The Archon

The Archon
Pergerakan 3 Sisi



Dalam hutan kabut dimana para elf sedang mendampingi Zowie untuk mencari tumbuhan obat - obatan. Dalam hutan itu menjadi mencekam mengingat adanya sebuah teriakan yang histeris dari sisi hutan tersebut. Para elf segera berlari menelusuri hutan untuk mencari tau apa yang sedang terjadi. Mereka mengikuti jejak sihir yang dapat mereka lihat untuk melacak sesama elf.


Suara dedauanan yang terkena tubuh mereka mengimbangi rasa khawatir yang tersirat dalam wajah mereka. Beberapa saat mereka sampai pada tempat yang dituju. Para elf itu terkejut saat melihat tubuh teman mereka sedang digotong oleh beberapa Orc yang tersisa. Mereka terdiam sambil melihat mayat para elf yang bersimbah darah, karena kedatangan mereka yang tiba - tiba, para orc yang sedang membersihkan mayat para elf berhenti dan melihat kearah mereka.


Melihat ada sekelompok elf yang lain membuat salah satu orc yang memegang kapak besar berteriak memberikan sinyal kepada mereka yang jauh berada dihutan.


"Huargggg!!!!!" Teriak orc tersebut.


Dogol dan pasukan utama yang saat itu baru saja meninggalkan area pembantaian itu terhenti. Seluruh pasukan pun ikut berhenti sesuai dengan pergerakan Dogol.


"Sepertinya masih ada yang tersisa.." Kata Dogol lalu menoleh.


"Cepat bereskan!" Kata Dogol memerintah beberapa orc dibelakangnya.


Sekelompok orc memisahkan diri dari pasukan utama untuk kembali kehutan. Para elf yang saat itu tidak siap dalam jumah memilih melarikan diri menuju ketempat mereka semua. Zowin, Kan dan beberapa elf yang tidak ikut dalam pemeriksaan dibuat heran dengan mereka yang datang dengan wajah panik.


"Ayo cepat kita pergi! Ada banyak orc di hutan ini!" Kata salah satu elf yang membawa busur sambil melewati kelompok Zowie.


Kelompok Zowie pun ikut berlari mengikuti kelompok elf yang terlebih dahulu melakukan pelarian diri.


"A - apa? Orc? Kenapa mereka ada disini?!" Tanya Zowie panik.


"Karena hutan ini berada didekat wilayah mereka!" Jawab elf tersebut sambil berlari tergesa - gesa.


"KAU MEMBAWA KU KETEMPAT BERBAHAYA SEPERTI INI?" Teriak Zowie tertegun mendengar fakta wilayah itu.


Mereka berlari menelusuri jalan setapak yang terdapat dihutan itu. Secepat apapun para elf berlari, tetapi tetap saja Zowie yang tidak memiliki banyak pengalaman dalam segi fisik dapat tertinggal. Untuk itu mereka harus menyesuaikan laju pelarian mereka.


"Tuan Zowie cepat lah!" Kata salah satu elf pembawa busur.


"Dia tidak bisa berlari dengan cepat!" Kata Kan dibelakang Zowie.


"Lihat kebelakang!" Kata elf tersebut.


Zowie dan Kan pun menoleh kebelakang, terdengar kerusuhan didalam hutan dan ada sebuah kepulan asap mendekat. Kan yang terdesak menunjukan wajah gelisahnya dan ia pun segera mengangkat tubuh Zowie yang tidak terlalu besar lalu menggendongnya seperti tuan puteri.


"Maafkan aku Zowie tapi kita harus cepat!" Kata Kan.


"TIDAAAKKKKK!!!! Keperjakaan ku hilang!" Kata Zowie berteriak.


"Jangan berkata bodoh!" Kan dengan resah menjawab teriakan Zowie.


Dengan diangkatnya Zowie oleh Kan membuat laju pelarian mereka dapat dipercepat. Namun tetap saja para orc dapat mengejar mereka. Dengan tubuh yang besar dan langkah kaki yang lebar dapat membuat mereka berlari tanpa hambatan. Salah satu orc yang diduga sebagai kapter pengejaran memberikan instruksi dengan menatap kedua orc yang berada disisinya. Kedua orc itu mengangguk mengerti dan masuk kedalam hutan.


