The Archon

The Archon
Pertemuan Kemiliteran



Didalam sebuah ruangan pertemuan yang sudah dihadiri para kapten perang tiap regu yang berpartisipasi saat bertempur melawan ras demigod pada desa Fuso, mereka duduk pada kursi yang sudah disediakan dengan meja yang cukup panjang sebagai media penghubung ditengahnya. Beberapa saat kemudian Rado, Jaquile dan Albert datang bersama dengan para kapten pengintai. Semua perhatian pun segera terfokus kepada mereka yang baru saja datang kedalam pertemuan tersebut. Para kapten pengintai yang semulanya mengikuti jejak Rado, berhenti dan duduk pada kursi yang masih kosong bersamaan dengan para kapten perang, sedangkan Rado, Jaquile dan Albert terus melangkah kedepan mereka sebagai titik pusat perhatian pada pertemuan kali ini.


Senyuman yang terukir diwajah mereka menyambut Rado dan para pendamping dalam pertemuan kali ini. Mereka semua tidak sabar dengan langkah apa yang akan diberikan oleh Rado kepada mereka. Hati mereka begitu siap dengan misi invasi yang mungkin saja akan diutarakan dalam pertemuan kali ini, jantung yang berdetak cepat pun juga tidak bisa berbohong akan ketegangan dimana momen itu akan datang. Sebuah ambisi mulai terukir dan terbuat dibenak mereka setelah Rado mengumumkan kata invasi untuk memperluas wilayah ras manusia.


Pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian tempur mereka masing - masing, dimana para close range memakai sebuah jirah, mage memakai pakaian yang sedikit longgar dan para ranger lebih mengenakan pakaian tempur yang lebih ketat dibanding kedua kelas lainnya.


"Baiklah.. sepertinya kalian sudah berkumpul semua.." Rado memulai pertemuan tersebut.


"Mungkin kalian sudah mendengar secara merinci mengenai invasi ras demigod yang menyerang wilayah ras kita dan juga ras lain, lalu karena penyerangan itu juga menyebabkan kematian yang tidak sedikit pada desa Fuso. Pertama, mengenai desa Fuso, aku ingin desa itu segera mungkin disterilkan agar desa tersebut bisa digunakan kembali oleh para warga yang baru... Kedua, beruntungnya adalah ras demigod tidak mengambil holy essence yang tertanam didesa tersebut dan dapat disimpulkan kalau tujuan ras tersebut adalah untuk mengurangi populasi kita.." Rado mengeluarkan asumsinya.


"Apa?! Mengurangi populasi kita?!" Seru para prajurit yang hadir dalam pertempuran tersebut.


"Itu mungkin saja benar.. tetapi kenapa sekarang mereka baru bergerak untuk menumpas ras lain dan apa motif mereka melakukan penyerang besar - besaran pada semua ras yang ada?" Pikir Rudy ditengah bisikan para kapten yang lain.


"Ini bukan lagi peperangan karena perebutan holy essence seperti yang kali hadapi selama ini. Dengan bangkitnya para Archon disetiap ras mungkin ini akan menjadi peperangan untuk mengeleminasi ras - ras yang ada dan menguasai planet ini..." Sambung Rado dengan wajah serius.


"A-apa?! Jadi ini akan menjadi peperangan seperti para pendahulu kita?!" Tanya Jason.


"Ya... Kau benar, itulah mengapa aku membentuk dan membagi kalian per - divisi. Divisi satu yang berisikan enam orang sebagai kapten perang dan divisi dua yang berisikan empat orang sebagai kapten pengintai, ini juga akan menggantikan sistem sebelumnya, dimana kapten dari tiap regu petualang atau prajurit terpilih hanya saat perjalanan atau pada saat waktu holy essence muncul. Posisi kapten ini akan bersifat kekal tidak bisa tergantikan. Seorang kapten akan dibebas tugaskan bila ia melakukan pengkhianatan atau ia mati dalam pertempuran. Kedua divisi ini memliki tugas yang sangat bertolak belakang namun saling berkaitan... Aku ingin divisi pengintai terus memberikan laporan setiap tiga hari sekali mengenai pergerakan, status wilayah serta kondisi wilayah disetiap ras - ras dan untuk divisi perang akan bersiap kapanpun untuk melakukan invasi bila cela kesempatan tersebuka... kami disini sangat bergantung kepada kalian para divisi pengintai, setiap laporan kalian akan menjadi pemicu bagaimana ras manusia akan bertindak.."


