Millisanna

Millisanna
Bab 136



Anna menunggu kabar dari Azriel mengenai tempat tinggal dan juga titik lokasi yang akan laki-laki itu kirimkan pada Ravi untuk memudahkan helikopter yang akan membawa ibu dari gadis kecil yang saat ini sedang bersamanya itu.


"Udah selesai"senang si gadis kecil kala menyelesaikan puzzle nya.


Anna tersenyum senang melihatnya dan memuji betapa pintarnya gadis kecil itu, masih memerhatikan gadis kecil itu beralih ke permainan lainnya yang ada di zona anak didalam rumah sakit itu.


"Azriel belum memberitahumu? Dia udah sampai apa belum?"tanya Anna pada Ravi yang menemaninya itu walau laki-laki kepercayaan Azriel itu hanya berdiri memperhatikan dari balik dinding kaca yang menjadi pemisah antara lorong dan ruang bermain itu.


"Belum, sepertinya jaraknya cukup jauh"kata Ravi menjawab.


Anna mengangguk saja dan kembali menemani si gadis kecil yang sedang bermain itu walau dirinya merasa sangat khawatir karena mengingat bocah laki-laki itu bilang medan menuju rumahnya itu sangat membahayakan.


Anna khawatir jika Azriel sedikit saja melakukan kesalahan laki-laki itu bisa saja kehilangan nyawanya karena terjatuh kedalam jurang.


Tapi Azriel adalah laki-laki yang hebat pastinya jadi tidak mungkin laki-laki itu melakukan sesuatu kesalahan disaat-saat genting seperti itu.


Triing triing.


Anna sontak melihat kearah Ravi dan benar saja laki-laki itu sedang menerima telepon dan Anna yakin itu pasti dari Azriel karena terlihat dari wajah Ravi yang terlihat lega dan juga serius setelahnya.


"Ya tuan.. baik.. ya.."kata Ravi dalam panggilannya.


Anna sendiri siap untuk bertanya mengenai kondisi ibu kedua bocah itu untuk lebih spesifik.


"Bagaimana kondisi ibu kedua anak itu tuan?"tanya Ravi kala menyadari ekspresi Anna yang seolah ingin menanyakan hal tersebut.


"Aku bukan dokter tapi aku yakin ibu mereka begitu kritis dan harus mendapatkan perawatan ahli segera"


Ravi mengatakan hal yang dikatakan Azriel pada Anna dan Anna mengangguk mengerti lantas langsung bergegas untuk mempersiapkan diri.


Ravi hendak bertanya pada Anna yang tiba-tiba pergi itu namun urung karena tuannya kembali berbicara.


"Larang Anna untuk ikut ke helikopter yang akan datang, biarkan gadis itu bersiap dirumah sakit, kirim dokter lain untuk melakukan penanganan pertama dan prosedur pemindahan pasien"kata Azriel memerintah.


Ravi hanya bisa mengatakan ya walau ragu karena dirinya tidak yakin dirinya bisa mematuhi perintah Azriel yang satu ini kala melihat tadi Anna sepertinya pergi bersiap untuk bergabung dengan tim helikopter yang akan datang.


***


Ravi kembali ke ruang UGD untuk mempertanyakan siapa dari staff medis rumah sakit yang akan ikut dengan tim helikopter disana namun seperti yang ia duga Anna bahkan sudah terlihat siap dengan beberapa peralatan dan perlengkapan juga dua orang perawat laki-laki telah siap seperti Anna.


"Anna kau yang akan pergi?"tanya Ravi merasa akan menjadi sebuah masalah jika nanti Azriel melihat Anna lah yang datang bukan dokter yang lain yang seperti diinginkan nya.


"Ya tentu saja, memang siapa lagi?"tanya Anna bingung sendiri.


Oke ini tidak akan baik. "Tidak bisa yang lain? Anna kan harus bersiap melakukan operasi untuk pasien begitu pasien tiba bukan?"tanya Ravi pada kepala perawat.


Maria yang ditanyai seperti itu hanya bisa tersenyum tipis. "Dokter Anna mengajukan dirinya sendiri dan dokter lain tidak ada yang mau"kata Maria.


Ravi benar-benar akan diamuk oleh Azriel pastinya.


"Tunggu apa lagi? Ayo berangkat!"kata Anna menyuruh Ravi untuk segera mengantar mereka ke helikopter yang beberapa saat tadi telah mendarat dilapangan samping gedung rumah sakit itu.