Kapten orc itu terus mengejar dibelakang kelompok elf yang sedang melarikan diri.


"Terkejar..." Senyumnya sambil berlari.


"Mereka mengejar!" Kata Kan sambil menoleh kebelakang.


"Ini buruk! Mereka juga berada di kedua sisi kita!" Kata elf yang membawa pedang dipinggulnya.


Elf yang membawa busur pun menoleh kebelakang lalu melirik ke kiri dan ke kanan. Pohon - pohon seperti tergerak karena bersentuhan dengan tubuh besar ras orc. Ia pun kembali beralih menatap kedepan dan melihat lahan yang luas dan dikelilingi oleh hutan. Saat mereka memasuki lahan yang dikelilingi hutan itu, pasukan orc yang berada disamping kanan melemparkan kapak besar kedepan mereka yang mana memutus jalur pelarian mereka.


Para elf terhenti ditengah - tengah lahan tersebut. Beberapa saat kemudian, pasukan orc yang mengejar pun mengepung mereka.


"Kita terkepung!" Kata elf yang membawa busur.


"Kita akan mati! Kita akan mati!" Kata Zowie bergumam sambil menutup wajahnya yang sedang menangis.


Kapten dari orc yang diminta untuk melakukan pengejaran oleh Dogol pun maju kedepan.


"Lihatlah... Ada tikus yang terperangkap.." katanya sambil memikul kapak miliknya.


Para elf pun mulai melakukan persiapan dan mengeliling Zowie dan Kan.


"Sedang apa kalian disini?!" Tanya elf yang sedang membidik kapten orc dengan busurnya.


"Aku sedang melakukan tugas..." Kata Kapten orc tersebut.


"Tugas..?" Tanya elf tersebut.


"Tugas memburu tikus..." Katanya sambil maju melesat untuk melakukan serangan.


Elf itu segera melepaskan ketiga anak panahnya namun dapat dihalau dengan mudah oleh kapak yang teralirkan sebuah force berwarna jingga. Saat elf itu ingin melakukan  pengambil anak panah, tiba - tiba kapten orc itu sudah berada didepannya dan sudah siap untuk melakukan serangan. Saat kapak itu ingin diayunkan untuk membelah elf tersebut, secara mengejutkan ada sebuat alat berbentuk geranat namun memiliki  bola - bola di bagian intinya. Geranat itu mengudara tepat diatas para orc dan mengeluarkan sebuah cahaya yang sangat menyilaukan.


"Aaaaaa!!!!! Mata ku!" Kata Zowie sambil menutup wajahnya.


Para elf pun melindungi mata mereka dari cahaya tersebut, Kan menundukan kepalanya dan para orc terlihat menutup mata mereka dengan tangan karena flashbang yang entah dari mana.


"Akhhh!!!! Mata ku!" Kata kapten orc menutup matanya dan kapaknya pun terjatuh.


Dalam kesilauan itu tim Lucero pun datang ditengah - tengah pengepungan tersebut dan melindungi para elf yang sedang terkepung.


"Apa kalian baik- baik saja?!" Tanya Lucero sambil memasang kuda - kuda bertahan dengan perisainya.


"Ada bantuan?! Kita selamat!" Kata Zowie sambil membuka matanya.


Saat melihat hanya terdapat 5 orang tambahan pada disisinya Zowie pun teriak kembali.


"Hanya 5 orang?! Habislah kita!" Teriaknya terbangun dari gendongan Kan.


"Hei! Kau sangat tidak menghargai kami yang sudah datang membantu.." Kata Lucero dengan wajah masam.


"Tapi apa yang bisa diperbuat dengan penambahan 5 orang saat melawan puluhan orc?!" Teriak Zowie dengan wajah penuh air mata.


Lucero yang mengetahui itu seperti masuk kedalam lubang buaya dimana sama saja ia masuk kedalam jurang kematiannya sendiri.


"Hahahaha... Mata ku sangat perih rasanya karena cahaya yang silau itu, ku kira akan ada sebuah kejutan ternyata hanyalah seorang tikus lain yang masuk perangkap.. Matilah kalian!" Kata kapten orc menyerang kembali diikuti oleh orc yang lain.


