The Archon

The Archon
Spesial Wen Li Part 4



Satu bulan kemudian dimana aku baru saja tergabung dalam kepemimpinan dari orang bernama Gozie, dikarenakan kapten Long Bai telah tewas, aku ditunjuk secara resmi oleh orang itu sebagai ketua guild yang baru. Guild BrotherHood saat ini sudah berada dibawah kendali dari orang itu seperti guild yang lain. Aku tidak menyangka dengan itu semua, orang ini adalah orang yang paling ditakuti se asia tenggara dan hampir sepenuhnya bisa menguasai negara - negara tersebut.


Sebagai kapten yang baru, sekarang ini kerjaan ku sangat padat. Tidak seperti biasanya yang lebih banyak santai dan akan bertindak bila ada arahan dari kapten Long Bai. Aku pun mengerti sekarang bagaimana perasaan kapten pada saat itu, mengurus guild sebesar ini bukanlah perkara mudah.Banyak sekali yang harus dikerjakan, ditambah sekarang ini kita harus memberikan sebuah upeti kepada organisasi tersebut.


"Kapten Wen Li, bagaimana dengan jadwal hari ini?" Tanya anggota ku yang masuk kedalam ruangan kerja.


"Ah maaf, sepertinya aku ketiduran lagi.."


"Apa anda baik - baik saja?" Tanyanya khawatir.


"Aku tidak apa - apa.. soal jadwal itu.."


Aku segera menggeledah meja ku yang sudah berantakan dan dipenuhi berkas - berkas penting yang harus ku selesaikan.


"Ah.. dimana aku menyimpannya?" Tanya ku kerepotan mencari satu kertas yang tertumpuk oleh berkas yang lain.


"Ini dia.." Sambung ku setelah menemukannya dan aku segera memberikan kertas itu kepadanya.


Anggota ku ini menerimanya dengan sangat sopan, mungkin karena sekarang adalah ketua guild. Secara tidak langsung aku merasa ada kenyamanan di posisi ini karena selalu di sanjung oleh para anggota. Tetapi aku tidak yakin apa sanjungan itu secara tulus atau hanya menjilat saja. Disisi lain keletihan yang ku dapat bukan hanya sekedar pada fisik saja, tetapi juga psikis karena mengerjakan hal yang sama berulang kali dan membosankan terkadang membuat ku jenuh dan ingin berteriak.


Setelah ia sudah mendapatkan jadwal untuk raid esok, ia segera pergi dari ruangan ku. Aku kembali berduduk santai sambil menatap langit - lagit ruangan dan mencoba untuk merilekskan diri. Saat aku mencoba untuk memejamkan mata, tiba - tiba smartphone ku berbunyi. Aku sedikit kesal karena ini sangat mengganggu, baru saja aku ingin kembali tidur namun ada yang menggagung.


"Eh?!"


Aku terkejut saat melihat layar smartphone ku yang menunjukan identitas dari seseorang yang menelpon. Dia Gozie.


"Ha-hallo..." Kata ku gugup.


"Wen Li... Cepat datang ke gedung pemerintahan. Ada sesuatu yang harus kita semua bahas.." Katanya diseberang telepon sana.


"Kita semua? Apa yang anda maksud dengan kita semua?" Tanya ku heran dengan satu kalimat itu.


tut.. tuutt...


"Eh?! Dimatikan?!"


Pertanyaan ku tidak digubris sama sekali oleh tuan Gozie, aku sedikit jengkel karena perlakuannya itu dan tanpa berpikir panjang, aku segera memacu mobil ku ke gedung pemerintahan. Sekali lagi, saat aku tiba disana. Goro sudah menunggu dan menuntun ku kedalam suatu ruangan. Aku sedikit terkejut dengan orang - orang yang berada didalam sana.


Mereka adalah orang - orang penting di negeri ini dan juga ada beberapa petinggi dari negara - negara lain. Aku sedikit bingung dengan apa yang mereka lakukan dalam satu ruangan. Semua mata tertuju saat ini kearah ku karena sepertinya akulah orang yang terakhir datang. Ini sangat canggung dan membuat ku mati kutu ditatap dengan wajah tanpa ekpresi oleh orang - orang penting.


Aku berjalan kearah bangku kosong didekat mereka yang juga sesama pemburu Singapura. Setelah aku duduk, aku memperhatikan mereka semua, tidak ada satu pun dari mereka yang ku kenal, hanya Gozie dan beberapa pemburu Singapura yang tidak penting siapa namanya untuk ku. Bagi ku, mengingat nama pemburu yang tidak ada kaitannya dengan ku hanyalah buang - buang waktu saja, jadi terkadang kalau berbicara bersama mereka aku akan lebih sering menggunakan kata "Kau" daripada menyebutkan namanya.


Memang terlihat seperti orang yang angkuh, tapi itu hal yang sudah aku lakukan sejak dulu, hal itu ku lakukan demi menjaga diri ku yang tidak ingin kehilangan orang yang ku sayang, layaknya kehilangan Long Bai. Ketika kau mengenal seseorang dan berbaur atau mencoba untuk berteman bersama mereka, maka kau akan menumbuhkan rasa simpati dalam diri mu dan itu akan menjadi boomerang suatu saat mu.


Semakin banyak orang yang kau anggap teman, maka semakin pula hati mu rapuh. Selama ini aku curiga, dimana sebenarnya Berto berada. Aku mencarinya kemana-mana tapi tidak menemukannya, setiap kali aku menanyakannya kepada guild Fox, tanggapan dari mereka tidaklah jelas.


