The Archon

The Archon
Laporan



Keesokan harinya setelah para elf berkunjung di ibukota ras manusia, De Hoorn. Slyvrin dan para pendampingnya terlihat berdiri didepan portal pintu barat untuk berpamitan untuk segera pulang ke Lorien. Kepergian dirinya diantar oleh Rado, Jaquile,Albert, para prajurit dan juga warga ibukota De Hoorn. Setelah empat hari Slyvrin berkunjung ke De Hoorn, ia mendapat sebuah pengalaman baru dimana ia bisa merasakan budaya dan berbagai hal lainnya yang berbeda dengan budaya para elf.


Keramahan yang diberikan oleh para manusia kepadanya sangat lekat di hatinya. Terlihat wajah gembira dari para pendampingnya pun mencerminkan kepuasan mereka atas jamuan yang telah diberikan oleh ras manusia selama mereka disana. Disisi lain kegembiraan mereka semua, ada sebuah rasa sedih di hati kecil mereka. Seperti Lefti yang harus berpisah dengan Jaquile.


"Sampai nanti.." Kata Lefti dengan wajah sedih.


"Hei.. Kita bisa bertemu kapan saja bukan? Tinggal melewati portal itu, jarak sejauh apapun pasti bisa digapai... dan mungkin beberapa dekat ini aku yang akan menggantikan Kan untuk menemani Zowie melakukan eksperimen.." kata Jaquile mencoba untuk menghilangkan rasa sedih Lefti.


"Kau benar.." Kata Lefti tersenyum tipis kepada Jaquile.


Hamdall terlihat seperti mencari seseorang dari keramaian ras manusia yang mengantar mereka pulang kembali ke Lorien.


"Dia belum kembali dari Moria.. Mungkin ada sebuah hambatan saat ia melaksanakan tugasnya.." Tebak Albert kepada Hamdall yang sedang mencari Yoga.


"Titip salam ku padanya.. Semoga ia kembali dengan selamat.." Kata Hamdall dengan wajah datar.


"Yah.. Aku akan menyampaikan itu kepadanya setelah ia kembali.." Senyum Albert kepadanya.


Disebelah kerumunan iring - iringan yang akan kembali itu, Kuluk sedang dikerumunin oleh anak - anak dari berbagai kalangan.


"Kuluk.. Apa kau akan pergi?" Tanya seorang bocah laki - laki dengan wajah sedih.


"Ya, ya, ya.. Aku akan pergi untuk sementara waktu... Kalau aku kembali kesini, aku akan menunjukan sebuah trik berpedang lagi kepada kalian.." Kata Kuluk tersenyum tulus.


Semua anak - anak merasa sedih dengan kepulangan Kuluk pada hari itu, selama empat hari ini memang Kuluk sangat dekat dengan anak - anak disetiap distrik melalui akrobatiknya dalam menggunakan jenis pisau dan pedang.


Setelah mereka semua sudah selesai melakukan perpisahaan sementara itu, Rado mendekat kearah Slyvrin dengan tersenyum. Dibelakangnya terlihat para kapten sedang memandang mereka berdua dalam sebuah kegembiraan, tetapi tidak dengan Julie yang terlihat seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu namun ia tidak mengerti hal apa yang membuatnya khawatir.


"Aku kembali dulu untuk sementara waktu... Kalau kau sedang tidak sibuk, berkunjunglah ke Lorien" Senyum Slyvrin.


"Kau berkata seolah kalau wilayah kita itu sangat jauh.... Dengan adanya portal itu, aku bisa mengunjungi mu kapan saja..." Senyum Rado.


"Hmph! Aku tidak percaya dengan perkataan mu.." Slyvrin berbalik dengan wajah masam.


"Hahahaha bagaimana dengan Zowie disana?" Tanya Rado mengalihkan.


"Dia bekerja sangat keras untuk menyempurnakan obat itu.. Dia seperti orang yang berbeda bila sedang berurusan dengan tanaman obat.." Slyvrin semakin masam.