Gabungan elf dan manusia pun dibuat terpojok ditengah - tengah pengepungan tersebut. Sekali lagi, sebuah kejutan terjadi lagi. Saat mereka akan di tekan dari segalah arah, Zowie yang berteriak ketakutan tidak sengaja mengaktifkan kekuatan demicles miliknya. Tubuhnya bersinar dan sebuah lambang kebanggan ras manusia pun mengudara.


Meskipun lambangnya terbilang kecil dibanding milik yang lainnya, kehadiran lambang itu sudah dapat membuat bulu kuduk pasukan orc bergetar.


"Ada seorang pendamping! Kita akan kalah!" Kata salahs atu orc dikerumunan kelompok itu.


Para orc perlahan mundur ditangah lambang demicles yang mengudara. Para elf dan juga kelompok manusia yang ada disana dibuat terkejut dengan kemampuan Zowie yang dapat membangkitkan kekuatan leluhur tersebut. Para orc satu persatu pun melarikan diri karena takut di bantai oleh orang yang dianggap sebagai pendamping.


"Kalian! Jangan melarikan diri!" Kata kapten orc tersebut.


Saat melihat seluruh pasukannya melarikan diri dan meninggalkannya seorang diri. Kapten orc itu dengan gagah dan tekadnya tetap melakukan misi tersebut. Ia berlari menerjang pasukan elf dan manusia itu seorang diri.


"Kau! Sangat keras kepala!" Kata Kan yang juga berlari menerjang orc tersebut bersamaan dengan Lucero.


Orc itu berhasil ditahan oleh kedua tanker yang mengapitnya dari kedua sisi, tugas seorag damage dealer yang terdapat dimasing - masing kelompok pun berhasil melumpuhkan kapten orc yang tidak terlalu kuat. Tembakan panah beserta tebasan dari senjata milik kedua kelompok itu berhasil mengenai titik - titik vital dari kapten orc tersebut dan membuatnya terbunuh.


Tubuh besar orc itu pun terjatuh ketanah dengan suara yang cukup keras. Mereka yang berada di ujung tanduk berhasil diselamatkan oleh kekuatan Zowie yang baru terungkap.


"Kau seorang pendamping?!" Tanya Lucero kepada Zowie.


Seluruh mata tertuju padanya, Zowie terlihat bingung karena ia pun juga baru mengetahui, ia tidak menyangka kalau pembahasannya bersama Rado mengenai saat ia tidak mengaja meminum darah Rado yang saat itu sedang ia teliti benar adanya. Ia dapat memiliki lambang tersebut melalui media darah, bukan media transfer.


"Iyakah?" Satu kata yang keluar dari mulut Zowie untuk pertama kali.


Saat mata sedang terpukau melihatnnya, Zowie terlihat malu - malu mengakuinya.


"Pantas saja tuan Rado meminta kami untuk mencari mu! Selain kau penemu obat ajaib, ternyata kau juga seorang pendamping... Tetapi kenapa kau tidak melakukan peperangan?" Tanya Lucero merasa heran.


"Aaa... Itu karena kekuatan ku terletak pada pembuatan obat ajaib itu ha - hahahahhaa..." Zowie memberikan sebuah alasan.


Mereka yang mendengar penjelasan dari Zowie, segera menelannya secara mentah - mentah. Mereka percaya dengan perkataan Zowie tanpa mengatakan apapun lagi, mengingat memang hanya dia yang dapat menciptakan obat ajaib alias potion.


"Kita harus kembali ke Lorien, dan memberitahu nona Slyvrin mengenai ini.." Kata Kan kepada para elf.


"Kan.. Kau harus menyampaikan ini juga kepada ratu elf.. Kalau ras orc melakukan pergerakan besar - besaran.." Kata Lucero memberitahu.


"Apa?!" Mereka semua terkejut.


"Aku dan tim ku sedang melakukan pengintaian secara rahasia kepada kelompok besar itu, kalau kami hitung - hitung... Pasukan mereka bisa menyentuh angka ratusan.. Mungkin ribuan.." Kata Lucero dengan wajah penuh keseriusan.


Kan dan para elf terkejut saat mendengar jumlah dari mereka.


