Rado bagaimana ini?!" Silvi yang berada dimansion dengan wajah paniknya melihat kearah Martinez.


"Tenang lah Silvi, serahkan itu kepada adik mu.." Martinez menenangkannya.


"Tapi-"


"Tenang saja nona Silvi, kapten Rado pasti bisa menangani mereka.." Senyum Peter yang menutupi kecemasannya.


Teriakan dari para pemburu menggema dipesisir pantai tersebut. Didepan mereka berdiri seseorang pemburu yang telah membunuh Kuhler dan juga disebut - sebut sebagai pemburu terkuat yang pernah ada. Dia hanya berdiam diri sambil memegang kedua pedang miliknya. Disaat lautan pemburu itu hampir sampai kepada Rado. Rado mencondongkan tubuhnya lebih rendah daripada biasanya.


{Sonic Blade}


Ia melesat kedepan seperti menghentikan waktu, sakin cepat dirinya membuat para pemburu itu tidak bereaksi, Rado segera menerobos masuk dengan cara menyayat pemburu yang menghalangi langkahnya. Sekarang ini barisan yang awalnya tertutup rapih, memiliki sebuah garis panjang ketengah yang diakibatkan oleh serangan Rado. Mereka terbunuh dengan cepat hanya dengan sekali serangan saja.


Para pemburu dibuat tertegun oleh kecepatan yang dimiliki oleh Rado, mereka tidak menyangka kalau orang yang berada didepan mereka, saat ini sudah berada ditengah - tengah barisan terdalam sambil tersenyum dengan pedang yang penuh darah. Reaksi yang terputus karena keterkejutan itu mulai tersambung kembali, beberapa pemburu mulai menyerang Rado yang saat ini berada ditengah.


"Dasar Bodoh! Kau memposisikan diri mu ditengah kami, mati lah!" Kata Salah satu pemburu yang menggunakan pedang.


Rado dapat menghindari, menangkis dan melawan balik seperti sedang bermain - main dengan mereka. Senyuman yang tidak putus dari wajahnya membuat psywar yang membuat para lawannya merasa di ejek. Para penonton yang menonton itu terus - terusan berdecak kagum dengan kemampuan milik Rado. Beberapa saat mencoba untuk menyerangnya dari dekat, para pemburu segera menarik mundur untuk memberikan sebuah ruang untuk para mage dan ranger melakukan serangan.


Para ranger yang sudah membidik dan para Mage yang sudah mulai merapalkan mantra, tanpa menunggu aba - aba lagi mereka segera melepaskan serangan gabungan dari jarak jauh. Rado yang masih berdiri ditengah mereka, hanya tersenyum sambil melihat kearah langit dimana hujan serangan itu datang. Serengan yang dahsyat itu pun jatuh tepat kearah Rado hingga menciptakan sebuah ledakan yang amat dahsyat.


"Hahahahah Rasakan itu dasar bocah sombong!" Tawa puas dari Richard.


"Hahahahha Rasakan!" Kata para pemburu tertawa melihat Rado diledakan.


Kameramen yang sedang mengambil video itu sampai tidak bisa menutup mulutnya karena serangan yang sangat hebat, para penonton dirumah juga sampai dibuat terkejut melihat pertempuran yang sangat hebat itu.


"Apakah dia mati?" Tanya seorang perempuan yang baru saja menutup mulutnya sambil menonton siaran langsung tersebut.


"Tidak lihat itu!" Kata seorang pria tua yang sedang menyaksikan bersama.


Debu yang menyelimuti setelah ledakan mulai menghilang dan menampilkan suatu siluet yang masih berdiri kokoh.


"Apa?!!!!" Baldrik terkejut melihat Rado yang masih berdiri.


"Hah.... Baju ku jadi kotor kan.." Senyum Rado sambl membersihkan tubuhnya.


Ting~~~~ Suara sistem berbunyi


Kenaikan Elemen Air 20%


Kenaikan Elemen Angin 20%


"Eh? Status ku naik karena serangan elemen dari mereka?" Dalam benak Rado.


Disaat semua sedang terkejut melihat Rado masih berdiri dengan gagah, Rado segera menoleh kearah salah satu pemburu yang mengenakan perisai sambil terkejut melihatnya.


"Kau..!" Panggil Rado.