Selama ini, di Lorien Slyvrin selalu mengganggu pekerjaan Zowie dengan melontarkan berjuta pertanyaan mengenai Rado. Zowie yang merasa tidak enak dengan diri Slyvrin berkali - kali menceritakan tentang Rado padanya, meskipun ia tidak begitu tau banyak mengenai Rado. Namun, akhir - akhir ini Zowie mulai terlihat risih dengan pertanyaan Slyvrin yang ia tanyakan hampir setiap hari kepada Zowie dan ia pun memilih mengacuhkannya.


"Apa aku terlalu banyak bertanya kepadanya?" Pikir Slyvrin sambil mendaratkan jari telunjuk ke bibirnya dan mata yang mengarah keatas.


"Baguslah kalau begitu.. Aku akan senang bila ia berhasil menyelesaikan penelitiannya.." Senyum Rado.


"Dan terlebih lagi.... Ku harap dia secepatnya hadir di tengah kehidupan kita.." Slyvrin berbalik tersenyum dan mendekat kearah Rado sambil memegang perutnya yang masih rata.


Rado yang mengerti akan hal itu menutup matanya dengan pelan dan memegang rambut Slyvrin.


"Ku tunggu kabar baik dari mu mengenai itu.." Kata Rado.


Melihat kemesraan antara Rado dan Slyvrin membuat Julie merasa kesal dan pergi meninggalkan mereka berdua. Slyvrin melirik sedikit dengan senyuman kemenangan kearah Julie yang sudah pergi dengan kesal.


"Kalau begitu.. Pernikahan kita akan diselenggarakan tepat setelah ia hadir..." Senyum Slyvrin kembali kepada Rado.


"Baiklah.." Kata Rado lembut.


Setelah mengatakan itu Slyvrin mundur selangkah demi langkah dan kembali ke para pendampingnya yang sudah menunggu dirinya didepan portal terlebih dahulu. Ia pun melambaikan tangannya kearah Rado dan Rado pun membalasnya. Senyuman dari Slyvrin pun berangsur pergi bersamaan dirinya yang melewati portal tersebut. Setelah para ras elf telah kembali ke Lorien, senyuman Rado segera menghilang dan segera menoleh kearah kerumunan masa yang ikut mengantarkan kepergian ras elf dari De Hoorn.


Ia melihat beberapa pria yang mengenakan topi militer menutupi wajahnya dan segera pergi meninggalkan tempatnya. Rado seketika mengeritkan dahinya saat melihat orang - orang yang mencurigakan.


"Ada apa tuan Rado?" Tanya Albert.


"Tak apa.. Ayo kita kembali dan memeriksa keadaan Yoga.." kata Rado lalu beranjak pergi dari sana.


Yoga sehari setelah kepulangannya dari pertempuran melawan ras dwarf, diperintahkan oleh Rado untuk mengakuisisi wilayah ras dwarf, Moria dan sekitar melalu jalur militer. Ia membawa ketiga kapten dari divisi satu, yaitu, Jason, Nagatomo dan juga Kirisaki. Mereka menggunakan koordinat dari portal yang telah ditanam oleh Joon semasa ia masih hidup untuk menuju ke ibukota mereka, yaitu Moria.


Mereka telah melalui pertempuran yang cukup hebat dengan para ras dwarf disetiap pos penjagaannya. Meskipun pemimpin mereka sudah mati, tetapi tidak menyurutkan api semangat dari prajurit yang tersisa. Para dwarf sudah mempersiapkan jebakan serta lubang - lubang untuk melakukan serangan gerilya. Awalnya pasukan ras manusia dibuat kewalahan dengan serangan yang datang tiba - tiba itu. Namun, berkat hadirnya Yoga dalam pertempuran itu, serangan itu dapat diredam dengan baik. Setelah terbacanya strategi mereka oleh Yoga, alur pertempuran sudah berada dalam genggamannya. Yoga segera memukul mundur para pasukan dwarf hingga ke ibukota mereka.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, ibukota Moria pun dapat ditaklukan begitu saja oleh ras manusia. Setelah jatuhnya Moria, Yoga terus melancarkan agresinya ke wilayah - wilayah yang tergabung dalam ras dwarf. Perjalanan panjangpun ia lakukan karena tidak memiliki akses untuk menggunakan portal milik ras dwarf.