Mendengar penjelasan dari Rado membuat para kapten divisi pengintai merasa diselimuti keraguan akibat memikul sebuah beban berat. Selama ini mereka melakukan pengintaian tidak seintense yang akan dijalankan nanti, melaporpun tidak berskala hanya pada waktu - waktu tertentu atau ada sebuah pergerakanlah mereka baru akan kembali dan melapor.


"Kenapa? Kalian merasa tidak sanggup?" Tanya Rado saat melihat wajah mereka yag tertunduk gelisah.


"Ti-tidak... Memang aku merasa tugas ini sangat berat, akan tetapi aku akan mencobanya demi ras manusia.." Kata Devian menatap Rado dengan kecemasan.


Tangannya terlihat bergetar saat mengatakan itu.


"Apa kalian sudah mengumpulkan orang - orang yang akan ikut dengan kalian, seperti yang ku minta sebelum pertemuan ini?" Tanya Rado kepada divisi pengintai.


"Kami sudah mengumpulkan delapan puluh prajurit dan masing - masing dari kita akan membawa dua puluh orang yang akan kami sebar disetiap wilayah musuh kita.." Devian menjawab.


"Lalu apa kalian sudah memikirkan prosedur bagaimana cara menyebarkan kedua puluh orang itu?" Tanya Rado balik.


"Ini baru saja terlintas dikepala ku, aku menyarankan untuk membagi kedua puluh orang itu menjadi tim kecil dan mengawasi wilayah musuh secara berkala... lalu terapkan sistem penggantian disetiap tiga hari sekali dalam mengintaian sesuai seperti yang diperintahkan oleh tuan Rado..Tujuan penggantian itu, aku usulkan agar tidak ada pergerakan yang terlewatkan sedikitpun" Jelas Levi.


"Bagus.. Aku suka dengan pemikiran mu.. lalu apa kalian sudah terpikirkan mengenai siapa yang akan memegang wilayah tiap ras?" Tanya Rado lagi.


"Mengenai itu, kami akan tetap dengan posisi kami sebelumnya.. yaitu Lucero yang akan mengintai di wilayah Orc, Levi di wilayah Elf, Joon di wilayah para Dwarf dan aku akan mencoba mendekat ke wilayah demigod.." Kata Devian menjelaskan posisi mereka.


"Itu gila! Wilayah demigod sangat lah ketat.. apa kau yakin?!" Tanya Albert sedikit meninggi.


"Kalau bukan diri ku siapa lagi yang mampu mengintai daerah mereka? Aku akan menjaga jarak aman dalam wilayah mereka.. itulah mengapa aku merekrut para ranger untuk masuk kedalam regu ku.." Senyum Devian.


Saat itu Rado hanya bisa memandangi wajah Devian yang sudah membulatkan tekadnya, selama ini belum ada yang bisa mengintai di wilayah demigod karena penjagaan yang ketat. Akan tetapi jika wilayah demigod luput dari pengintaian, ada sebuah ketakutan bila kejadian invasi yang tidak terduga kemarin itu akan terjadi lagi. Jadi Rado tidak memberikan komentar apapun terhadapnya meskipun mungkin kalau saja Yoga mengetahui hal ini, dia akan meminta Rado untuk melarangnya.


"Apa kau yakin?" Rado mencoba untuk mengetes keyakinannya.


"Yah! Aku yakin!" Jawab Devian dengan cepat.


Rado melihat kearah bola mata Devian yanng menunjukan sebuah kesiapan, karena ia merasa Devian memiliki tekad kuat dan sudah membulatkannya, maka Rado tidak memiliki ke khawatiran yang berlebih terhadapnya.


"Lalu untuk divisi pertama, setiap dua regu dari kalian akan dikepalai oleh satu pendamping... mungkin agak sedikit aneh kalau disebut pendamping.. bagaimana kalau aku ganti dengan sebutan Jendral perang untuk para pendamping?" Toleh Rado kearah Jaquile dan Albert lalu beralih kembali kepara kapten.


