The Archon

The Archon
Kedamaian



Sebelum matahari terbit menyinari daratan Antares, gelap pagi buta telah disinari oleh warna warni dari demicles para pendamping dan para archon yang masih bertahan dalam pertempuran tersebut. Cahaya yang dihasilkan oleh kobaran api dari tubuh Achilles seperti menggantikan cahaya dari matahari pagi. Dengan rambut yang berubah menjadi api dengan tombak yang menampilkan kesan sangarnya Achilles telah diserbu oleh para penantangnya.


Rado dengan demicles bersayap 3 sejatinya menerjang sebagai inisiator dalam pertarungan ronde ke dua tersebut. Dogol yang saat itu tidak ingin kalah dengan Rado pun berlomba turut ikut untuk menyerang Achilles dalam waktu yang sama. Achilles kembali diserang dari berbagai sisi dan ia hanya terdiam dengan wajah geram. Disaat mereka sudah mencapai titik jarak untuk menyerang Achilles.


Achilles hanya menghentakan tombaknya ketanah dan api dari tombak tersebut menyebar dari bawah dan melebar keatas yang mana membuat seluruh orang yang menyerang dihempaskan oleh api panas tersebut. Api yang dikeluarkan oleh hentakan tombak itu tidak memandang bulu siapapun. Tentaranya yang sedang bertarung dengan tentara ras yang sedang bergabung juga terkena imbasnya.


Mereka yang telat untuk mempertahankan diri segera terbakar begitu saja, setelah kobaran api yang berkecamuk itu hilang, terlihat banyak mayat - mayat dari berbagai ras tergeletak ditanah dengan kondisi tubuh yang terbakar. Mereka semua terkejut dan menoleh kearah Achilles yang masih terdiam ditempatnya dengan gagah.


"Hey... Bukankah dia baru saja membunuh pasukannya juga?" Tanya Rudy terkejut.


Seluruh kapten yang sedang bertarung dengan kondisi yang sudah penuh luka pun terdiam, Julie pun melihat kearah sekitar untuk melihat mayat - mayat yang sudah hangus terbakar. Rasa ngeri pun menggerayangi tubuhnya. Ia pun beralih melihat kearah Rado dan yang lainnya, Rado disana terlihat terengah - engah dengantatapan wajah yang mulai kesulitan menghadapi Achilles. Julie pun mencoba untuk kesana untuk membantu Rado, akan tetapi ia ditahan secepatnya oleh Rudy yang saat itu berada didekatnya.


"Jangan pergi kesana!" Kata Rudy.


"Tapi.." Julie menoleh kearah Rudy dengan wajah khawatir.


"Mereka bukan lagi berada di level kita yang sekarang!" Jawab Rudy sedikit keras.


Mendengar itu Julie hanya terdiam memandang Rudy.


"Kita hanya harus fokus pada tentaranya... Jangan ganggu pertempuran para archon bila kau tidak ingin menyusahkan mereka.." Kata Rudy segera beralih kearah tentara demigod kembali yang mulai datang.


Slyvrin yang mengambil jarak paling jauh dari Achilles pun perlahan mengumpulkan forcenya dan segera melancarkan ikatan akar yang berhasil menahan Achilles sebelumnya, akan tetapi api yang berkobar ditubuh Achilles mampu membakar akar - akar tersebut sebelum menyentuh tubuhnya. Achilles pun menoleh kearah Slyvrin dan ia pun segera melesat kearahnya.


Rado yang mengetahui itu segera melesat kearah Slyvrin dengan mode awakeningnya. Ia mulai tenggelam dalam fokusnya untuk bertarung bersama Achilles, Rado memotong laju Achilles dengan pedangnya. Kesaktian dari Achilles dapat memegang katana Rado dengan tangan kosong yang terbakar. Rado pun terdorong mundur, dengan segenap kekuatannya ia berusaha untuk menghentikan laju Achilles namun ia tetap terseret hingga menuju Slyvrin.


"Khhh!!!" Ringkih Rado saat mencoba untuk menahan Achilles.


Achilles tanpa tersenyum terus mendorongnya mundur, Jaquile, Rhea dan Kuluk pun segera menerjang kearah Achilles untuk membunuh dari arah belakang, namun rambutnya yang berubah menjadi api tersebut berkecamuk kearah belakang dan membakar sedikit kulit dari ketiganya. Hawa panas yang amat sangat itu membuat mereka bertiga tidak bisa mendekat.


"Haaaa!!!!!!" Rado mulai berteriak mengerahkan kekuatannya hingga urat pada lehernya terlihat.