Pertempuran dalam wilayah lain berlangsung mudah, dengan menyerahnya warga dwarf non militer kepada pasukan ras manusia. Yoga memerintahkan kepada pasukannya untuk tidak membunuh dwarf yang tidak melakukan perlawanan. Itu bukan kehendak yang diperintahkan oleh Rado, tetapi murni dari hati nuraninya yang masih memegang teguh rasa empati yang besar terhadap makhluk hidup.


Kendala mulai terjadi, sesaat dimana Yoga dan para kapten kembali ke Moria untuk melakukan penyisiran ulang untuk mengkonfirmasi musnanya militer dwarf. Namun saat misi penyisiran yang dilakukan oleh kelompok - kelompok kecil beberapa prajurit dilaporkan telah diserang oleh para dwarf yang masih bergerilya dibawah tanah. Mereka melakukan serangan senyap dalam gelapnya malam.


Teknologi Drone yang diciptakan oleh Riko sangat berperan penting disini. Ternyata ia sudah mempersiapkan drone - drone tersebut hanya dalam waktu satu malam saja. Riko juga membawa timnya dari bagian pengembangan teknologi untuk melakukan penelusuran didalam lubang tersebut menggunakan drone untuk memberi titik dimana para dwarf bersembunyi. 10 drone ia kerahkan dan memasuki tiap lubang yang pasukan manusia temukan.


"Tuan Yoga... Aku menemukan titik - titik dimana mereka bersembunyi.." Kata Riko sambil menstransfer peta bawah tanah kepada Yoga.


Yoga segera memeriksa alat dengan layar hologram yang sudah terpampang sebuah peta hasil kiriman Riko.


"Baiklah.. Kita akan membagi tim ini menjadi 4 bagian, aku akan mengirim peta ini kepada alat kalian juga... Karena lorong lubang ini sangat sempit, aku menyarakan untuk menerobos langsung pada tempat dimana mereka bersembunyi... Jadi tempatkan pasukan kalian pada titik - titik yang sudah ditentukan dan hancurkan tanah dibawah kalian.." Kata Yoga memberikan strategi.


"Baik!" Jawab mereka serentak.


Titik yang dimaksud oleh Riko dan akan dihancurkan adalah titik temu dimana tempat mereka menaruh sebuah senjata dan juga dimana mereka melakukan persiapan. Yoga saat itu mengambil titik dimana titik itu berada tepat dimana bar tempat Folk dan para pendampingnya berkumpul. Kirisaki mengambil tempat di distrik industri, Nagatomo di distrik perbelanjaan dan Jason berada di distrik rumah warga.


Mereka saling berkomunikasi melalui Drone yang diikut sertakan dalam melakukan penyergapan itu.


"Sekarang!" Suara Yoga keluar dari drone tersebut.


Yoga pun menusukan pedangnya dengan jumlah force yang banyak. Nagatomo, Jason dan Kirisaki memilih untuk menggunakan bahan peladak untuk meruntuhkan tanah dibawahnya mereka. Tanah dari keempat titik itu pun rubuh secara bersamaan. Ras dwarf yang berada disana pun terkejut atas penyergapan ditempat mereka bersembunyi.


Yoga dan beberapa prajurit lainnya turun kebawah bersamaan tanah yang roboh. Ia terlihat dengan tenang bangkit setelah memijakan kakinya dibawah tanah tersebut. Setengah pasukan dwarf yang berada dibawah terkena timbunan tanah dan tewas seketika. Saat ini Yoga dan pasukan ras manusia berdiri ditengah - tengah kepungan prajurit dwarf yang sedang terkejut.


