
Dalam kekacauan yang telah diakibatkan oleh kedua kubu yang bersiteru, sebuah lubang besar yang terbentuk karena ledakan dari kekuatan Albert menghiasi medan pertempuran saat ini. Para prajurit dari kedua ras berhenti bertarung setelah menyaksikan cahaya ledakan yang keluarkan oleh Albert. Mereka sungguh terperengah dengan kekuatan dahsyat yang dilancarkan oleh Albert hanya untuk membunuh Aslav.
"Tu-tuan Aslav?!" Panggil prajurit ras demigod yang tersisa dengan resah.
Dilain sisi, sorakan kemenangan dari prajuit ras manusia bergemuruh disana. Mereka terlihat bersemangat dengan kematian seorang kapten demigod yang menjadi kepala dalam operasi kali ini. Sorakan itu juga turut menurunkan moral semangat dari para prajurit demigod yang telah kehilangan kapten mereka dan membuat para prajurit begitu tidak bergairah untuk melanjutkan peperangan itu.
Mereka terpukul dengan kematian Aslav, beberapa dari mereka pun lebih memilih melarikan diri dari medan tersebut. Tetapi kesedihan yang dialami oleh para prajurit demigod hanya berlangsung sebentar, tubuh dari Aslav telah bersinar terang hingga menyinari medan pertempuran tersebut. Para ras demigod dan juga ras manusia terlihat terkejut bersamaan menyakisakan momen tersebut.
"Apa yang terjadi?!" Tanya Rudy saat berada ditengah - tengah pertempuran yang terhenti.
"Aku tidak tau, tapi tubuh dari kapten mereka telah bersinar!" Jawab Hawl saat berada didekatnya.
Para ras manusia begitu terkejut sekaligus merasa was - was dengan kejadian tersebut. Insting dalam jiwa mereka pun menandakan ada sesuatu yang tidak beres dan juga ancaman. Kejadian kali ini membuat bulu kuduk mereka bergidik, cahaya itu semakin terang dan semakin terang sampai beberapa saat kedepan menyelimuti tubuh Aslav yang terbaring didalam lubang bekas ledakan tersebut.
Setelah beberapa saat cahaya itu menyinari tubuhnya, cahaya itu pun meredup dan menghilang bersamaan dengan luka yang telah diderita oleh Aslav. Ia perlahan bangun dari tidurnya dan sekali lagi mengusungkan tombaknya kepada Yoga dan Albert seperti tidak terjadi apa - apa.
"Kalian hebat... Kalian sampai bisa memaksa ku untuk melakukan relife.." Senyum Aslav.
Melihat Aslav yang kembali bangkit membuat Yoga, Albert dan juga semua ras manusia begitu terkejut.
"Ba-bagaimana bisa ia bangkit kembali?!" Tanya Kan terkejut melihat momen itu.
"A-" Yoga terkejut bersama Albert tanpa bisa berkata apa - apa.
Kebangkitan dari Aslav pun membuat moral dari para prajurit demigod kembali membara, mereka turut senang dengan kebangkitan kembali dari kapten perang mereka. Gemuruh yang awalnya telah didominasi oleh ras manusia, berganti dengan gemuruh sorak dari prajurit demigod yang tidak begitu banyak namun dapat menurunkan kepercayaan diri dari ras manusia.
"Dia monster!" Hawl terkejut.
Albert yang saat itu sudah merasa kelelahan karena force yang ia gunakan cukup banyak membuat ia begitu khawatir bila harus satu lawan satu dengan Aslav. Ia melihat kearah Yoga yang juga terlihat sudah kelelahan setelah dibuat kewalahan oleh Aslav dalam pertarungan sebelumnya. Setelah itu ia beralih kembali melihat kearah Aslav yang sudah berjalan kearah mereka berdua sambil menenteng tombak andalannya. Ia tersenyum seperti luka yang telah ia dapat sudah hilang dan membuat tubuhnya kembali seperti sediakala.