Rhea yang saat itu segera bertindak cepat segera menghampiri Slyvrin dan menolong dirinya sebelum Achilles benar - benar sampai kepadanya. Rhea menarik tubuh Slyvrin ketempat yang berbeda dan membuat Achilles beralih kearah dimana Slyvrin diungsikan. Melihat kesempatan dari teralihkan fokus Achilles membuat Rado mencoba untuk menarik pedangnya dari tangan Achilles lalu mencoba menebasnya secara diagonal.


Achilles hanya menahan serangan itu dengan menaikan tombaknya dan tanpa menoleh kembali kearahnya. Benturan Force itu hingga merusak tanah yang menjadi laju tebasan force Rado. Rado pun terkejut melihat tersebut dan ia langsung dipukul dengan tangan berapi Achilles tepat pada bagian pipi kanannya. Rado pun terpental membentur tebing, pipinya pun mengeluarkan asap dan terdapat luka bakar yang memerah.


Achilles pun berjalan kembali menuju Slyvrin yang sedang dijaga ketat oleh Rhea, Kuluk dan Juga Jaquile. Diperjalanannya menuju Slyvrin Dogol pun melompat menggunakan kapaknya, bermodalkan force dengan jumlah tinggi yang menyelimuti tubuhnya, Dogol menerjang. Kapak itu berhasil ditahan dengan mudah oleh Achilles menggunakan badan tombaknya.


Ledakan force yang berbeda warna itu terhempas kebelakang. Rado yang melihat kesempatan juga membalut tubuhnya dengan force dengan jumlah tinggi ditambah dengan mode awakening miliknya yang masih tersisa. Dengan secepat kilat Rado sudah berada dibelakang tubuh Achilles dan berhasil menebas punggung Achilles.


"Akh!!!" Achilles pun merasakan sakit dan segera memutarkan tombaknya beserta api yang tercipta.


Dogol dan Rado pun terhempas keras berkat pertahanan dari Achilles, Achilles yang marha pun segera mengganti targetnya dari Slyvrin menuju ke Dogol yang masih jatuh terseret ditanah. Ia menjemput tubuh Dogol dan melompat untuk menusuk dirinya. Rado yang saat itu segera bangkit mencobat untuk menghantam Achilles yang masih berada di udara.


Achilles pun segera mengantisipasi Rado yang datangan dengan mengayunkan tombaknya kearah Rado untuk menangkis tebasan miliknya. Rado berhasil menahan ayunan tombak tersebut meskipun sampai membuat pedang dan sekujur tubuhnya bergetar akibat benturan yang sangat kuat. Achilles saat ini terjatuh dalam keadaan memunggungi Dogol karena tubuhnya berputar setelah menghantam Rado keatas.


Disaat ia menoleh kebawah, Dogol sudah bersiap untuk menghajarnya dengan kapak besar yang ia miliki seperti seorang pemukul yang sedang menyambut bola baseballnya. Achilles pun segera melakukan backflip di udara yang menawan hingga melewati Dogol, ia pun juga segera memukulkan tombaknya dengan keras kepadanya. Kondisi berbalik dimana ekspetasi Dogol adalah dapat menghantam tubuh Achilles saat ia sampai ditanah, akan tetapi malah dirinya lah yang sedang terdesak karena kecekatan Achilles dalam mengantisipasi serangan.


Dogol pun berbalik dan mengganti serangannya menjadi sebuah pertahanan dengan menembatkan kapak besar didepan wajahnya, tombak itu pun menghantam badan kapak Dogol dan api panas dari rambut Achilles pun mendorong kebelakang seperti memberikan kekuatan tekanan kepada tubuhnya. Dogol pun mulai kesulitan, lutut satunya sudah mulai menekuk dan perlahan menyentuh tanah, tangannya bergetar saat menahan tekanan dari Achilles.


Kapak itu mulai memerah karena panas yang diterima terlalu lama, tangan Dogol yang memegang bilah kapak tersebut pun juga mulai mengeluarkan asap karena terbakar. Tombak itu pun ditarik oleh Achilles dan ia memutarkannya dengan cepat dan mengayunkan dari arah samping dan mengenai tulang rusuk Dogol. Dogol terhempas kembali dengan keras ke sisilain. Rado pun turun dari langit dan meyerang Achilles kembali, karena Achilles sudah mengetahuinya, ia hanya mundur selangkah untuk menghindari serangan Rado dan ia segera menendang Rado tepat kearah dimana Dogol di hempaskan.


Dogol yang saat itu baru saja bangkit dikejutkan dengan tubuh Rado yang datang menghampiri dirinya, Ia pun tertubruk badan Rado dan ikut terseret lebih jauh.


"Kau mengganggu!" Kata Dogol setelah berhenti saat terkena tabrakan dari tubuh Rado.


