The Archon

The Archon
Gejolak Perang Besar



Didalam istana para demigod dibagian Utara daratan Antares yang memiliki suhu pada titik beku dengan iklim salju. Daratan Utara jarang terjamah oleh ras lain karena tidak ada sekalipun sumber daya seperti pohon maupun tanaman yang tumbuh. Hanya ada tumpukan salju, gunung - gunung es beserta monster dengan tipe es yang beradaptasi dengan wilayah tersebut.


Wilayah istana dan sekitar yang dimiliki oleh ras demigod terbalut sebuah penghalang sihir yang dapat melindungi mereka dari iklim tersebut. Bila diluarnya hanya ada salju yang luas, tetapi didalam penghalang tersebut rerumputan, pohon dan binatang tropis lainnya telah tumbuh dengan baik. Mereka seperti mendirikan sebuah wilayah yang menentang iklim pada darata tersebut dengan kekuatan tombak suci yang dimiliki oleh Achilles.


Tombak itu ditancapkan pada sebuah ruangan khusus yang berada dalam istananya. Achilles memiliki sejumlah tombak suci yang ia kenakan, tetapi tombak yang ia gunakan untuk menciptakan penghalang demi menyelimuti wilayahnya adalah tombak yang diturunkan langsung oleh para dewa diatasnya. Tombak itu akan menyerap force milik Achilles setiap menitnya untuk mempertahankan penghalang berskala luas.


Itulah mengapa, setiap penghujung tahun, Achilles akan membuat sebuah peringatan akan tombak tersebut dimana tombak itu juga sebagai alat perantara untuk memuja para dewa perang lebih tepatnya. Achilles pada tiap tahunnya akan menstransfer sejumlah besar forcenya kedalam tombak tersebut hingga bercahaya terang demi membuat penghalang tersebut.


Penghalang itu selain sebagai pemutus iklim salju didaratan itu, juga digunakan sebagai kamuflase dari para petualang yang tidak sengaja melewati area tersebut. Namun sayangnya penghalang itu tidak dapat menahan serangan karena bukan bersifat pertahanan dalam segi fisik maupun sihir, itulah mengapa tombak Rado dapat menembus dan menghancurkan istana milik Achilles.


Olympus nama wilayah yang ditempati oleh para demigod. Saat ini istana milik Achilles telah hancur setengahnya akibat tombak yang dilemparkan oleh Rado. Hal itu mengundang rasa panik yang terjadi pada ras demigod, mereka berlarian menuju istana Achilles untuk memastikan keadaan dirinya.


"Tuan Achilles!" Teriak Juliver dengan wajah khawatir.


Aslav yang saat itu berada dibawah istana setelah memberikan tombak suci milik Achilles dibuat terkejut dengan kehadiran tombak tersebut menancap didekatnya.


"Itu?!" Katanya dengan wajah kaget, lalu ia segera menoleh keatas istana yang hancur dan pergi keatas.


Para pendamping demigod berkumpul disamping Achilles yang sedang tersenyum senang melihat hancurnya singgana miliknya. Disisi lain wajah para pendamping dari ras demigod hanya terkejut melihat kekacauan tersebut.


"Siapa yang melakukan ini?!" Tanya Juliver marah.


"Yang menghancurkannya adalah seseorang yang berasal dari laju tombak tuan Achilles dilesatkan" Kata Aslav dengan nada sangat berhati - hati.


"Apa?! Kemana anda lesatkan tombak itu tuan! Apakah dia yang baru sajah menumbuhkan sayap sejatai ketiganya?!" Tanya Juliver dengan geram.


"Tenanglah Juliver.." Kata demigod wanita berambut hijau dengan wajah dingin melirik Juliver.


Wanita itu mengenakan jirah dengan bagian perut yang terbuka dan juga rok yang terbuat dari bahan jirah. Pada telinganya terpasang sebuah ornamen berbentuk sayap. Ia membawa sebuah kapak bergagang panjang dengan dua sisi yang berbeda. Satu sisi memiliki bilah yang pendek sedangkan sisi sebelahnya memiliki bilah yang panjang hampir menyerupai sebuah sabit.


"Rhea... Aku baru melihat mu.." Toleh Achilles.


"Ya.. Tuan Achilles, maafkan aku karena aku baru saja terbangun dari tidur ku.." Jawab Rhea.


"Sudah 200 tahun kau tertidur, kenapa juga kau harus bangun?" Tanya Juliver cetus.


