
De Hoorn, nama Ibukota wilayah manusia yang baru saja diresmikan oleh Rado, saat ini sedang terdapat sebuah tindakan operasi pencarian terhadap penduduk bernama Zowie. Seluruh kapten perang yang tergabung dalam divisi satu, segera memerintahkan anggotanya yang berjumlah ratusan orang untuk melakukan pencarian. Para kapten memberikan intruksi dan memberikan ciri - ciri Zowie kepada mereka semua. Wilayah yang terdaftar dalam ras manusia tidak akan luput dalam pencarian ini, setiap rumah yang adapun akan didatangi demi mencari Zowie.
Saat ini portal teleportasi utama di ibukota sangat ramai dengan para prajurit yang ditugaskan. Mereka secara bergantian melakukan perpindahan ke wilayah yang sudah menjadi misi mereka.
"Regu pencarian ke 13 kalian akan dikirim ke desa Memina..." Kata Riko sambil memegangi sebuah hologram yang berisikan data - data desan dan kota besar.
"Baik..!" Seru regu 13 yang dikepalai oleh Geraldo.
Wilayah ras manusia terdiri dari 43 titik, dimana itu terdiri dari enam kota besar termasuk ibukota De Hoorn, sepuluh kota kecil dan sisanya adalah desa - desa yang tersebar diseluruh darata wilayah ras manusia. Sebelum mereka mendatangi kota dan desa yang dituju, petinggi ras manusia memberikan sebuah himbauan kepada masyarakat untuk tidak gaduh ataupun panik. Oleh sebab itu lah dalam misi pencarian ini, masyarakat juga berperan penting untuk mencari Zowie saat ini, mereka memberikan bantuan secara suka rela demi membantu operasi tersebut.
Rado yang terlihat berjalan bersama Julie di ibukota dengan kawalan beberapa prajurit mencoba untuk membantu. Setiap rumah yang berada di ibukota dari yang berada di distrik elite sampai ke distrik ekonomi bawah pun ia datangi demi mencari Zowie. Suara pintu yang digedur oleh prajurit seperti sebuah ancaman bagi masyarakat yang berada di ekonomi bawah. Biasanya mereka diperlakukan seperti itu dikarenakan telat membayar pajak dan hal tersebut membuat mereka berpikir negatif bila ada prajurit yang datang.
"Ma - maaf kami belum memiliki uang.." Kata seorang pria dengan dua anaknya yang masih kecil mengintip.
"Hah?! Kami kesini bukan meminta uang pajak!" Kata prajurit itu meninggi.
Rado yang melihat bagaimana cara prajurit itu bersikap, begitu terusik dengan perlakuan kasarnya terhadap seseorang. Ia pun menghampirinya dan menggantikan prajurit tersebut untuk menanyakan hal mengenai Zowie kepadanya.
"Maaf... boleh kan aku bertanya?" Rado segera menyelang prajurit tersebut.
"Tu - tuan Rado?!" Prajurit itu terkejut melihat Rado yang segerang menyerobot posisinya.
Rado saat itu hanya menoleh kearahnya dengan tatapan sinis dan itu membuat prajurit tersebut ketakutan, ia segera mundur satu langkah lalu tertunduk takut. Setelah memberikan tekanan kepada prajurit yang berlaku kasar, rado beralih kembali kepada pria tersebut dengan senyuman.
"Apa kau mengenal seseorang bernawa Zowie? Dia seorang laki - laki dengan tinggi kurang lebih 168cm berambut hitam dengan cukuran mangkok, sedikit aneh dan dia memiliki luka bakar ditangannya..." Rado mencoba menjelaskan merinci.
"Cukuran mangkok? Sedikit aneh?" Heran pria tersebut saat mendengar ciri - ciri tersebut.
"Yah.. mangkok.." Rado menekankan dengan senyuman.
Pria itu hanya terdiam menatap Rado beberapa saat sebelum berbicara.
"A-aku tidak tahu mengenai pria yang kau maksud, maafkan aku tuan.." Katanya sambil melirik kearah kanan.
Rado masih dengan senyumannya pun mengerti dengan perkataannya dan segera beranjak pergi dari sana.
"Baiklah kalau begitu.. maaf sudah mengganggu mu.." Kata Rado menutup kedatangannya.
Pintu rumah pria itu pun ia tutup perlahan, ia berjalan kedalam ruang makan dan terdapat istrinya sedang duduk di meja saji. Kedua anaknya yang tadi ikut menyambut Rado bertanya kepada ayahnya.
"Ayah... kenapa ayah berbohong mengenai ka Zowie?" Tanya polosnya.