Dogol pun segera mengarahkan kapaknya kearah Rado yang saat ini sedang berada dibawahnya, namun Rado segera menahan laju kapak tersebut dengan katana miliknya. Ditengah - tengah saat melawan archon terkuat, mereka masih menyempatkan diri untuk saling membunuh. Disaat mereka sedang bersiteru, Achilles pun datang menghampiri mereka dengan seragan dahsyat. Tombaknya ia pukulkan kearah mereka berdua, namun mereka berdua dapat menghindarinya dengan cepat.


Kobaran api tercipta disetiap tombak itu dihempaskan dan itu sangat merepotkan mereka yang memiliki gaya bertarung jarak dekat. Saat ini Achilles berdiri ditengah - tengah dua archon yang saling bermusuhan dengan level demicles 3 sayap sejati.


"Dogol.. Bagaimana kalau pertarungan kita ditunda terlebih dahulu?" Tanya Rado.


"Aku tidak mau.. Tetapi karena ada pengganggu sepertinya, aku terima tawaran mu.." Jawab Dogol.


Setelah mendengar jawaban dari Dogol, mereka berdua berakselerasi dengan kompak. Mereka berdua melesat secara bersamaan kearah Achilles dan memberikan serangan dari dua sisi yang berbeda. Achilles pun segera mengayunkan tombaknya dengan sangat lihai dan akurat, ia ayunkan kekanan kekiri, memutar hinggamelakukan combat dengan bagian tubuhnya. Rado dan Dogol pun dapat dihalau dengan sangat mudah, tidak ada diantara mereka yang dapat memberikan luka gores sedikit pun dari kombinasi mereka berdua.


Luka yang didapat Achilles dari Rado menjadi luka terakhir yang ia dapat, disaat penyerangan dua Archon itu kepadanya tidak berhasil, tiba - tiba sebuah anak panah dengan jumlah yang banyak beserta force yang kuat menuju kearah Achilles. Achilles pun mengambil langkah cepat menghindari anak panah yang berasal dari atas tebing dimana Sarka yang melakukannya.


Melihat ada pengganggu, tombak yang sedang ia genggam pun ia lemparkan ke Sarka namun Sarka dapat menghindarinya. Tombak itu menancap tepat di tebing bawah tempat Sarka berdiri. Untuk mendapatkan kembali tombaknya, Achilles hanya mengulurkan tangannya saja kearah tombak tersebut maka tombak itu akan kembali kepadanya.


Sarka saat ini berlari sambil menembakan anak panahnya kearah Achilles, namun tidak ada yang mengenai dirinya. Achilles pun kembali melempar tombak itu kearah Sarka dan menargetkannya kearah dimana Sarka akan melaju. Tombak itu Achilles isikan dengan force kuat dan segera ia lemparkan kearah Sarka. Prediksi yang akurat pun membuat tombak itu jatuh tepat didepan Sarka dan menciptakan sebuah ledakan yang menghempaskan dirinya jatuh kebawah tebing.


Melihat Achilles yang sedang tidak membawa tombaknya membuat Rado dan Dogol memnafaatkan momen tersebut. Rado dan Dogol menyerang Achilles secara bersamaan, melihat kedua orang itu datangan secara bersamaan membuat Achilles terlihat khawatir, ia segera mengulurkan tangannya kearah tombak miliknya, namun Rado segera mengarahkan katananya kearah tangan Achilles yang sedang mengulur agar tidak dapat mengambil tombaknya kembali.


Tombak itu berhenti bergetar karena tangan Achilles ia urungkan kembali untuk menghindari tebasan Rado.


"Kepar*t!" Geram Achilles.


Rado segera mengubah bilah tajamnya dari bawah kearah samping lalu segera mengarahkannya kepada bagian tubuh bawah Achilles, demikian juga dengan Dogol yang mengayunkan kapaknya kearah tubuh bagian bawah Achilles. Achilles merendahkan tubuhnya secepat mungkin dan memposisikan kedua lengannya kearah atas demi menahan dua serangan tersebut secara bersama.


Dengan dibalut api force miliknya, dua senjata terbalut force itu dapat ditahan dengan baik oleh Achilles. Suara dari hantaman kedua senjata itu seperti membentur sebuah besi karena pelindung yang terdapat dilengan Achilles berfungsi dengan baik. Dalam keadaan yang sedang menahan kekuatan dari kedua archon, membuat ketiga pendamping yang tersisa mengambil kesempatan dengan menyerang Achilles secara bersamaan.


Jaquile, Rhea dan Kuluk menerjang bersama untuk menyerang Achilles yang sedang disibukan oleh Dogol dan Rado, mereka mengayunkan dan menusukan senjata mereka tepat kearah bagian depan Achilles, akan tetapi serangan mereka tidak ada yang membawakan hasil dimana, kapak Rhea tidak berhasil menembus jirah Achilles, Katana milik Kuluk patah saat menusukannya dan tombak Jaquile hanya tertancap sedikit kedalam jirah tersebut.


