The Archon

The Archon
Intimidasi yang Menakutkan



-Beberapa jam sebelum menuju ke menara dungeon-


Terlihat dalam lobby gedung pemerintahan, Kan, Kenny dan Watz berdiskusi di satu meja mengenai kasus monopoli white dungeon yang telah dilakukan seseorang.


"Kita harus ke menara dungeon sekarang" Kata Kan mengusulkan kepada mereka.


"Mengapa tidak menanyakan ke divisi pemburu saja?" Watz bertanya kepada Kan.


"Anggota ku sudah bertanya kepada gate keeper mengenai siapa yang telah memonopoli white dungeon, tetapi gate keeper menutupi identitasnya, itu berarti pemerintah terlibat dengan ini semua" Kan menjelaskan dengan rinci.


"Yah.. kalau pemerintah terlibat dalam kasus ini, cara satu-satunya yaitu benar yang dikatakan Kan.. Kita harus menghampirinya sendiri dan bertanya apa maksud orang itu melakukan ini" Kenny menimpa perkataan Kan dengan sebuah dukungan.


"Kalau begini sudah jelas keputusannya! Ajak beberapa anggota kalian untuk berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang buruk" Sambil beranjak pergi dari lobby Kan memberi usulan.


Gabungan dari ketiga guild teratas yang berkisar 120 orang datang beramai-ramai menghampiri menara dungeon, sontak hal itu membuat sebuah pertanyaan bagi mereka yang melihat iring-iringan tersebut. Media sosial pun ramai membahas hal ini dengan judul "Pemberantasan Monopoli White Dungeon" Post tersebut secara tidak langsung mengundang para party atau guild yang merasa dirugikan oleh tindakan monopoli ini.


Wajah serius mereka terlihat seperti seorang prajurit yang siap untuk bertempur dengan lawan yang merepotkan dan menara dungeon terlihat sesak dengan kehadiran mereka semua.


"Hei ada apa ini kok ramai sekali?"


"Kau tidak tau? hari ini ada gerakan untuk menumpas orang yang telah memonopoli white gate!"


"Apa mereka ingin menumpas tim yang baru itu?"


Kan yang mendengar kedua pemburu itu berbicara mengenai hal yang sedang ia selidiki segera menoleh kearah mereka. Kedua pemburu itu tersadar saat Kan mulai berjalan menghampiri mereka, seketika raut wajah merekapun berubah menjadi sebuah raut ketakutan karena pemburu top 1 di negara Indonesia itu datang dengan wajah yang menyeramkan.


"Bisa kalian jelaskan mengenai tim itu?"


Para pemburu itu harus mendongak keatas karena tubuh Kan yang begitu besar bagi mereka. Setelah mendengar sedikit cerita dan posisi Tim Rado berada, Kan dan iringan gabungan itu segera menuju ke lantai 2 dimana Rado dan timnya sedang menyelesaikan dungeon terakhirnya.


Secara kebetulan saat Kan dan iring-iringannya sampai ke lantai 2, Rado dan timnya juga baru selesai dalam raid tersebut. Kan yang merasa kalau tim Rado lah dalang dibalik ini semua segera mendatangi mereka.


"Apa kau yang telah memonopoli dungeon?"


Rado dipaksa untuk mendongak keatas untuk bisa melihat wajah Kan yang sedang menatapnya dengan sombong dan mengintimidasi. Bagi Kan Rado hanyalah cecunguk yang baru saja naik daun dan tidak mengetahui posisinya sekarang.


"Hmph"


Rado hanya tersenyum santai dibalik maskernya untuk menanggapi pertanyaan Kan dan Kan yang menyadari kalau Rado hanya tersenyum segera memperingatinya.


"Kau tersenyum dihadapan ku?" Kan mulai mengintimidasinya dengan mengeluarkan sedikit forcenya.


Force merah darahnya itu sontak membuat para pemburu yang berada disana merasa tidak nyaman karena konsentrasi dari aura force milik Kan yang sangat besar. Namun tidak dengan Rado, dia masih tetap menatap Kan dengan santai dan tersenyum.


"Kalau kau tidak menjawab, aku akan membuat mu menyesal!" Kan mulai mengancam.


"Coba saja" Masih dengan senyumannya Rado menantang.


"Keparat!!!" Kan mulai terlihat kesal dan tidak sabar untuk memukul Rado.


Dibelakang kerumunan itu Kenji menghampiri Watz dan berbisik kepadanya. Watz yang mendekatkan dirinya kepada Kenji segera terkejut dan terbelalak menoleh kearah Rado.


[Dia?!! Dia orang yang telah mengalahkan bos dungeon sendirian itu?] Raut wajah Watz berubah setelah mengetahui Rado lah orang yang dibicarakan Kenji dan Billy.


________________________________


Diluar dungeon Tim Rado yang lain bergegas ke menara setelah melihat siaran live disalah satu platform media sosial mengenai kapten mereka, Geraldo terlihat begitu cemas sambil berlari dan menatap smartphonenya.


