The Archon

The Archon
Deklarasi Perang



Keesokan harinya di Roma, Italia dalam mansion Gavriel yang dulunya milik keluarga Alavonte. Terlihat Silvi dan juga Martinez yang sedang duduk dikursi roda didorong oleh Peter. Mereka ingin mengunjungi ruang makan untuk melakukan sarapan dipagi hari yang cerah. Disekitar ruang tersebut sudah banyak pelayan yang menunduk memberi salam lalu membukakan pintu untuk mereka.


Mereka duduk bertiga disebuah meja panjang dan para pelayan mulai mempersiapkan hidangan pagi hari itu. Sekarang ini meja makan telah dipenuhi berbagai hidangan dan mulai menyantapnya.


"Peter.. apa kau sudah mendapat kabar dari Rado? Kapan dia akan pulang?" Tanya Martinez disela sarapannya.


"Ah.. mengenai kapten aku belum menerima satupun pesan darinya.." Jawab Peter.


"Kakek mungkin Rado sedang sibuk disana, sekarang ini mata dunia tertuju kepadanya.. mungkin dia sedang sibuk mengurusi sesuatu" Sambar Silvi.


"Anak itu... mengapa mirip sekali dengan ayahnya.. ketika berada diluar rumah, ia enggan untuk memberikan kabar atau pulang sesegera mungkin.." Lesu Martinez kecewa.


"Tenang saja.. Rado pasti akan kembali" Silvi memberikan semangat kepada kakeknya.


Saat mereka sedang tenang menyantap sarapan pagi mereka, tiba - tiba seorang pelayan datang menghampiri Martinez dan membisikan sesuatu.


"Apa?! Cepat nyalakan Tvnya" Martinez yang terkejut.


Salah satu pelayan segera menyalan televisi yang berada diruangan tersebut. Tv itu menyala dan menampilkan berita terheboh hari ini yang disebabkan oleh gejolak api mengenai PPMD dan Aliansi. Saat ini sedang dilakukan sebuah jumpa pers yang dihadiri oleh petinggi PPMD, antara lain Baldrik, Diwei dan juga Richard. Semua wartawan mengambil foto dari ketiga orang tersebut secara semeraut. Suasana menjadi hening ketika salah satu penjaga menaikan satu tangannya tanda untuk diam.


"Aku Baldrik Vorham akan mengatakan sesuatu yang sangat penting..."


Dijeda pembicaraan itu flash dari kamera menyalakan kembali.


"Aku disini secara resmi akan menyatakan perang terhadap Aliansi yang di ketuai oleh Rado Gavriel!"


Saat Baldrik mencetuskan sebuah deklarasi perang semua menjadi heboh, pemberitaan dimana - mana menampilkan jumpa pers ini, perusahaan media menjadi lebih sibuk dengan banyaknya telepon berdering.


"Cepat ambil fotonya hari ini kita akan menerbitkan tema peperangan PPMD melawan Aliansi!" Seru dari salah satu orang penerbit.


"Kenapa anda mendeklarasikan perang terhadap aliansi? Apa ini menyangkut kejadian soal di Italia?" Tanya seorang wartawan kepada Baldrik.


"Mungkin itu benar, tetapi yang membuat ku melakukan ini adalah.. Ketua mereka Rado Gavriel telah membunuh anak ku yaitu Kuhler Vorham"


Dunia menjadi heboh seketika setelah mengetahui fakta sebenarnya. Media sosial pun kembali ramai dengan perbincangan ini.


"Hei apa benar itu? Rado telah membunuh Kuhler?" Kata seorang netizen.


"Gila! berani sekali dia, apa ini menyangkut dendam?"


"Aku tidak tau.. tapi sepertinya Rado itu sudah menyulut sebuah api.."


"Apa mereka akan berperang?"


"Mungkin.. aku ingin sekali melihat mereka berperang.. aku suka keributan hahahaha"


"Kalau mereka benar akan berperang.. kalian pilih siapa?"


"PPMD!"


"Aliansi!"


Beberapa percakapan disalah satu media sosial menjadi ramai akan serung peperangan tersebut.


"Bukan kah ini keterlaluan? Mengapa dia membunuh Kuhler?"


"Aku tidak tau..apa ini karena perebutan tahkta?"