"Y-yaa...." Gugup ia menjawab.


"Cepat beritahu para penyerang jarak jauh kalian untuk menembakan serangan seperti tadi sekali lagi" Kata Rado tersenyum.


Mendengar Rado mengucapkan itu membuat mereka menjadi ketakutan karena merasa orang yang sedang mereka lawan ini adalah monster. Senjata yang mereka genggam dengan erat berubah menjadi gemetar karena sosok orang didepan mereka.


"Ka-kau Monster!" Teriak salah satu pemburu dengan takut.


"Hei kenapa kalian diam saja?! Cepat serang dia lagi!" Perintah Baldrik dengan kesal.


Para pemburu yang mendapat perintah dari Baldrik mulai mempersiapkan diri untuk menyerang Rado, namun ada suatu yang mengganjal di hati mereka, yaitu keraguan. Keraguan atas keberhasilan bila mereka menyerang lagi.


"Cepat, atau kalian akan mati ditangan pasukan khusus!" Ancam Baldrik.


"Pasukan khusus?" Heran Rado dalam benaknya.


Karena mereka takut atas ancaman dari Baldrik, Mereka semua mulai menyerang Rado kembali dari segala sisi.


Rado pun menghela nafasnya sebelum menyerang para pemburu yang lemah ini.


{Gale Blade}


Rado pun dengan cepat memberikan serangan bertubi - tubi menggunakan punggung pedangnya dengan maksud tidak ingin membunuh para pemburu yang sudah tidak memiliki tekad untuk bertarung lagi. Dengan kecepatan yang dimiliki Rado membuat gerombolan penyerang itu terlempar keberbagai arah dan hanya memiliki luka lebam serta pingsan mendadak.


{Dancing Blade telah aktif}


{Combat Mastery telah aktif}


Aktifnya skill pasif milik Rado membuat auranya semakin mengintimidasi, para pemburu biasa yang berada didekatnya sekarang merasa gemetar dan memilih untuk mundur.


"Dasar pengecut! kalian akan kena hukumannya nanti, Panggil para pasukan khusus!"


Setelah dipanggil oleh Baldrik pasukan khusus yang mengenakan pakaian serba hitam berjulam ratusan orang menghadang Rado.


"Jangan samakan kami dengan para pemburu lemah itu...! Bersiaplah untuk-"


Sebelum ia menyelesaikan kata - katanya Rado dengan cepat memenggal kepala orang tersebut.


"Kau terlalu banyak bicara..." Dengan santainya Rado berkata.


Hal yang dilakukan pertama oleh para pasukan khusus adalah menjaga jarak dari Rado terlbih dahulu. Wajah panik berkeringat mulai membasahi Baldrik yang berada jauh dibelakang. Rado masih berdiri gagah diantara mereka semua dengan pengawasan super ketat dari para pasukan khusus. Beberapa saat menunggu, para pasukan khusus saling melihat satu sama lain untuk mengkoordinasikan serangan.


Setelah sebuah isyarat mereka lakukan, akhirnya para pemburu khusus itu menyerang membabi buta. Rado sekarang ini hanya tersenyum sambil menghindari serangan dari mereka semua. Kecepatan dan kekuatan dari mereka semua benar - benar berbeda dengan pemburu yang sebelumnya.


Dimata musuh dan dimata dunia, Rado seperti sedang kesulitan untuk menghindari serangan tersebut, tetapi nyatanya ia hanya sedang bermain - main saja. Ia pun juga sengaja membiarkan tubuhnya terkena serangan karena ingin tahu seberapa hebat dia. Tubuh Rado semakin menunjukan seperti orang yang sudah terkena banyak serangan, namun masih bisa ternyum.


"Matilah!!!" Teriak salah satu musuh yang ingin menusuk Rado dari belakang menggunakan pedangnya.


Rado pun segera berputar dan menghentikan mata pedang itu dengan salah satu ninjatonya yang mana membuat pedang tersebut patah seketika. Wajah pucat yang musuh itu berikan membuat Rado sedikit muak dan segera memukulnya dengan gagang ninjatonya tersebut hingga orang itu terpental jauh.


"Sudah selesai?" Senyum Rado dengan pakaian yang sudah compang camping.