"Sial serangan kita kurang efektik!" Kata Jaquile saat didepan Achilles.


Achilles yang kesal pun segera mengobarkan api panasnya nya ke sekujur tubuhnyanya untuk menghempaskan mereka semua. Disaat api yang menyebar itu mulai padam dengan para penyerangannya sudah terhempas, ia dikejutkan dengan sebuah kumpulan akar yang dibuat meruncing dan menancap dipunggungnya melalui celah jirah yang hancur akibat serangan Rado sebelumnya.


Achilles pun mengeluarkan darah dari mulutnya, setelah menancap dengan cepat dipunggung Achiles, akar itu segera terbakar dengan sendirinya karena suhu panas yang berada disekitarnya. Achilles pun menoleh kebelakang mencari tau siapa dalangnya dan ternyata..


"Kau lagi dasar wanita ******!" Geram Achilles melihat Slyvrin yang baru saja menyerangnya dari belakang.


Disamping Slyvrin, terdapat botol ramuan penyembuh yang sudah kosong, obat itu Slyvrin pakai untuk memulihkan forcenya kembali meskipun tidak seberapa demi melancarkan serangan terakhirnya tersebut.


Achilles pu mengulurkan kembali tangannya kearah tombak yang sudah ia lemparkan.


"Tidak!" Teriak Rado saat melihat tombak itu kembali.


Rado pun segera melesat kearah Achilles yang sudah siap untuk melemparkan tombaknya kearah Slyvrin, Rado dengan cepat segera menabrakan pundaknya kearah kaki Achilles sebelum ia benar - benar melepaskan tombak tersebut, akan tetapi meskipun Achilles kehilangan keseimbangannya karena ditabrak oleh Rado dan terjatuh. Tombak itu sudah dilesatkan dengan cepat kearah Slyvrin.


"Slyvrin!" Teriak Rado.


Slyvrin terdiam melihat tombak yang tidak berapi itu mengarah kepadanya. Tombak itu melesat dengan cepat tetapi berkata Rado yang menjatuhkan keseimbangan dari Achilles membuat bidikannya sedikit meleset, tombak itu berhasil mengenai pundak Slyvrin dan menyeretnya hingga tertancap di tebing dibelakangnya.


"Akh!!!!" Teriak Slyvrin dengan tombak yang menancap di pundaknya.


Ia tidak bisa melepaskan diri karena tertahan tombak tersebut. Achilles yang merasa kesal segera bangkit, namun Rado tidak membiarkannya. Rado segera berputar dan mengunci tangan kanan Achilles agar tidak menarik tombak tersebut, Tangan kanan Achilles ia tarik ke dadanya dan kaki Rado pun ia tempatkan di leher serta dada Achilles. Rado berusaha untuk mematahkan persendian bahu Achilles. Tetapi Achilles segera mengangkat tangannya keatas yang mana membuat Rado juga ikut terangkat.


Setelah tangannya terangkat tinggi Achilles segera menghantamkan tangannya kebawah dan punggung Rado segera membentur ketanah dengan sangat kerah.


"Akh!" Rado memuntahkan darah dari mulutnya dan ia pun melepaskan kunciannya.


Achilles segera mengulurkan tangan kirinya dan tombak itu pun kembali kepadanya dengan mencabut diri dari pundak Slyvrin dengan kasar, Achilles mulai emosi dengan Slyvrin dan tidak memperdulikan dengan keadaan sekitarnya. Disaat ia akan melemparkanya kembali kearah Slyvrin, Dogol datang lalu mengunci setiap persendian Achilles, ia menyergap Achilles dari belakang lalu menggenggam erat kedua tangannya dari belakang agar ia tidak leluasa menggunakan tombaknya, Dogol pun juga mengunci kaki Achilles dengan melingkarkan kakinya kebagian paha Achilles lalu menjatuhkannya terbaring ketanah. Achilles yang direntangkan dan terbaring tidak berkutik mencoba untuk melepaskan diri, ketika sendi terkunci maka akan sulit untuk mengeluarkan tenaga maksimal.


Posisi Dogol saat ini berada dibawah punggung Achilles dan ia pun menahan rasa sakit karena terbakar rambut Achilles yang sedang berapi. Kulitnya mulai menguap dan mengelupas. Rado yang melihat kuncian Dogol tidak akan bertahan lama kembali segera melompat kearahnya.


"Heeaaaaa!!!!!!!!!" Teriak Rado.