"Kalau dia membunuhnya tanpa alasan bukankah dia sama aja dengan penjahat?"


"Kalau begitu adanya mungkin telah salah mengaggumi seseoran"


Lanjut pada percakapan disebuah restoran keluarga yang saat ini sedang dikunjungi oleh Zowie si pembuat potion. Selain sedang menghabiskan kopi paginya, Zowie juga menguping pembicaraan dari para pengunjung yang lain.


"Eh?!!!!! Rado? Apa benar kau membunuh orang nomor satu didunia ini?!" Zowie terkejut dengan berita pagi itu.


Disisi lain di Amerika Serikat, para pemburu yang baru saja bernafas lega kembali dibuat tegang karena menonton berita tersebut di smartphone mereka masing - masing.


"Hei.. bukankah ini gawat?!" Tanya seorang pemburu dari pihak PPMD.


"Sepertinya..Bukankah Rado yang petinggi maksud adalah dia yang sekarang ini bersama kita kan?" Jawab sekaligus bertanya.


"Kalian ini sedang menonton apa?" Tanya Jaquile mendekat.


"A-ahh.. wakapten dari Aliansi... ini ada berita mengenai peperangan diantara kita.." Pemburu itu memberikan smartphonenya untuk dilihat oleh Jaquile.


"Hoo sepertinya para tua bangka itu akan bergerak.." Senyum Jaquil sambil meberikan smartphone pemburu itu.


Saat Jaquile ingin memberitahukan hal tersebut kepada Rado, ia dihentikan oleh pemburu tadi.


"E-eh... Apakah itu benar?! Mengenai kematian Kuhler yag telah dibunuh oleh ketua aliansi?" Tanya cemasnya kepada Jaquile.


"Yah itu benar.. kapten telah membunuh orang kebanggaan kalian" Jaquile menoleh dan memasang wajah serius.


"Kenapa?! Bukankah lebih baik kita bersatu?!" Cetus pemburu tersebut.


"Hahhh?! Bersatu?! Untuk kau yang tidak ada pada saat itu jangan berpikiran naif mengatakan itu.. bagi kami yang saat itu berada disana, Kuhler memang pantas mati!" Jaquile dengan emosi dan meninggalkan mereka.


Sementara itu, Yoga yang sedang tertidur pulas dibangunkan oleh Mye yang saat itu hanya tertutup selimut sambil memegangi smartphonenya.


"Yoga! Yoga!" Usahanya untuk membangunkannya.


"Hei biarkan aku tertidur.. semalam itu menjadi malam yang panjang untuk kita..." Kata Yoga masih tertidur.


"Cepatlah bangun..! ini sangat gawat!"


Mendengar Mye sedikit berteriak akhirnya Yoga terbangun perlahan dari tidurnya dan segera melihat apa yang ingin Mye tunjukan. Beberapa saat Yoga menonton berita itu, betapa terkejutnya dia dan segera beranjak keluar dari kamar itu dengan telanjang dada. Baru saja ia membuka pintu kamar hotel itu, Yoga berpapasan dengan Jaquile yang sedang menuju ke kamar Rado.


"Yoga? Kau sudah..." Jaquile terhenti saat melihat Mye yang berada dibelakang sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Nanti saja ku jelaskan, sekarang ayo kita ke Rado..!" Yoga segera bergegas bersama Jaquile ke kamar Rado.


"Kau ini.. bisanya meniduri wanita secantik itu" Ejek Jaquile.


"Diam Kau!" Yoga menjawab dengan wajah sedikit memerah


Disaat yang bersamaan didepan kamar Rado, Jaquile dan Yoga bertemu dengan para kapten dan wakapten dari Indonesia.


"Sedang apa kalian?!" Tanya Yoga kepada mereka.


"Kami ingin berbicara padanya mengenai hal yang diberitakan" Kata Rudy menjelaskan.


"Kami ingin berjuang bersamanya kalau memang perang akan pecah.. biarkan kami membantu aliansi.." Kata Julie.


"Baiklah kalau begitu.. ayo kita bertemu Rado" Kata Yoga.


Saat ia ingin mengetuk pintu kamar Rado. Mereka semua dikejutkan dengan suara ledakan beserta getaran. Yoga dengan sigap mendobrak pintu kamar Rado dan mendapatkan sebuah lubang besar di diding kamarnya dengan Rado yang sedang berdiri didepannya.


