Millisanna

Millisanna
Bab 142



"Kau sudah kembali?"tanya Azriel yang melihat Ravi.


Ravi mengangguk saja kala melihat sang tuan menuruni tangga. Terlihat tuannya itu berpenampilan rapi membuat Ravi sedikit bertanya-tanya.


"Apa tuan akan pergi keluar?"tanya Ravi pada akhirnya.


"Ya, Renata mengajakku pergi untuk mengunjungi galeri seni yang akan dibuka besok"jawab Azriel seadanya.


Ravi mengangguk saja mengerti, namun kembali menatap sang tuan dengan tatapan antusias.


"Apa galeri seni milik pelukis kesukaan nona Renata?"tanya Ravi antusias.


"Ya, si pelukis bernama Melisa itu"kata Azriel biasa saja.


Ravi mengangguk-angguk saja antusias. "Sepertinya akan menyenangkan menemui salah satu teman sekelasmu dulu–"sontak Ravi menghentikan ucapannya terkejut akan kalimatnya sendiri menatap pada sang tuan yang terlihat kebingungan.


"Apa? Apa maksudmu mantan teman sekelas ku dulu?"tanya Azriel.


Ravi sontak menggeleng tersenyum kikuk. "Ha ha ha"dan pada akhirnya Ravi hanya bisa tertawa canggung karena dirinya enggan menjawab pertanyaan sang tuan itu.


"Dasar aneh"cibir Azriel dan berjalan keluar rumah.


"Jangan lupa taruh barang-barang yang kau ambil dari tempatnya Milan itu ke kamarku, tanpa terkecuali"kata Azriel menghentikan langkahnya dan menatap Ravi dengan tajam sebelum kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.


Ravi kembali tersenyum canggung, sepertinya sang tuan tahu jika dirinya mengambil hal lainnya yang sejujurnya tidak disuruh.


"Hah ya setidaknya mungkin itu bisa membantu mempercepat kembalinya ingatan yang hilang"gumam Ravi penuh harap dan akan melakukan apa yang disuruh oleh tuannya tadi.


Menaruh barang-barang yang ia ambil dari tempat pribadi Milan ke kamarnya Azriel.


"Bos tunggu sebentar!"


Langkah Ravi terhenti dianak tangga pertama berbalik dan melihat salah satu bawahannya yang terlihat terburu-buru itu.


"Kenapa kau?"


"Anu, tugas yang anda berikan telah saya selesaikan dan ada sesuatu fakta yang pasti akan membuat anda terkejut"kata bawahan itu.


Ravi menatap bawahannya itu serius. "Katakan"


***


"Ini sangat luar biasa bukan?"senang Renata melihat-lihat setiap lukisan karya pelukis terkenal kesukaannya itu.


Azriel yang sedikit tidak mengerti dengan karya seni hanya mengangguk saja dan mengikuti saja Renata kemana pun wanita itu melangkah karena si wanita memeluk erat satu lengannya.


Hanya sedikit pengunjung yang datang karena galeri belum secara resmi dibuka untuk umum, hanya untuk orang-orang berpengaruh dan para sponsor seperti Azriel saja yang berada dihari sebelum pembukaan itu.


"Lihat lah lihat siapa yang berkunjung"


Azriel dan Renata yang sedang memperhatikan salah satu lukisan didepan mereka pun mengalihkan pandangan mereka kala melihat seorang wanita lain dengan dressnya menyapa mereka dengan senyuman ramahnya.


"Terimakasih sudah mensponsori galeri ku tuan Aryanzha"kata si pelukis pada Azriel.


Si wanita pelukis pun melihat pada Renata dan tersenyum berterimakasih pada wanita bermata biru yang baik hati itu.


"Terimakasih nona"senangnya.


"Bukan masalah, kau pelukis favoritku jadi tentu saja aku akan mendukungmu dengan baik"kata Renata semangat.


Si pelukis tersenyum saja lagi-lagi berterimakasih kepada mereka berdua.


"Bagiamana jika aku memberikan tur private untuk kalian? Aku bisa menjelaskan setiap lukisan yang ku buat disini"tawarnya.


"Tentu saja aku akan menerimanya"seru Renata bersemangat.


Pada akhirnya Azriel hanya mengikuti kedua wanita itu yang terlihat sangat antusias dengan setiap lukisan yang ada dan mengabaikan Azriel yang hanya mengekori mereka dengan tidak minat.


Sejujurnya Azriel sedikit tidak nyaman pergi bersama Renata yang notabene nya tunangannya sendiri.


Entahlah setelah mimpi buruk yang memperlihatkan sesosok wanita bermata biru yang menyeramkan Azriel sedikit merasa tak nyaman pada Renata yang memiliki mata yang mirip dengan mata yang ada didalam mimpi buruknya.


Tap.


Menghentikan langkahnya tiba-tiba karena dirinya mendapatkan sesuatu yang membuatnya merasa semakin tidak nyaman.


Dari sebuah ruangan disana yang terlihat khusus diarah kanannya itu terlihat sedikit sebuah lukisan disana yang membuat Azriel berjalan kearah sana memasuki spot khusus itu yang hanya berisi sebuah lukisan yang membuat Azriel terdiam terpana.


Sebuah lukisan yang membuat Azriel terdiam dan sebuah ingatan pendek muncul dikepalanya.


Ingatan dimana dirinya melihat dari luar kelas kesenian melihat seseorang yang sedang melukis membelakanginya dan lukisan dihadapannya inilah lukisan yang dilukis seseorang yang membelakanginya kala itu.


Sontak saja Azriel melihat nama dari lukisan tersebut dan juga catatan dibawahnya.


'Devil but angel'


'Sebuah lukisan yang dilukis oleh seorang teman yang sangat berarti untukku'


"Sosok dilukisan ini Azriel kan?"kata Renata yang datang.


Azriel sontak menoleh mendapati Renata dan pelukis wanita itu muncul dibelakangnya dan semakin terkejut kala Azriel menyadari si pelukis wanita tersenyum penuh arti padanya.


"Benar, dilihat dari mana pun sosok didalam lukisan ini memang adalah Azriel"kata pelukis wanita itu tersenyum.


Renata kembali menatap lukisan tersebut melihat dengan teliti kala merasa lukisan itu adalah sebuah karya yang unik. Selewat mungkin sosok Azriel disana adalah seorang iblis namun jika diperhatikan dengan seksama ada sosok Azriel yang merupakan malaikat yang cukup besar dengan jelas padahal sosok malaikat dilukis dengan transparan namun kala melihatnya dengan teliti nyatanya yang terlihat mendominasi adalah sosok malaikat bukannya iblis.


"Kau mengenalku?"tanya Azriel tiba-tiba pada si pelukis.


"Tentu saja, kau itu kan sahabatnya tunangan ku yang mungkin saja sekarang sedang 'selingkuh' dengan sahabat ku yang sudah lama tak ku temui"kekeh si pelukis membuat kedua orang dihadapannya itu kebingungan.


***


"Astaga, sepertinya akan lebih cepat dari yang ku duga"gumam Milan yang mematikan rekaman cctv diruang pribadinya itu dan mengangkat wajahnya kala melihat sosok Anna yang telah datang.


"Oke, waktunya menjelaskan segalanya pada gadis hebat itu"lanjut Milan membuka pintu mobilnya dan keluar melangkah mengikuti Anna yang masuk kedalam gedung rumah sakit.