Achilles yang sedang terkunci telantang hanya bisa menatap Rado yang datang dengan wajah kesalnya. Katana yang sudah patah itu pun dibalutkan oleh Rado dengan force tingkat tinggi dan segera menusukannya kearah jantung Achilles. Namun, karena mata katanya telah patah membuat tusukan itu tidak terlalu dalam dan terhenti pada otot Achilles.


"Lakukan cepat!!!!" Kata Dogol dengan wajah yang berangsur menunjukan tengkorak wajahnya karena api Achilles.


Rado pun berteriak kembali dan memberikan dorongan force pada serangan terakhirnya tersebut. Katana itu mulai bergerak merobek otot dada Achilles.


"Siaalaaaan!!!!!!" Kata Achilles.


Achilles pun segera menggerakan sendiri di pergelangan tangannya untuk mendorong tombaknya kearah Rado dengan cara menurunkan posisi genggamannya dari bagian tengah kebagian gagang bawah tombak agar mata tombak dapat menggapai tubuh Rado saat ditusukan. Rado pun tertusuk pada bagian dada kanannya dari arah samping. Darah pun keluar dari mulut Rado dan membasahi wajah Achilles.


"Rado!" Teriak Slyvrin sambil memegangi pundaknya yang terluka.


Rado pun melihat kearah dadanya yang sudah tertancap tombak milik Achilles.


"Hahahahaha... Hahahahhaa! Mati kau kepar*t!" Tawa Achilles puas.


"Diamlah sialan!" Kata Dogol mencoba untuk mengunci Achilles dengan setitik tenaganya yang tersisa.


Saat ini Rado bisa saja tumbang, akan tetapi tekadnya berkata lain. Ia menetapkan hatinya meskipun sudah tersuk tombak milik Achilles, Ia pun meningkatkan forcenya kedalam tubuhnya hingga membuat demiclesnya bersinar amat terang.


"Haaaaa!!!! Ha!!!!!!" Teriak Rado sambil mendorong katananya tersebut menuju jantung Achilles.


Katananya menyala terang dan mulai bergerak maju kedalam. Semula Achilles yang tertawa berubah menjadi kepanikan.


"Kepar*t! Berhenti! Kau tidak boleh membunuh ku! Tidak!!!!!" Teriak Achilles.


Achilles pun mencoba untuk menarik tombaknya kembali, namun laju katana Rado sudah mulai menyentuh dinding jantung terluarnya.


"Akh!" Achilles mulai memuntahkan darahnya.


Rado pun juga memuntahkan kembali darahnya karena gesekan dari tombak yang mencoba untuk keluar dari tubuhnya. Ia terus memantapkan tekadnya untuk menusukan katananya tersebut. Sampai akhirnya, Achilles pun dengan kekuatan terakhirnya dapat mencabut tombak tersebut dan menusukannya kembali tepat di ulu hati Rado yang mana menambah luka fatal padanya.


"Hahahahaha" Tawa Achilles dengan mulut penuh darah.


Genggaman Rado pada ujung gagangnya mulai melemas, disaat ia akan menyerah. Tiba - tiba sebuah cahaya menyerupai tangan memegang punggung tangan Rado dan seperti memberikan sebuah kekuatan untuk mendorongnya. Genggaman yang semulanya mulai melemas kembali mengerat dan Rado pun seperti diluapkan kekuatan.


"Matilah!!!" Teriak Rado.


Lalu ia mendorong katananya kebawah diikuti dengan tubuh yang sedikit membukuk dan itu juga mengakibatkan tusukan tobak Achilles semakin dalam serta menembus jauh. Katana patah itu pun menembus jantung Achilles hingga menusuk Dogol yang berada dibelakangnya juga. Achilles pun berteriak panjang sebelum dirinya tewas seketika setelah jantungnya di koyak oleh katana Rado.


Demikian juga Dogol yang tiba - tiba tewas setelah menerima siksaan yang cukup lama menahan panas dari api Achilles yang sekarang sudah padam, cengkraman kuncian dari Dogol pun melemas dan melepaskan tubuh Achilles yang sudah tidak bernyawa. Demicles dari keduanya pun menghilang menjadi partikel kecil dan Rhea pun terkulai lemas seketika setelah Achilles tewas.


Rado yang berhasil membunuh keduanya pun berdiri dan bertekuk lutut dengan rambut yang terurai kebawah dan juga tombak yang masih menancap di perutnya. Slyvrin pun datang menghampiri Rado yang baru saja berhasil mengalahkan Achilles dan juga Dogol dengan satu tusukan saja. Seluruh tentara yang sedang bertarung pun berhenti seketika dan memasang wajah terkejut.


"Rado?" Lihat Jaquile kepadanya dengan rasa kahawatir yang amat mendalam.