"Sobat... aku sudah bilang kalau rencana ini akan mengundang amukan para pemburu, tapi.. tapi mengapa kau.."


Ditengah perjalanan mereka menuju menara, mereka bertemu dengan Julie yang juga sedang tergesa-gesa menuju karena melihat live tersebut.


"Julie Violet!" Kata Geraldo saat berpapasan dengan dirinya.


"Kalian pasti partynya bukan?", Geraldo mengangguk menjawab pertanyaan itu, "Kalau begitu ayo cepat, kita harus menghentikan mereka"


Julie dan tim Rado yang lain segera berlari menuju menara bersama.


_____________________________


Choksi dan Bosman yang saat itu bersama dengan Rado segera melompat kedepan dan melindungi kapten mereka itu. Bagi mereka, ketiga kapten guild teratas adalah momok yang kuat dimata para pemburu Indonesia, tetapi karena loyalitas mereka terhadap Rado sangat tinggi, mereka berani sampai membahayakan diri.


"Tuan Kan ku peringatkan untuk tidak menyentuh kapten kami" Dengan berani Choksi mengarahkan perisainya kearah Kan yang besar tersebut.


Melihat keberanian Kapten dan wakapten tim 3 maju seperti itu, anggota yang lain juga beranjak kedepan untuk melindungi Rado meskipun dengan tubuh mereka yang bergetar hebat.


Tidak tinggal diam melihat lawan aksi lawan melindungi kapten mereka, para ketua party dan wakapten dari kedua guild itu juga maju kecuali anggota dari Guild Nova, mereka tidak maju karena suatu hal.


"Untuk mengalahkan mereka kami saja sudah cukup" Kata Karen dengan percaya diri, "Yoo kaka yang bermasker disana, kau tidak ada habisnya membuat ku tergila-gila" Puji karen menatap Rado dengan senyuman menggoda.


Rado hanya tersenyum mendengar itu, secara bersamaan Julie dan tim Rado yang lain tiba di lantai 2, tanpa instruksi sedikitpun mereka segera mengambil sisi yang sudah seharusnya mereka berada.


Pada party Rado


"Sobat.. aku sudah bilang kalau ini akan jadi seperti ini" Geraldo berbicara dengan cemas.


Disisi Iringan Kan


"Julie" Watz menyambut kedatangan Julie.


"Kapten! orang itu.." Julie terengah-engah berbicara kepada Watz.


Watz hanya mengangguk maksud dari Julie yang sedang khawatir itu.


Dalam kerumunan, Kenny menoleh kebelakang dan melihat guild Nova yang bertingkah aneh, mereka tidak melakukan tindakan disaat semua guild dan party mengambil peran mereka. Kenny yang berpikir ada yang tidak beres segera beralih kearah Rado yang jauh dibelakang sana dan berteriak sekencang mungkin.


"Hei apa kau menyebut dirimu seorang kapten? seorang pengecut yang bersembunyi dibelakang anggota sendiri itu tidak pantas disebut seorang kapten! Keluarlah dan selesaikan perbuatan mu secara jantan"


"Watz apa ini yang dinamakan solidaritas?"


Kenny menoleh kearah Watz yang saat itu hanya diam, karena tidak enak dengan Kenny, Watz segera maju untuk mensejajarkan diri dengan mereka berdua.


"Kapten!!"


Julie mencoba untuk meraih baju Watz untuk menghentikannya, namun Watz menoleh kearahnya dan tersenyum kepada wakaptennya itu.


Sedangkan dari sisi pemburu yang tidak ada kaitannya dengan perseteruan ini, mereka hanya bisa berbisik-bisik sambil mengambil rekaman dari susut yang berbeda.


"Matilah mereka! mereka berurusan dengan ketiga top negara kita" Dengan raut wajah yang cemas.


Disisi lain ada seorang pria dengan rambut pirang bersender ditembok dengan menyilangkan tangannya, wajahnya ia tutupi dengan topi sambil mengawasi perseteruan itu.


"Menyingkirlah!!" Kenny berteriak sambil mengeluarkan Aura forcenya yang berwarna hijau untuk membuat semua tim Rado yang berada didepan goyah.


"Tidak!! kami tidak akan menyingkir!!" Mereka semua menetapkan hati mereka untuk melindungi kapten mereka.


"Cepat atau akan ada korban!"


Kali ini Watz mengeluarkan forcenya yang berwarna Orange, ruangan itu didominasi dengan aura force dari ketiga kapten guild teratas dan hawanya membuat para pemburu menjadi sesak karena force mereka.


"Tidak akan!" masih dengan pendirian mereka.


Melihat situasi yang semakin runyam itu, Julie mengepalkan tangannya dengan lembut didada sambil menatap kearah Rado


.


"Rado..."


Sebuah kilas balik mengenai pertemuannya beberapa minggu lalu dengan Rado terlintas.


"Julie.. sepertinya beberapa minggu kemudian, para pemburu akan heboh" kata Rado saat itu pada sebuah restoran keluarga dipinggir jalan.


"Apa maksud mu?" Julie bertanya dengan heran.