"Apa mungkin?" Lirik ku kearah Gozie yang saat itu duduk tidak jauh dari ku.


"Baiklah.. ayo kita mulai pertemuan ini" Kata Gozie sebagai ketua dalam pertemuan tersebut.


Kami semua terdiam dan terfokus kepadanya, sekarang ini didalam pikiran ku penuh tanda tanya mengenai apa yang akan dirapatkan dalam pertemuan ini dan apakah ini akan menjadi suatu yang sangat besar mengingat beberapa kepala dan petinggi dari negara - negara asia ternggara turut hadir didalam pertemuan ini.


Gozie berbicara layaknya tidak ada beban dalam ucapannya itu, awalnya kami semua terkejut akan usulannya itu dan tidak habis pikir mengenai pembentukan negara baru sekarang ini.


"Negara baru?! Apa mungkin bisa?! Bagaimana dengan PPMD?" Tanya seorang pria tua.


"Dia benar, bagaimana bisa seenaknya membuat sebuah negara tanpa sepengetahuan PPMD? Apalagi negara yang akan di buat olehnya adalah negara - negara gabungan dari asia tenggara yang beberapa dari mereka sudah tergabung dalam organisasi terbesar itu" Dalam benak ku menyetujui perntanyaan si pak tua itu.


"Tenang saja.. PPMD sudah menyetujui ini" Gozie tersenyum percaya diri.


Aku terkejut dan menoleh kearahnya, "Apa?! Bagaimana bisa orang ini.." dalam benak ku mempertanyakan bagaimana caranya dia melakukan itu.


"Dan ketika negara ini bergabung menjadi satu, aku memutuskan untuk membubarkan guild yang ada dan menjadi semua pemburu tergabung dalam satu buah komando saja" Sambungnya dalam rapat itu.


"Hei! Jangan bercanda kau! Guild ini sudah ku bangun bertahun - tahun dan kau ingin membubarkannya?!" Kata pria berjas rapih dengan rambut hitam dan berkacamata geram dengan keputusan itu.


"Hmm.. kalau ku lihat.. orang ini tidak asing, siapa dia?" Tanya ku pada diri sendiri mengenai orang yang protes akan kebijakan baru tersebut.


"Apa kau berani menentang perkataan ku?" Gozie melirik kearahnya.


Sekali lirikan dari Gozie mampu membungkam protes tersebut dan tentu itu juga menjadi sebuah peringatan bagi mereka yang ingin menentang. Setelah ditekan seperti itu, pria ini segera duduk kembali dengan wajah yang amat menyesal karena usahanya dengan mudah dipatahkan. Ini bukan lagi sebuah perundingan, tetapi hanya sebuah keputusan sepihak.


"Ah. aku baru ingat sekarang..."


Dalam benak ku setelah megingat identitas dari orag yang baru saja ingin menentang. Dia adala Guo Lao, ketua guild MonsterHunter yang sempat ingin ku datangi terkait kematian kapten.


"He.. ternyata dia orangnya yang menjadi rival kapten.." Senyum ku melirik kearahnya.


"Kami setuju.." Kata salah satu orang yang hadir dan mulai diikuti oleh mereka secara satu persatu.


"Hah... mereka mencari aman rupanya" Aku memangku dagu ku dengan wajah bosan sambil mendengarkan mereka semua mencari muka.


Disisi lain paman yang sedang berdiri sejak tadi didepan pintu itu terus memperhatikan ku, dia adalah Goro. Pengawal pribadi tuan Gozie. Entah mengapa dia selalu saja memperhatikan aku, aku sedikit takut dengannya.


"Apa ketampanan ku membuat dia menjadi suka dengan sesama jenis?" Pikir ku ngelantur.


"Tidak-tidak, itu tidak mungkin Wen Li" Pikir ku berbicara dalam hati.


Saat ini ruangan sudah dipenuhi oleh para penjilat yang mencoba untuk mencari muka oleh tuan Gozie. Aku mulai muak berada diruangan ini, rasanya ingin keluar dan kembali ke guild. Aku juga tidak ingin menentang apa yang akan terjadi setelah negara baru ini terbentuk karena Long Bai sudah tidak dan itu membuat ku tidak perlu lagi mempertahankan guild tanpa nyawa itu bagi ku.


Karena aku sudah tidak kuat lagi didalam sana, aku pun memilih untuk keluar ditengah ricuhnya para penjilat. Aku sebenarnya agak sedikit takut untuk keluar dari ruangan itu, terlebih lagi aku harus melewati Goro itu, akan tetapi ketakutan ku ternyata berlebihan. Ternyata aku dibiarkan keluar begitu saja tanpa adanya larangan, ini sedikit lega karena bisa meninggalkan ruangan itu, tadinya. Tapi ternyata setelah aku keluar dari gedung, Goro sudah berada dibelakang ku.


"Kau.. ingin kemana?" Tanyanya dengan nada yang sedikit mengancam.


"A-ahh.. aku hanya ingin mencari udara segar" Aku menoleh kearahnya dengan sedikit sungkan.


"Kau tau? Meninggalkan ruangan begitu saja sama seperti tidak menghormati tuan Gozie..." Katanya sambil berjalan kearah ku.


"A... Maafkan aku, aku hanya-"


Tiba-tiba tanpa sepengetahuan ku, pandangan ku menjadi gelap dan aku tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, hanya sebuah potongan ingatan dimana saat Goro yang tiba-tiba melesat kearah ku dengan cepat dan memukul sesuatu pada bagian tubuh ku.