
Disore hari dalam benteng pos 3, Hawl, Jason dan satu prajurit yang terlebih dahulu memasuki area benteng tersebut dibuat terkejut dengan tumpukan mayat pembantaian yang dilakukan oleh ras dwarf. Bau anyir dan bau yang tidak mengenakan mengundang banyak lalat disekitarnya.
"Aku tidak tahan dengan ini semua..." Kata prajurit tersebut lalu keluar dari benteng dan memuntahkan isi perutnya.
Hawl dan Jason mencoba untuk mendekat pada tumpukan mayat tersebut dengan menutup hidung mereka menggunakan lipatan sikut dalam mereka.
"Ini sangat biadab.. Siapa yang bisa membuat mereka sampai kalah telak seperti ini?" Cetus Hawl menahan mual.
"Hanya ada satu jawabannya... Mereka melawan seorang jenderal..." Kata Jason juga sambil menahan mual.
Hawl yang mendengar asumsi dari Jason hanya bisa tercengang menatap tumpukan mayat tersebut.
"Mereka bertarung dalam situasi yang tidak menguntungkan... Ku harap mereka bisa tenang disana..." Kata Hawl.
Saat mereka berdua sedang memandangi tumpukan mayat tersebut, Albert dan Rudy datang lalu segera masuk kedalam benteng.
"Hanya satu yang bisa membuat mereka tenang... Yaitu pembalasan dendam" Ujar Albert melihat tumpukan mayat tersebut dengan wajah geram.
Para prajurit yang baru saja sampai disana, sontak melakukan hal yang sama. Mereka menutup hidung mereka karena tidak tahan dengan bau yang sangat menyengat. Dalam benteng tersebut sudah bukan lagi disebut sebagai pos. Bangunan serta tower yang sebelumnya berdiri kokoh, sudah hancur dan rata dengan tanah.
"Jenderal!" Teriak Riko yang sedang mengamati sesuatu.
Albert pun datang menghampiri Riko.
"Lihat.." Tunjuk Riko kepada sebuah lubang.
Albert yang melihat sebuah lubang disana begitu heran dengan maksud lubang tersebut.
"Lubang apa ini?" Tanya Albert.
"Menurut ku ini adalah akses dimana ras dwarf muncul dan anda lihat kesebalah sana.." Alih Riko untuk menunjukan sesuatu.
Saat Albert menoleh kearah apa yang ditunjuk oleh Riko, Riko mulai menjelaskan.
"Itu adalah portal yang berada di benteng ini.. Dan sepertinya lubang ini milik sekelompok kecil dwarf yang menghancurkan portal tersebut sebelum terjadinya perang besar.." Jelas Riko.
"Mereka sungguh cerdik.." Puji Albert sambil melihat kearah puing portal.
"Yah... Aku juga berpikir demikian karena dwarf itu hampir tepat menggali lubang tepat didekat portal tersebut.. tetapi bagaimana cara mereka menggali tanpa ketahuan orang - orang kita?" Tanya Riko kembali.
Albert terus memandangi lubang tersebut dengan pemikirannya sendiri.
"Mungkin kita akan tau kalau kita menelusuri lubang tersebut.." Cetus Albert.
"Itu hal yang sembrono menurut ku tuan..." Potong Rudy tiba - tiba.
Albert dan Riko pun menoleh kearahnya.
"Maaf sebelumnya karena telah menyekal usulan anda... Tapi menurut ku kalau kita menelusuri lubang yang tidak kita ketahui, itu sama saja dengan bunuh diri.. Lebih baik kita kembali melapor terlebih dahulu mengenai tragedi ini..." Usul dari Rudy.
"Aku setuju dengan Rudy tuan... Lebih baik kita menarik diri terlebih dahulu.." Timpal Jason.
Albert terdiam sejenak mendengar usulan dari kedua bawahannya.
"Baiklah.. Ayo kita kembali untuk saat ini" Albert menyetujui usulan mereka.
Setelah itu ia menoleh kembali kearah Riko.
"Riko.. Cepat setel koordinat pada pos ini dan gunakan portal darurat untuk kita kembali. Lalu kalian.., cepat makamkan para prajurit yang telah tewas ini" Sambung Albert memerintah.
"Baik tuan.." Jawab mereka serentak.
Riko terlihat mengeluarkan sebuah benda berbentuk bulat dari dalam tasnya lalu ia menggali sebuah tanah yang tidak jauh dari tempat ia berdiri. Selama Riko melakukan penyetelan ulang koordinat pos tersebut Albert berjalan - jalan mengitari benteng tersebut sambil melihat - lihat jejak pertempuran. Pertama Albert kembali ke jasad Kenny yang telah hancur, ia melihat tanah yang ada dibalik jasad Kenny seperti hancur akibat sebuah benda tumpul yang memiliki bobot yang sangat berat.
"Senjata apa yang sama bisa membuat tubuh manusia hancur seperti ini?" Tanya Albert dalam hati.