Melihat para dwarf yang didalam sana memegang sebuah senjata, Yoga pun memerintahkan pasukannya untuk membasmi mereka semua.


"Habisi mereka semua! Jangan sisakan satupun.." Perintahnya.


"Kepar*t kenapa mereka bisa menemukan tempat ini?!" Tanya Durin terkejut.


Pertempuran dibawah tanah pun terjadi, terlihat sisi Yoga tidak mengalami kesulitan karena kekuatan prajurit biasa dengan kekuatan seorang pendamping terpaut sangat jauh. Dalam sekejap pasukan yang dipimpin oleh Yoga dengan mudahnya mengalahkan mereka semua termasuk Durin yang tewas didalamnya.


Namun tidak dengan regu yang lain, mereka mendapatkan sebuah perlawanan yang ketat. Ketiga regu yang lainnya dipaksa harus mengerahkan tenaga ekstranya karena dalam posisi yang terkepung. Para pasukan dwarf pun menyerang mereka dari segala sisi yang mana membuat barisan para tanker dari tiga regu itu harus bertahan semampu mereka.


Gelombang serangan dari ras dwarf pun memaksa masuk kedalam pertahanan dari para tanker. Pada damage dealer pun terus - menerus mencoba untuk mengikis jumlah dari para dwarf dari dalam lingkaran yang dibentuk oleh para tanker. Beberapa saat mereka bertahan, beberapa tanker mulai berjatuhan karena tidak dapat membendung serangan dari para dwarf.


Namun para prajurit yang telah terlatih dapat mengantisipasinya. Setiap gugurnya para tanker, tanker yang lain akan merapatkan barisan mereka untuk menutup lubang yang ditinggalkan. Setiap terbunuhnya para tanker, itu sama saja mereka dipacu oleh waktu sampai formasi lingkaran yang semulanya memiliki ruang yang cukup untuk para damage dealer, mulai menyempit karena terusnya barisan tanker yang semakin merapat untuk menutup lubang yang ditinggalkan oleh tanker yang gugur.


Hal yang paling terlihat signifikan dalam penyusutan formasi, terletak pada regu yang dipimpin oleh Kirisaki. Regu yang dipimpin oleh Kirisaki sangat tidak beruntung karena lubang yang mereka kunjungi adalah dimana jumlah para dwarf yang terdapat pada titik itu adalah yang terbanyak. Perbedaan jumlah prajurit yang berbanding terbalik menyusahkan regu Kirisaki. Gelombang serangan dari pasukan dwarf tiada hentinya menyerang mereka.


Setiap kali para damage dealer menjatuhkan mereka, mereka terus bedatangan seperti orang yang tidak memiliki akal. Teriakan dari mereka menggema hingga keseluruh lorong - lorong yang terhubung kepada titik tersebut. Lingkaran yang dibuat oleh para tanker semakin menyempit dan tinggal menyisakan jarak satu barisan pasukan.


"Kapten bagaimana ini?!" Teriak Geraldo sambil mengeluarkan forcenya.


"Teruslah menyerang dan bunuh sebanyak mungkin para dwarf sial*n itu!" Kata Kirisaki sambil menahan arus serangan.


"Tapi kami mulai tidak memiliki ruang untuk merapalkan sihir kita!" Kata Selica.


Kirisaki dibuat tertekan dengan situasi seperti ini, ia mulai berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari situasi yang sulit ini.


"Kalian! Para closed range! Buat jarak satu langkah dibelakang para tanker!" Teriak Kirisaki sambil menoleh kebelakang.


Ledakan terjadi dimana - mana akibat serangan senjata api yang dilesatkan oleh para dwarf. Perisai yang dilapisi force itu seakan - akan terus menerus menyerap tenaga para tanker. Para close range segera mengambil posisi mereka seperti yang diminta oleh Kirisaki.


"Tunggu aba - aba ku untuk menyerang!" Kata Kirisaki.


