
"Seorang Demigod?" Tanya Rado dalam hatinya.
Didalam ruang hampa tersebut terlihat siluet para Archon dari berbagai ras dan pendampingnya sekarang ini tertuju kepada siluet manusia normal yang baru saja datang. Ia menepuk kedua tangannya untuk memberikan apresiasi kepada mereka yang telah berhasil menyelesaikan misi awal untuk mendapatkan tiket kedunia baru.
"Selamat untuk kalian para ras yang telah berhasil menyatukan ras kalian dan memaksimal kekuatan yang kami berikan" Kata Achilles bertepuk tangan.
"Maksud mu seharusnya ada ras lain selain kita yang berada disini sekarang?" Tanya Perempuan berkuping panjang.
"Hmmmm ya..! Para dewa sudah memilih kurang lebih 10 ras yang berbeda yang ada di alam semesta ini untuk kami undang ke dunia baru.. Tetapi sayang sekali kepada mereka yang tidak bisa menyelesaikan persyaratan dari kami. Orang - orang yang kami pilih sebagai Archon disetiap ras mereka tidak dapat menyelesaikan syarat tersebut dan berujung pemusnahan bagi dunia mereka" Dengan enteng Achilles berbicara.
"Dimusnahkan?! Jangan bercanda kau!" Bentak Jaquile.
"Ah... kau pasti pendamping dari Ras manusia... kau beruntung memiliki archon yang penuh ambisi dan bisa menyelesaikan syarat dari kami.. Kalau tidak, mungkin dunia yang kalian tempati sudah hancur bersamaan dengan yang lain" Achilles memandang Jaquile.
"Mengapa kau melakukan ini? Tanya Rado.."
"Karena memang ini sudah menjadi sebuah takdir untuk semua alam semesta akan musnah dan detik ini lah saatnya pemusnahan itu, akan tetapi kami merasa itu cukup membosankan kalau kalian semua mati hanya karena jentikan jari para dewa. Jadi kami memutuskan untuk membuat sebuah dunia baru yang berisikan ras - ras unggul sesuai persyaratan dan hal yang lebih menyenangkan bagi kami, para demigod adalah karena kami akan ikut dalam pertempuran akhir itu didunia baru yang akan kalian tuju" Achilles tersenyum sambil menjelaskan.
"Lantas apa kaitannya dengan mimpi yang kami para Archon dapat dengan dunia baru yang kalian buat?" Tanya Siluet kerdil.
"Itu adalah gambaran untuk kalian semua, kalau di dunia baru itu hanya akan ada pertempuran diantara kita..." Achilles menjawab.
"Hanya pertempuran kata mu?! Kalau aku lebih memilih untuk berdamai bersama kalian dan mengacuhkan mimpi yang telah dewa buat untuk mencuci otak kita" Kata siluet Perempuan dengan kuping panjang mengajak para Archon untuk berdamai.
"Hahahh kau sungguh membosankan! Apa serunya kalau dunia hanya ada perdamaian...? Aku lebih suka bertempur!" Cetus Dogol sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Ya.. makhluk bertubuh besar itu ada benarnya! Dan apa kalian tahu alasan kami membuat dunia baru dan menyebutnya sebagai pertempuran akhir atau Ragnarok? Itu karena hanya untuk sebagai penghibur bagi kami sebelum kalian benar - benar pergi ke alam baka yang sebenarnya! Hahahahaha" Kata Achilles yang membuat mereka terkejut.
"Apa?! Jadi maksud mu dunia yang akan kami tuju ini hanya dunia perantara untuk menghibur kalian saja?!" Kata siluet bertubuh kerdil.
"Hahahahahahaha Kau benar! Kami para dewa ingin sekali merasakan pertempuran bersama kalian...! Jadi bersiap lah..." Kata Achilles
Para pendamping terlihat cemas dengan dunia baru yang akan mereka tuju. Kecemasan itu dapat terlihat pada gestur mereka yang tersembunyi dibalik siluet.
"Apa peraturan dari dunia baru ini?" Tanya Rado dengan santai.
"Itu sangat mudah.. Kalau ras kalian musnah.. Maka kalian akan tereliminasi dan pergi ke dunia selanjutnya, yaitu alam baka dan penebusan dosa" Kata Achilles.
"Apa yang kami dapat kalau salah satu ras memenangkan pertempuran ini?" Tanya Rado lagi.