"Tuan Rado?" Tanya para jajaran kapten yang terkejut melihat archon mereka mengalami luka fatal.


Rhea yang terkulai lemas hanya bisa menatap Rado yang sudah bertekuk lutut dengan mata yang bergetar. Wajah seluruh tentara gabungan itu terlihat sangat khawatir.


Slyvrin segera berlutut didepannya untuk melihat keadaan Rado, tubuhnya sudah tidak karuan dengan darah dimana - mana serta luka bakar pada pipinya. Matanya hanya sedikit terbuka dan perlahan mengangkat untuk memberikan senyuman kepada Slyvrin.


"Aku berhasil.." Senyumnya kepada SLyvrin.


"Yaahh Kau berhasil..." Senyum Slyvrin terpaksa sambil menagis melihat keadaan Rado.


Rado pun mengangkat tangannya yang lemah dan memegang pipi Slyvrin. Ia tersenyum lembut dan menyeka setiap air mata Slyvrin yang terjatuh. Disisi lain, Rhea dan Julie hanya bisa melihat kemesraaan itu dengan kesedihan. Slyvrin pun segera menyambut belaian hangat dari tangan Rado dengan lembut.


"Maafkan aku karena membiarkannya melukai mu..." Kata Rado setelah melihat pundak Slyvrin yang terluka.


"Tidak apa! Ini bisa disembuhkan oleh Zowie kapan pun.. Tetapi dirimu?" Kata SLyvrin dengan kepanikan yang luar biasa.


Ia segera menoleh kearah mereka yang masih hidup.


"Siapa saja! Berikan aku ramuan untuk Rado! Tolong!" Teriaknya namun tidak ada yang menanggapi karena selurun ramuan sudah habis terpakai.


"Siapa saja tolong..." Slyvin mulai pasrah saat melihat wajah mereka yang terlihat sedih.


Tentara demigod pun terlihat sedang bersedih dimayat Achilles yang sudah tewas, tidak ada tanda - tanda dari mereka untuk menyerang.


"Slyvrin.. Sudah lah... Lagipula luka ku sudah terlalu parah... beberapa organ dalam ku sepertinya ada yang mulai meleleh karena panas dari tombak ini"


"Tapi..." Kata SLyvrin sambil melihat wajah Rado yang tersenyum kearahnya dengan sangat sedih.


"Dengan ini.. kau yang akan menjadi pemenang dari ragnarok para dewa..." Senyum Rado.


"Aku tidak ingin memenangkan pertarungan ini bila kau mati... Ah! Sebagai pemenang aku akan mendapat satu buah permintaan, aku akan gunakan itu untuk..." Sebelum Slyvrin mengemukakan permintaannya nanti Rado segera memegang kedua pipi SLyvrin dengan kedua tangannya dan tersenyum.


"Berjanjilah kepada ku untuk tidak meminta agar aku dibangkitkan kembali...." Senyum Rado dengan tatapan penuh Arti.


"Tapi aku sedang mengandung anak mu.." Kata SLyvrin dengan air mata yang tidak ada habisnya.


Rado yang mendengar itu terkejut sekaligu merasa senang, namun setelah itu ia tersenyum kembali.


"Kalau mau kah mendengar permintaan ku kepada mu untuk terakhir kalinya?" Senyum Rado kepada Slyvrin.


Mendengar kata "terakhir" membuat Slyvrin merasa hancur sehancur hancurnya, namun karena ia mencoba untuk tidak mengecewakan orang yang paling ia cintai, Slyvrin mencoba untuk tegar untuk mendengarkannya.


"Apa itu?" Senyumnya yang terpaksa.


"Buatlah dunia ini menjadi dunia yang damai dimana seluruh ras bisa hidup berdampingan... Aku ingin kau ciptakan dunia untuk anak kita tanpa ada perang sedikit pun..." Senyum Rado kepada SLyvrin.


"Baiklah... Aku akan mengabulkannya.." senyum SLyvrin sambil meneteskan air matanya.


Disaat ia sedang berbicara dengan Slyvrin, cahaya putih yang membantu Rado tadi muncul kembali dengan wujud yang utuh. Dia adalah orang - oayang yang mendukung Rado sejak awal hingga ketitik dimana perjalanan terkahirnya.


"Rado.." Senyum Yoga yang sudah bersinar.


"Tuan..." Kata Albert tersenyum.


"Tuan Rado!!!" Jefry dan keluarganya yang melambai.


Dan banyak lagi orang - orang yang mendukungnya, namun ada satu orang yang menjadi titik fokus Rado saat ini.


"Selamat.. Kau sudah menyelesaikan tugas mu... Sekarang kau sudah bisa berada disisi kami... Rado.." Senyum manis Nara kepadanya.


