The Archon

The Archon
Dungeon Lantai 5 Piramid



Nnnggg~~~~ Suara motor dari Rado yang melintasi area perkotaan menuju menara di Jakarta Pusat. Pada layar tv besar yang terpasang disebuah gedung, menampilkan Berita mengenai misi pertama para pemburu berlisensi.


{Hari ini akan menjadi hari yang bersejarah dimana pemburu kita akan melakukan perburuan di negara lain, Daftar pemburu yang akan dikirim keluar negeri adalah Kan Basungkak, Kenny Augslaug dan Julie Violet. Mereka akan bertarung bersama negara Thailand untuk menutup sebuah Red Dungeon yang tidak terselesaikan agar tidak terjadi breakdown, mari kita berdoa untuk keberhasilan mereka}


-Kilas balik pada kemarin malam


Tingggg~~~~ Notif smartphone Rado berbunyi.


[Aku mendapat misi keluar negeri untuk menutup sebuah red dungeon, aku sudah memberi tau junior ku bernama Billy atas keikutsertaan mu dalam raid besok. Temui dia besok dilantai 5 jam 10 pagi. aku akan memberikan kontaknya kepada mu] Julie mengirimkan pesan kepada Rado kemarin malam.


[Baru saja kita bertemu di toko Zowie tadi siang, tetapi dia sudah mendapat misi yang jauh besok] Dalam benak Rado sambil menatap layar smartphonenya.


Hari itu anggota tim Rado berhasil menyelesaikan semua dungeon yang telah mereka pesan, total pendapatan yang diperoleh dari kelima dungeon itu sebesar 223 jt rupiah, CLoe menuliskan secara rinci pemasukan dan pengeluaran yang telah ia bukukan dan memberikannya kepada Rado. Rado begitu terkejut setelah melihat laporan keuangan yang begitu fantastis tersebut.


Room Chat Inti.


Gavriel : Aku sudah menerima laporan mengenai dungeon kalian, kalian begitu hebat.


Semua : Terimakasih Kapten


Gavriel : Sepertinya Green dungeon bukanlah hal yang sulit lagi, bagaimana kalau kita tingkatkan menjadi Blue dungeon untuk semua raid kita?


Gai : itu ide yang bagus, bersama mereka (Mantan Blanked) kita bisa melakukannya.


Geraldo : Aku tidak keberatan sobat hahahahaha


Malam itu mereka semua menyanggupi usulan dari Rado untuk menaikan tingkat gate mereka ke Blue.


CLoe :Untuk harga Blue Dungeon sekitar 2-5jt sesuai dengan tingkat konsentrasi dari gate tersebut, aku menyarankan kepada mu untuk menaikan potongan hasil tiap perburuan.


Gavriel : Berapa yang kau usulkan CLoe?


Cloe : 30%


Gavriel : Apa itu akan membebani mereka?


CLoe : Menurut perhitungan ku, jika penghasilan tiap dungeon kita diatas 200 jt, itu tidak akan membebani mereka.


Gavriel : Bagaimana dengan kalian? apa ada yang keberatan?


Semua : Kami tidak keberatan.


Hendry : Yah dengan simpanan uang kas yang banyak, itu juga menguntungkan kami juga bukan?


Gavriel : Baiklah aku akan mengumkan itu di grup umum.


Pada Room chat umum, Rado mengumumkan hal mengenai kenaikan potongan hasil yang sudah mereka bicarakan tadi di grup berbeda. Mereka semua menyetujui persoalan kenaikan % dengan tangan terbuka tanpa perasaan yang mengganjal, penerimaan itu mungkin karena sosok Rado yang sudah menjadi panutan untuk mereka.


Kembali ke Room Chat inti-


Gavriel : Untuk besok lakukan seperti biasa.


Selica : Apa besok kau akan ikut?


Gavriel : Tidak.


Geraldo : Ehhhh kenapa?


Gavriel : Hahaha ada yang harus ku lakukan.


Guren : Bos apakah ada yang bisa ku bantu?


Gavriel : Tidak perlu, aku lebih tenang jika kau dan Geraldo memimpin grup 1 dalam perburuan.


Guren : Bos.... dengan senang hati aku akan mengemban itu.


Perbincangan malam itu akhirnya terselesaikan.


Kembali kepada Rado yang saat ini sudah berada didalam menara. Hari itu menara dungeon sangat ramai karena vibe dari para pemburu lisensi internasional yang membuat mereka lebih bersemangat untuk menaikan rank dan kekuatan mereka. Rado segera menuju kedalam lift dan menekan tombol ke lantai 5 untuk menemui Billy, didalam lift ia tidak lupa untuk memakai masker demi menutupi wajahnya. Kali ini dia tidak memakai tas kecilnya, karena  hari ini ia menjadi seorang porter, maka ia menggantinya dengan tas yang lebih besar untuk menampung hasil buruan.