"Hmmm kalian akan hidup didunia baru tersebut dengan damai dan mendapat satu permohonan mutlak yang dapat mengabulkan apa saja yang kau minta.. Tetapi jangan berpikir kalau itu akan mudah karena mungkin saja pertempuran ini tidak akan ada akhirnya.." Kata Achilles dengan senyuman lebar.
"Itu malah menjadi impian ku... ras ku! Ras Orc adalah ras yang selalu ingin bertempur...Hahahaha" Dogol terlihat senang dengan dunia baru tersebut.
"Dasar otak tempur!" Ejek pria bertubuh kecil tersebut.
"Hah... dasar kau kerdil, mungkin Ras kau yang akan musnah terlebih dahulu!" Dogol meremehkan.
"Jangan meremehkan bangsa Dwarf, meskipun tubuh kami pendek, tetapi kami memliki sebuah kekuatan hebat!" Balas Dwarf tersebut.
"Kau menantang ku?! Baiklah ketika kita sampai didunia baru tersebut, aku akan mencari mu dan ras mu untuk ku ratakan segera!" Ancam Dogol.
Selama mereka didalam ruang hampa itu, perseteruan pun sudah mulai terjadi diantara dua ras.
"Lalu bagaimana dengan para rakyat kami yang tiba - tiba tertidur itu?" Tanya perempuan bertelinga panjang.
Achilles menoleh, "Tertidur? Kau bilang mereka tertidur? Hahahahahahaha.. " Achilles tertawa terbahak - bahak.
Sontak membuat mereka heran.
"Kenapa kau tertawa?! Tanya Dwarf meninggi.
Setelah ia puas tertawa, Achilles baru menjelaskan "Kami tidak membuat mereka tertidur.. tetapi membunuh mereka dengan lembut..." Achilles tersenyum.
"Apa?!" Mereka semua terkejut.
"Lalu apa maksud mu memimpin pasukan didunia selanjutnya?! sedangkan kau membunuh semua ras yang telah lulus persyaratan!" Tanya Yoga.
Masih dengan senyumannya Achilles menjawab, "Kami akan membangkitkan mereka lagi dengan kenangan yang berbeda dan tidak mengenal siapa kalian dikehidupan sebelumnya, tentu juga ditambah dengan sebuah sekenario dunia baru yang sudah kami rancang dalam kurun waktu 100 tahun. Jadi setelah kalian memasuki dunia baru tersebut, kalian sudah disuguhkan sebuah peradaban serta sejarah yang sudah terbentuk dari 100 tahun lalu"
"Harus kalian garis bawahi.. yang akan kami hidupkan adalah ras kalian yang mati karena asap kabut.. bukan yang terbunuh dalam pertempuran yang kalian lakukan.." Perkataan Achilles membungkam pertanyaan Rado yang tidak sempat ia tanyakan.
Mereka semua terkejut dengan kebijakan dari para dewa mengenai penghapusan ingatan itu karena merasa dirugikan.
"Eh? kalau begitu untuk apa kami susah payah untuk mendapatkan pengakuan dari para ras kami sebelumnya?!" Tanya Dwarf.
"Hei bila ini sebuah permainan, bukankah tidak seru kalau kau baru memulai permainan itu dan sudah menjadi Raja? Ikuti aturan kami atau kami akan memusnahkan kalian sekarang juga...." Achilles dengan ancamannya.
"Hahahahaha dasar dewa Kep*rat..! Jadi selama ini kalian hanya mempermainkan kami saja?! Baiklah akan ku terima permainan mu..!" Kata Rado tertawa saat mengetahui skenario tersebut.
Achilles begitu senang dengan ucapan dari Rado, ia melihat seorang penantang yang patut diwaspadai kedepannya. Para Archon dan pendamping yang lain pun pada akhirnya menyetujui skenario yang telah dibuat oleh para dewa. Dewa yang sudah muak dengan pekerjaan mereka selama ini, pada akhirnya mendeklarasikan diri mereka sebagai salah satu ras yang akan ikut dalam pertempuran Ragnarok tersebut. Sebuah permintaan mutlak sebagai hadiah bagi ras yang memenangkan pertempuran itu akan menjadi sebuah hadiah dan tujuan mereka.
Dalam hati para Archon sudah menetapkan kalau hadiah itu akan mereka gunakan untuk sesuatu yang sangat berharga bagi mereka dikehidupan sebelumnya, hal ini pun menjadi sebuah tekad kuat untuk memenangkan skenario yang dibuat para Dewa.