Rado yang mendnegar itu tersenyum polos.


"Yah... Aku telah berhasil dan aku akan menyusul kalian" Senyum Rado dalam batinnya.


Ia pun kembali melihat kewajah SLyvrin yang sedang menangis.


"Aku mencintai mu.. meskipun sulit untuk ku tunjukan, terimakasih untuk semuanya dan selamat tinggal.." Kata Rado lalu matanya tertutup perlahan dan kedua tangannya pun terjatuh dari pipi Slyvrin.


Hembusan angin yang hangat pun melewati Slyvrin dengan lembut dan itu menyadarkan SLyvrin kalau Rado telah berlalu.


"Rado? Hei Rado?!" Kata Slyvrin mencoba untuk membangunnya namun tidak membuahkan hasil.


Seluruh tentara menundukan kepalanya setelah kematian tersebut, Slyvrin berteriak kencang menghadap keatas dimana demicles dirinya masih berhadapan dengan demicles Rado yang masih mengudara. Didetik hayatnya, Sayap sejati keempat Rado hampir tumbuh sempurna namun perlahan menghilang mejadi partikel kecil. Jaquile pun terkulai lemas setelah demicles Rado menghilang dan ia pun terjatuh dengan tangisan yang tidak bisa terbendung lagi.


Di Lorien pun Zowie yang sedang meneliti pun menjadi lemas dan terjatuh.


"Tuan Zowie apa anda baik - baik saja?!" Khawatir penjaga elf.


"Aaahhhh Aku tidak apa - apa hahaha" Jawab Zowie dan berubah menjadi kesedihan yang tidak bisa ia ketahui.


"Rado? Apa yang terjadi pada mu?" Tanya Zowie dengan wajah sedih.


Riko, Devian dan Kan yang berada di Moria pun juga merasakan suatu firasat yang aneh, para tentara dimedan pertempuran pun mulai menangisi kepergian Archon keempat tersebut. Slyvrin menangis sambil memeluk tubuh Raod yang sudah tidak bernyawa. Lalu dalam kesedihan itu tiba - tiba matahari yang mulai menunjukan dirinya seketika tertutup asap tebal yang menidurkan seluruh ras yang telah kehilangan archon mereka.


Para tentara elf dan Slyvrin begitu terkejut saat melihat selain ras mereka tiba - tiba terjatuh. Dalam kebingungan itu petir menyambar dengan sangat ricuh dan cahaya keemaasan pun muncul diatas mereka. Cahaya itu mulai membentuk seseorang denga jubah yang menutupi selutuh bagian tubuhnya. Semua ras elf pun terkejut dengan kehadiran sosok tersebut, namun tidak dengan SLyvrin yang menatapnya dengan tatapan benci sambil memeluk Rado.


"Selamat kepada diri mu yang sudah memenang pertempuran ini.. Sebagai hadiahnya, kami para dewa akan mengabulkan permintaan mu apapun itu..." Kata sang dewa.


"Apa yang terjadi pada mereka?" Tanya Slyvrin kepada sang dewa mengenai para ras yang tertidur selain rasnya.


"Mereka semua ku buat tidur selama sesi permintaan ini.." Jawab dewa tersebut.


"Apa yang terjadi setelah aku menyelesaikan permitnaan ku?" Tanya Slyvrin.


"Mereka semua akan berpindah ke alam baka.." Jawab dewa tersebut.


"Apa kau bisa membangkitkan orang yang mati?" Tanya SLyvrin kembali.


"Apa pun kami bisa lakukan..." Kata Dewa tersebut.


Slyvrin yang mendengar itu segera menatap kearah Rado dengan senyuman.


"Baiklah... Aku ingin menciptakan dunia ini menjadi dunia yang penuh kehangatan dengan berbagai ras yang saling berdampingan..." Kata SLyvrin terseyum kepada dewa itu karena mengingat permintaan terakhir dari Rado.


"Apa kau yakin? Bukankah lebih baik kau tinggal di dunia ini dengan ras mu saja?" Tanya dewa itu terheran.


"Tidak... Aku ingin keragaman ras berada didunia ini dan juga... ini permintaan darinya.." Jawab SLyvrin tersenyum.


"Baiklah... Aku akan mengabulkan keinginan mu..."


Disaat sesi permintaan itu akan berakhir, Slyvrin bertanya kembali.


"Apa yang mati juga akan hidup?" Tanya Slyvrin penuh harapan.


"Tidak... Pilihan mu hanya satu, yaitu hidup dengan mereka yang sedang tertidur saat ini." Kata dewa itu.