Albert juga berpikir mengenai pertarungan seorang mage melawan seorang close range tanpa perlindungan dari pihak ketiga adalah pilihan yang sangat bodoh. Seorang mage membutuhkan jeda beberapa saat untuk mengeluarkan sebuah serangan force yang kuat dan itu membutuhkan pengawalan dari kelas yang lain. Ia bisa saja mempercepat jeda rapalan serangan force yang ia miliki, hanya saja kekuatan dari serangan yang dilancarkan itu tidak akan berdampak besar pada Aslav.
"Apa yang harus ku lakukan?! Melawannya?! Atau aku harus menarik mundur pasukan?! Dia ini sangat tidak masuk akal! Aku baru kali ini melihat makhluk hidup yang dapat hidup kembali setelah diperkirakan mati!" Dalam benaknya bingung.
Albert saat ini sangat bingung dengan pilihan alur peperangan, ia tidak menyangka kalau kapten peperangan kali ini sungguh kuat dengan kekuatan yang bisa membangkitkan dirinya. Tetapi sebagai seorang yang telah diberikan sebuah kepercayaan oleh Archon yang baru, ia pun membulatkan tekadnya untuk mencoba berhadapan langsung dengan Aslav yang sedang berjalan kearah mereka.
"Tidak ada pilihan lain! Aku akan menahannya..." Dalam hatinya menyemangati diri.
"Yoga... pergilah dan tarik mundur pasukan... beritahu tuan Rado untuk memberikan bantuan secepatnya... aku merasa kalau demigod itu berada di level yang berbeda dan bisa kapan saja meratakan kita..." Kata Albert saat memasang badan didepan Yoga.
Yoga yang saat itu sudah babak belur menatap punggu Albert yang begitu gagah.
"Jangan melakukan hal bodoh.. apa yang bisa dilakukan seorang mage tanpa seorang tank?" Balas senyum dari Yoga.
Mendengar itu Albert menoleh kearah Yoga.
"Tapi.. Kau sudah terluka!" Albert khawatir dengan keadaan Yoga.
"Hahahahaha jangan meremehkan ku... meskipun aku kehilangan tangan dan kaki ku, aku akan terus maju meskipun harus merayap.." Kata Yoga dengan semangat yang tersisa.
Mendengar perkataan dari Yoga membuat Albert begitu terharus dan darahnya berdesir, ia merasa kalau perkataan dari Yoga sungguh keren hingga membuat dirinya merinding.
"Baiklah.. tetapi jangan terlalu memaksakan diri mu.." Kata Albert.
Yoga pun berjalan perlahan kedepan Albert untuk melindunginya dari serangan jarak dekat serta menyambut kedatangan Aslav. Wajahnya terlihat menahan sakit akibat tulung rusuk yang telah patah. Yoga mengganti posisi perisainya ketangan kanannya karena tangan kirinya mengakibatkan rasa sakit pada bagian tubuh kirinya bila ia masih berjuang bertahan dengan tubuh bagian kiri. Ia memasang kuda - kuda yang terlihat lemah dengan perisai yang sudah siap menyambut kedatangan Aslav.
Aslav terhenti ditengah perjalanannya menuju mereka berdua dengan sebuah senyuman serta keoptimisan yang ia terlukis diwajahnya.
"Oiya? Kau masih bisa berdiri?" Tanya Aslav dengan nada mengejek kepada Yoga.
"Hahaha.. sebelum membunuh mu aku tidak akan tumbang!" Balas Yoga.
"Hahahaha kau masih bisa - bisanya berlagak kuat dengan kondisi seperti itu?! Baiklah... kali ini aku tidak akan menahan diri lagi... sebelumnya itu aku memang lalai karena merasa hanya satu kecoa saja yang ku hadapi, tapi ternyata...." Ia melihat kearah Albert.
Aslav segera mengudarakan demiclesnya kembali dengan intensitas force yang lebih besar dari biasanya. Daratan sekitar bergemurah dengan force keeemasan yang hebat. Para ras manusia begitu tertegun dengan tekanan aura yang dihasilkan oleh Aslav saat ini. Disisi lain moral para prajurit demigod kian meningkat dan mulai bersiap untuk menghadapi ras manusia meskipun mereka kalah dalam hal jumlah.
"Hoi! Jangan terfokus pada para kapten.. Sepertinya kita mendapat kembali tamu yang telah pergi..." Kata Jason menyadarkan mereka yang sedang tertegun dengan kekuatan Aslav.
