
Pulang sekolah, Azriel seperti biasa pulang bersama Milan. Berjalan bersama seperti biasa ke arah area parkiran Azriel merasa ada yang aneh dengan Milan.
"Lo kenapa dah?"tanya Azriel langsung pada Milan.
"Hm? Gak ada apa-apa, cuma yah gue suntuk dikelas terus tadi gak bisa bolos karena bokap udah wanti wanti gue biar gak bolos lagi"kekeh Milan diakhir karena diawal Milan terlihat tidak fokus dan seperti sedang memikirkan sesuatu.
Mengetahui sahabatnya itu seperti memikirkan sesuatu namun tidak ingin diceritakan padanya Azriel berpikir nanti juga Milan akan cerita padanya, tidak perlu memaksa untuk mengetahuinya biar Milan sendiri yang cerita pada akhirnya.
Sampai diparkiran berjalan menuju motornya Azriel terhenti dan dibuat menatap kearah luar pagar sekolah, disana dirinya melihat sosok Anna bersama Aldres dan mereka terlihat sangat akrab membuat Azriel mengernyit dan sedikit terkejut.
"Si Aldres kenal Anna apa?"tanya Azriel sewot walau dirinya tidak menyadari nada bicaranya itu.
Milan yang mendengar pertanyaan Azriel itu pun menghela nafas berat dan ikut melihat kearah Azriel melihat.
"Gue gak tau apa hubungan mereka tapi mengingat si Aldres pernah meluk Anna sampe erat banget pas lawan tanding sih ya mereka deket"kata Milan santai sambil menatap Azriel yang seperti diduganya sahabatnya itu akan balas menatapnya dengan pandangan tidak mengerti juga bingung.
Pandangan bingung itu berubah menjadi tidak percaya apalagi melihat Milan yang seolah membaca pikirannya laki-laki itu mengangguk mengiyakan jika apa yang dipikirkannya benar adanya.
"Jadi gue–"
"Ya, bokap Lo om Aryan nyuruh dokter Dinda buat bikin Lo melupakan semua ingatan Lo dibeberapa waktu belakangan dengan hipnotis karena trauma Lo makin parah"jelas Milan dengan perasaan sangat sakit karena bisa dibilang kondisi Azriel saat ini penyebab awal dari penderitaan Azriel ini semua karenanya.
Milan benar-benar merasa bersalah pada Azriel dirinya merasa tidak pantas hidup tenang seperti ini sedangkan sahabatnya karena salahnya Azriel harus memiliki trauma yang sangat mengganggu hingga saat ini.
Azriel menyadari perubahan raut wajah Milan yang semakin kelam itu, dipastikan sahabatnya itu masih merasa bersalah atas apa yang terjadi di masa lalu, membuatnya menghela nafas lelah, dirinya tidak apa-apa tapi Milan terlalu berlebihan sampai menyalahkan dirinya sendiri karena sesuatu yang terjadi di masa lalu.
"Kira-kira dari mana dan sampe mana ingatan gue yang dihapus?"tanya Azriel.
"Lo tau kita udah ngelakuin kemah dan semua kejadian yang terjadi di perkemahan itu Lo inget?"tanya Milan memastikan.
Azriel terdiam sebentar mengingat dan sepertinya ia ingat bagian saat berkemah, bagaimana mengerikannya saat itu dimana Anna jatuh ke jurang, dirinya mencarinya dan berakhir harus berurusan dengan para pemburu liar.
Menjawab pertanyaan Milan Azriel mengangguk saja. "Kayaknya gue gak sadarkan diri setelah insiden itu dan begitu gue sadar gue seperti sekarang"kata Azriel sepertinya mengetahui dari mana ingatannya yang menghilang.
Milan sendiri ikut mengangguk dan memastikannya. Tadi pagi Azriel bahkan bertanya mengenai soal Michelle yang terlihat berjalan disana dan sahabatnya itu menanyakan siapa sosok itu dan terkejut saat mengetahui jika Michelle ada murid baru dikelasnya dan terkejut jika kelasnya menerima murid baru.
"Dan gue lupa sampe kejadian yang bikin leher Anna luka"kata Azriel menemukan bagian ingatannya yang hilang.
Yaitu dimulai dari dirinya yang bangun setelah tak sadarkan diri setelah kemah dan bangun-bangun saat dirinya seperti melewati segalanya.
Seorang murid baru, semester baru yang sudah dimulai bahkan sudah melewati UTS dan pekan olahraga, latih tanding dengan SMAN 13, dan insiden yang menyenangkan leher Anna terluka dan dirinya yang harus menghilangkan sebagian ingatannya.