"Hidup kita sebagai demigod sangatlah membosankan dimana tidak ada lawan yang sebanding, tetapi... Setelah mengetahui kalau para dewa menurunkan sebuah anugerah kepada ras dibawah kita, aku merasa kalau ini saatnya untuk bangun.. Dan, kau pikir selama aku tidur, aku tidak mengetahui apa yag terjadi? Hei Aslav.." Lirik sinis kepada Aslav.


Aslav yang ditatap dengan kesinisan Rhea hanya bisa menunduk.


"Maafkan aku.." Kata Aslav takut.


"Kau dikalahkan oleh ras rendahan.... Itu sangat memalukan!" Sinis Rhea.


"Rhea!" Bentak Achilles.


Rhea yang saat itu sinis berubah menjadi takut dan menunduk.


"Maafkan aku..." Takutnya kepada Achilles.


"Para dewa telah berkehendak untuk menciptakan lawan yang sebanding dengan kita sebagai sebuah penerus kursi mereka dalam pertempuran akhir ini. Apa kau tidak merasa bosan dengan kehidupan setengah abadi tanpa ada lawan?" Tanya Achilles tanpa menatap Rhea.


"Lihat... Salah satu dari empat yang telah diberikan anugerah yang dahsyat telah melakukan ini, dan tidak hanya dirinya saja... Aku juga merasakan akan ada pemain yang layak lainnya sudah bersiap untuk menumbuhkan sayap sejatinya dari arah Tenggara" Senyum Achilles.


"Ada yang lain?!" Tanya Aslav dan juga Juliver bersamaan.


"Tuan Achilles, bukankah sebaiknya kita menghancurkan mereka sekarang juga dan meminta para dewa untuk menjadikan kita abadi selamanya?!" Usul Aslav.


"Aslav!!! Kenapa kau berpikiran pengecut!?" Kata Achilles melirik tegas.


Aslav pun dibuat bergetar oleh tatapan itu.


"Tidak akan ada penghormatan bagi kita bila mencapai tujuan tanpa bertempur!" Kata Achilles menjawab pertanyaan Aslav.


Seluruh pendamping demigod terdiam mendengar ucapan Achilles dengan wajah seriusnya.


"Bersiaplah.. Beberapa minggu kedepan kita akan ikut bermain dalam pertempuran ini" Senyum Achilles sambil meninggalkan mereka dan para pendamping pun memberikan hormat.


"Bereskan kekacauan ini.. Aku ingin bersantai.." Sambungnya sambil menggiring beberapa demigod wanita yang sudah mengenakan pakaian transparan.


Rhea melirik sinis kearah Achilles sambil menunduk hormat. Baru saja Achilles ingin melewati pintu singgasananya, ia terhenti dan menoleh kearah Rhea dengan senyuman nakalnya.


"Rhea... Sudah 200 tahun kau tidak meleyani ku... Aku tunggu kau di kamar ku sekarang juga.. Hahahahaha" Tawanya sangat puas.


Rhea tertunduk dengan wajah menghitam dan menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.


"Baik.." Jawabnya dengan nada kesal pelan.


Juliver yang mendengar itu melirik mengejek kepada.


"Meskipun kau seorang pendamping.. Tetapi kau tetap saja menjadi budak ranjangnya hahahaha" Tawa Juliver sambil pergi meninggalkannya, diikuti Aslav tanpa mengatakan apapun.


"Khek!" Sakit hati Rhea menahan kesal pada diri sendiri yang tidak mampu melawan Achilles.


Dibelahan daratan yang lain dimana para Orc sedang melakukan perburuan besar - besaran terhadap para monster yang hidup diratan tersebut. Dogol yang merasa haus akan pertempuran berlari memburu hewan buas yang berada didaratan tersebut. Makhluk buas yang diburu oleh Dogol adalah sejenis reptil bertanduk yang memiliki ekor berduri, mata yang bisa berputar seperti bunglon dan memiliki ukuran setinggi dua meter. Reptil itulah yang mendiami rawa yang berada didekat Tirith dan rawa itu biasa dipergunakan untuk membuang jasad para orc yang telah mati baru - baru ini.


Rawa itu memiliki rerumputan yang tinggi dan pepohonan akar yang merambat sehingga dapat membuat habitat yang cocok untuk reptil tersebut untuk membuat sarang ditumpukan akar - akar yang merambat itu.