Yoga dan Albert dibuat resah dengan tekanan Aslav saat ini, mereka pun juga mengudarakan demicles mereka sekali lagi, namun dengan instensitas force yang tidak sebanyak sebelumnya. Kecerahan cahaya dari mereka berdua pun hampir tertelan dengan kecerahan dari demicles milik Aslav. Tanpa menunggu lama, Aslav segera melesat dengan penuh kekuatan, Yoga dan Albert pun segera bersiap dengan datangnya Aslav. Strategi mereka saat ini adalah dengan melakukan seranga balik disaat Yoga menahan beberapa saat serangan tersebut.
Albert yang sudah menjaga jarak dibelakang Yoga saat ini segera mempersiapkan sebuah rapalan elemen tanah dengan dampak serangan yang luas. Tanah dengan batu yang berukuran variasi yang berada dibawah kakinya terangkat bersamaan dengan rapalan yang muncul didepan tangannya. Tanah dan batu itu berkumpul dan bersatu lalu mengeras membentuk sebuah kumpulan duri yang berukuran sedang. Setelah duri - duri itu sudah siap, Albert segera melepaskan tembakan kumpulan duri itu kearah Aslav yang sedang melesat kearahnya mereka.
Hujan duri diperuntukan agar melukai Aslav serta menghambat lajunya, akan tetapi kecepatan yang dimiliki Aslav diluar dugaan mereka, ia mampu menghindari semua serangan hujan duri itu dengan sangat lihai.
"Apa?!"
Albert begitu terkejut dengan tidak ada satupun serangannya yang mampu mengenai Aslav. Dalam hitungan detik kemudian Aslav sudah menyempitkan jarak mereka. Kali ini giliran Yoga yang mengambil peran, ia segera melapisi perisainya dengan force yang tersisa hingga benturan pun kembali terjadi. Tusukan tombak yang dilancarkan oleh Aslav begitu kuat hingga membuat Yoga dipaksa mundur. Yoga terdorong menahan tusukan tombak tersebut, wajahnya terlihat begitu kesulitan saat menahan serangan tersebut.
"Hahahahahha mana kesombongan mu tadi?!" Tawa Aslav saat menyerang Yoga.
Disaat bersamaan sebuah serangan dari elemen tanah pun kembali hadir menuju kearah Aslav, namun serangan itu hancur sesaat sebelum mengenai tubuh Aslav akibat tergerus aura force yang mengeliling tubuhya. Aslav segera memberikan dorongan lebih kuat kepada perisai Yoga yang mengakibatkan dirinya terpental kebelakang hingga kedekat Albert.
"Yoga!"
Albert begitu panik melihat Yoga yang terguling didepannya dengan nada kesakitan, ia beralih kembali menatap Aslav yang berjalan perlahan kearah mereka. Kali ini Yoga benar - benar tidak bergerak lagi karena batas tubuhnya sudah mencapai batas. Ia begitu kesal dengan kondisi dirinya yang sekarang, ia terlalu naif karena menyangka kalau Aslav dapat ia tumbangkan dengan kemampuannya sendiri. Ketidaktahuannya mengenai kemampuan lawan membuat Yoga tersungkur saat ini. Setelah demicles yang Yoga udarakan kembali redup dan perlahan hilang, Aslav kembali merendahkannya.
"He... sudah tidak bisa bangkit lagi?" Tanya Aslav mengejek.
Yoga hanya bisa mendengarkan Aslav mengejeknya dengan kesal dalam kondisi terbaring. Disisi lain Albert lah yang sekarang memasang badan tanpa tameng yang melindunginya.
"Sekarang kecoa satunya yang akan berhadapan dengan ku?" Kata Aslav tersenyum.
"Majulah... Aku akan menghentikan mu..!" Dengan percaya diri Albert menantang Aslav.
"Baiklah kalau begitu.."
Aslav segera melesat kembali dengan cepat kearah Albert, tombak yang sudah menumbangkan Yoga itu segera Aslav lancarkan kearah Albert. Dari kejauhan terlihat Rado dan Jaquile sedang mengamati pertarungan mereka semua.