"Rado....?" Panggil pelan kearahnya.


Rado yang menoleh segera melesat kearah Kan dan mencekik kencang. Mereka semua pun terkejut dengan serangan dari Rado yang tiba - tiba itu.


"Rado! Apa yang kau lakukan?!" kata Yoga dengan panik.


"Diam!" Rado dengan marah berbicara.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kan dengan kesulitan.


"Sobat.." Panggil Geraldo yang saat itu sedang berada disana.


"Apa yang kalian lakukan dengan Nara?!" Rado bertanya dengan marah.


"Apa maksud mu dengan Nara? Aku tidak mengenalnya!" Kan menjawab dengan jujur.


"Jangan bohong! Aku mendapat telepon dari seseorang di Indonesia mengenai kondisi Nara yang disekap oleh pemerintah disana.." Jawab Rado.


"Tunggu Rado.. mungkin kau salah paham, tapi kami tidak ada kaitannya dengan penyekapan Nara anak dari ketua divisi hubungan internasional ini" Rudy yang mengetahui siapa Nara segera menjelaskan.


Rado yang mempercayai Rudy segera melepaskan cengkramannya dari leher Kan, Kan yang saat itu sudah terlepas dari cengkramannya dibuat terbatuk - batuk.


"Jadi.. kalian tidak ada kaitannya dengan ini?" Tanya Rado mengkonfirmasi.


"Yah.. malah kami awalnya ingin menggulingkan pemerintahan saat itu..dan juga memang pemberitaan mengenai hilangnya putri dari ketua divisi hubungan internasional sedang heboh di Indonesia" Kata Rudy menjawab.


"Kenapa kau tidak mengatakan itu kepada ku?!" Rado menarik kerah Rudy karena emosi namun tanpa ekspresi.


Levi dengan cekatan menggenggam lengan Rado dan mencoba menenangkannya. Setelah Rado melepaskan kerah milik Rudy Levi pun bertanya kepadanya.


"Kami tidak tahu kalau kau memiliki hubungan dengan Nara, ini mungkin ada kaitannya dengan deklarasi perang yang di buat oleh PPMD untuk menekan mu.." Kata Levi berasumsi.


Kilas balik sebelum Rado menghancurkan dinding kamarnya.


"Sepertinya hari ini aku akan pulang ke Italia" Dalam benaknya sambil memakai pakaian tempurnya.


Saat Rado sedang bersiap - siap, smartphonenya bergetar dan ada panggilan dari nomor yang tidak ia kenal. Rado sempat tidak ingin menggubrisnya, tetapi ia memiliki firasat yang aneh mengenai nomor tersebut, lalu ia memilih untuk mengangkatnya.


"Hallo?" Sapanya


"Hahahahaha akhirnya kita terhubung juga Rado.."


"Siapa ini?" Tanyanya.


"Kau lupa dengan suara ku?"


Rado mencoba untuk mengingat suara itu, "Kau... Vasco?"


"Ya kau benar hahaha"


"Maafkan aku karena selama ini aku tidak mengabari mu.. mengenai Gozie.."


Sebelum Rado menyelesaikan perkataanya, Vasco segera memotong.


"Ah.. tidak perlu basa - basi lagi, aku mempunyai hadiah untuk mu"


Beberapa detik kemudian ada beberapa pesan foto masuk kedalam room chatnya, Rado segera memeriksa apa yang terdapat dalam foto tersebut. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Nara yang sudah babak belur disebuah kamar terbaring tidak berdaya. Ia begitu kesal dan membuat auranya menguap.


"Apa maksud mu melakukan ini?!" Tanyanya meninggi.


"Ternyata aku benar.. Wanita ini ada kaitannya dengan mu... Temui aku dua hari kedepan di nusa tenggara timur lebih tepatnya di Labuan Bajo.. sepertinya kakek tua dari PPMD juga ingin sekali bertemu dengan mu hahaha"


Karena telepon yang diputus secara tiba - tiba Rado mengeluarkan amarahnya yang mana memuat dinding tersebut roboh.


"Hah?! Tuan Vasco?!" Yoga terkejut setelah mengetahui identitas yang membuat Rado marah.


"Ya dia Vasco.."