"Hmm bukan apa-apa" Rado tersenyum sambil meminum kopinya.


Karena keteguhan dari para anggota party Rado yang menghalangi mereka, Kan menjadi lebih murka dan menaikan tensi forcenya, Forcenya semakin membesar dengan warnah merah terang dan sontak membuat mereka mulai perlahan mundur ketakutan. namun, ketegangan itu menyurut setelah Rado mengambil tindakan.


"Cukup!"


Dari arah belakang dengan wajah gelap Rado perlahan maju kedepan, barikade manusia yang sejak tadi membentengi Rado perlahan terbuka. Rado yang berjalan ditengah mereka sedikit demi sedikit mengeluarkan forcenya yang berwarna ungu secara bertahap.


"Ukhh Force apa ini? uhuk-uhuk dada ku terasa sesak, force dari orang itu seperti menusuk jantung ku!"


Kata salah satu pemburu yang sedang berada disisi kubu Rado sambil menyaksikan perseteruan itu, bukan hanya dia tetapi semua pemburu yang berada disana merasakan hal yang sama setelah Rado mengeluarkan aura forcenya.


Dalam dunia baru ini, sebuah force bisa dialirkan kedalam senjata untuk menyerang, sedangkan aura force digunakan untuk mengintimidasi lawan mereka sebelum bertarung dan aura force ini lebih menyerang psikis dibanding fisik.


Tidak hanya para pemburu kelas bawah saja yang merasakan kehebatan dari aura force Rado, tetapi juga dengan ketiga kapten itu. Mereka segera menarik mundur wakapten dan beberapa orang yang berada didepan mereka tadi karena merasakan ancaman. Sontak tubuh mereka yang ditarik paksa itu terjatuh kebelakang, "Apa maksud kapten menarik kami?", Mereka belum tersadar akan bahaya didepan mereka.


[Apa-apan Force miliknya?! Aku belum pernah merasakan yang seperti ini] Dalam benak Watz.


Mengetahui hal itu, mereka bertiga seperti bersinkronisasi mengenai ancaman yang sama, mereka segera mengerahkan semua aura force mereka dan memancarkannya bersamaan sampai menelan aura force berserta tubuh Rado. Jika seseorang sampai tertelan oleh aura force milik orang lain, itu bisa menguncang alam bawah sadar mereka.


Namun, sebelum tubuh Rado sepenuhnya tertelan oleh 3 aura force gabungan itu, Rado terlihat tersenyum dan segera memancarkan force berwana ungunya dengan cepat.


Aura Force Rado yang dahsyat itu keluar dengan suara seperti raungan iblis dan Force miliknya segera menelan ketiga force gabungan dari orang-orang yang dianggap paling kuat di Indonesia itu dengan cepat.


Tidak sampai situ saja, radius dari aura force Rado sampai bisa memenuhi lantai 2 menara tersebut.


Hal itu membuat semua pemburu yang berada di lantai tersebut merasakan efek dari aura intimidasi aura force milik Rado secara langsung dan juga membuat jaringan telepon menjadi kacau yang mana itu membuat live di media sosial terputus.


"Hei apa yang terjadi? Force apa itu?"


Komentar dari live tersebut dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat yang sedang menyaksikan perseteruan tersebut. Sedangkan yang berada didalam dungeon saat ini, sedang merasakan aura force yang sangat menusuk diri mereka.


"Ukhhhh aura force ini, tolong..... aku tidak bisa berdiri" Kata pemburu yang berada disana.


Bukan hanya lawan dan pemburu tidak bersalah saja yang merasakan aura force Rado, namun aura intimidasinya itu juga dirasakan oleh anggota partynya sendiri.


[Apa ini kekuatan dari bos yang sebenarnya!?] Dalam benak Guren menahan sakit dari intimidasi bosnya tersebut.


"Sobat... kekuatan apa ini?" Geraldo mencoba berkata namun tak terdengar oleh Rado.


"Orang asia ini..!!! Ukh... bisa mengancam Amerika dikemudian hari!" Kata orang asing yang juga terkena imbasnya.


Kapten dari ketiga guild itu pun juga merasakan kehebatan force milik Rado, aura force mereka yang sejak tadi mengintimidasi semua orang, sekarang malah tertelan oleh force milik Rado.


Sedangkan Rado terus berjalan kearah mereka dengan tatapan membunuh.


[Auranya sangat mengintimidasi!!] Wajahnya mulai pucat, [Aku seperti melihat dewa kematian sedang menghampiri ku!!] dalam benak Kan saat merasakan force milik Rado.


Rado semakin dekat kearah mereka bertiga dan ia menjulurkan tangannya untuk meraih salah satu dari mereka, dalam imajinasi mereka Rado seperti lebih besar dibanding mereka bertiga.


Bola mata Kan mulai bergetar dan terlihat tangan Rado semakin mendekat dari pantulan matanya. Namun tiba-tiba sebuah tangan lembut menghentikan Rado untuk menggapai Kan.


"Berhenti!!!"


-----------


Note : Kayanya kepanjangan, Maaf ✌️