"Ah... Satu lagi... Dunia yang akan kalian masuki tidak luput dari adanya monster namun bukan dungeon, mereka akan tersebar disekitar lingkungan kalian dan juga ada sebuah informasi penting untuk kalian dengar" Achilles tersenyum kembali.
Mereka menyimak dengan baik mengenai informasi yang akan disampaikan oleh Achilles.
"Dalam tiga bulan sekali akan ada sebuah benda bernama Holy Essence di dunia baru tersebut..Mereka akan bermuncul dan tersebar dibeberapa titik, saling bertempurlah untuk mendapatkannya" Kata Achilles.
"Apa kegunaan dari benda tersebut? mengapa kami seperti harus mati - matian mendapatkannya?" Tanya Dwarf.
"Apa yang terjadi bila kami tidak mendapatkan Holy Essence?!" Tanya Dwarf meninggi.
"Kalian tidak akan bisa bertahan hidup! Karena benda itu sangatlah penting dalam kehidupan kalian selanjutnya.." Achilles tersenyum.
Mereka semua terkejut dengan benda asing yang belum mereka ketahui.
"Ah... kalian juga bisa merebut Holy Essence itu dari ras yang lain... Sepertinya ini akan sangat menyenangkan... Aku akan menunggu perkembangan kalian didunia baru wahai para penguasa mutlak" Senyum Achilles.
Setelah mengatakan itu Achilles pun menghilang dari dunia kehampaan tersebut. Beberapa saat kemudian tubuh mereka mulai diterangi cahaya putih sama seperti pertama kali mereka dipanggil kedalam dunia hampa tersebut. Mereka saling menatap satu sama lain dibalik siluet yang melindungi identitas mereka sebelum bertemu secara nyata di dunia baru tersebut.
Mereka pun menghilang ditelan cahaya tersebut dan berpindah kesebuah dunia baru yang dibicarakan. Cahaya yang menyelimuti Rado, Yoga dan Jaquile pun perlahan memudar bersamaan dengan diri mereka yang tertransfer kedunia yang sama persis seperti bumi, namun dengan jaman yang berbeda. Mereka bertiga berdiri didepan sebuah perkotaan yang terlihat lebih maju dibandingkan dikehidupan mereka yang sebelumnya.
Namun satu hal yang membuat mereka terheran yaitu adanya sebuah batu berwarna hijau menyala terang yang terdapat disetiap sudut kota yang besar tersebut dan mengeluarkan sebuah benang terang seperti akar belukar yang memberikan energi pada kota tersebut.
Disaat mereka sedang terdiam dan menatap heran kota tersebut. Pintu gerbang dari kota itu terbuka dan ratusan prajurit pria dan wanita keluar dari kota tersebut mengenakan pakaian tempur yang lebih modern. Mereka terlihat gagah dengan senjata yang mereka pakai, Rado dan yang lainnya masih terbingung dan hanya berdiam diri saja menatap mereka. Tetapi ada seseorang yang mereka kenal berada dalam barisan tersebut.
"Julie?!" Rado terkejut melihat Julie yang sedang berjalan bersama dengan iringan tersebut.
"Hei.. bukan kah itu Nagatomo?" Kata Jaquile melihat Nagatomo.
Bukan hanya mereka berdua saja, tetapi orang - orang yang mereka kenal juga terdapat disana berjalan bersama dengan wajah - wajah baru yang tidak mereka kenal. Rado dan yang lainnya masih terdiam menatap mereka yang sedang berjalan menuju kearah mereka. Sampai pada akhirnya dimana mereka berpapasan dan melakukan kontak dengan orang yang beriringan itu.
"Darimana kalian?" Tanya Seseorang berkumis membawa sebuah gada besar..
Mereka bertiga hanya terdiam tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa kau dari luar ibukota? Baju kalian itu sangat aneh, apakah itu edisi lama?" Kata Julie yang sudah tidak mengenali Rado.
Mereka bertiga pun merasa terpukul atas penampilan mereka.
"Ah.. ya kami pendatang baru.. Maafkan atas ketidaksopanan kami menghalangi jalan kalian semua.." Kata Yoga bersikap sopan.
Disamping itu Nagatomo yang sejak tadi memperhatikan mereka maju kedepan.