Para pasukan khusus ternyata masih belum bisa membuat Rado bertekuk lutut. Malah sebaliknya, mereka terlihat sudah kelelahan karena harus terus menerus menyerang Rado, namun tidak membuahkan hasil seperti para pemburu yang lain.


"Kalau tidak ada maka-"


"Graaaaaa!!!!!!"


Serangan mendadak dari Diwei yang menggunakan sebuah Golok China. Kekuatannya jauh diatas para pemburu yang sudah Rado buat takut, Rado yang spontan menangkis datangnya serangan itu hingga dibuat mundur.


"Hahh.. kau cukup kuat juga.." Diwei yang menyombongkan kedatangannya.


"Tuan Diwei!!!!!!" Sorak para pemburu menyerukan nama Diwei.


"Ho.. ternyata kau kuat juga" kata Rado memujinya.


"Bersiaplah untuk mati!"


Diwei terus melesai dengan bela diri yang telah ia tekuni sejak kecil, golok yang ia kenakan hampir sepanjang ninjato milik Rado, namun diameter golok tersebut bisa 3x lipat dari diameter ninjato Rado. Diwei terus menyerang kearah Rado sambil tertawa - tawa. Rado terlihat seperti terdesak, ia menangkis serangan Diwei sambil memundurkan langkahnya kebelakang karena intensitas serangan tersebut.


"Ada apa hah? apa kau tidak bisa menahan serangan ku anak muda?! hahahahha" Ejek Diwei dengan sombong.


Dan pada akhirnya serangan kuat dari Diwei yang sudah disiapkan untuk serangan terakhir, berhasil mengenai tubuh Rado dan menyebabkan sebuah ledakan dahsyat.


"Heyaaaaaa rasakan kekuatan dari tuan Diwei!" Seruan para pemburu.


"Hmph sudah selesai, Siapa saja yang terkena serangan itu dari Diwei sudah dipastikan tubuhnya akan terbelah" Kata Baldrik tersenyum.


"Apa serangan itu sangat kuat?" Tanya Devian.


"Ya.. serangan itu mampu membelah gedung 70 lantai sekaligus.." Richard menjelaskan.


"70 lantai? Kakek serius?!" Devian terkejut mendengar fakta dari kakeknya dan segera beralih kembali melihat kearah pertempuran.


Asap yang semulanya sangat lebat sampai menutupi mereka berdua mulai menipis, bersamaan dengan sorakan para pemburu dan senyuman kemenangan dari Diwei, sedangkan para penonton di rumah terlihat tegang dengan hasil tersebut. Tetapi, sorakan itu dipaksa bungkam ketika melihat bilah golok milik Diwei tidak sedikitpun melukai Rado, padahal letak golok tersebut tepat pada leher Rado yang mana posisi tersebut bisa membelah seseorang secara diagonal.


Rado yang tidak mendapatkan sebuah luka sedikit pun tersenyum tepat didepan Diwei yang sednag terkejut.


"Ba-bagaimana bisa kau?"


Diwei yang terheran melihat kearah bilah goloknya dan ia pun terkejut dengan sebuah force tipis yang melindungi tubuhnya yang mana membuat seranagn tersebut tidak mempan.


"Ka-kau...." Diwei terbatah - bata.


Rado dengan cepat meraih wajah Diwei dan mencengkram dengan sangat kuat. Sontak itu membuat Diwei berteriak histeris dan mencoba untuk melepaskan tangan Rado dari wajahnya, namun semakin ia berusaha Rado malah semakin mencengkramnya dengan keras. Suara denyutan dibarengi ringikan Diwei berubah menjadi sebuah suara keretakan pada tengkorak Diwei dan berujung hancurnya kepala Diwei.


Lucero memalingkan wajahnya dari kematian yang amat menyakitkan itu, dan mereka yang menyaksikan itu dibuat terkejut oleh aksi Rado membunuh Diwei dengan sangat kejam. Rado pun melepaskan mayat Diwei begitu saja kepasir.


"Siapa lagi?" Tantang Rado dengan senyuman


"Tu-tuan Diwei tewas... kalau begitu siapa yang bisa melawannya?" Kata para pemburu yang mulai ketakutan.


Baldrik semakin kesal dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajah Rado. Ia pun maju kedepan dengan Richard, Bernardo.


"Semuanya, Ayo kita serang dia bersama - sama! Tetaplah bersama ku" Seruan Baldrik mencoba membangun mental mereka yang mulai jatuh.