Dogol terus memburu setiap ekor reptil yang ia temui sehingga mayat dari reptil itu memenuhi rawa tersebut. Para pasukannya hanya bisa melihat kebrutalan Dogol saat menggunakan kedua kapaknya. Lucero yang saat itu bertugas untuk mengikuti setiap pergerakan ras Orc dibuat gemetar dengan kekuatan Dogol yang mampu membasmi reptil yang biasa mereka hindari karena keganasannya. Lucero dan pasukannya terlihat sedang bersembunyi diantara rerumputan rawa yang tinggi dengan air yang menggenang.


"Dia sungguh gila!" Kata Lucero melihat kengerian dari Dogol saat membelah tubuh reptile tersebut.


Dogol terlihat seperti haus akan darah, tubuh hitamnya yang dipenuhi darah menambah kesan mengerikan. Perburuannya itu membuat jenis reptil tersebut hampir punah dirawa tersebut. Setelah membasmi beberapa reptil yang ia temui Dogol tiba - tiba berteriak panjang.


"Akhhh!!!!!!" Tubuhnya mengeluarkan force merahnya dan demiclesnya pun secara samar berkelap - kelip di Udara.


Namun, tidak seperti Rado. Demicles itu kembali redup tidak sampai menumbuhkan sayap barunya.


"Masih kurang!" Katanya merasakan sesuatu, lalu mencari monster disana.


Dalam keadaan kapak yang mengayun terus menerus, Dogol seperti merasa gelisah akan ketinggalan dirinya.


"Kenapa aku merasa gelisah seperti ini?!" Tanyanya sambil bersimbah darah dari tubuh reptil yang ia tebas.


"Kenapa aku menjadi haus akan bertarung dengan manusia itu!" Tanya Dogol sekali lagi mengingat Rado dengan marah.


Jadi selama Rado mengembangkan kekuatan demiclesnya, ternyata bukan Achilles saja yang merasakan kekuatan tersebut, tetapi Dogol juga merasakannya namun dengan penerimaan yang berbeda. Ia merasa kalau demicles Rado yang sedang berkembang itu ingin mengintimidasi dirinya. Belenggu dalam hati Dogol berbeda dengan milik Rado, belenggu yang tertanam dalam Dogol adalah sebuah nafsu dan kekuatan.


Ia terus melepaskan nafsu yang sedang menggebu - gebu dalam dirinya saat ini. Para pasukan orc yang sedang menyaksikan dirinya, sampai dibuat takut untuk mendekat. Hanya Frago saya yang tertawa - tawa senang menyaksikan Dogol yang menggila di rawa tersebut.


"Kenapa?! Kenapa?! Kenapa?!!!!!!!" Kesalnya sambil melihat kapak yang penuh darah berwarna ungu.


"Kenapa aku masih merasa kurang?!" Tanya Dogol sambil berteriak.


Dogol pun menoleh kearah pasukan orc yang sedang menunggunya di tepi rawa. Ia pun tersenyum sambil memperlihatkan gigi tajamnya. Melihat Dogol yang tersenyum seram membuat pasukan Orc begitu ketakutan. Dogol segera melesat kearah mereka dan melakukan serangan terhadap bawahannya sendiri. Beberapa orc mati seketika dengan tubuh terbelah terkena kapak milik Dogol.


Ratusan orc yang mendampinginya dibuat tidak berdaya menghadapi Dogol yang sedang lepas kendali. Dogol menebas mereka tanpa rasa ampun sedikitpun, teriakan dari para orc yang tertebas oleh kapaknya menghiasi rawa tersebut. Rasa takut dan gigi yang bergidik melanda para orc yang menyaksikan temannya sedang dibantai oleh pemimpin orc sendiri.


Disela - sela pembantaiannya itu Dogol terus berteriak bersamaan dengan munculnya demicles miliknya yang berkelap - kelip ingin bertransformasi juga. Setelah demiclesnya redup, ia kembali melakukan pembantaian tersebut.


Para prajurit orc hanya bisa berdiam diri tidak bisa melakukan apapun, karena bila mereka lari maka hukuman yang lebih berat akan menghampiri mereka. Senjata yang sedang mereka pegang terlihat bergetar karena tubuh yang menahan rasa takut. Barisan depan sudah hampir dihabisi oleh keganasan Dogol, namun saat Dogol ingin membasmi barisan selanjutnya, Laguun datang menghadangnya dengan rasa takut yang tertutupi oleh wajah tenangnya.