"Aku tidak menyangka kalau tuan Vasco akan melakukan hal licik seperti ini" Yoga yang masih tidak mempercayai keadaan ini.


Dalam keheningan sesat itu Julie bertanya kepada Rado mengenai suatu hal.


"Apakah dia orang yang spesial untuk mu?" Tanya Julie untuk mengetahui status Nara.


Rado pun menatap Julie dengan tajam, "Dia adalah teman ku satu - satunya yang sudah ku anggap seperti keluarga, maka siapa saja yang menyentuhnya akan ku habisi!"


Setelah mengatakan itu Rado beranjak pergi dari kamarnya dan mereka semua mengikutinya dari belakang.


"Mau apa kalian?!" Cetus Rado melirik kearah pemburu dari Indonesia.


"Biarkan kami membantu mu untuk menuntaskan ini" Kata Rudy sebagai perwakilan mereka.


"Terserah kau.." Jawab singkat dari Rado.


Saat rombongan Rado keluar dari lorong dan sampai pada lobby, mereka telah disambut oleh tatapan heran dari para pemburu PPMD dan Aliansi yang belum mengetahui kejadian sebenarnya. Tatapan itu penuh dengan berbagai pertanyaan mengenai Rado yang membunuh Kuhler.


"Kapten.. apa itu benar?" Tanya salah satu pemburu aliansi.


"Ya kau benar... aku telah membunuhnya.." Rado dengan entengnya menjawab.


"Mengapa kau membunuh tuan Kuhler?!"


Lobby semakin riuh dengan tekanan dari pemburu PPMD yang masih tidak menerima kematian Kuhler yang dibunuh bukan karena berperang melawan monster. Namun kericuhan itu pun dapat dipadamkan setelah Jason dan Nagatomo keluar dari dalam lorong hotel yang lain.


"Berhentilah... Kuhler terbunuh karena ia bermaksud untuk menumbalkan para pemburu yang lain.. Dia tidak salah, karena hanya ingin menyelamatkan pemburu yang lain.." Jason menjelaskan kronologi saat di pertempuran.


Mendengar itu para pemburu dari PPMD yang tidak ikut dalam pertempuran dua hari yang lalu membuatnya tertunduk malu. Mereka tidak menyangka kalau tuan Kuhler akan seperti itu.


"Maafkan kami telah seperti itu pada mu.." Permohonan maaf dari pemburu tersebut.


Namun Rado mengacuhkannya dan melanjutkan langkahnya. Disaat ia berpapasan dengan Jason dan yang lainnya ia berhenti sejenak.


"Apa kita akan bertempur?" Tanya Rado kepada Jason dan Nagatomo.


"Sepertinya begitu.. tetapi karena kami sudah tau kekuatan mu, aku dan Jason akan berusaha untuk menghindarinya.." Kata Nagatomo.


"Pilihan yang bijak.. tapi aku tidak akan mundur.." Kata Rado sambil meninggalkan mereka.


Iring - iringan Rado pun melewati para pemburu top PPMD, saat Yoga dan Devian berpapasan. Devian memberikan salam terakhir kepada dirinya.


"Aku sebenarnya tidak ingin seperti ini.. tapi aku tidak bisa mengkhianati kakek..." Kata Devian tersenyum sedih.


"Ini sudah takdir kita berada di kubu yang berbeda.. Semoga kau baik - baik saja.." Yoga pun segera menyusul rombongan yang sudah jalan terlebih dahulu.


"Yog-" Panggil Devian sekali lagi, namun tidak tersampaikan.


"Yoga!!!" Teriakan yag tersampaikan itu diselesaikan oleh Mye yang mengejar Yoga.


Yoga yang mendengar Mye memanggilnya sempat berhenti dan menoleh kearahnya, Mye yang berlari kearahnya segera memeluk Yoga yang ingin pergi. Rado yang berada didepan hanya menatap kearah Yoga tanpa berkata dan bereaksi apapun.


"Bergabung lah bersama PPMD.. aku tidak ingin kita menjadi seperti ini!" Pinta Mye dengan wajah sedih.


"Tidak bisa.. Aku tidak bisa menuruti kemauan mu.. Aku sudah bersumpah akan terus berada disampingnya.." Kata Yoga menolak dengan kesedihan.


"Tapi.. bagaimana kalu kau yang masuk aliansi?!" Seketika Yoga mengajaknya dengan sebuah harapan.