***


Azriel merasa ngeri sendiri kala melihat kondisi ibu dari bocah laki-laki yang ia tahu bernama Firman itu kala dalam perjalanan dirinya menanyakan nama bocah laki-laki itu.


Seperti yang dikatakan Firman jalan menuju rumah si bocah benar-benar sangat mengerikan dan juga berbahaya, untung saja dirinya ini jago mengendarai kendaraan beroda dua itu, kalau tidak bisa-bisa baru mulai dirinya sudah terjun kedalam jurang.


"Kakak ini kepala desa"kata Firman yang tadi pergi disuruh Azriel untuk memanggil kepala desa karena ingin meminta izin menggunakan kebunnya sebagai landasan dadakan untuk helikopter dan juga yang lainnya karena Azriel ingin membicarakan hal lainnya pada pria paruh baya itu.


"Selamat sore"sapa Azriel menyalami kepala desa itu.


"Selamat sore, Firman bilang kamu mau bawa ibunya kerumah sakit pake helikopter?"tanya kepala desa.


Azriel mengangguk mengiyakan. "Iya pak, melihat kondisi ibu Firman juga medan yang sulit dilewati bahkan untuk orang sehat saja ini satu-satunya cara, saya ingin meminta izin menggunakan kebun bapak untuk landasan"kata Azriel menjelaskan.


"Pakai saja mas, saya sendiri malah sangat berterimakasih karena ibu Firman akhirnya mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai"kata kepala desa benar-benar tidak merasa masalah.


"Saya benar-benar senang karena masih ada orang baik yang bahkan sampai membantu sedemikian rupa seperti ini, saya benar-benar terharu"lanjut kepala desa.


Azriel tersenyum saja menanggapinya. Jika bukan karena keteguhan Firman dan adiknya yang bahkan sampai harus turun gunung dan pergi kerumah sakit meminta bantuan untuk ibu mereka semua ini tidak akan pernah terjadi.


Triing triing.


Melihat ponselnya Azriel pun meminta kepala desa untuk mengantarnya ke kebun milik kepala desa itu.


"Sepertinya helikopter akan segera tiba, tolong bantuannya untuk menjauhkan beberapa warga yang sepertinya penasaran dengan apa yang sedang terjadi"kata Azriel memohon bantuan.


Kepala desa itu mengangguk saja seraya tersenyum. Karena desanya mendadak heboh kala seorang pemuda sangat tampan tiba-tiba datang dengan motornya dengan Firman bersamanya membuat pada gadis, wanita bahkan pemuda desa yang merasa tersaingi berbondong-bondong untuk melihat sosok Azriel.


Azriel berdiri disisian kebun kepala desa yang ternyata benar-benar diluar dugaannya, lebih dari cukup untuk menjadi landasan dadakan itu.


Melihat kearah langit menunggu helikopter yang semakin dekat dan bahkan suara dari mesin dan baling-baling helikopter sudah mulai terdengar dan helikopter semakin terlihat.


Pilot dan co-pilot helikopter tersebut mengikuti titik lokasi yang ada didalam ponselnya dan sekalian saja Azriel membantu agar helikopter itu mendarat dengan selamat.


"Itu helikopter nya kak?"seru Firman yang tiba-tiba berdiri didekat Azriel.


"Menjauh dari sini! Kau bisa terbawa terbang oleh angin!"seru Azriel pada Firman sangat terkejut kala bocah itu malah mendekat saat helikopter sudah diatas mereka dan sekitar seperti diterpa angin topan karena baling-baling helikopter itu.


"Aaah!"seru Firman benar saja bocah itu akan terdorong terbang karena angin jika Azriel tidak memegangi bocah itu dengan erat.


Satu tangan menjaga firman dan satu tangannya yang lain membantu pendaratan helikopter.


Suara nyaring dari helikopter benar-benar membuat telinga pengang, Azriel pun menggunakan kedua tangannya untuk menutup kedua telinga Firman kala melihat helikopter telah mendaratkan tubuhnya dan perlahan suara bising dari baling-baling perlahan menghilang begitu juga dengan terjangan angin yang perlahan menghilang kala baling-baling berhenti berputar.


Melihat helikopter selesai dengan pendaratan penuhnya Azriel pun melangkah mendekati helikopter bersama Firman yang senantiasa menempel padanya itu.


Melotot terkejut dan seketika emosinya berada diujung tanduk. "Apa yang kau lakukan disini sialan?!"marah Azriel kala melihat Anna turun keluar dari helikopter.