"Baiklah, kalau begitu kami akan segera kembali ke Lorien. Bagaimana dengan mu? Apa kau sudah memberitahu jumlah mereka kepada tuan Rado?" Tanya Kan.


"Setelah ini aku akan memberitahunya, aku baru mendapat waktu untuk memberikan laporan karena selama ini kami berada didekat mereka.." Jawab Lucero.


"Baiklah.. Semoga berhasil" Kata Kan sebelum mereka berpisah.


Kan dan para elf pun kembali ke dalam hutan dimana portal mereka berada. Sedangkan Lucero dan timnya masih menetap disana dan segera mengeluarkan sebuah alat dengan layar Hologram, ia segera menghubungi ibukota untuk memberi tahu mengenai jumlah pasukan orc tersebut. Beberapa saat ia menunggu, komunikasi pun terhubung dengan ibukota.


"Bisakah aku berbicara dengan tuan Rado?" Kata Lucero sambil mendekatkan alat tersebut kedekat mulutnya.


"Tu - tuan Rado sudah mati..." Kata seseorang yang berada di sisi sana.


"Apa?" Lucero pun terkeut saat mendengarnya.


Sehari kemudian, setelah laporan mengenai jumlah pasukan orc dapat diketahui. Ras manusia pun mulai mempersiapkan diri untuk melakukan peperangan. Para kapten dikumpulkan didepan gerbang ibukota untuk melakukan perjalanan besar - besaran untuk menantang para orc. Greg berencana untuk menantang mereka dengan kekuatan aliansi serta kekuatan barunya yang ia percaya memiliki kekuatan yang sagat besar secara instan.


"Tuan Greg.. mereka datang.." Kata Nimus membisik kepada Greg.


Greg pun menoleh kebelakang melihat ketiga pendamping mulai datang. Mereka bertiga melewati barisan para kapten dengan sangat gagah dan tabah. Mereka menunjukan sisi kepemimpinan yang hebat ditengah isu kematian Rado. Sekarang ini mereka berada dibawah kendali dari Greg yang memiliki struktur jabatan tertinggi.


"Kalian terlambat!" Geram Greg kepada mereka bertiga.


"Maafkan kami tuan.." Jawab Yoga dengan wajah datar.


Melihat wajah mereka yang datar membuat Greg sedikit kesal.


"Kalian! Mulai saat ini kalian berada dibawah kendali Watz... Kalian tidak bisa melakukan sesuatu seenaknya seperti dulu, Ikuti perkataannya dan jangan pernah membantahnya!" Kata Greg memberikan struktur terbaru.


Jaquile yang mendengar itu menjadi geram, ia mencoba untuk melakukan perlawanan, namun dengan cepat Yoga menghentikannya.


"Baik.." Jawab Yoga dengan cepat yang mana membuat Jaquiile menoleh kearahnya.


Karena harus menahan dirinya dari perlakukan Greg, Jaquile hanya bisa berdecak kesal dan kembali berbaris sejajar dengan Albert dan Yoga. Watz yang merasa sombong karena baru saja di promosikan ke jabatan yang baru, segera menghampiri Julie dengan senyuman hangat.


"Julie.. Kau bisa tidak ikut dalam pertempuran ini.. Dengan izin dari ku kau tidak perlu mempertaruhkan nyawa.." Kata Watz mencoba baik.


"Maaf sepertinya tuan Watz harus kembali ketempat anda.. Aku sebagai prajurit tidak akan mundur.." Jawab Julie dengan datar dan berubah formal.


Watz merasa kalau kebaikannya ditolak mentah - mentah oleh Julie, Ia pun mati kutu karena dipermalukan didepan kapten yang lain.


"Ba - baiklah kalau begitu.." Kikuknya lalu ia kembali kedepan para pendamping.


Greg yang saat itu berada didepan seluruh prajurit ras manusia pun mengangkat pedang berlapis emas miliknya, jirah bewarna biru gelap menjadi pilihannya untuk ia kenakan pada pertempuran pertamanya setelah sehari menjadi seorang pemimpin. Tujuan dari pergerakannya ini untuk menunjukan diri kepada seluruh ras manusia kalau kekuatannya setara dengan Rado.


Pedang pun ia usungkan kedepan.


