
Penjahat itu lari dan Anna tidak akan membiarkan penjahat itu kabur.
"Jangan dikejar– Anna!!"peringat Azriel berteriak kuat kala melihat Anna yang berlari mengejar sosok itu.
"Argh–"ringis Azriel merasakan dadanya benar-benar sangat sakit dan ia rasa pasokan udara disekitarnya semakin menipis, dirinya sulit untuk bernafas.
"Anna"lirih Azriel kala dirinya tidak ada kekuatan lagi bahkan untuk berdiri dan berakhir dirinya hanya meringkuk diantara buku buku dilantai meremat kuat dadanya yang nyeri.
Sialan benar-benar tidak berguna, batin Azriel kesal.
"Jangan lari sialan!!"teriak Anna yang mengejar penjahat itu yang terlihat penjahat itu hendak pergi keluar kabur.
Anna tentu saja tidak akan menyerah. Adrenalinnya benar-benar menguasainya dan karenanya juga dirinya tidak takut untuk mengejar penjahat itu.
Sampai diluar rumah Anna tetap berlari mengejar penjahat itu mengabaikan kakinya yang tanpa alas merasa panas dan perih kala berlari di cuaca panas tanpa alas kaki.
Melihat ada sesuatu yang bisa menghentikan si penjahat Anna pun mengambilnya dan melemparnya langsung dengan berharap agar tidak membunuh si penjahat dan hanya melukainya sedikit agar penjahat itu berhenti dan bisa ia ringkus.
Sraakk. Jleb.
Garpu taman kecil kecil yang ia temukan itu Anna lempar seperti lembing dan untungnya hanya menggores lengan kiri si penjahat dan langsung menancap di tanah, memang sesuai keinginannya penjahat itu terluka sedikit namun penjahat itu tetap berlari sampai melewati gerbang dan Anna kehilangannya.
"Sialan dasar penjahat!!"teriak Anna kala penjahat itu lolos, bahkan gadis sebaik dan sepolos dirinya sampai mengumpat seperti itu berarti sudah sangat marah dengan penjahat tadi.
"Ah Azriel!?"seru Anna kala menyadari ada yang lebih gawat daripada penjahat yang kabur itu, yaitu kondisi Azriel.
Tadi laki-laki itu terlihat sangat kepayahan dengan keadaan yang sulit bernafas membuat Anna bergegas kembali masuk untuk menolong Azriel.
Tadi juga sebenarnya dirinya mendengar laki-laki itu yang menyuruhnya untuk tidak mengejar penjahat itu tapi dirinya malah bandel dan tidak mendengarkan.
"Azriel!? Hey!!"seru Anna yang kembali ke perpustakaan dan menghampiri Azriel yang benar-benar sangat kewalahan.
Sepertinya hyperventilation laki-laki itu kembali kambuh.
Duduk bersimpuh disamping Azriel dan ia bawa Azriel untuk terduduk bersender bertumpu pada tubuhnya lalu satu tangannya ia naikkan untuk menutup mulut laki-laki itu seperti terakhir kali Anna dihadapkan dengan Azriel yang seperti ini.
"Bernafas perlahan"kata Anna memberikan instruksi yang sama namun sepertinya tidak berhasil kala sepertinya Azriel tidak mendengarnya dan semakin mengernyit kesakitan dengan nafas yang semakin tersengal-sengal.
"Azriel hey! Dengerin Anna! Azriel!"tidak bekerja bahkan saat Anna meneriaki Azriel.
"Hah hah hah akh hah"nafas tersengal Azriel semakin menjadi-jadi membuat Anna ketakutan.
Anna kehabisan ide bagaimana lagi caranya agar Azriel bernafas dengan normal, karena melihat nafas Azriel yang tersengal-sengal seperti ini sangat menakutinya sampai rasanya ingin menangis.
Apa lagi? Apa lagi yang bisa membantu Azriel? batin Anna gelagapan dirinya sudah kelewat ketakutan membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Grep.
Anna tersadar kala Azriel yang terlihat kesakitan itu mencengkram erat tangannya untuk melampiaskan rasa sakitnya.
Maka dari itu Anna membaringkan Azriel dengan kedua pahanya sebagai bantal dan seketika itu juga Anna tidak peduli lagi, dirinya akan menyelamatkan Azriel.
"Ugh"
Anna membungkuk kan tubuhnya untuk membantu Azriel bernafas dengan baik tidak menggunakan tangannya namun dengan nafasnya sendiri.
Dirinya mencium Azriel menyalurkan nafasnya agar laki-laki itu bisa bernafas dengan normal.
Dan sepertinya berhasil perlahan nafas Azriel mulai terdengar normal tak ada lagi nafas yang tersengal-sengal.
Azriel perlahan membuka matanya, nafasnya sudah kembali normal dan dirinya terkejut kala wajah Anna begitu sangat dekat dengan wajahnya.