"Aku tidak bisa memberitahu keberadaannya..." Pria itu begitu panik karena masih terngiang kalau sang Archon datang langsung ke rumahnya.
"Tapi bukan kah kita harus memberitahu keberadaannya? Mungkin saja Zowie telah melakukan sesuatu... itulah mengapa ia dicari sekarang" Kata si istri.
"Kita tidak bisa memberitahukan keberadaan penyelamat kita! Dia sudah menyembuhkan penyakit anak kita! Apa kau tega memberitahu keberadaannya?! Kalau ia diperlakukan tidak baik bagaimana?! Apa itu cara mu membalas budi?!" Sang suami sedikit membentak dan membuat istrinya tertunduk menyesal karena telah berucap demikian.
"Ayah... apa ka Zowie melakukan kesalahan?" Tanya satu anaknya dengan polos.
Ayahnya pun menoleh kebawah dan tersenyum ke anaknya.
"Tidak.. Zowie adalah orang baik.. dia tidak akan melakukan kesalahan.." Kata sang ayah menenangkan.
"Ayah benar... mana mungkin ka Zowie melakukan kesalahan.." Senyum polos anak tersebut.
Sang ayah pun dibuat risau dengan keadaan sekarang mengenai pencarian Zowie yang baru saja diumumkan, dia tidak mengetahui kalau Zowie sekarang ini sangat dibutuhkan dalam militer. Akan tetapi karena stigma buruk mengenai prajurit sudah terukir dengan jelas dihatinya. Momok jahat pada masyarakat ekonomi bawah membuatnya sudah berpikir negatif terlebih dahulu sebelum mengetahui tujuan dibalik ini semua.
Hal ini karena dipicu akibat ras manusia beberapa tahun terakhir mengalami kekalahan, pajak serta upah kerja pun berbanding terbalik demi menekan ekonomi tersebut. Hal ini juga memberikan tekanan kepada mereka yang berada di kelas bawah. Permasalah ini masih belum bisa terselesaikan oleh Rado dalam program kerjanya karena ini masih permulaan, Sebenarnya Rado sudah memiliki tujuan untuk memakmurkan ras manusia dengan tidak lagi menelan kekalahan, cuma itulah satu - satunya untuk menaikan ekonomi ras manusia dalam dunia baru ini. karena sumber daya yang mereka peroleh dari daratan dan holy essence sangat berpengaruh penting.
"Zowie.. apa yang sudah kau lakukan sampai Archon mencari diri mu?!" Tanya pria itu dalam benaknya dalam keadaan panik.
Sementara itu Rado dan Julie berserta prajurit yang mengawalnya berjalan kembali menelusuri kota.
"Tuan... Apa kita melanjutkan pencarian?" Tanya salah satu prajurit.
Rado hanya terdiam menatap kedepan dan Julie menoleh kearahnya.
"Apa anda sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Julie.
Rado yang sejak tadi terdiam, menoleh kearah Julie. "Ah.... tidak, maafkan aku karena melamun.." Senyum Rado.
"Tidak apa tuan.. kenapa anda meminta maaf?" Tanya Julie.
"Hanya terbiasa seperti itu.." Jawab Rado.
"Kalian! Kalian terus lakukan pencarian bersama Julie, ada sesuatu yang harus aku kerjakan segera.." Sambung Rado kepada pengawalnya.
"Eh?! Anda mau kemana?" Tanya Julie terheran.
Rado hanya tersenyum menatapnya tanpa memberitahu ia ingin kemana.
"Cepatlah.." Desak Rado.
Setelah mereka berpisah ditengah jalan Rado segera kembali kerumah pria tersebut sendirian. Ia menyadari kalau pria tersebut telah menyembunyikan suatu fakta mengenai Zowie, Rado berpisah dengan para prajurit tersebut demi menjaga pria tersebut dari perundungan atau desakan dari para prajurit, ia juga menyadari kalau bahwa pria tersebut sangat tidak menyukai prajurit ibukota dan hal itu tidak menutup kemungkinan kalau mungkin saja masyarakat ekonomi kelas bawah juga demikian.
Rado mencoba untuk melakukan pendekatan secara halus tanpa ikut campur tangan bawahannya, hal ini juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana jarak antara masyarakat dengan anggota dirinya. Dengan cepat Rado kembali sampai dirumah tersebut dan mengetuk pintunya. Beberapa saat menunggu pintu itu pun dibuka oleh pria yang sama.
"Ya?" Dia membuka dengan ramah.
