The Archon

The Archon
Black Dungeon Bagian 2



Beberapa saat yang lalu pada hari yang sama di Amerika serikat, pemburu Amerika dan beberapa negara sudah berdiri didepan black dungeon yang terbuka lebar. Pria yang terlihat pada saat Rado melawan ketiga kapten guild teratas Indonesia hadir meramaikan tim Amerika Serikat. Ia adalah seorang mage dengan jubah berwarna merah, disampingnya berdiri seorang pria berkulit putih berambut panjang dengan gradasi warna kuning dan merah dibawah, ia mengenakan jirah meren maroon dengan senjata palu yang disetiap sisinya memiliki sebuah duri tajam terpampang dipunggungnya.


"Brad, ku dengar tuan Carlton meminta presiden negara baru itu untuk membantu kita bukan? Kalau begitu apa orang yang kau beritahu pada ku saat itu akan hadir?" Kata pria yang membawa palu tersebut.


"Mungkin saja tuan.. ku dengar dia sudah diangkat menjadi ketua pemburu dinegara tersebut, apa kau masih ingin merekrut dirinya untuk masuk ke guild kita?"


"Akan ku coba untuk merekrut orang itu, melihat aksinya saat di Australia membuat darah ku berdesir"


Disamping itu seorang pria latina dengan kumis tipis hadir bersama dengan kelompoknya, rambut klimis lepek tersisir rapih kearah belakang dan ia sedang menghisap cerutunya dengan santai. Dipinggangnya terdapat sebuah pedang jenis rapier.


"Lihatlah... siapa yang berada disini? Apa kabar mu Toni?" Sapa pria yang membawa Palu itu.


"Hahaha aku datang kesini untuk membantu negara mu dan untuk mempererat hubungan negara kita Tom" Kata Toni sambil membuang asap cerutunya.


Tak lama dari itu pemburu dari negara Genosha juga hadir dengan ketidakikutsertaan Rado dan timnya. Kedatangan mereka disambut dengan tatapan dari para pemburu yang sudah hadir terlebih dahulu di lokasi. Tom dan Brad melirik dan menelaah kedalam rombongan itu untuk mencari kehadiran Rado, namun mereka tidak melihatnya berada dikerumunan tersebut.


Saat rombongan itu berkumpul bersama para pemburu yang lain, Tom segera menanyakan keberadaan Rado.


"Dimana ketua kalian?"


Pria yang membawa dua kapak dengan jirah yang hanya menutupi bagian penting dalam tubuh maju kedepan dengan senyuman, "Aku Wen Li, Kali ini aku yang diberikan wewenang untuk mengepalai pemburu dari negara Genosha, Kapten Rado saat ini sedang memulihkan diri akibat pertarungan dengan bangsa Orc"


"Hah?! bagaimana bisa dia beristirahat saat keadaan genting seperti ini?!" Tanya Tom terkejut dengan ketidak hadiran pria yang ingin sekali ia temui.


"Mungkin dia takut menghadapi black dungeon.." Tukas Toni terhadap Rado.


"Ahahaha.... kapten Rado bukanlah pengecut seperti yang anda kira" Dengan senyuman yang diberikan Wen Li, membuat Toni agak sedikit kesal.


"Cih.. dasar kecoak!"


Toni segera berpindah tempat dari sana, diikuti dengan mata julid dari Wen Li.


"Wen Li.. bukankah dia Toni ace dari Italia?" Tanya seorang dengan pakaian ranger berbisik pada Wen Li.


"Yah... kalau dia disini, mungkin kapten sudah menaklukan negaranya sekarang" Wen Li tersenyum sambil melirik kearah Toni.


Setelah perseteruan tersebut, Tom mengambil alih perhatian dengan menepuk tangannya.


"Ok, Aku Tom perwakilan dari Amerika yang akan menjadi kapten utama pada raid kali ini"


Semua pemburu menatap dirinya dengan serius.


"Ayo kita tunjukan kepada dunia kalau black dungeon bukanlah ancaman bagi dunia"


Pidato yang membangun semangat dari Tom membuat para pemburu bersemangat, Namun semangat mereka tidak bertahan lama. Sama seperti yang dihadapi oleh pemburu di timur tengah, mereka diratakan dengan mudah oleh para monster yang mendiami black dungeon tersebut. Dungeon yang berada di Amerika memiliki medan hutan dengan Troll sebagai penunggu dungeon tersebut.