"Sepertinya mereka seorang prajurit juga... Apa kalian ingin ikut dalam pertempuran?" Ajak Nagatomo.
"Pertempuran? Apa maksud mu?" Tanya Jaquile.
"Hah?! Kau selama ini hidup dimana sampai tidak tahu kalau kita sudah bertempur dengan 3 ras yang lainnya selama berpuluh - puluh tahun?" Kata pria berkumis tersebut.
Rado terdiam menatap mereka, "Jadi sudah dimulai?" Dalam benak Rado. Dia mencoba untuk melirik kearah bawah kanan dimana ia biasa melihat sebuah logo gear untuk membuka sistem.
"Tidak ada?!" Ia terkejut karena sistem yang biasa bersamanya menghilang.
"Kalau begitu... Apa mungkin kekuatan ku hilang juga?!" Rado terkejut.
"Hei! Apa yang kau lamunkan?! Selama kau ras manusia kau harus ikut berjuang melawan ketiga ras kep*rat itu.. kalau tidak! Raja akan menghukum mu!" Kata Jason yang maju kedepan.
"Jason.. jangan mengajak orang yang tidak dikenal! Meskipun mereka membawa senjata bukan berarti mereka kuat! Siapa tau mereka orang lemah.." Kata Watz
"Apa kata mu?! Kami lemah?! Baiklah kami akan ikut!" Ceplos Jaquile yang membuat Rado dan Yoga menatapnya dengan dingin.
"Hooo jadi orang - orang lemah ini akan ikut bertempur bersama kami? Baiklah ikut kami" Kata Watz.
Mereka bertiga pun mengikuti iring - iringan itu kesebuah portal yang terdapat tidak jauh dari pintu masuk. Portal tersebut terbuat dari sebuah logam kokoh sebagai sisi luar portal tersebut. Saat mereka sudah berada didekat dengan portal tersebut. Pria berkumis itu memerintahkan beberapa prajurit yang diduga sebagai mage untuk membuka portal tersebut dengan mantra.
Disaat para mage itu berjajar sambil mengedepankan tangannya sambil membaca suatu kalimat. Portal tersebut yang awalnya tembus pandang mulai menunjukan sebuah eksistensi berupa cerminan daerah lain. Rado yang melirik kearah tangan mage tersebut, sempat dibuat penasaran dengan benda asing berwarna hijau yang mereka genggam tersebut.
"Apa benda itu untuk membuka portal ini?" Dalam benaknya sambil mendongak kearah portal yang cukup besar.
"Hei kau! Apa kau sudah melihat batu hijau yang ada disudut kota?!" Tanya pria berkumis kepada Rado.
"Ya.. aku sudah melihatnya.." Jawab Rado.
"Itu adalah kumpulan dari Holy Essence.. Hari ini adalah hari dimana Holy Essence muncul dan kita harus membawa sebanyak mungkin benda itu untuk persedian ras kita..." Jelas pria berkumis tersebut.
"Dan satu lagi... bersiap lah untuk mati jika kau memasuki portal ini, selain monster yang ganas.. para ketiga ras yang lain juga memiliki tujuan yang sama dengan kita dan tidak akan segan - segan untuk membunuh mu!" Jelas Nagatomo.
"Baiklah kami mengerti.." Kata Rado.
Julie pun mendekat kearah Rado, "Aku akan melindungi mu tenang saja.." Senyum Julie.
Rado hanya bisa terpukau melihat Julie yang sudah tidak mengingatnya sama sekali.
"Kapten Hawl, portal sudah siap!" Kata salah satu mage.
"Baiklah ayo kita masuk!" kata pria berkumis tersebut.
Rado, Yoga dan Jaquile pun akhirnya mengikuti mereka kesuatu tempat yang belum mereka ketahui. Disisi lain, Archon dari ras Orc, Elf dan juga Dwarf juga memiliki pemikiran yang sama oleh Rado, Yaitu mereka bertiga memutuskan untuk menuju ke sebuah tempat dimana Holy Essence muncul.
"Tuan! Tuan!" Panggil seorang prajurit kepada seorang pria yabg sedang menatap keluar jendela dari sebuah gedung yang futuristik.
Pria tersebut hanya diam dan membiarkan prajurit tersebut berdiri tegap untuk melapor.
"Lambang Demicles telah bersinar!"
Mendengar itu, pria tersebut menoleh dengan keterkejutan.