"Jaquile.." Satu kata dari Rado.
"Ok"
Jaquile segera melesat dengan cepat kearah mereka bertiga setelah diperintah oleh Rado. Serangan yang dilancarkan oleh Aslav pun berhasil dihalau oleh Jaquile tepat waktu sebelum mengenai Albert. Mereka bertiga terkejut dengan kehadiran Jaquile secara tiba - tiba dan Aslav pun memilih langkah mundur setelah serangannya digagalkan.
"He.. sepertinya datang lagi kecoa lain..." Kata Aslav merendahkan.
"Apa kau yakin mengatakan itu pada ku?" Kata Jaquile tersenyum.
Jaquile juga ikut mengudarakan demiclesnya. Cahaya ungu yang terpancar dari demiclesnya bersandingan dengan demicles milik Aslav. Aslav yang melihat demicles milik Jaquile mulai terlihat gelisah, ia merasa kalau level Jaquile berada diatas kedua pendamping yang telah ia sudutkan.
"Sepertinya ini akan sulit... lagi pula force ku sudah ku pakai setengah, melawannya sama saja bunuh diri.." Dalam benak Aslav menganalisa situasi keadaan saat ini.
"Kenapa?! Kau tidak ingin maju? Kalau kalu tidak ingin maju.. biar aku yang kesana!" Senyum Jaquile.
"Hmph! Dasar sombong kau kecoa!" Kata Aslav.
Jaquile pun segera melesat kearah Aslav, pertarungan dari kedua pengguna tombak akan berlangsung sebentar lagi, akan tetapi disaat Jaquile hampir berbebnturan dengan Aslav, Aslav segera mengeluarkan sebuah aura force yang membeludak dari dalam tubuhnya yang mengakibatkan sebuah ledakan aura. Hal itu membuat Jaquile terhenti karena tekanan yang bersifat spontan tersebut. Cahaya yang menyilaukan membuat Jaquile menutup kedua matanya dan disaat ia membuka kembali, Aslav sudah berada jauh dari jangkauannya.
"Keparat itu..." Geram Jaquile karena Aslav mengindari pertarungan dengannya.
"Hahahahaha untuk sekarang kita sudahi terlebih dahulu pertempuran ini... lain kali disaat kita bertemu kembali aku akan mencoba merasakan kekuatan mu, wahai kecoa tombak.." Ejek Aslav sebelum ia pergi menigggalkan pertempuran.
"Cih! Kembali kau breng*ek!" Kesal Jaquile.
Setelah Aslav memilih mundur dari pertempuran, para prajurit demigod yang mulai terpojok pun juga ikut menarik diri mengikuti Aslav, mereka berlari menuju kealat koordinat yang telah mereka pasang dan setelah portal kembali itu terbuka, mereka pun berhasil lolos. Melihat ada sebuah portal disana membuat para ras manusia mengetahui dari mana mereka berasal. Rasa kecolongan akan ketidaktahuan mengenai musuh yang diam - diam sudah menanamkan sebuah alat teleportasi membuat mereka begitu kesal dan merasa bersalah akan desa Fuso.
Riko yang saat itu berada dimedan pertempuran segera menghancurkan alat tersebut dengan kekuatan force miliknya.
"Sial! Kita kecolongan!" Geram Riko setelah menghancurkan.
Setelah pertempuran telah usai, mereka membagi sebuah tugas. beberapa dari mereka memeriksa keadaan desa Fuso dan menyelamatkan mereka yang masih hidup. Sedangkan beberapa dari mereka, membantu memeriksa keadaan Yoga dan Albert setelah bertarung melawan Aslav. Disaat mereka sedang diberikan sebuah pertolongan oleh para prajurit, Rado pun mendekat.
"Tuan Rado!" Hormat mereka semua saat Rado mendekat.
"Sepertinya kau dibuat kewalahan.." Kata Rado kepada Yoga yang masih terbaring.
"Ini karena aku terlalu percaya diri... awalnya aku merasa aku dapat mengalahkannya, tetapi.." Yoga yang berbicara tanpa melihat kearah Rado.
"Sebenarnya kami bisa memenangkan pertarungan itu kalau saja ia tidak bangkit kembali...!" Jelas Albert mengenai pertarungan tersebut.