Pangutan penyelamatan itu terputus kala Anna menjauhkan dirinya dari Azriel dan Anna menangis kala melihat Azriel yang terlihat baik-baik saja yang berarti usahanya berhasil.
"Hiks.. Azriel hiks.."
Azriel sendiri ditengah keterkejutannya segera mendudukkan dirinya lantas memeluk tubuh Anna untuk memenangkan si gadis yang menangis itu.
"Sorry"gumam Azriel meminta maaf karena sepertinya alasan Anna menangis karena dirinya. Sepertinya gadis itu ketakutan melihat kondisinya tadi.
Anna semakin menangis menyembunyikan wajahnya dibahu lebar Azriel dengan meremat kuat pakaian belakang Azriel, dirinya merasa lega.
***
Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah keluarga Azriel dan yang mengemudi adalah pak Tono dan juga mbok Mirna yang pulang duluan kala mengingat sang tuan muda berada dirumah seorang diri karena semua pekerja rumah berada disebuah hotel untuk melakukan persiapan acara yang diadakan oleh tuan dan nyonya itu.
Perasaan Mirna memang mendadak tidak enak sejak tadi dan langsung meminta suaminya untuk mengantarnya pulang dan benar saja dari luar saja sudah membuatnya semakin kalut.
Karena mereka mendapati pintu masuk rumah terbuka lebar begitu saja dengan kuncinya yang seolah sengaja dibobol.
Mirna dan Tono pun bergegas masuk kedalam rumah memastikan tuan muda mereka baik-baik saja.
"Aden? Den Jiel?!"seru Mirna bergegas menaiki tangga untuk pergi ke kamar sang tuan muda memastikan keadaan tuan mudanya baik-baik saja, namun baru setengah jalan di tangga dirinya kembali turun kala suaminya meneriakkan namanya memanggilnya dari dapur.
"Satu pisau dapur tidak ada"kata Tono menunjuk pada kotak khusus pisau yang ada didapur dan satu lubang tempat pisau diletakkan disana terlihat kosong.
Semakin menjadi kekhawatiran Mirna kala melihatnya dan dirinya langsung pergi ke kamar Azriel untuk memastikan jika tuan mudanya benar-benar baik-baik saja.
Tono sendiri melangkah menyusuri lantai pertama rumah itu dan mendapati pintu perpustakaan disana terbuka lebar membuatnya melangkah ke sana dan mendapati perpustakaan yang begitu berantakan dengan banyak buku yang berjatuhan dan diujung ruangan ada pisau tergeletak yang sepertinya memang diambil dari dapur.
Berjalan tenang karena jika ada masalah istrinya itu pasti sudah berteriak histeris sekarang namun hanya hening yang terdengar berarti tidak ada masalah.
Maka dari itu Tono berjalan untuk mengambil pisau yang tergeletak itu namun langkahnya terhenti ditengah-tengah kala dirinya menemukan tetesan darah dilantai yang juga mengotori beberapa buku disekitarnya.
Tidak panik karena melihat tetesan darah yang tidak besar dan juga sedikit sepertinya memang tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
Memungut pisau itu dengan sapu tangannya karena berpikir sidik jarinya akan merusak sidik jari sang pelaku lantas melihat kearah cctv yang terpasang di perpustakaan dalam kondisi menyala yang berarti insiden ini akan mudah ditangani.
***
Mirna berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar sang tuan muda dan langsung membuka pintu kamarnya dengan kuat namun langsung ia tahan agar tidak menghasilkan suara yang sangat keras dan juga tidak jadi untuk berteriak memanggil sang tuan muda saat dirinya melihat sesuatu yang membuatnya hanya bisa tersenyum lega.
Tuan mudanya terlihat baik-baik saja dan terlihat nyaman tertidur diatas ranjang dengan memeluk seorang gadis yang dipastikan gadis teman sekelasnya sang tuan muda karena Azriel bilang hari ini akan ada teman sekelasnya yang datang untuk kerja kelompok.
Menghela tenang Mirna pun melangkah mendekati kedua anak remaja itu yang terlihat sangat nyenyak tertidur itu, memastikan jika mereka tidak terluka.
Tidak ada luka ditubuh Azriel membuat Mirna menghela lega namun sedikit merasa kasihan melihat si gadis yang pipinya ditempeli plester yang berarti gadis itu sedikit terluka.
"Sepertinya gadis itu melindungi tuan muda"komentar Tono yang tiba-tiba berbicara disebelah Mirna membuat Mirna hampir saja memekik terkejut yang akan membangunkan kedua remaja yang sedang tidur itu jika tidak ditahan oleh Tono.
"Jangan berteriak jika kau ingin mereka bangun"peringat Tono.
Mirna mencebik kesal saja mendengar perkataan suaminya itu, salah siapa coba mengagetkannya.
"Apa mas mau memberitahu hal ini pada tuan dan nyonya?"tanya Mirna.
"Tentu saja, karena sepertinya ini sudah keterlaluan"