Akan tetapi disaat ia tau kalau yang datang itu adalah orang yang paling berpengaruh di ras manusia sekarang, wajahnya berubah menjadi sebuah kepanikan kembali.
"Tu-tuan?! Anda kembali lagi?!" Tanyanya dengan nada bergetar.
"Bisakah aku masuk?" Senyum Rado.
"Ta - tapi.. rumah ku sangat kotor, itu tidak baik untuk anda.." Kata pria tersebut, ada rasa sungkan membiarkan Rado masuk.
"Sebentar saja.." Senyum Rado.
Karena ia tidak ingin dihukum secara militer akibat tidak mengizinkan orag nomor satu di rasnya, pria itu pun akhirnya mempersilahkan Rado masuk. Hal pertama yang Rado lakukan saat masuk kedalam rumah itu adalah ia melihat sekeliling interior ruang tersebur. Dalam rumah tersebut tidaklah begitu mewah dengan cat yang sudah terkelupas, minimnya penerangan karena energi lampu yang tidak tersalurkan dengan baik membuat penerangan tidak begitu baik. Rumah flat yang terdiri dua lantai ini memang menjadi design umum dalam distrik ekonomi bawah ini. Rata - rata pekerjaan dari masyarakat ekonomi kelas bawah adalah buruh pabrik, prajurit kelas bawah dan juga pekerjaan kecil lainnya.
Keluarga ini, terdiri dari satu suami yang bekerja sebagai tukang kebun bagi masyarakat kelas atas. Ia biasa mengoprasikan teknologi kebun beserta merawatnya, sedangkan sang istri ia hanya bekerja sebagai pekerja disebuah toko pakaian tempur. Kedua anaknya hanya berdiam diri saja dirumah dan bermain dengan anak sebaya mereka. Sekolah hanya menjadi impian bagi anak kelas atas karena terkendalam biaya sekolah yang tinggi, sejak kecil mereka hanya diberikan edukasi sebagai prajurit ataupun tenaga kerja. Tetapi diusia mereka yang masih menginjak umur lima dan tujuh tahun belum saatnya untuk diajari menjadi seorang tenaga kerja atau prajurit.
Rado dipersilahkan duduk diruang makan bersamaa dengan keluarga tersebut. Suami dan istri itu begitu tegang karena Rado mengunjungi mereka kembali. Didalam pikiran mereka hanya sebuah ketakutan karena mereka takut berbuat salah saat menyambutnya pertama kali. Rado yang menyadari itu mencoba untuk menyairkan suasana.
"A-"
Sebelum Rado memulai pembicaraan, tanya polos dari salah satu anak yang bertubuh kecil berambut orange dari pasangan suami istri itu mendahului Rado.
"Rakry! Bersikap lah sopan! Dia ini-" Bentak sang ayah.
Tetapi sebelum ia menyelesaikan perkataanya, Rado mengangkat tangannya kepada pria tersebut agar tidak membentak anaknya.
"Ya.. Aku adalah seorang prajurit.." Senyum Rado menjawab pertanyaan dari anak yang sedang menunduk karena dibentar ayahnya.
"Apakah benar?!" Semangatnya muncul kembali saat Rado menjawabnya.
"Ya itu benar.." Senyum Rado.
"Wah hebat... Kakak! Dia prajurit loh.." Kata Rakry.
"Ayah bilang prajurit itu jahat.. Rakry jangan dekat dengannya.." Kata kakaknya yang memiliki rambut orange kecoklatan dengan menundukan kepalanya.
"Fikry!" Ayahnya begitu panik saat anaknya mengatakan hal demikian.
"Maafkan perkataan anak ku tuan.." Ibunya segera menunduk meminta maaf diikuti sang ayah.
Rakry yang tidak mengerti apa yang terjadi begitu bingung dengan apa yang sedang terjadi, sedangkan Fikry masih acuh dengan apa yang telah dia lontarkan. Suami Istri itu sangat ketakutan dan tubuh mereka bergetar karena takut bila Rado murka dengan apa yang telah dikatakan anaknya.
"Tuan! Maafkan apa yang telah anak ku katakan.. Jika anda ingin menghukumnya, hukum lah aku! Aku yang telah memberikan stigma buruk kepada dirinya terhadap prajurit kota!" Ayahnya meminta dengan sangat kepada Rado.
"Eh?! Kenapa ayah begitu?!" Rakry melihat kerah ayahnya dan beralih ke Rado, "Apa kaka akan menghukum ayah ku? Ku mohon jangan.." Katanya sambil berjalan mendekati Rado dan memegang tangan Rado yang sedang duduk.