Jari - jarinya bergetar saat menghadang Dogol yang dalam keadaan bersimbah darah para orc. Frago hanya tertawa - tawa samping barisan kanan melihat Laguun yang memberanikan diri untuk menghentikan Dogol. Dogol terhenti saat berada didepan Laguun, para orc yang lain merasa terselamatkan dengan hadirnya Laguun untuk menghentikan Dogol.


Dogol hanya menatap Laguun tanpa berbicara sedikitpun, demikian juga Laguun. Laguun berharap kalau Dogol akan menghentikan aksi sia - sianya itu setelah dirinya menghadang. Namun, itu tidak menghentikannya seidkit pun. Dogol menarik lengan kanannya keatas untuk mencoba menebas Laguun dengan kapaknya karena menghalangi dirinya. Saat Kapak itu dilancarkan kearah Laguun dan tepat ingin mengenai kepalanya, Laguun membuka suaranya.


"Tuan Dogol!" Teriaknya dengan tatapan yang tidak berpaling kepada Dogol.


Kapak itu pun terhenti sebelum mengenai keningnya.


"Ada apa dengan anda?! Anda baru saja membantai pasukan anda sendiri!" Jelas Laguun dengan intonasi tinggi.


"Aku butuh pertempuran! Aku ingin darah mengaliri kapak ku ini!" Kesal Dogol memberitahu keinginannya kepada Laguun.


"Kalau begitu kau bisa mendapatkannya dengan menyerang ras lain ataupun monster - monster yang tersebar di daratan ini! Kau telah membuang sia - sia nyawa prajurit kita" Kata Laguun mencoba memberi pengertian kepada Dogol.


Dogol yang mulai tersadar menurunkan kapaknya dan berjalan melewati Laguun yang masih merasa tegang.


Dibalik rerumputan rawa yang panjang, Lucero dan bawahannya terlihat tegang saat melihat aksi pembantaian yang telah dilakukan oleh Dogol terhadap pasukannya sendiri. Setelah Dogol telah usai melakukan pembantaian tersebut, Lucero dan bawahannya mulai bisa bernafas lega. Saking tegangnya, salah satu bawahan Lucero menjatuhkan diri sambil membuang nafas yang telah tertahan beberapa waktu saat menyaksikan adegan pembantaian tersebut.


Aksi menjatuhkan dirinya karena merasa lega membuat satu pasukan pengintai hampir terbunuh. Riak air yang tercipta dari guncangan tubuhnya mengundang perhatian Dogol dan juga Laguun. Frago yang saat itu berada jauh disebearang sisi pun sampai menyadarinya dan mendekat untuk memeriksa sebab air itu beriak. Langkah demi langkah Frago mendekat sambil memegang senjatanya untuk melakukan persiapan.


Lucero dan juga para bawahannya yang berjumlah 4 orang itu dibuat tegang kembali. Kali ini ketegangan mereka sungguh maksimal hingga membuat keringat mereka menetes kebawah. Mata mereka terus bergetar seiring langkah kaki Frago yang mendekat. Degup jantung mereka pun saling menyaut satu sama lain seiring riak air yang terus menerus bergelombang karena ulah kaki Frago yang mendekat.


Saat jarak Frago dengan rumput tempat mereka sembunyi sudah dekat. Frago dikejutkan dengan salah satu reptil yang bersembunyi dari belakang pohon belukar melompat kearahnya dengan mulut yang membuka. Frago dengan cepat mengayunkan kapaknya tepat ke tengkorak reptil tersebut dan membuatnya mati seketika disampingnya.


Frago terkejut sekaligus kesal karena kekuatan yang ia miliki belum sebanding dengan Dogol yang mampu membelah para reptil itu menjadi dua bagian. Setelah meyakinin kalau riak air itu berasal dari reptil tersebut, Frago mengundurkan diri dari rerumputan tersebut dan kembali pada barisan pasuka Orc.


Setelah semua sudah terlihat aman, Dogol dan yang lainnya pun memilih untuk kembali ke Tirith. Lucero dan bawahannya masih dalam keadaan tegang sambil mendengar langkah pasukan yang semakin menjauh dari tempat mereka bersembunyi. Setelah suara pasukan orc sudah menjauh berangsur menghilang barulah mereka semua dapat bernafas lega.


"Bwahh!!!! Itu hampir saja.." Kata prajurit yang menyebabkan riak air.


"Huft... Kita harus kembali ke ibukota untuk memberitahu tuan Rado mengenai para orc.." Perintah Lucero yang menarik diri dan pasukannya.