"Aku tidak bisa.. Ayah adalah petinggi di PPMD jika aku bergabung bersama aliansi, maka aku mencoreng nama baik China.." Mye tersenyum menolak ajakan Yoga.


Yoga dan Mye saling bertatap - tatapan untuk terakhir kalinya sebelum menjadi musuh dimedan pertempuran.


"Yoga.." Panggil Rado dari kaujahan.


Yoga pun tersenyum dengan kesedihan demikian juga Mye. "Baiklah.. sampai bertemu.."


Yoga segera berbalik dan meninggalkan Mye yang terlihat sangat sedih.


"Apakah dia kekasih mu?" Tanya Rado setelah Yoga berada disampingnya.


"Tidak.. dia bukan kekasih ku" Senyum Yoga membalas pertanyaan Rado dan Rado hanya melirik Yoga mencoba untuk membaca ekspresinya.


Setelah mereka keluar dari hotel tersebut, semua wartawan mulai menyerbunya dan menghujani pertanyaan mengenai peperangan antara PPMD dan Aliansi.


"Tuan Rado, Tuan Rado..Apakah anda benar membunuh tuan Kuhler..?" Tanya seorang wartawan.


Rado pun berhenti untuk melakukan klarifikasi.


"Yah aku membunuhnya.."


Perkataan Rado dengan wajah santainya itu membuat flash kamera menjadi lebih menyilaukan.


"Mengapa anda membunuhnya?! lalu bagaimana tanggapan anda atas deklarasi perang tersebut?"


Rado pun bergegas meninggalkan para wartawan itu tanpa menjawab sepatah kata untuk menjawab pertanyaan itu. Iring - iringan dari kubu Aliansi mencoba untuk memberikan Rado jalan dari kerumunan tersebut. Rado yang saat itu sudah penuh dengan kebencian didalam hatinya segera menuju bandara dan segera menuju tempat yang dijanjikan.


"Kita akan ke Labuan Bajo.. perintah ku hanya satu, jangan berikan ampun kepada mereka!"


Seruan Rado disambut semangat oleh para pemburu Aliansi. Disisi lain Yoga tidak seperti yang lainnya, baginya sekarang bila melawan Mye dan Devian adalah tugas yang berat. Rado pun mengetahui maksud dari mimik wajah Yoga yang sedang gelisah karena pertempuran yang akan dihadapinya, namun ia mengacuhkannya.


Sementara itu didalam Lobby, kubu PPMD saling melihat satu sama lain dan berkumpul bersama.


"Bagaimana kita menghentikan ini?" Tanya Kirisaki.


"Aku tidak mengerti.. mungkin ini akan menjadi akhir hayat kita.. Orang itu bukanlah tandingan kita sekarang.." Lucero memberikan pendapat.


"Untuk sekarang ini lebih baik kita pulang ke markas terlebih dahulu dan membicarakan ini kepada para petinggi.." Usul Nagatomo.


"Baiklah kalau begitu.." Jawab Jason.


Di Indonesia Vasco dan Steven berjalan kearah kamar tempat Nara disekap dengan sebuah tas yang dibawa oleh Steven. Setelah Vasco masuk kedalam Melly segera berdiri dari tempat tidur Nara dan segera melipir kesamping. Ia menunduk takut saat Vasco datang berkunjung.


"Bagaimana kabar mu?"


Pertanyaan Vasco tidak dijawab baik dengan Nara.


"Pergi kau brengs*k!" Nara dengan kasarnya mengusir Vasco.


"Hoooooo sepertinya kau masih berani... kita lihat saja apa kau masih berani berkata seperti itu" Kata Vasco lalu memberikan sebuah isyarat kepada Steven untuk membawakan tas itu.


Saat tas itu dibuka, Nara sangat syok dengan isi didalam tas tersebut. Tas itu berisi kepala ayahnya yang sudah terpenggal. Nara berteriak histeris melihat itu. Melly pun juga ikut terkejut dan segera melihat kearah Steven. Steven pun menoleh ke arah Melly dan menggeleng sedih. Hari itu menjadi sebuah titik hancur bagi Nara, Ia dengan histerisnya berteriak dan menangis setelah melihat ayahnya pergi untuk selamanya dengan kejam.