Rado hanya menoleh kearah Rakry yang berada didekatnya, lalu ia tersenyum sambil mengelus kepala bocah itu.
"Aku tidak akan menghukum ayah mu... Mungkin masih banyak hal yang belum ku ketahui mengenai pertumbuhan atau masalah di ras ini.. Jadi aku tidak bisa menjatuhkan hukuman kepada ayah mu atau pun keluarga mu" Kata Rado dan membuat Rakry tersenyum.
"Tuan?!" Kata sang Suami terkejut mendengar hal demikian.
Rado hanya tersenyum kepada sang ayah dan beralih kembali ke Rakry.
"Apa kau ingin menjadi seorang prajurit?" Tanya Rado.
"Ya! Aku ingin menjadi prajurit dan menjadi orang hebat setelah besar nanti.." Antusias Rakry.
"Rakry... Jangan bermimpi.. kita sebagai masyarakat miskin hanya bisa menjadi prajurit biasa... Mungkin kau akan mati dalam pertempuran.." Kata Fikry masih dengan nada jutek.
"Kenapa kau berkata demikian?" Tanya Rado kepada Fikry.
"Aku hanya diberitahu oleh mereka yang sudah menjadi prajurit.. Mereka bilang kami yang tergolong miskin ini hanya bisa sampai pada prajurit kelas bawah saja dan tidak akan bisa berkembang.. Mereka juga sebenarnya sudah lelah menjadi prajurit. Akan tetapi karena tuntutan hidup mereka yang sulit membuat mereka memilih menjadi prajurit karena hanya disanalah mereka bisa makan 3 kali sehari. Lalu, ketika sudah memasuki dunia militer mereka tidak bisa mundur dari pekerjaan itu.. hanya matilah yang bisa membuat mereka bisa pergi dari sana" Kata Fikry dengan lugas berbicara.
Rado sekali lagi tersenyum mendengar cerita dari Fikry, "Meskipun kau masih kecil, tetapi kau mengetahui seluk beluk dari kemiliteran ya.." Puji Rado.
"Tentu saja! Ka Yu, Aku memiliki Kakak perempuan diluar sana! Dia kakak yang baik dan selalu menjadi kebanggan buat ku.. tetapi karena kondisi keluarganya yang sangat miskin dan memiliki banyak adik, ia memilih untuk terjun kedunia militer! Tanpa adanya penglaman dia segera mendapat misi untuk melakukan eksplorasi ke wilayah yang belum berpenghuni dan ia mati saat pembersihan monster disana" Sedih Fikry saat menceritakannya.
"Andai saja, andai saja aku seumuran dengannya, aku pasti akan melindunginya.." Sambung Fikry.
"Hooo jadi kau ingin menjadi prajurit juga ternyata.." Tanya Rado dengan nada mengejek.
"A- Aku tidak ingin menjadi prajurit!" Sangkal Fikry dengan malu.
"Baiklah... Aku sudah mengerti mengapa ras manusia kekurangan prajurit selain karena kekalahan.. tetapi juga minimnya pelatihan masyarakat bawah mengenai kemiliteran.. Bukan begitu?" Tanya Rado menoleh kearah kedua orang tuanya.
"Y-ya.. anda benar tuan... perempuan yang dimaksud oleh anak ku itu adalah anak dari kerabat dekat ku, seperti yang diceritakan olehnya, Yu mencoba untuk menjadi prajurit demi mengurangi beban kedua orang tuanya dan mati begitu saja.." Jelas pria tersebut.
"Kami kalangan bawah tidak memiliki uang untuk masuk kedalam sekolah kemiliteran, yang ku tahu dari teman yang berhasil bertahan hidup, ia mengatakan kalau ketika kalangan bawah mendaftar dalam militer, mereka tidak diberikan pelatihan terlebih dahulu, akan tetapi segera dikirim ke medan pertempuran dan juga dengan perlengkapan seadanya..." Sambungnya lagi.
Mendengar itu membuat Rado kembali berpikir mengenai ras ini.
"Ternyata masih banyak yang belum ku ketahui selama aku menjabat jadi pemimpin di dunia ini, selain sistem militer sebelumnya, ternyata pemerataan juga tidak sampai ke distrik ini. Awalnya ku kira mereka sama seperti di dunia sebelumnya dimana uang dan perlengkapan tempur hanya didapat dengan mengalahkan monster lalu menjual, Didunia selain kekuatan ternyata ekonomi juga berpengaruh, dimana mereka yang memiliki uang bisa masuk kedalam sekolah militer dan menjadi prajurit lepas ataupun prajurit kontrak, perbedaan yang mendasar dari mereka yang mendapat pengetahuan mengenai pertarungan dengan yang tidak, juga terjelaskan oleh keluarga ini. Hal ini juga menjawab pertanyaan ku beberapa hari lalu mengenai para prajurit yang terlihat tidak layak.." Rado berpikir.
