The Archon

The Archon
Bos Dungeon Piramid



*Wush... Wushh....


Serangan bertipe angin dari Scorpion Soldier dilancarkan kearah mereka dalam kegelapan itu.


"Uaakhhhh!!" Seseorang berteriak terkena serangan tersebut.


"Siapa itu?!" Teriak Billy karena ia tidak mengetahui siapa yang terkena serangan tersebut dalam kegelapan.


Namun tidak ada jawaban dari orang yang terkena serangan tersebut. Mereka mulai panik karena pandangan didalam ruangan itu sungguh terbatas. Dalam kegelapan yang mencekam itu, hanya kobaran api dari serangan para mage yang membantu mereka untuk melihat sesaat. Dilain sisi Kenji menutup mata dan berkonsentrasi untuk merasakan musuh dengan instingnya.


Slash..Slash.... Suara katana yang ia ayunkan dalam kegelapan.


Ia berhasil menghalau serangan angin yang datang kearahnya dengan sempurna.


"Gunakan insting kalian..!" Kenji memberi arahan kepada anggota tim.


"Insting bagaimana bodoh..?!" Billy berteriak kesal dan sedikit mundur kearah belakang.


Dalam kegelapan dan kepanikan tersebut Rado hanya berdir dibelakang Locus sambil mengamati pergerakan monster disana, matanya selalu bergerak kesana kemari karena merasakan eksistensi yang berada didekatnya.


Wush.. Serangan angin namun seperti hantaman mengenai bagian belakang Rado.


"Ukh.. Sial!!" Ia hanya terdorong sedikit karena serangan tersebut.


Secara reflek ia segera memposisikan tangan untuk mengambil senjatanya, "A..... Bodohnya aku, hari ini aku tidak membawa senjata apapun" Dengan wajah poker facenya Rado merasa kalau hari ini dia begitu bodoh sekali..


Ting~~~~ Suara Sistem berbunyi.


Ketahanan Angin meningkat 1%


[Eh???? 1%? hanya dengan sekali serangan saja bisa sampai meningkatkan 1%? apa tingkat monster yang berada di dungeon juga mempengaruhi kenaikan %an?] Ia berfikir sambil menahan rasa sakit yang berada dipunggungnya.


"Tuan Porter!!! Kau tidak apa-apa?!" tanya Locus yang saat itu sedang mengeluarkan sihir apinya.


"Ahh... aa..aku tidak apa-apa, terimakasih sudah melindungi ku" Nada bicaranya ia buat seolah-olah dia sedang panik.


"Jangan pergi jauh dari sisi ku" Perintah Locus.


Rado berfikir dalam benaknya semenjak ketahanan elemennya meningkat setelah menerima serangan tersebut, [Aku penasaran,.. apa guna dari ketahanan elemen ini? hhmmm apa mungkin..... hah.. aku tidak akan tau kalau belum mencobanya]


Saat itu Rado memikirkan sebuah ide yang gila, ia berkonsentrasi penuh bukan untuk menghindari serangan, tetapi berkonsentrasi untuk mencari serangan angin dan menahan serangan tersebut dengan tubuhnya secara langsung. Ia segera menutup mata agar panca indra pada tubuhnya lebih sensitif terhadap hal yang berada disekitarnya.


"Disana!!!" Ia segera melesat setelah merasakan ada serangan angin yang mengarah kearah Lili.


Duak..!!!!!


"Ukhhh" Serangan itu mengenai bahunya.


Sontak Lili menoleh kearah suara tersebut, "Eh??? siapa itu?! apa kau terluka?!" Lili bertanya setelah mendengar seseorang seperti terkena serangan. Disaat bersamaan api berkobar dari serangan para mage, namun Rado sudah beranjak pergi dengan cepat dari sana. [Sepertinya aku mendengar orang disini] Lili terheran karena tidak ada seseorang berada didekatnya, hanya Locus saja yang saat ini sedang berusaha untuk menyerang dengan api secara membabi buta.


Ting~~~


Ketahanan Angin meningkat 1%


Rado terus menerus mencari serangan angin itu sambil melindungi mereka, ia melompat kesana kemari tanpa disadari oleh tim itu. Tetapi hanya satu orang yang menyadari pergerakan dari Rado sejak tadi.


