Millisanna

Millisanna
Bab 123



Anna berlari, terus berlari, dirinya harus kabur dan mendapatkan bantuan untuk menyelamatkan Azriel. Berlari untuk tidak dibunuh oleh wanita bermata biru gila itu yang mengemudikan mobilnya mengejar Anna berniat menabrak Anna sampai mati karena kecepatan mobil tersebut benar-benar gila.


Berlari terus berlari Anna harus selamat dan mencari bantuan untuk menyelamatkan Azriel.


Sraakk. Bruk.


Tersandung dan terjatuh Anna semakin ketakutan kala melihat mobil itu sangat dekat dengannya, bergegas bangkit Anna harus kembali berlari.


Namun disaat dirinya sudah berdiri mobil itu tepat dihadapannya hanya beberapa centimeter sebelum akan menghantamnya.


Dan seperti yang sudah-sudah Anna melihat Azriel yang tiba-tiba muncul mendorongnya kuat dan menggantikannya sebagai orang yang dihantam oleh mobil berkecepatan tinggi itu.


Dan lagi-lagi Anna dapat melihat dan mendengar perkataan Azriel sebelum laki-laki itu tertabrak dan dirinya terlempar ke jurang.


"Aku membencimu"


Anna.. Anna..


"Dokter Anna?!"


Anna terbangun dengan nafas terengah dan dirinya menyadari jika dirinya tertidur dan disampingnya ada Ray yang melihatnya dengan khawatir.


"Kau bermimpi buruk?"kata Ray sembari mengusap keringat Anna yang mendadak banyak keluar saat gadis itu tertidur, dan gadis itu juga mengigau membuat Ray memilih untuk membangunkan gadis itu.


Anna menggeleng. "Tidak apa-apa, ini hanya mimpi biasa"kata Anna tak mau jujur.


Ray sendiri percaya saja, karena ia tahu gadis itu tidak mau bercerita padanya maka dari itu dirinya akan diam saja dan menunggu saat Anna mau menceritakannya.


"Sebaiknya pakai sabuk pengaman mu, kita akan segera landing"kata Ray seraya memasangkan seatbelt Anna.


Anna memperhatikan dan menerima saja perhatian yang diberikan Ray dan dirinya melihat keluar jendela disebelahnya.


Mereka sedang berada didalam pesawat yang sedang terbang menuju ibu kota. Kota tempatnya lahir dan juga kota yang sedikit banyaknya meninggalkan pengalaman-pengalaman mengerikan yang menjadi trauma untuk Anna.


Walau dirinya sedikit tidak suka dengan kota tersebut namun tetap saja keluarganya masih tinggal dikota tersebut dan sejujurnya tidak hanya kesan buruk saja yang ditinggalkan namun banyak juga pengalaman yang menyenangkan yang Anna alami dikota tersebut.


"Pulang kampung kita, udah berapa lama kita gak pulang?"kekeh Ray mengambil atensi Anna.


Anna jadi melihat kearah Ray lagi dan tersenyum mengangguk. Ray juga asal dari kota itu, hanya saja mereka bertemu saat masuk ke universitas yang sama, disaat orang-orang menjauhinya Ray mendekatinya dan mau berteman dengannya.


Ray adalah teman yang berharga untuk Anna.


***


Pesawat yang digunakan mereka mendarat dengan selamat dan sempurna, berjalan untuk mengambil koper mereka dan keduanya berjalan sambil menarik koper masing-masing menuju pintu keluar bandara.


"Kita pesan mobil online untuk pergi ke asrama rumah sakitnya?"tanya Anna siap akan memesan mobil online untuk mereka.


Mereka datang ke kota tersebut karena mereka diminta untuk melakukan operasi untuk salah satu pasien disalah satu rumah sakit dikota ini, karena pasien yang tidak bisa dipindahkan dan dokter yang menanganinya tidak bisa mengatasinya maka pihak rumah sakit meminta bantuan dokter yang lebih ahli dan mereka meminta bantuan ke rumah sakit tempat Anna dan Ray bekerja.


Dan begitulah alasan keduanya berada disini.


"Gak usah"kata Ray dengan berbinar menghentikan Anna yang akan memesan mobil online itu.


"Gak usah? Terus mau gimana?"tanya Anna bingung.


Ray memberikan grin menawannya dan selanjutnya ada dua orang pria berjas mendekati mereka dan menyambut Ray.


"Selamat datang tuan Ray, kami senang penerbangan anda lancar"kata salah satu dari mereka.


Ray mengangguk tersenyum membalas sapaan mereka seraya mengambil alih koper dan tas ransel Anna dan hanya membiarkan si gadis dengan tas kecilnya.


Barang-barang mereka diberikan pada kedua orang itu dan mereka dibawa oleh kedua pria itu ke bagian parkiran bandara.


Anna mengikuti saja karena Ray senantiasa menggenggam tangannya. Dan mereka sampai didepan sebuah mobil sedan yang disebelahnya ada sebuah motor sport.


Anna memperhatikan kedua pria itu yang mulai memasukan barang-barang mereka kedalam bagasi dan tersadar saat Ray memakaikan helm padanya.


"Oke siap"kekeh Ray seraya merapihkan rambut depan Anna.