Dan sepertinya banyak sekali ingatannya yang dihilangkan diwaktu sekitar itu yang nyatanya memiliki banyak sesuatu yang harusnya ia ingat tapi malah ia lupakan.
meminta maaf atas kasalahannya dimasa lalu tapi seperti biasa oleh Azriel dipotong dan dihentikan.
"Gak usah minta maaf, berapa kali gue bilang?! Keadaan gue sekarang ini bukan karena Lo atau siapapun, ini murni karena takdir gue jadi gak perlu Lo terus-menerus merasa bersalah"kata Azriel tajam karena sudah muak mendengar permintaan maaf dari sahabatnya atas sesuatu yang sama berulang kali.
Menepuk pundak sang sahabat menyemangati, Azriel sudah lelah dengan drama karena insiden masa lalu itu. Dirinya sudah menerima segalanya, semua akibat yang timbul karena kejadian di masa lalu Azriel telah menerimanya, setidaknya rasa marah dan kecewanya yang telah tertimbun lama oleh perasaaan bohong jika dirinya telah ikhlas telah menjadi busuk untuk dilampiaskan pada sosok yang meninggalkannya di waktu itu.
Seorang gadis kecil yang melarikan diri meninggalkan dirinya sendirian dengan sosok gila yang membuatnya sampai sekarang mengalami trauma.
***
Anna tidak tahu tapi dirinya merasa Azriel kembali seperti Azriel yang diketahuinya.
Walau Anna tidak tahu bagaimana dirinya bisa menyatakan diri sebagai seseorang yang mengenal Azriel hanya karena beberapa waktu belakangan laki-laki itu sering muncul disekitarnya.
Saat laki-laki itu sering berinteraksi dengan nya diluar sesi persiapan olimpiade, atau saat laki-laki itu sering sekali muncul disaat dirinya sedang dalam masalah, semua itu seperti hanya fatamorgana baginya karena nyatanya Azriel tetaplah Azriel yang sangat-sangat cuek dan malas.
Karena lihatlah sekarang laki-laki itu disaat dirinya serius dengan pendalaman materi untuk olimpiade mereka yang akan datang laki-laki itu hanya tidur menikmati AC perpustakaan menggunakan bukunya untuk menjadi bantal.
Khas seperti Azriel. Atau memang seperti itu adanya Azriel karena yang beberapa waktu belakangan itu bukan Azriel tapi orang lain.
"Bapak tidak akan lembut karena kamu yang kembali jadi orang yang maju kembali sebagai perwakilan di olimpiade nanti, malah bapak yang makin was was karena takutnya kemampuan kamu menurun"kata pak Sugeng mewanti-wanti Anna.
Anna mengangguk saja mengiyakan karena dirinya juga merasa seperti itu membuatnya mati-matian agar tidak mempermalukan nama sekolahnya dan juga memastikan dirinya akan menjuarai olimpiade yang akan membuat sang ibu bangga padanya.
Kedua nya tidak menyadari jika sedari tadi yang disangka tidur itu ternyata terjaga dengan mata terbuka dengan tatapan kosong namun terkesan tajam.
***
Hari olimpiade diadakan Azriel dan Anna pun pamit pada guru yang sedang mengajar jika mereka akan pergi.
Seperti biasa jika ada olimpiade akan ada dispen untuk mereka berdua.
"Heh yang ngegantiin Lo itu si Michelle Michelle itu?"tanya Azriel tiba-tiba saat mereka dalam perjalanan menuju parkiran sekolah.
Anna yang mendengar pertanyaan Azriel pun mengangguk saja walau sedikit merasa aneh karena nada bicara Azriel itu terkesan jika laki-laki itu tidak pernah mengalami hal yang ditanyakan nya itu.
Melihat Anna yang mengangguk membuat Azriel mendengus menyeringai tersenyum miring. "Dan dia pasti kalah bener?"tanya Azriel dan lantas terkekeh sarkas saat melihat Anna mengangguki pertanyaannya itu.
"Hah newbie sok sok an ngambil alih posisi raja"komentar Azriel terkekeh.
Anna sendiri hanya memperhatikan Azriel saja, dirinya benar-benar merasa aneh dengan tingkah Azriel. Laki-laki itu seolah mengalami penghapusan ingatan karena laki-laki itu seperti tidak ingat dengan apa yang telah terjadi beberapa waktu belakangan.