"Mungkin masih terlalu cepat untuk melakukan invasi, tetapi... sepertinya kalau operasi pertama selesai, aku tau harus melakukan apa.." Senyum Rado.
"Tuan?" Tanya Pria tersebut saat melihat Rado tersenyum sendiri.
"Mungkin ini hanya akan menjadi sebuah bualan bagi kalian yang sudah menerima perlakuan tidak menyenangkan selama ini... Akan tetapi, dibawah kepemimpinan ku sekarang.. aku akan meberikan kesejahteraan bagi kalian yang berada di distrik ini." Rado dengan tatapan yang membawa harapan melihat keluarga itu.
Keluarga itu hanya bisa menatap Rado dengan sebuah keraguan karena mereka tidak akan lagi terpengarung dengan sebuah imingan manis. Rado pun tersenyum dan menutup matanya.
"Aku mengerti apa yang kalian pikirkan, tetapi aku akan membuktikannya setelah operasi invasi pertama bila berhasil.." Sambung Rado memberikan sebuah harapan lagi.
"Aku menunggunya..." Kata Fikry memecah keheningan keluargannya itu.
Tantangan penantian dari anak kecil yang beripikiran dewasa membuat Rado terpacu untuk mewujudkannya, setelah perbincangan mengenai ekonomi dan kemiliteran bersama keluarga kecil itu, Rado kembali menanyakan maksud tujuan ia kembali lagi.
"Maksud kedatangan ku kembali adalah menanyakan hal yang sebelumnya yaitu mengenai Zowie.." Rado kembali serius.
"Kalian mengetahuinya bukan?" Sambung Rado.
Keluarga itu sontak dibuat diam seribu bahasa dengan keadaan panik disaat Rado mengetahui kalau mereka telah berbohong.
"Ka-kami tidak mengetahuinya.." Kata sang ayah masih tetap dengan pendiriannya.
"Kau tidak bisa membohongi ku.. mengapa kau sampai demikian melindungi keberadaannya?" Rado tersenyum.
Setelah keheningan disertai kepanikan melanda keluarga tersebut, akhirnya sang ayah menanyakan maksud Rado mencari Zowie.
"Mengapa anda mencari dirinya? Dia orang baik.. aku tidak akan memberitahukan keberadaan dirinya, meskipun aku harus mati.." Kata pria tersebut yang mana membuat anggota keluarganya khawatir mengenai ucapannya.
"Ternyata kau orang yang loyal, aku suka dengan orang seperti mu...Kalau kau ingin tahu mengapa mencarinya itu karena aku membutuhkannya untuk memajukan kemiliteran ras kita.. Jadi aku tidak akan melakukan hal yang aneh.. Kalau kau tidak percaya, kau bisa ikut dengan ku untuk mengantarkan ku padanya..." Senyum Rado.
"Apa kau bisa berjanji kepada kami untuk tidak mengingkari perkataan mu untuk tidak menyakitinya?" Tanya Pria tersebut.
"Aku berjanji.." Jawab Rado dengan cepat.
Saat meyakini kalau Rado akan menepati janjinya, pria tersebut akhirnya memberitahukan lokasi tempat Zowie berada. Rado yang sudah mengantongi dimana Zowie berada merasa senang dan ingin sekali segera menjemputnya.
"Terimakasih atas kerjasama mu, sebelum itu aku ingin bertanya mengenai mengapa kalian sangat melindungi Zowie.." Tanya Rado.
Mereka saling melihat satu sama lain sebelum menceritakan mengapa mereka sangat melindungi keberadaan Zowie.
"Ini bermula pada dua tahun lalu dimana saat aku masih bekerja sebagai penambang disebuah desa.. kala itu aku mengalami kecelakaan dan terluka parah, aku dibawa pulang sesegera mungkin oleh para pekerja disana karena mengalami pendarahan yang sangat fatal, disaat itu aku sudah berpikir kalau mungkin ini adalah hari terakhir ku didunia ini. Akan tetapi kepasrahan ku berhasil dihilangkan oleh seorang anak muda misterius, ia memberikan ku sebuah minuman aneh dan lebih anehnya lagi adalah... luka ku sembuh begitu saja"
Cerita pria tersebut membuat Rado begitu terkejut dengan berbagai hal.