"Hmmm itu sepertinya lebih baik.." Kata Jaquile.


"Ya.. kami setuju dengan sebutan itu" Saut yang lain.


"Ok.. Kalau tidak ada keluhan dari kalian mengenai sebutan tersebut.. Lalu ada satu lagi yang ingin ku sampaikan kepada kalian... cari orang yang bernama Zowie disetiap wilayah ras manusia.." Rado meminta.


"Zowie? Apa kau pernah mendengarnya?" Bisik para kapten kesatu sama lain.


"Tuan... Siapa kah dia sampai kau meminta kami untuk mencarinya?" Tanya Nagatomo kepada Rado.


Rado menoleh kearah Nagatomo lalu menoleh kearah Julie mengingat kejadian di toko Zowie kala itu.


"Dia memiliki sesuatu yang bisa menunjang militer kita.." Senyum Rado.


Mendengar itu para kapten terkejut, Alber pun juga ikut terkejut dibuatnya.


"Apa yang bisa dia lakukan untuk ras manusia? Jujur selama aku menjabat sebagai pemimpin aku belum pernah mendengar namanya.. kalau memang dia orang hebat pasti kami sudah mengetahuinya.." Jelas Albert mengenai Zowie.


"Dia hanya orang pemalu.. tetapi dia sangat berbakat.. Aku akan ikut turun mencari dirinya.. Julie, apa kau bisa menemani ku?" Tanya Rado menoleh kearah Julie.


"Aku?" Julie terkejut saat dirinya diminta tolong menemani Rado.


"Ya.. Apa kau tidak ingin menemani ku?" Senyum Rado.


"Tidak.. bukan begitu.. aku hanya heran mengapa anda ingin ditemani oleh saya sedangkan ada tuan Jaquile dan tuan Albert disamping anda..." Jelas Julie mengenai pertanyaan sebelumnya.


"Jaquile dan Albert memiliki tugas yang lain.. Jadi aku butuh teman untuk menemani ku dalam pencarian ini.." Jawab Rado.


"Baiklah.. dengan senang hati saya akan menemani anda.." Senyum manis Julie untuk Rado.


Rado tersenyum dengan jawaban Julie, "Sepertinya pertemuan kali ini sampai disini saja... Untuk Devisi dua, kalian lakukan misi secepat mungkin.." Perintah Rado.


"Baik!" Kompak mereka berempat.


Pertemuan pun telah usai, sistem militer yang baru telah terbentuk dan mulai menjalankan misi mereka. Devian dan kapten pengintai yang lainnya pun mulai bergegas menjalankan operasi mereka. Sedangkan para kapten perang meneruskan instruksi dari Rado mengenai pencarian seseorang bernama Zowie ke seluruh wilayah ras manusia. Pergerakan ras manusia pun mulai dijalankan dengan secara bertahap sebelum benar - benar melalukan invasi ke wilayah para ras lain.


Disisi lain ras lain pun tidak tinggal diam, mereka juga mulai bersiap untuk melakukan pergerakan setelah invasi ras demigod di wilayah mereka. salah satunya ras Orc yang akan memulai invasi ke salah satu wilayah para elf dengan Laguun sebagai kapten iringan para Orc tersebut.


"Tuan Laguun... Didepan sana adalah wilayah elf yang dihuni oleh para dark elf" Kata salah satu anggotanya.


"Hmm sepertinya kita sudah disambut oleh mereka" Kata Laguun melihat prajurit elf dengan kulit yang lebih gelap dibanding elf lainnya.


Wilayah dengan sebuah tebing padat pemukiman itu ditinggali oleh ras dark elf. Prajurit elf tersebut sudah menunggu datangnya iring - iringan para Orc dan bersiap untuk melakukan pertempuran kapan saja. Kedua kubu pun mulai saling berhadap - hadapan satu sama lain. Laguun dengan pedang besarnya melawan seorang dark elf yang sedang memegang sebuah busur hitam dilengannya.


"Argghhhhh!!!!!"


Teriak Laguun mengawali penyerangan tersebut.