------------


Didalam pesawat yang sebentar lagi akan mendarat di Bandara Thailand.


[Mengapa dia meminta ku untuk tidak mengungkap identitasnya?] Dalam benak Julie memikirkan chat Rado kemarin malam.


Jgrekkkk---


{Terimakasih telah terbang bersama kami, kita telah mendarat di bandara Suvarnabhumi dengan selamat}


------------


Ting~~~


Lift berhenti di lantai 5 dan saat setelah pintu terbuka, Rado sedikit terkejut dengan ramainya pemburu di lantai tersebut hari ini.


[Hah... kalau begini aku harus menelponnya] Rado segera mengeluarkan smartphone dari saku celananya.


Beberapa saat kemudian, telepon itu diangkat dan suara pria terdengar dari smartphone tersebut.


"Hallo,.."


"Ah.. aku Rado Gavriel yang akan ikut dengan kalian"


"Oh.. ternyata kau porter yang diberitahu senior Julie... cepat kesini, kami sudah didepan gate White" Nadanya sangat ketus menanggapi Rado.


"Baiklah aku akan kesana"


Setelah Rado mematikan telepon itu, ia segera mencari Gate white tersebut. Didepan gate tersebut sudah berdiri sekitar 10 orang dengan perlengkapan yang terlihat mahal, diantara mereka ada seseorang yang memakai armor full body membawa perisai panjang yang mengerucut dibagian bawahnya. Pemuda itu berambut merah kecoklatan dengan gaya jabrik.


Rado segera menemui mereka yang sejak tadi sudah menunggu didepan gate, tatapan sinis dari mereka seperti menusuk-nusuk tubuh Rado yang saat itu sedang berjalan kearah mereka.


[Hmmm tatapan itu.... tatapan merendahkan, jijik dan sombong, yah... aku sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti ini] Rado tersenyum dibalik maskernya karena melihat tatapan dari mereka.


Baru saja Rado tiba, pemuda berambut jabrik itu mengeluarkan perkataan yang menyakitkan.


"Apa sih maksud dari senior Julie? kenapa kita harus membawa seorang porter lemah ke dalam white dungeon? lagipula kita juga bisa membawa dropan monster sendiri" Kata seorang perempuan yang membawa sebuah tongkat panjang di punggungnya.


"Maafkan aku" Rado mencoba untuk merendah.


Syut~~~~


Mereka akhirnya memasuki dungeon yang berada dilantai 5 medan gurun pasir. Kali ini medan tempur berada di tengah gurun dengan sebuah piramid yang tenggelam kedalam pasir. Tanpa basa-basi mereka segera masuk kedalam pintu piramid tersebut dan segera mengatur formasi tempur.


Billy berada didepan dengan 2 tank yang lain, sedangkan Rado berada dibagian belakang bersama para kelas ranger dan mage. Piramid itu sungguh gelap dengan lorong yang terbilang panjang sehingga para mage harus mengeluarkan kemampuan api mereka untuk menerangi piramid tersebut.


"Anoo... maafkan perlakuan mereka terhadap mu tadi.." Kata gadis yang membawa panah dengan rambut bob pendek kepada Rado.


"Tidak apa-apa itu juga karena salah ku yang telat datang" Rado menoleh kepada gadis itu.


"Kalau tidak salah.. nama mu Rado kan?"


Rado hanya mengangguk sambil melihat kearah depan.


"Aku Lili seorang ranger" Sambil malu-malu ia memperkenalkan diri.


Baru saja saat Rado ingin menyambut perkenalan itu, Billy memotong momen itu.


"Lili jangan ajak dia mengobrol..!! nanti kau akan tertular lemahnya" Billy berteriak dari arah depan.


Karena perkataan tadi, Lili menjadi diam dan menunduk kebawah, Rado tidak memperdulikan itu, namun ia merasakan regu ini begitu tidak nyaman dengan adanya seorang Kapten yang mempunyai perilaku buruk.


"Jeh... semenjak dia ditunjuk oleh kapten Watz sebagai kapten regu D dia jadi begitu sombong" Kata seorang pemuda mage yang memakai topi penyihir berbisik didekat Rado dan beberapa orang lainnya.


"Yah.. kalau dipikir-pikir dari segi kekuatan Kenji lebih hebat dibandingkan dirinya" Seorang gadis yang membawa rifle dengan kupluk dan sebuah kacamata kotak sambil membicarakan seorang pria yang berada didepan dengan katana dipinggulnya.


Salah satu dari mereka segera menoleh ke Rado dan memperkenalkan diri.