Rado hanya terdiam sambil menganalisis pertempuran yang telah ia saksikan tadi.
"Dalam pengamatan ku, ras manusia dapat mengimbangi para ras demigod... akan tetapi demigod yang diduga menjadi kapten pada pertempuran kali ini begitu kuat.. ia memiliki demicles dan juga dapat menyudutkan dua orang pendamping.. dan lagi, ia dapat bangkit kembali setelah mengalami kematian... Apa ras demigod memliki kekuatan seperti itu?" Tanya Rado dalam benaknya pada diri sendiri.
Disela spekulasi yang sedang ia buat, ia menyempatkan diri untuk melirik kearah mayat para prajurit demigod yang telah gugur.
"Tidak... kurasa ras demigod tidak memiliki kekuatan seperti itu... Apa hanya para pendamping saja yang memiliki kekuatan untuk bangkit kembali?" Pikir Rado dengan keras dengan memegang dagunya.
"Tuan Rado! Tuan Rado..." Panggil Albert yang membuyarkan lamunan Rado.
"Hm?" Toleh Rado kearahnya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Albert.
Setelah ditanya seperti itu, Rado segera memeriksa sekitar area pertempuran dan beralih kembali menatap Albert.
"Untuk sekarang kita kembali ke ibu kota dan menyusun rencana ulang... aku perlu mengetahui karakteristik dari setiap ras untuk mengurangi kejadian mengenai kurangnya pengetahuan setiap ras seperti tadi.." Perintah Rado.
"Baik!"
Para Ras manusia pun menarik undur pasukan mereka dengan tidak adanya jatuh korban. Saat ini Rado terus menerus memekirkan langkah apa yang harus ia ambil untuk kedepannya. Pilihannya untuk tidak ikut bertempur dalam peperangan kali ini merupakan keputusan yang sangat tepat baginya. Saat ini Rado hanya ingin memperhatikan kekuatan dari setiap ras yang ada demi kelangsungan ras manusia, itulah sebabnya ia mengusungkan operasi invasi sebelumnya.
"Ras demigod... sepertinya mereka hanya kuat pada petingginya saja.." Rado tersenyum didalam perjalanan pulangnya ke ibukota.
Sementara itu, Aslav dan beberapa prajurit yang selamat kembali kedalam sebuah istana demigod yang belum diketahui letaknya. Ia segera menghadap kepada Achlles yang duduk diruang tahta istana.
"Maafkan aku tuan Achilles... pasukan ku dipaksa mundur oleh ras manusia.." Tunduknya takut menatap Achilles.
Disaat Aslav menyangka kalau ia akan diberikan sebuah ganjaran, dibuat terkejut dengan tawa Achilles yang memenuhi ruang tahta tersebut.
"Tu-tuan Achilles?" Panggilnya.
Setelah ia puas tertawa, Achilles menatap kembali kepada Aslav "Ceritakan padaku apa yang terjadi disana?"
Dalam keadaan masih terkejut, Aslav yang tersadar segera menceritaka kronologi jalan pertempurannya.
"Jadi begitu? Disana telah hadir tiga orang pendamping dan kau berhasil menyudutkan dua dari mereka.." Kata Achilles setelah mendengar cerita tersebut.
"Ya... itu benar dan aku sempat melakukan relife.. maafkan aku" Kata Aslav tertunduk.
"Melakukan relife atau tidak itu sudah menjadi keputusan yang mutlak bila kau tidak ingin mati... hanya saja setelah kau melakukannya, kau tidak ada kesempatan lain untuk hidup kembali... Jadi gunakan nyawa terakhir mu untuk melayani ku sampai akhir.." Kata Achilles tersenyum.
"Baik!" Jawab Aslav.
"Hmmm jadi ras manusia bisa membunuh salah satu pendamping ku? Cukup menarik.... bagaimana dengan ras yang lain menghadapi utusan ku? Aku tidak sabar mendapat laporan dari mereka hahaha... Akan tetapi, permainan baru saja akan dimulai.. tunggu saja wahai para Archon..." Dalam benaknya Achilles tersenyum menghiasi ruang tahta.