Gelombang serangan itu terus menerjang  dan menekan para tanker. Para dwarf mendorong sekuat tenaga mereka untuk mendesak barisan para tanker untuk mundur.


"Semuanya! Merapat!" Perintah Kirisaki.


Barisan para tanker serentak melakukan langkah mundur yang mana membuat pasukan ras dwarf jatuh tersungkur kedepan karena tumpuan yang seharusnya menahan serangan mereka mundur kebelakang. Para dwarf jatuh kedepan dan saling bertumpukan.


"Dorong!" Teriak Kirisaki.


Barisan tanker pun mendorong para dwarf yang terjatuh dibawah dan membuka peluang para close range untuk menyerang melewati sela - sela barisan para tanker yang merenggang. Damage dealer yang memiliki serangan jarak jauh pun menghabisi para dwarf yang berada dibelakang. Strategi ini terus menerus diberlakukan oleh Kirisaki dan terlihat efektif.


Perlahan tapi pasti, barisan para tanker yang menyusut kembali mulai merenggang seiring berkurangnya pasukan dwarf yang mengepung. Beberapa waktu mereka lakukan terus menerus dan akhirnya mereka dapat menggerus seluruh pasukan dwarf yang terdapat pada titik tersebut. Mereka terlihat kelelahan dan merubuhkan tubuh mereka bersamaan dengan mayat para pasukan dwarf.


Nafas yang tersenggal - senggal saling bersautan di lubang tersebut. Suara nafas yang memenuhi lubang itu perlahan berubah menjadi sebuah tawa kemenangan.


"Hahahahahhaa..." Tawa Kirisaki yang tertidur penuh keringat.


Tawanya diikuti seluruh prajurit dan sorakan kemenangan pun terdengar didalam lubang tersebut. Ketiga lubang lainnya pun berhasil ditaklukan oleh mereka. Setelah menyelesaikan pertempuran penghabisan prajurit ras dwarf, para kapten pun kembali berkumpul kepada Yoga yang sudah menunggu mereka diruang komunikasi milik ras dwarf dalam bawah bar tempat Yoga melakukan pertempuran yang ternyata adalah markas mereka.


Ruang komunikasi itu dipenuhi oleh tabung - tabung uap yang menjadi sebuah penyalur energi holy essence bagi ras dwarf. Riko dan timnya pun segera bekerja untuk membuat sebuah penyalur energi yang tepat untuk dipasangkan ke teknologi yang dimiliki oleh ras manusia. Beberapa saat tim Riko melakukan modifikasi pada monitor yang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan ibukota De Hoorn, pada akhirnya alat itu siap digunakan.


Pertempuran itu berlangsung selama 3 hari karena kesulitan dalam melawan para dwarf yang bersembunyi dibawah tanah. Keesokan harinya dimana hari yang sama dengan kepulangan ras elf. Yoga dipanggil keruang komunikasi karena mendapat sebuah panggilan dari Rado.


Yoga menghadap kemonitor tersebut dengan Rado, Albert dan juga Jaquile sudah tersenyum menunggu kedatangannya.


"Selamat karena sudah merebut Moria.." Puji Rado.


Yoga pun tersenyum menerima pujian tersebut.


"Terimakasih.. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendirian.. Tiga regu yang ku bawa untuk melakukan tugas ini juga sudah melakukannya dengan baik.." Lapor Yoga.


"Kembali lah dan aku akan memberikan kaliah sebuah penghormatan.. Dan juga aku ingin membahas mengenai dua hal.." Ujar Rado dengan tatapan serius.


"Dua hal?! Apa itu?!" Yoga merasa penasaran.


"Dua hal itu akan dijelaskan oleh Devian dan juga Lucero.." Kata Rado dengan raut wajah yang tidak tersenyum sedikit pun.


Didalam ruangan Rado sudah berdiri Lucero dan Devian untuk melaporkan sesuatu kepada Rado dan juga para pendamping.