Tiga hari kemudian, sebelum Rado menerima laporan dari Lucero karena suatu hal yang tidak diketahui, Rado terlihat menjalani hidup dengan tentram dalam masa peristirahatannya setelah semua hal yang berat ia alami. Setelah insiden pergerakan dari ras dwarf dan juga serangan dadakan dari Achilles, ibukota De Hoorn kembali dibangun berkat kerjasama warganya yang mulai menaruh hormat kepada Rado. Banyak alat - alat kontruksi modern terlihat berlalulalang membawa bahan bangun bersamaan dengan tawa para warganya.


Rado yang kembali kehidupan semulanya, berjalan - jalan di akademi bersama Ranbu, mengurus berkas, menerima segala laporan mengenai ibukota dan wilayah ras manusia lainnya. Pusat pelatihan militer yang terdapat pada distrik bawah pun juga sudah dimulai pengerjaannya dibawah naungan Albert langsung.


Jefry yang ditugaskan Rado untuk menemani Albert untuk mengontrol jalannya pengerjaan proyek besar tersebut menjadi lebih akrab dengannya. Selain menjadi teman untuk mengontrol jalannya pembangunan pelatihan militer itu, Jefry telah diangkat menjadi sebuah ikonik sebagai kesetaraan sosial.


"Cih! Kenapa dirinya menjadi semakin dihormati?!" Tanya Nimuz sambil memperhatikan jalannnya pengerjaan proyek pembangunan pelatihan militer di distrik bawah.


Ia pun berlalu begitu saja dengan wajah penuh kebencian terhadap bangkitnya ibukota De Hoorn dibawah kepemimpinan Rado. Para dwarf yang ditawan pun dikurung disuatu ruang bawah tanah gedung utama tempat Rado biasa bekerja. Para elf pun juga disambut dengan baik, terutama Slyvrin. Ia diperlakukan dengan sangat baik mengingat kabar mengenai dirinya yang akan menjadi istri dari Rado sudah tersebar luas.


Setiap Slyvrin mengunjungi setiap distrik yang ada pada De Hoorn ia akan disambut dengan baik oleh para warga. Slyvrin yang selalu di kawal oleh Hamdall, Kuluk dan Sarka terasa nyaman dengan keadaan Ibukota De Hoorn. Lefti saat ini sedang bersama Jaquile berjalan - jalan mengunjungi berbagai tempat hiburan di ibukota. Kedekatan mereka sudah terjadi setelah kejadian Lefti yang terus merangkul dirinya pada pertempuran terakhir.


Mereka terus menikmati suasana ibukota hingga lupa waktu sampai malam hari. Rado yang sejak pagi berada didalam ruangan untuk menyelesaikan pekerjaan hariannya, terlihat meregangkan tubuhnya. Dalam ruangan itu ia hanya sendiri karena Albert dan Jefry sedang mengawasi jalannya pembangunan pusat pelatihan, Jaquile sedang berjalan bersama Lefti dan Yoga mendapat tugas untuk mengambil alih Moria dari ras dwarf.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangannya pun diketuk oleh seseorang. Rado yang segera membenarkan posisinya mempersilahkan orang itu untuk masuk.


"Masuklah.." kata Rado sambil duduk menghadap pintu.


Pintu pun terbuka dan orang yang memasuki ruangan Rado adalah Julie.


"Julie? Ada perlu apa kau kemari?" Tanya Rado terheran.


"A - aku hanya...." Jawab Julie tergugup sambil memainkan jarinya.


"Hanya...?" Heran Rado.


"Hanya khawatir dengan keadaan tuan.." Kata Julie dengan wajah merahnya.


Rado tersenyum dengan sifat lugunya itu.


"Kau khawatir?" Senyum Rado.


Julie hanya mengangguk pelan.


"Kau ingin secangkir teh?" Tanya Rado sambil beranjak dari kursinya lalu menuju meja yang terdapat teko.


"Ah.. Tidak perlu... Itu hanya menambah kerjaan anda.." Tolak Julie secara halus.


Rado mengacuhkan perkataannya dan segera menuangkan teh kesebuah cangkir. Bagi Rado ini adalah pertemuan hal yang biasa mengingat Julie adalah teman seperjuangannya semasa di dunia sebelumnya. Namun tidak dengan Julie, saat ini Rado adalah sosok yang sangat besar sekaligus sosok pria yang menarik perhatiannya.


"Duduklah.." Kata Rado mempersilahkan dirinya untuk duduk disebuah sofa tunggal.