Para pemburu mulai melihat satu sama lain dan memanggut untuk bersatu melawan Rado. Baldrik yang seorang mage seperti anaknya tidak bisa berada digaris depan. Ia memegang komando dari tengah barisan untuk menghindari pertarungan secara langsung. Bernardo dan Lucero memimpin dibarisan depan sebagai tanker. Devian dan Richard juga berada disisi Baldrik dengan senjata api mereka masing - masing.


Rado menghela nafas karena melihat mereka yang masih gigih untuk melawan, "He.. ternyata mereka masih memiliki tekad, kalau begitu.."


{Intimidate}


Aura gahar berwarna ungu dengan sebuah lambang demicles yang sudah sangat besar muncul dari tubuh Rado. Aura yang menyeramkan itu membuat para pemburu yang tidak memiliki mental kuat menjadi terhenti dan mulai merasakan tekanan yang sangat mendalam.


Disisi lain diruang tahanan, Nikolai juga tiba - tiba meringik ketakutan karena merasakan aura milik Rado yang sangat dahsyat itu.


"Hoi Nikolai apa yang terjadi pada mu?!" Tanya Jason.


"Orang itu.. orang itu ada disini!" Kata Nikolai ketakutan.


"Orang itu?" Heran Jason dan Nagatomo secara bersamaan.


Saat ini para penonton dan juga mereka yang sedang bertempur melawan Rado dibuat takjub dengan kekuatan yang ia miliki. Aura yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya muncul di depan mereka.


Sementara itu, Rudy dan beberapa tim kecil menyusup kedalam markas yang berada di laut menggunakan sebuah kapal selam, mereka masuk dan segera mencari Nara didalam markas yang cukup besar itu.


"Kita akan kemana? Markas ini sangat besar.." Tanya Kan.


Levi pun melihat kearah sekitar untuk memeriksa keadaan markas tersebut.


"Rudy, sepertinya markas ini kosong.." Lapor Levi


"Baiklah kalau gitu kita akan berpencar, tetapi tetaplah berhati - hati" Saran Rudy.


Mendengar itu Yoga dan Jaquile segere melesat tanpa diberikan arahan dari Rudy.


"Cih dua orang itu benar - benar ya.." Kesal Rudy melihat tingkah Jaquile dan Yoga yang seenaknya.


Mereka berdua lari sampai menemukan sebuah pertigaan lorong.


"Jaquile.. aku akan ke lorong sebelah sana.." Kata Yoga.


"Baiklah akau akan ke yang satunya.."


"Sampai bertemu diluar" Kata Yoga dan Jaquile hanya tersenyum melihat kearahnya.


Mereka semua terus mencari keberadaan Nara didalam sana, namun tidak menemukannya sama sekali. Jaquile yang memiliki firasat kalau ada sebuah ruangan tahanan didalam markas ini segera menuju kesana. Ternyata firasat dari seorang Jaquile membawa dirinya kepada Jason, Nagatomo dan Nikolai.


"Hei-hei liat siapa yang terkurung disini?" Ejek Jaquile melihat mereka.


"Kau?! Bagaimana bisa?" tanya Nagatomo.


"A..kami disini untuk mencari seorang perempuan, sedangkan kapten sedang mengamuk diluar sana Hehehe.." Jawab Jaquile.


"Hei apa yang terjadi dengan NutCracker?" Jaquile menatap Nikolai yang sednag meringkuk ketakutan.


"Itu tidak penting, keluarkan kami sekarang.." Pinta Jason.


"Hei jangan lupa lepaskan juga orang Korea dan orang Jepang satunya lagi" Sambung Jason.


"Cih.. baiklah.." Kata Jaquile dengan sedikit risih.


Saat penjara mereka dirusak oleh Jaquile mereka segera bergabung bersama Jaquile untuk mencari kembali, sedangkan Nikolai dibiarkan begitu saja karena rasa takut yang terus menyelimutinya. Disisi lain Yoga terus berlari diantara lorong - lorong itu dan berharap bertemu dengan wanita yang lain ataupun pujaan hatinya. Ia terus memeriksa setiap ruangan yang ada pada markas tersebut hingga pada akhirnya ia menemukan sebuah ruangan disebuah hujung lorong.