Ia pun kembali masuk kedalam benteng, para prajurit sudah memulai pekerjaan memakamkan para jasad prajurit benteng pos 3. Mereka mengangkut satu persatu jasad yang sudah berlumuran darah dan memasukannya kedalam sebuah lubang besar diluar benteng dekat gerbang belakang dengan bantuan kelas mage untuk menggali tanah tersebut.
Setelah semua mayat sudah dimasukan kedalam kuburan masal itu, beberapa kelas mage yang berada disana menimbun mereka dengan sihir tanah. Albert dan yang lainnya memandangi kuburan tersebut dengan ratapan sedih. Sesudah mereka berdoa yang terbaik untuk mereka yang telah gugur, Albert mengajak mereka untuk kembali ke ibukota De Hoorn.
"Kemana mereka pergi? Apa mereka hanya ingin menyerang saja tanpa mengambil alih benteng ini?" Pikir Albert saat berjalan menuju portal yang sudah terbuka berkat Riko.
"Beberapa orang tinggalah disini sampai tim teknisi yang menangani portal datang..." Sambung perintah Albert kepada sebagian prajurit yang ia bawa.
"Jenderal.. Aku mohon untuk tinggal sementara disini, ada sesuatu yang harus ku cari tahu..." Pinta Riko dengan tatapan serius.
Albert pun berhenti dan menoleh kearahnya.
"Baiklah... Kami akan segera mengirim pasukan kesini sebentar lagi..." Kata Albert.
"Hm!" Riko mengangguk.
Albert dan sebagian dari mereka pun memasuki portal tersebut dan berpindah ke Ibukota De Hoorn dalam sekejap. Kedatangan mereka sudah ditunggu - tunggu oleh Rado. Albert yang saat itu baru sampai di ibukota segera menghadap Rado dan menceritakan situasi di pos 3 tersebut. Rado tidak menunjukan ekspresi apapun karena ia sudah mengetahui hasilnya, tetapi tidak dengan Yoga, Jaquile dan Jeffry yang saat itu berada disana. Mereka terkejut dan begitu kesal mendengar laporan tersebut.
Berita mengenai jatuhnya benteng pos 3 membuat seluruh ras manusia berkabung dalam kesedihan, para keluarga staff militer serta keluarga kelas atas pun terlihat khawatir dengan runtuhnya benteng tersebut. Bukan karena kemanusiaan, tetapi karena ada tanah mereka yang berada didekat sana. Berita ini pun juga sampai ke wilayah ras elf yang secara langsung juga didengar oleh Kan. Kan terlihat amat menyesal dengan kematian Kenny, orang yang ia percayai untuk menjaga pos 3 itu sementara. Disisi lain Watz yang saat itu sedang berada disebuah ruangan hotel, juga ikut bersedih dengan kepergian Kenny.
"Tuan Rado? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ranbu yang saat ini sedang berada dikelas.
Slyvrin yang juga mengalami penyerbuan para monster sebelumnya segera mengambil tindakan untuk memperketat penjagaan pos yang telah diserang tersebut. Ia tidak ingin bernasib sama seperti pos 3 milik ras manusia.
"Cepat! Kirim pasukan ke pos bagian utara kita!" Kata Slyvrin dengan segera setelah menerima informasi dari ras manusia.
"Ratu! Cepat anda pergi keruang cermin, ras dwarf telah datang!" Kata prajurit elf tersebut.
"Apa?!" Slyvrin terkejut.
Slyvrin dengan segera menuju ke ruang cermin tempat seluruh wilayah dapat berkomunikasi dengannya secara langsung. Berbeda dengan monitor milik ras manusia, cermin tersebut bisa menampilkan visual sekitar bila cermin tersebut dibawa oleh prajurit ke tempat yang ingin diperlihatkan. Saat ini prajurit yang berada di pos utara membawa cermin berukuran sedang keatas tower pos tersebut dan mengarahkannya kepada ratusan prajurit dwarf yang sudah bersiap diseberang pos.
"Mereka....!" Kesal Slyvrin melihat ratusan Dwarf.
"Cepat kirim pasukan ke pos utara! Hamdall, Lefti! Pergilah... Jangan biarkan tangan kotor mereka menjamah wilayah penghubung ku dengan suami ku!" Sambung geram Slyvrin.
Setelah mendengar perintah dari Slyvrin, ras elf pun mulai mempersiapkan diri untuk menuju ke pos utara mereka. Didepan portal yang berada di Lorien pun dipenuhi ratusan pasukan elf dan portal itu terbuka terang, Hamdall dan Lefti yang dipercayakan Slyvrin untuk mempertahankan pos tersebut begitu terlihat tegang karena akan menuju peperangan yang telah meruntuhkan pos 3 ras manusia.
"Kalian... Ayo kita pergi.." Kata Hamdall dengan nada datar.