Julie pun duduk di sofa tersebut secara perlahan dan Rado duduk pada sofa panjang dihadapannya.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku.." Kata Rado memulai percakapan.


"Yah... Setelah pertempuran itu, saya belum sempat menemui anda.. Aku merasa khawatir dengan keadaan luka anda saat melawan ras dwarf.." Kata Julie malu - malu sambil meminum teh panas tersebut.


"Aku sudah merasa lebih baik sekarang ini.. Apa kau sedang tidak bertugas?" Tanya Rado.


Julie hanya menggeleng pelan dengan lugu sambil meminum teh dicangkirnya sekali lagi untuk menutupi kegugupan. Rado sedikit terheran dengan dirinya yang kuat meminum teh panas tersebut sekaligus.


"Sekuat apa lidahnya?" Tanya Rado dalam hati.


Teh pada cangkir Julie pun habis dan ia seperti orang yang bingung karena teh yang ia gunakan untuk menutupi kegugupannya telah habis.


"Kau ingin tambah?" Tanya Rado.


"To - tolong.." Kata Julie sambil menyodorkan cangkir tehnya kepada Rado dengan gugup.


Rado pun menuangkan isi teko yang panas itu kepada cangkir milik Julie. Namun, karena teh dalam teko itu sangat panas, jari mungil Julie terasa terbakar dan ia pun melepaskan cangkir itu secara spontan.


"Julie!"


Rado dengan cepat menghampirinya lalu memegang tangan Julie yang terbakar dan terlihat memerah.


"Maafkan aku.." Kata Rado sambil melihat jari Julie yang memerah.


Disisi lain Julie terus memandangi Rado yang saat ini sedang berada didekatnya dengan wajah yang terkesima. Wajahnya dan Rado hanya berjarak satu jengkal saja. Rado yang sadar akan hal itu memandang Julie balik dan terdiam. Tanpa sadar Julie memajukan wajahnya kearah Rado dan Rado hanya terdiam menatap Julie. Saat bibir mereka hampir menyentuh satu sama lain, mereka dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka oleh seseorang.


Rado pun segera menarik diri dengan cepat dan kembali duduk di sofanya. Orang yang masuk kedalam ruangan dan mengganggu mereka berdua adalah Syvrin yang baru saja selesai berkeliling kota. Slyvrin yang melihat Rado sedang duduk berhadap - hadapan dengan Julie hanya tersenyum manis melihat mereka berdua.


"Apa aku mengganggu?" Kata Slyvrin lembut.


"Tidak.." Senyum Rado.


"Saya permisi terlebih dahulu.. Tuan Rado.. Nona Slyvrin.." Kata Julie yang tiba - tiba berdiri lalu beranjak pergi tertunduk.


Slyvrin pun berjalan mendekati Rado dan duduk disebelahnya. Ia memandang nakal ke Rado dan Rado hanya terlihat tenang sambil meminum tehnya.


"Apa yang dilakukannya disini?" Tanya Slyvrin tersenyum.


"Dia hanya mengkhawatirkan ku.." Kata Rado menjawab jujur.


"Hmmm apa benar..??" Tanya Slyvrin dengan wajah cemberut.


"Ya.." Jawab singkat Rado.


"Hah... Aku akan kembali besok ke Lorien..." Kata Slyvrin menyandarkan dirinya kepundak Rado.


"Secepat itu?" Tanya Rado tersenyum.


"Yah.. Aku tidak ingin meninggalkan Lorien terlalu lama..." Jawab Slyvrin sambil memainkan ujung rambutnya.


"Aku akan mengantar mu besok.." Kata Rado menawarkan diri.


"Terimakasih..." Senyum Slyvrin sambil mendaratkan kecupannya kepada pipi Rado, lalu ia beranjak pergi dari sofa tersebut.


Sebelum ia pergi dari ruangan itu, Slyvrin menoleh dengan senyum manisnya kearah Rado.


"Hei.. Aku tidak masalah kalau kau memiliki istri selain aku.." Katanya tersenyum.


Rado yang mendengar itu hanya tersenyum kearah Slyvrin.


"Hmph.. Apa yang kau katakan?" Tanya Rado.


"Fufufuf kau tidak bisa membohongi wanita... Selamat Malam.." Kata Slyvrin lalu pergi meninggalkan Rado.


Pintu pun tertutup dengan rapat dan Rado pun tersenyum lemas sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Wanita.... Sungguh menakutkan.." Senyumnya sambil berdiri dari sofa tersebut.