"Hei.. Hei monster bodoh... apa kalian tidak bisa menyerang dikegelapan ini juga?" Dengan sombong Billy meremehkan serangan yang sejak tadi tidak mengenai dirinya sama sekali.


[Tidak...!!! ini bukan karena mereka meleset atau apa, aku merasakan ada seseorang yang sejak tadi menghalau serangan dari mereka, tapi siapa?] Dengan raut wajah serius Kenji yang berfikir sambil tetap bersiaga dengan Katananya bila ada serangan.


Serangan demi serangan Rado terima dengan tubuhnya. Ting..Ting..Ting.. Suara sistem terus menerus berbunyi dikepalanya seperti sebuah lonceng yang dimainkan. Sampai suatu ketika sebuah serangan angin tepat mengenai bagian dadanya.


Duashhhh!!!!!


Serangan angin itu terpental begitu saja setelah mengenai tubuh Rado dan Ia masih berdiri tegak tanpa merasakan apa-apa.


Ketahanan Angin meningkat 0,2%


Status Ketahanan Angin 37,2%


[Hmm.... Sudah ku duga, jika ketahanan elemen ini berada diangka yang tinggi, maka serangan elemen dari para monster tersebut tidak akan berarti apa-apa bagi ku] Rado tersenyum sambil menatap kedalam kegelapan itu.


Saat ia sedang jatuh dalam kesenangannya karena menemukan hal yang baru dari sistem, tiba-tiba sebuah serangan angin datang dari arah depan mengarah ke Rado, namun kali ini Rado menghindarinya dan membiarkan serangan tersebut mengenai Billy.


"Uakhhhhh" Billy terlempar beberapa meter saat dihantam oleh serangan itu, Billy tersungkur dan untuk beberapa saat ia tidak bisa bergerak terlebih dahulu karena serangan yang mengarah kepadanya tadi sangat telak.


"Billy!!!!!!!!!" beberapa orang yang mengetahui suara dari Billy segera merasa khawatir.


"Hmph.." Rado tersenyum setelah puas mengerjai Billy.


Rado mencari sebuah batu berukuran sedang disekitar sana untuk dijadikan sebuah senjata, Bagi seorang yang menyelesaikan Red Dungeon hanya dengan sebuah batu, White dungeon bukanlah hal yang merepotkan baginya. Terlebih dengan kekuatannya yang sekarang mungkin dia bisa membasmi semua ini dalam sekejap, Namun Rado berfikir kembali untuk tidak melakukan itu agar tidak memicu kecurigaan.


Setelah ia mendapat sebuah bongkahan batu tersebut, ia menghancurkan batu itu dengan remasan satu tangan saja agar menjadi sebuah kerikil-kerikil.


[Sedikit force saja mungkin sudah cukup..] Dalam benaknya sambil menggenggam kerikil tersebut.


Aura keunguan terlihat membungkus tangan kanannya, setelah force sudah terkonsentrasi kepada semua kerikil itu, Rado dengan cepat melemparkan kerikil-kerikil tersebut kearah kegelapan dengan intuisinya. Sebuah hentakan udara dari hempasan tangan Rado membuat angin diruangan itu seperti terdorong kebelakang yang membuat beberapa dari tim raid merasakannya.


[Apa itu?!! aku merasakan force yang asing!!] Dalam benak Kenji terkejut merasakan sesuatu diruangan itu


Wung..Wungg.Wunggg... Kerikil-kerikil itu menyebar seperti sebuah peluru yang melesat dengan cepat, mungkin lebih cepat dari peluru yang ditembakan oleh sebuah rifle. Kerikil yang dilontarkan Rado menghantam dan membunuh setengah dari kumpulan para monster kalajengking tersebut.


Dilain sisi ruangan gelap itu Locus mulai terlihat kesal.


"Ah...... Aku sudah muak dengan pencahayaan yang ga jelas ini" Locus mulai kesal dan mengeluarkan api dengan force yang kuat kearah atas.


Seketika ruangan itu menjadi terang dan mereka memanfaatkan momen tersebut untuk membunuh Scorpion Soldier`s dengan cepat sebelum api yang dibuat oleh Locus menghilang.