Ray mengangguk saja seraya menerima kunci motor dari salah satu pria berjas itu. "Ya, udah lama gak jalan-jalan kita, masih ada waktu jadi jalan-jalan dulu lah kita, healing healing"kekeh Ray memakai helm full face nya.


Anna mengangguk saja mengikuti karena sejujurnya ia juga ingin jalan-jalan sebentar karena selama ini dirinya hanya bekerja dan bekerja di rumah sakit karena banyak sekali pasien yang datang.


***


Ray dan Anna menyusuri jalanan ibu kota yang ternyata masih saja ramai. Berhenti karena lampu merah Ray menghela dan melipat kedua tangannya didepan dada dan sedikit bersender pada Anna.


"Apaan nih? Aku mendadak rindu kota S terlebih daerah rumah sakit kita, disana sangat damai"keluh Ray seperti merajuk.


Memang rumah sakit tempat mereka bekerja cukup tenang karena rumah sakit berada di daerah yang dekat pedesaan dan cukup jauh dari pusat kota S.


Anna terkekeh saja menepuk-nepuk pundak si laki-laki menyemangati. "Memang nya kamu berekspektasi apa? Udah itu lampunya mau hijau"kata Anna menunjuk lampu lalu lintas yang akan segera hijau.


Ray jadi ikut terkekeh dan bersiap akan melajukan motornya begitu lampu hijau menyala.


Begitu lampu hijau menyala Ray pun melajukan motornya dan tanpa diduga dari jalan arah kanan sebuah truk melaju dengan kencang dan menabrak mobil disebelah mereka yang membuat kecelakaan terjadi.


Kecelakaan itu akan mengenai mereka jika Ray tidak gesit bermanuver dan menghindari mobil yang terhantam dan terdorong itu namun tetap saja motornya terhantam motor lain yang menjadi korban kecelakaan itu.


Brakkkkkk brak.


"Anna Lo oke?!"tanya Ray langsung berbalik untuk melihat Anna yang ia rasa gadis itu terlempar namun Ray hanya bisa melongo melihat gadis itu yang langsung bangkit dan berlari untuk membantu korban luka kecelakaan.


"Ray!! Panggil ambulan juga bantuin sini cepet!!"seru gadis itu berteriak.


Ray terkekeh saja dan segera bangkit dan melakukan apa yang disuruh gadis itu.


Orang-orang disekitar pun berusaha membantu para korban dan memindahkan mereka ke sisi jalan. Korban yang ada adalah kebanyakan pengguna sepeda motor yang melaju disekitar mobil karena bertepatan dengan lampu hijau, pasangan yang berada didalam mobil sudah selesai di evakuasi.


Lalu Anna sedang berusaha untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang terjebak didalam mobil yang ringsek dan terbalik itu, dirinya menyadari jika anak kecil itu tidak terlihat oleh orang-orang yang membantu, untung saja dirinya menyadarinya.


Anak kecil itu terlihat tak sadarkan diri dengan luka dikepala dan terlihat tersangkut karena sabuk pengaman yang digunakannya.


Memang sabuk pengaman itu terlihat menyelamatkan gadis kecil itu namun dilihat lagi seatbelt itu pun terlihat menjerat leher si gadis sangat kuat sampai terlihat wajah si gadis mulai memburu yang menandakan jika ada yang salah dengan tubuhnya, harus segera diselamatkan.


Namun Anna kesulitan, mobil yang ringsek itu sulit untuk membuatnya menggapai si gadis kecil.


Padahal dirinya sudah masuk melewati kaca jendela yang pecah dan juga penyok namun tangannya belum bisa meraih si gadis kecil.


"Kumohon, harus sampai!"keluh Anna memaksakan dirinya untuk meraih si gadis kecil mengabaikan jika tubuhnya tergores oleh pecahan kaca mobil yang menyayat pinggangnya.


Klak.


Dari bangkai mobil itu terderang suara aneh dan Anna merasakan firasat buruk kala mencium bensin yang begitu menyengat dan dirinya semakin bergegas berusaha meraih si gadis kecil.


Tap.


Berhasil Anna mendapatkan gadis itu dan memotong seatbelt itu dengan pecahan tajam dari mobil yang ringsek itu dan membawa si gadis dalam dekapannya kala dirinya merasa seseorang menariknya.


Begitu keluar seseorang itu menyuruhnya untuk segera berdiri dan berlari seraya merangkulnya.


"Lari!"


Boom!!


Mobil itu meledak membuat Anna dan orang itu terdorong karena ledakan dan menghantam bahu jalan setelah terlempar cukup jauh.


Anna baik-baik saja dan segera memastikan gadis didekapannya baik-baik saja juga seseorang yang melindunginya itu pun baik-baik saja.


"Kenapa kau ini selalu saja dalam masalah"kata orang yang menyelamatkan Anna itu seraya mendudukkan dirinya meringis karena punggung nya terasa nyeri setelah menghantam bahu jalan melindungi dokter yang menurutnya selalu dalam masalah itu.


Anna hanya bisa mematung menatap orang yang menyelamatkannya itu karena orang itu orang yang sama yang membantunya mengurus pasien menyebalkan dirumah sakit tempatnya bekerja.


"Azriel?"