"Ayo kita berangkat!" Perintahnya memulai perjalanan.


Sementara itu, ras elf yang sudah mengetahui kabar atas kematian Rado dari pihak ras manusia, membuat Slyvrin yang mendengar itu memilih mengurung diri didalam kamarnya karena masih tidak mempercayai kalau Rado telah tewas.


"Nona Slyvrin.. Apa anda ingin makan sesuatu?" Tanya Lefti dengan khawatir.


Namun ia tidak menjawabnya.


"Bayi anda butuh nutrisi untuk tumbuh.." Bujuk Lefti.


Beberapa saat tidak ada jawaban dari Slyvrin, akhirnya ia membuka suara.


"Apa kau mempercayai kalau Rado mati terbunuh saat melakukan perjalanan?" Tanya Slyvrin kepada Lefti.


"Aku... Aku tidak mempercayainya, karena tuan Rado adalah orang yang kuat.." Kata Lefti.


"Aku tidak mempercayai pemimpin manusia yang baru itu... Saat aku melihatnya, aku menaruh rasa curiga.." Kata Slyvrin berbicara didalam kamar.


"Tapi ia meminta kita untuk melakukan pertempuran bersama untuk melawan ras orc yang melakukan invasi besar - besaran..." Kata Lefti.


"Tidak perlu... Kita akan menolaknya!" Kata Lefti dengan ego yang tinggi.


"Tapi nona.." Lefti mencoba untuk menyangkal.


"Pergilah..." Slyvrin mengusir Lefti.


Lefti yang berada didalam kamar yang gelap terus menerus mengelus perutnya saat duduk diatas kasurnya yang berenda. Matanya sembab karena masih belum mempercayai berita kematian Rado.


"Kalau ia masih hidup, Ku bunuh dia dengan tangan ku sendiri karena membuat ku khawatir.." Katanya sambil menahan nangis.


Dihari yang sama dimana ras manusia memulai pergerakannya, Rado baru saja tiba dibagian Utara dunia Antares. Badai salju menyambut kedatangan Rado yang mengenakan pakaian serba hitam ketat yang ditutupi oleh jubah hitam panjang bertudung. Beberapa saat ia melakukan teleportasi kedaerah Utara dan mendapat koordinat dimana letak pintu masuk ke wilayah demigod dari Devian, ia pun akhirnya bertemu dengan Devian dan timnya yang sudah menunggu kedatangannya.


"Tuan, selamat datang.." Sambut Devian.


Rado pun membuka tudung miliknya dan tersenyum kearah tim tersebut.


"Tuan.. Sepertinya rambut anda sudah sangat panjang.." Kata Devian tersenyum.


"Ah... Aku lebih nyaman seperti ini.. tetapi sepertinya mulai menutupi pandangan ku.." Kata Rado sambil mengibas rambutnya dengan tangan.


Rambut Rado selama ini sudah tumbuh panjang dan mulai menutupi kuping, tengkuk dan hampir menutup matanya. Rado yang saat itu melihat salah satu tim Devian mengenakan sebuah bando hitam segera tersenyum kearahnya.


"Bisakah aku meminjam yang ada dikepala mu?" Pinta Rado.


Prajurit itu dengan kakunya memberikan bando miliknya.


"Ah... Ini tuan.." Berinya kepada Rado.


Rado segera memakai bando yang baru saja ia pakai, rambutnya saat ini terlihat rapih kebelakang dengan bantuan bando dikepalanya.


"Ini lebih baik.." Kata Rado tersenyum.


Ia pun melepas jubahnya ketanah dan terlihat tubuh dari Rado semakin membesar dibanding sebelumnya yang mana tubuhnya hanya terlihat berotot dan langsing. Kali ini tubuhnya lebih berotot berisi dengan kaos hitam lengan pendek dan juga celana panjang hitam. Tali yang menjadi penyangga sarung senjatanya pun terlihat menyilang didadanya. Ia pun membenarkan sarung tangan hitamnya dan kembali mengelus model rambut barunya.


"Apa kau tidak kedinginan tuan?" Tanya Devian.


"Tidak.. Karena kemeriahan akan terjadi sebentar lagi.." Kata Rado lalu masuk kedalam wilayah demigod yang tertutup lapisan sihir.