Disamping itu Toni berusaha keras mengeluarkan skill miliknya, tusukan cepat dari pedang rapiernya tidak bisa menembus pertahanan dari Troll, force yang dipancarkan oleh para Troll seperti sebuah jirah pelindung yang keras. Tom pun juga demekian, senjata palunya tidak bisa membuat satu Troll pun goyah. Setiap ia memukul Troll tersebut, Tom merasa seperti memukul sebuah benda yang sangat keras yang membuat tubuhnya bergetar hebat.


"Tom bagaimana ini?!" Tanya Toni dengan cemas.


"Aku tidak tau! mereka sangat kuat!"


Dilain sisi terlihat Wen Li yang terbaring babak belur akibat serangan dari Troll, mulai terlihat goyah dengan darah yang mulai mengalir dikepalanya, penglihatannya mulai kabur dan tubuhnya sangat lemah. Sementara ia terbaring lemah ditanah, salah satu Troll datang menghampirinya dengan air liur yang menetes dari mulutnya. Wen Li pun tersenyum sambil menoleh kearah Troll yang mendekat.


[Ah... sepertinya ajal ku sudah dekat... apa kapten Rado berhasil?] Dalam benaknya sebelum kematian menghampirinya.


Troll itu segera mengangkat Wen Li yang lemah dan menghadapkannya kearah muka Troll tersebut. Troll itu memandangi Wen Li yang sudah babak belur tersebut, ia seperti menunggu saat-saat yang berharga untuk memakan mangsanya. Wen Li yang memiliki sisa tenaga hanya bisa memukul kepala Troll itu dengan lemah, dan pada akhirnya Troll itu segera mendekatkan Wen Li kedalam mulutnya dan menggigit paksa wajahnya. Darah yang mengalir deras turun kebawah dengan kejangan kaki Wen Li yang berlahan diam.


___________________________


Di lain sisi, Black dungeon yang berada di Brazil terlihat kosong. ternyata pertempuran disana sudah selesai dengan keadaan kalahnya para pemburu, mereka dimasukan kedalam sebuah penjara oleh Lycan yang mendiami dungeon tersebut.


Terlihat mereka dipenjara disebuah goa yang gelap, seekor Lycan yang hampir menyerupai manusia segera mengeluarkan salah satu pemburu wanita dari penjara tersebut. Ia menyeretnya kesebuah kerumunan Lycan yang sedang menyantap organ tubuh manusia. Ia melempar wanita itu kedekat kerumunan Lycan dan merobek pakaiannya hingga tak ada sehelai pun. Wanita itu menangis dan memohon ampun ke Lycan tersebut, namun, tangisannya tidak berbuah manis. Ia dikerumuni oleh para Lycan dan disetubuhi sebelum ia dimakan oleh para Lycan tersebut.


_____________________________


Beberapa jam kemudian di London, Inggris. Dimana para petinggi PPMD masih berkumpul disana.


"Hari ini para pemburu memulai operasinya, ku harap mereka berhasil" Kata Richard saat duduk bersama petinggi yang lain.


"Tenang saja, mereka tidak kalah hebat dengan pemburu top dunia" Kata Diwei sambil meminum secangkir teh.


Baldrik hanya diam sambil menunggu perkembangan dungeon yang berada di tiga negara. Tiba-tiba seorang petugas yang mengenakan jas datang dengan membuka paksa pintu tersebut.


"Tuan!!!!" Kata petugas itu dengan cemas.


"Tidak sopan! apa yang membuat mu tidak mengetuk ruangan sebelum masuk?!" Kata Diwei meninggi.


"Maafkan aku tuan Diwei... tapi.."


"Tapi apa?!"


"Ini sangat genting... saat ini negara Italia sedang mengalami kerusuhan yang hebat!" kata petugas itu dengan cepat.


"Apa?!"


Terkejutnya para petinggi didalam ruangan itu membuat suasana menjadi lebih tegang karena salah satu negara yang terbilang keras untuk ditaklukan mendapati serangan.