Saat ia membukanya, ia melihat Mye yang terkulai lemas tanpa busana tertutup selimut diatas kasur dengan kondisi yang memperihatinkan. Pipinya sudah dipenuhi dengan air mata yang mengering dan hanya bisa melihat kearah samping saja.


"M-mye?" Panggil Yoga.


Mye yang mendengar suara Yoga begitu terkejut dalam lemasnya itu, ia pun mulai menangis kembali dengan tidak melihat kearah Yoga. Yoga pun segera menghampirinya dan menanyakan apa yang telah terjadi.


"Mye..apa yang terjadi pada mu?" Tanya pelan dari Yoga.


"Maafkan aku... aku sudah.." Mye tidak menyelesaikan perkataanya.


Melihat gerak kaki Mye yang tidak biasa, Yoga segera membuka selimut tersebut dan ia pun terkejut.


"Apa yang terjadi dengan diri mu?" Siapa yang melakukannya?!" Tanya Yoga setelah melihat organ penting milik Mye terluka parah.


Mye hanya bisa menangis tersedu - sedu hingga membuat emosi Yoga memuncak.


"Siapa yang melakukannya?!" Tanya Yoga sekali lagi.


Namun Mye tidak bisa menjawabnya, hanya menangis saja, karena melihat Mye yang begitu kesakitan Yoga pun memilih memeluk Mye agar dirinya tenang. Setelah ia sudah merasa tenang, Yoga sekali lagi membawa Mye layaknya tuan putri dan membawanya segera menuju ke ruang medis yang ia temukan saat menelusuri lorong - lorong yang ada.


"Aku senang melihat mu.." Kata Mye sambil menatap Yoga.


Yoga pun menatap wajahnya yang tersenyum dengan air mata, "Aku juga.." Senyum Yoga dengan wajah yang sedih.


Mye pun menyempatkan diri untuk mengusap pipi Yoga saat ia sedang berada digendongannya.


"Yoga.. aku mencintai mu.."


Mendengar itu Yoga begitu terkejut, dan tersenyum bahagia, "Aku -"


Sebelum Yoga mengungkapkan pernyataannya, Mye pun tidak sadarkan diri dipelukanya.


"Mye! Mye!" Teriaknya memanggil Mye.


Karena tidak ada respon darinya Yoga semakin bergegas menuju ruang medis.


Setelah ia sampai pada ruangan medis, Yoga segera membaringkan tubuh Mye pada sebuah ranjang. Yoga pun dengan cepat mengambil smartphonenya dan segera menghubungi Lucy "Lucy.. datanglah cepat! ke ruang medis di blok B, ada seseorang yang membutuhkan pertolongan..! Cepatlah!"


"Siap wakapten" Saut Lucy.


Setelah beberapa saat menunggu, Lucy dan beberapa pemburu perempuan yang lain datang keruang medis tersebut. Lucy hanya mendapatkan Yoga yang sedang terduduk lemas sambil melihat kearah Mye yang sudah tidak bernyawa, namun tersenyum.


"Wakapten.." Lucy mendekat untuk berempati kepada Yoga. namun ia juga terkejut saat melihat Mye yang sudah tidak bernyawa dengan kondisi luka yang mengenaskan pada bagian organ penting.


"Dia wanita yang baik... aku baru pertama kali bertemu dengan wanita seperti dirinya... akhirya aku bisa merasakan sebuah cinta berkat dirinya, tapi mengapa... mengapa dia harus pergi dengan cara seperti ini... Seandainya... seandainya pada saat itu aku memaksanya untuk ikut dengan kami, mungkin dia tidak akan mati seperti ini" Yoga mulai depresi atas kematin Mye.


"Wakapten.." Lucy masih tetapi ingin menenangkannya.


"Arrgghhhhhh Kep*rat kalian PPMD!!!" Teriak amarah dari Yoga menghantarkan kematian Mye.


Sementara itu Rado yang sedang berada diluar dan dibalut dengan aura force yang sangat kuat mulai mempersiapkan diri untuk melesat. Saat ia sudah ingin melesat sesuatu menghentikannya.


"Tunggu sebentar... Apa kau datang mencarinya?" Kata Vasco bersama Steven membawa Nara yang sudah babak belur keluar dari markas tersebut.