Sementara itu, kembali pada hari dimana Ubba telah selesai meratakan pos benteng 3 milik ras manusia, ditengah hutan diantara wilayah ras manusia dan ras elf, Ubba telah kembali kedalam perkemahan markas pusat dwarf. Kedatangannya disambut baik oleh para dwarf dan juga Folk yang terlihat senang dengan kehadiran Ubba tanpa terluka sedikit pun.
"Bagaimana dengan ras manusia? Apa mereka kuat?" Tanya Folk tersenyum senang.
"Tidak.. Mereka sama sekali tidak kuat..." Jawab Ubba.
"Hmmmm apa kau bertemu dengan salah satu pendamping mereka?" Tanya Folk sekali lagi.
"Tidak... Mereka tidak ada disana..." Jawab Ubba.
"Hahahahahaa kalau begitu Ubba hanya membunuh para kecambah - kecambahnya saja" Tawa Ivar yang duduk diatas batu depan tenda Folk.
Ubba hanya meliriknya tanpa berkata apapun dan itu membuat Ivar muak dengan Ubba.
"Cih... Aku benci dengan tatapan mu itu!" Kata Ivar berhenti tersenyum riang diwajahnya.
"Sudahlah... Sudahlah.... Hari ini kita telah berhasil menjatuhkan satu pos... Ayo kita lanjutkan bersenang - senangnya... petualangan pertama sukses!" Semangat Folk mengangkat tangannya.
"Folk!!!! Beraninya kau membawa setengah prajurit ku!" Kata raja sebelumnya Durin, dwarf dengan jenggot merah berbadan besar namun pendek.
Folk tiba - tiba menembakan pistolnya kearah Durin namun sengaja ia buat meleset. Durin yang terkejut merasakan angin peluru tersebut baru saja melewati telinga kirinya terdiam membeku dan merasa merinding melihat Folk dengan wajah yang menyeramkan.
"Siapa yang membolehkan mu datang kesini?" Tanya Folk dengan wajah menyeramkan.
Melihat Folk dengan wajah seperti itu membuat seluruh dwarf menunduk ketakutan.
"A - aku ini mantan raja dwarf, apa yang kau -" Durin mencoba memberanikan diri untuk berbicara.
"Pergi..." Potong Folk dengan wajah menakutkan.
Karena takut pada Folk, Durin pun memilih untuk pergi bersama dengan beberapa prajuritnya yang mengenakan jirah besi tanpa warna apapun. Setelah Durin pergi dari perkemahan tersebut, suasana mencair kembali.
"Ok, ok... sampai dimana kita tadi?" Tanya Folk tersenyum riang kembali.
Semua dwarf hanya memandangnya dalam diam.
"Elelelele?" Folk terheran dengan reaksi mereka semua.
"Hahhhhh sudahlah... Ivar, pergilah ke wilayah ras elf... Ceritakan petualangan mu disana.." Perintah Folk sambil meninggalkan kerumunan itu.
"Yuhuuu!!!! Ini giliran ku...!" Teriak Ivar senang diatas batu.
"Ooooyaaa... Pergilah bersama Mjorn, Aku rasa ras elf sudah bersiap - siap atas kedatangan kita.." Kata Folk menyempatkan menoleh untuk menambahkan perintah.
"Aku siap kapan pun.." Sambar Mjorn saat mendengar namanya disebut.
Folk hanya tersenyum hingga giginya terlihat dan melanjutkan jalannya menuju tenda.
"Hoi Mjorn, jangan menghalangi jalan ku ya!" Kata Ivar dengan nada kesal.
"Aku tidak akan menghalangin jalan mu dasar pendek!" Kata Mjorn mengejek.
"Hah....??!!! Nyari ribut kau?!" Ivar emosi.
Saat mereka sedang saling menatap, Ubba dengan seenaknya berjalan diantara mereka dan mengganggu acara tatap menatap mereka tanpa berkata apapun.
"Cih... Sialan itu!" Kata Ivar kesal melihat tingkah Ubba. Sedangkan Mjorn hanya melihat Ubba tanpa berkomentar sedikit pun.
Kembali kepada ras dwarf yang sudah berada dihutan utara ras elf yang sekarang ini dipimpin oleh Ivar dan juga Mjorn.
"Yuhuuuuu!!!!! Itu pos mereka...." Kata Ivar mengangkat kedua tangannya dengan gembira.
"Ku harap ada seorang pendamping disana.." Sambung Ivar berharap.
"Mereka pasti ada disana... Itulah mengapa tuan Folk memberi mereka waktu untuk bersiap - siap.." Kata Mjorn.
"Hahahahahahha ku harap kau benar.. karena kalau hanya kecambahnya saja pasti akan membosankan seperti Ubba beberapa hari lalu.." Kata Ivar tersenyum.
"Sudahlah... Tidak usah basa - basi lagi.. Ayo kita serang.." Kata Mjorn tidak sabar.
"Ok.. Mari kita berangkat!"
Teriak Ivar didepan ratusan dwarf yang sudah menunggu dibalik hutan yang lebat.