Slash... Dar.. darr.... Bumm......


Mereka memang bukan pemburu amatir, bisa terlihat dari pergerakan mereka yang lincah, intuisi dalam kerjasama dan kelihaian dalam menggunakan senjata mereka benar-benar berada ditingkat yang berbeda dengan tim Rado saat ini. Dalam sekejap kumpulan Scorpion Soldier` tersebut sudah teratasi dan api besar yang dibuat Locus pun menghilang.


"Hahh... kenapa tidak sejak tadi kau lakukan itu Locus?! Dasar Bodoh!!!" Billy yang baru saja bangun dari serangan yang mengenainya tadi mulai mengeluarkan emosi.


"Cih dasar sampah!!" Dengan nada kecil Locus bergumam.


"Melawan kumpulan monster begini saja kalian tidak becus, saat keluar dari dungeon ini aku akan melaporkan kalian kepada kapten Watz!!"


Rado yang sudah berada kembali dibarisan belakang tanpa sepengetahuan mereka, mengetahui satu hal dalam regu ini. Regu ini terdapat 2 kubu yang berbeda, Kubu yang menjilat kepada Billy karena dia kapten, dan kubu yang membenci Billy, Sepertinya sudah Billy mengetahui hal itu dan ingin menyingkirkan mereka dengan statusnya yang saat ini sedang menjadi kapten.


"Sialan kau! kau saja tersungkur karena satu serangan tadi!!!"


Locus mulai emosi dengan sikap Billy yang semena-mena dan ingin menghajarnya. Namun sekali lagi Kenji berhasil menghentikan api itu dan menggelengkan kepalanya kepada Locus mengisyaratkan untuk tetap tenang dan tidak melakukan hal tersebut.


"Kenji apa kau tidak kesal dengan perkataannya?" Locus dengan nada kesal bertanya kepada Kenji.


"Kita masih didalam dungeon, untuk sekarang tenangkan dirimu Locus" Dengan nada tegas ia menjawab itu.


"Cih!!!!" Locus berbalik arah dan mulai mengumpulkan item dari mayat monster-monster.


"Hei, Porter sampah... cepat kumpulkan item-item itu" Teriak Billy kepada Rado yang saat itu hanya diam berdiri melihat pertikaian mereka.


Rado segera beranjak pergi dari tempatnya dan mulai memunguti item yang jatuh. Saat itu Kenji mulai curiga oleh Rado, ia merasa kalau Rado seperti menyembunyikan sesuatu. Tetapi karena bukti yang belum kuat, Kenji membiarkan itu untuk sementara waktu.


Tas yang dibawa oleh Rado mulai terisi penuh dengan kristal dan buntut dari scorpion Soldier`s. Racun yang terdapat pada buntut scorpion soldier bisa dijadikan sebuah biopestisida dan hal itu sangat berguna untuk pertanian Indonesia.


Setelah mereka selesai mengumpulkan semua item dan Roh dari monster tersebut, mereka melanjutkan perjalanan untuk mencari ruangan bos dengan pencahayaan yang minim dari api kecil milik para mage, suasana saat ini tidak begitu bagus karena pertikaian yang terjadi.


"Hei sampah, mengapa kau menutupi wajah mu?" tanya Billy.


Rado tidak menjawab karena sikapnya begitu menjengkelkan.


"Hei.. aku bertanya kepada mu..!!"


Ia mulai emosi dan ingin sekali kebelakang untuk menghajar Rado, namun kali ini dia dihentikan oleh para tank yang ada didekatnya.


"Kapten..!!! Simpan pukulan mu untuk sampah itu nanti, Kita sudah berada didepan ruangan bos"


Seketika Billy menoleh kebelakang dan mendongak keatas untuk melihat logo yang berada di pintu goa tersebut.


Logo yang sedikit tertutup oleh debu masih bisa terlihat samar, Logo itu menyerupai sebuah monster dengan wujud manusia setengah kalajengking. Kenji yang sejak tadi berada persis dibelakang para tank, mencoba untuk berdiri sejajar dengan Billy.


"Sepertinya bos kali ini adalah Scorpion King"