Dewa itu pun bersinar amat terang sampai menarangi mata. Slyvrin pun menatap kearah wajah Rado dengan senyuman seiring berjalannya dewa yang sedang mengabulkan permintaan Slyvrin. Ia terus memandangi wajah Rado yang sedang tersenyum tidak memiliki beban. Cahaya itu pun akhirnya menutupi seluruh dunia dan permintaan pun telah dikabulkan.


------ Dua tahun kemudian ------


Di ibukota De Hoorn yang sudah berubah pesat dengan berlalu - lalangnya berbagai ras disana. Manusia, Orc, Elf, Dwarf dan juga Demigod terlihat saling kontak disana, tawa dan canda pun terlihat di ibukota De Hoorn yang baru. Setelah dua tahun berlalu dimana permintaan Slyvrin dikabulkan, seluruh ras yang dibuat tertidur, kembali dibangunkan dengan ingatan yang sama. Namun perbedaan yang mendasar saat ini adalah dimana seluruh ras tunduk pada satu rantai komando tunggal yang di ketuai oleh Slyvrin sebagai Archon satu - satunya di dunia tersebut.


Tidak ada satupun dari mereka yang bisa mengimbangi kekuatan Slyvrin yang masih mengemban kekuatan Archon. Seluruh ras dibawah kepemimpinan Slyvrin menekan gencatan senjata dan tidak akan melakukan perang kembali. Semua ini Slyvrin lakukan demi mewujudkan perkataan dari Rado.


Dipagi hari yang cerah Slyvrin terlihat sedang menuntun seorag anak laki - laki berambut hitam dan memiliki telinga panjang masuk kedalam sebuah ruangan luas dengan patung besar yang terbuat sedetail mungkin, patung itu adalah sosok Rado yang dihormati seluruh ras elf dan manusia saat ini karena ceritanya saat melawan Achilles sangat mengena dihati masyarakat terlepas dari rencana busuk Greg yang telah terungkap.


Bawahan Greg telah dieksekusi mati sesuai dengan perintah Slyvrin sebagai kekuatan mutlak satu - satunya didunia tersebut.


"Mama siapa dia?" Tanya anak tersebut.


"Dia adalah ayah mu.." Senyum Slyvrin sambil.


"Ayah ku?" tanya polos anak tersebut.


"Apa Ayah itu seperti paman Jaquile yang menciptakan Lyfa dengan tante Lefti?" Tanya Anak tersebut.


"Yah... Kau benar.." Jawab Slyvrin masih terus memandang patung Rado yang berdiri dengan dua ninjato terpasang di punggungnya.


"Lalu dimana ayah sekarang?" Tanya polos anak tersebut kepada Slyvrin.


"Dia..." Slyvrin membuat wajah sedih saat mendapat pertanyaan seperti itu.


"Slyvrin..." Sapa Rhea yang juga membawa seorang anak laki - laki berambut hitam dengan telinga manusia normal.


"Perseus!!!!" Lambai anak Slyvrin kepada anak yang sedang di gandeng oleh Rhea.


"Areef!!!" Lambai anak Rhea lalu berlari menghampiri Perseus.


Mereka mulai bermain satu sama lain didalam ruangan yang besar tersebut. Rhea dengan pakaian seperti para dewi mendekat kearah Slyvrin yang mengenakan kimono.


"Bagaimana di Olympus dua minggu ini?" Tanya Slyvrin kepada Rhea.


"Mereka sudah menerima mu dengan baik.. Tidak akan ada yang berani melakukan kudeta seperti sebelumnya..." Senyum Rhea.


"Hmmm aku tidak sia - sia membagi kekuatan ku ini kepada mu... Kau dapat diandalkan, pantas saja pria itu menghamili mu!" Ejek Slyvrin.


"Itu hanya kecelakaan..." Senyum Rhea kepada SLyvrin.


"Heeee~~~ Kecelakaan? Pada saat itu aku juga kecelakaan.." Kata Slyvrin.


"Benarkah? Apa mungkin pria itu menghamili banyak wanita karena sebuah kecelakaan?" Ejek Rhea kepada Rado.


"hahaha mungkin.." Jawab Slyvrin.


Mereka berdua membicarakan sosok Rado dengan sangat riang dan membelakangi patung Rado. Disaat mereka tertawa riang, sebuah hembusan hangat tiba - tiba muncul dari arah patung yang mana membuat mereka berdua segera menoleh bersamaan dengan wajah terkejut. Disana mereka tidak melihat apapun, hanya patung Rado saja yang berdiri kokoh. Mereka berdua pun tersenyum dan saling melihat satu sama lain karena mereka berdua seperti merasa kehadiran Rado disana. Setelah imajinasi itu berlalu mereka pun meninggalkan ruangan khusus tersebut dan menutup pintu ruangan tersebut.


-TAMAT-