"Nara?! kalau begitu.. Jaquile dan Yoga..." Rado terkejut.


Disisilain, Jaquile dan yang lainnya telah terlambat untuk menemukan Nara terlebih dahulu.


"Sial sepertinya kita terlambat!" kata Jaquile


"Jaquile..." Panggil Kirisaki menemukan sesosok mayat wanita.


Mayat yang ditemukan Kirisaki ditempat penyekapan Nara adalah Melly yang sudah mati bersimbah darah.


Kembali kemedan pertempuran diaman Vasco dan Steven akhirnya keluar.


"Apa yang sebenarnya kau pikirkan Rado... hanya karena satu wanita ini kau berani melawan sebuah organisasi terbesar?" Kata Vasco sedikit menjengkelkan.


"Vasco aku.." Rado menurunkan auranya dan ingin berbicara kepada Vasco secara baik - baik.


"Sstt Stt.. kau tidak perlu komentar... Kau itu pengkhianat negara! Mengapa kau mengkhianati ku dan Juga Kevin?" Tanya Vasco emosional.


"Dengarkan aku.. Gozie telah..."


"Diam...! Baiklah kalau itu mau mu.. Kau bisa mengambil wanita ini" Serah pasrah dari Vasco kepada Rado.


"Eh.. Apa yang kau-!" Richard mencoba untuk mengehntikannya namun Baldrik menghentikannya dengan sebuah senyuman.


Nara didorong hingga terjatuh, Rado pun segera menghentikan peperang dan segera menghampiri Nara.


"Nara!" Panggil Rado dengan senang.


"Ra-Rado...." Senyum Nara yang saat itu sedang terjatuh sambil merentangkan tangannya untuk meraih Rado.


"Nar-"


Saat Rado ingin menggapai lengan Nara, tiba - tiba Vasco membakar Nara didepan Rado. Saat itu Rado terlihat syok melihat Nara yang terbakar karena force milik Vasco. Ia berharap masih sempat memegang lengan Nara sekali lagi, namun itu semua terlambat. Tangan Nara berubah menjadi abu didepan matanya.


Rado yang saat itu merasa kecewa dan sedih, merangkak kearah abu tubuh Nara yang tersisa. Ia menatap abu itu terus menerus dibarengi dengan tawa Vasco yang sangat puas. Baldrik terlihat tersenyum namun tidak dengan yang lain, mereka berpikir kalau apa yang dilakukan oleh Vasco sama saja akan mendatangkan bencana.


"Bagaimana rasanya hah? hahahha" Vasco mengejek.


Dalam kesedihannya Rado mengingat kilas balik mengenai Nara kala itu yang ceria dan perhatian kepada Rado. Saat ini Rado sangat merasakan kesedihan yang amat mendalam karena ditinggal teman yang ia sayangi. Kekesalan itu meluap hingga mengeluarkan forcenya berwarna ungu pekat. Vasco yang awalnya tertawa mulai menjadi waspada melihat Rado yang seperti itu.


Aura itu semakin pekat dan pekat yang mana membuat warna ungu tersebut berganti menjadi warna hitam. Mereka semua pun terlihat takut sampai melangkah mundur setelah melihat Rado yang seperti itu. Aura yang keluar dari Rado pun semakin banyak dan lambang demiclesnya pun juga turut ikut berwana hitam pekat. Setelah itu ledakan aura pun terjadi dengan Rado yang berada didalamnya.


Angin disekitarnya berhembus sangat kencang membuat para pemburu kesulitan melihat.


"AARGGGHHHHHH!!!!" Teriakan kesedihan Rado membuat mereka yang mendengar merasa ketakutan.


"Aura apa ini?!" Tanya Jaquile.


"Rado?!" Tebak Yoga.


Aura hitam pekat itu sampai menjulang keatas dan sangat Dahsyat. Rado yang saat itu sudah dipenuhi rasa amarah hanya bisa berteriak meluapkan emosinya dengan terbalut aura hitam dan mata yang menyala keunguan. Semua yang menyaksikan itu dibuat takut akan kehebatan dari aura yang telah dipancarkan. Setelah Rado puas meluapkan emosinya, aura force tersebut segera terserap kedalam tubuhnya dan membuatnya seperti semula.


{Awakening telah aktif}


"Majulah kalian satu - satu" Tantang Rado kepada mereka semua.