"Yooo tuan porter, aku Locus, senang kau bisa ikut dengan kami" senyuman ramah dari pria mage itu kepada Rado.


"Aku Hani.. salam kenal" tanpa menoleh dan nada datar gadis rifle itu juga memperkenalkan diri juga.


"Aku Rado, senang berkenalan dengan kalian" Nada santai khasnya itu selalu ia gunakan saat berkenalan.


Sikap baik dari Lili, Locus, dan Hani tersebut, membuat image jelek regu itu runtuh seketika dimata Rado. Awalnya ia berfikir kalau regu itu hanya berisi orang-orang sombong dengan rank tinggi, tetapi karena mereka Rado membuang jauh-jauh pikirannya tadi.


"Hei..!!!! Sudah ku bilang jangan mengajaknya berbicara..!" Billy menoleh dengan wajah kesalnya.


Seketika iringan itu berhenti dan Billy segera menghampiri Rado yang berada dibelakang, Namun saat itu juga seorang dengan rambut panjang terkuncir kebelakang menghadangnya.


"Billy.. inikah sifat dari seorang yang diberikan kehormatan untuk meminpin regu oleh kapten Watz?"


Pria yang menghadang Billy sedikit lebih tinggi darinya dan memiliki wajah tenang.


"Kenji.. sialan kau..!" Billy kesal dengan Kenji yang menghalanginya.


"Kapten Billy kita harus fokus dengan dungeon, biarkan cecunguk itu" Kata seorang Tank yang berada didepan.


Billy segera beralih kembali kedepan dan melanjutkan iringan regu tersebut untuk masuk lebih dalam. Kenji yang berhasil menghentikan api dari Billy menoleh ke arah Rado sambil tersenyum dan Rado hanya mengangguk sedikit untuk berterimakasih kepadanya.


Lorong piramid ini ternyata menuju kedalam ruangan yang cukup besar, ruangan itu dipenuhi patung-patung dengan bentuk kalajengking.


Gruk.. grukkk.....  Suara langkah seribu terdengar dari lorong-lorong kecil yang berada diruangan tersebut.


"Bersiaplah..!" Billy memberikan aba-aba kepada mereka.


Srang.. cekrek.. Suara pedang dan sebuah senjata api yang mulai dipersiapkan meramaikan ruangan itu. Para Close rank mulai berjaga untuk menghadapi serangan tiba-tiba dari lorong kecil tersebut.


Ngiikkkkkkkk~~~ Wung..


Sebuah ekor tajam menyerang tiba-tiba dari dalam lorong kecil itu dan seorang tank dengan cepat menggeserkan perisainya untuk menangkis serangan mendadak tersebut.


Tang....!!!!!


Setelah berhasil di halau, buntut itu kembali masuk kedalam lorong kecil gelap tersebut.


"Para mage bakar lorong itu sekarang...!!!!"


Setelah Billy memerintahkan itu, kelas mage segera memanipulasi api kecil yang mereka pakai untuk menerangi jalan sebagai sebuah serangan dan mengarahkannya kepada lorong kecil tersebut.


Burrrrr........... Api itu membakar lorong-lorong kecil dan suara ringkikan terdengar.


Ngikkkkkkkk~~~


Ruangan itu menjadi gelap seketika setelah api dari para mage tidak ada.


Wushhhhh~~ Tiba-tiba ada sebuah serangan angin datang entah darimana.


Duak..... Seorang close range yang membawa sebuah kapak terkena serangan itu dan mendapat luka dibagian perutnya.


"Sial.... aku tidak bisa melihat apa-apa..!" Ia segera mengambil sebuah potion merah dari tas kecil yang berada dipinggang dan meminumnya


Gruk--Grukk.. Gruk.. Suara langkah kaki tersebut semakin mendekat dan terdengar sangat ramai di kegelapan ruangan itu. Para pemburu hanya mengandalkan pendengaran dan insting mereka saat ini.


"Dari mana mereka?" Tanya Billy sambil berputar-putar.


"Mereka dari segala arah" Kata seseorang dari kegelapan.


"Apa kita terkepung?"


"Aku tidak tahu, mage tembakan api keatas cepat!" Billy memerintah.


Satah satu mage menembakan api keatas untuk penerangan sesaat, betapa terkejutnya tim regu itu setelah mengetahui kalau mereka sekarang berada ditengah-tengah kerumunan para kalajengking.


"Astaga..... kita terkepung!!!" Kata salah satu tank.


"Scorpion Soldier`s yah...Tuan Porter sebaiknya kau tidak jauh-jauh dari kami, ini akan sulit" Kata Locus dengan keringat yang mulai terlihat di wajahnya.