
"Hei kapan kita akan mendapatkan bayarannya? Jangan bilang wanita itu sejak awal tidak akan membayar kita"kata seorang laki-laki pada rekannya.
Kedua laki-laki yang sama yang menculik Ansela, sebut saja mereka si pria satu dan si pria dua, mereka adalah semacam pengawal bayaran sekaligus pembunuh bayaran dan keduanya juga diperintahkan oleh Renata untuk menculik Ansela dengan iming-iming bayaran yang besar.
Si pria kedua hanya diam dan begitu waspada mengawasi sekitar, karena bos mereka bilang bisa saja ada seseorang yang datang untuk menyelamatkan gadis yang mereka culik itu.
"Lagipula dimana satu orang lagi? Dia bahkan tidak membantu kita menculik gadis itu"kata si pria satu mempertanyakan tentang rekannya yang lain si pria tiga.
"Biarkan saja dia, dia kan memang tidak handal dalam pekerjaan jarak dekat seperti kita"sahut si pria dua tahu sekali bagaimana rekan-rekannya itu.
"Benar juga"pada akhirnya si pria satu pun berhenti berbicara dan kembali fokus pada pekerjaannya yang disuruh untuk berjaga itu.
Bruumm brummm.
Kedua pria itu yang mendengar suara deru mesin mendekat dan didengar dari suara seruannya pasti mobil itu dalam keadaan sangat cepat membuat keduanya sontak menyiapkan senapan mereka.
Mereka akan mencegat seseorang yang datang dengan mobil itu menggunakan banyaknya peluru dari senapan mereka.
Brak!
Mobil itu muncul menghancurkan gerbang butut yang tertutup itu dan kedua pria itu pun secara bersamaan menembakkan peluru mereka secara serentak menghujami siapa pun yang berani sekali menerobos.
Dor dor dor dor dor dor dor.
Azriel yang sudah tahu jika dirinya akan disambut dengan hujaman peluru pun sontak keluar dari mobilnya dan membuat mobilnya sebagai tameng untuknya yang sedang bersiap untuk melakukan serangan balasan.
Klak. Pistolnya siap.
Dor dor dor dor dor.
Tak.
Melihat tangki bensin mobilnya tepat dikenai sebuah peluru Azriel sontak saja berlari menjauh dari mobilnya yang akan segera meledak itu.
Boom!!
Kedua pria itu menghentikan tembakan mereka setelah mendapati mobil yang dikendarai seseorang yang bahkan belum sempat mereka ketahui siapa itu meledak, lagipula amunisi dari senapan mereka pun sudah habis jadi mereka lempar senapan yang mengeluarkan banyak peluru dalam sekali tembakan itu asal dan menggantinya dengan senapan yang lain dan lainnya siap dengan pistolnya.
Mereka berdua memiliki persenjataan masing-masing sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Saling tatap dan mengangguk saling paham, mereka pun hendak menyisir sekitar karena seperti orang yang membawa mobil itu berhasil selamat dari hujaman peluru dan juga ledakan.
Mereka berpencar, si pria pertama ke kanan dan si pria kedua ke kiri.
Azriel sendiri dirinya bersembunyi dibalik tumpukan palet tong usang memperhatikan jika salah satu dari penjaga itu yang berjalan kearah kanan mendekatinya dan mungkin saja sudah mengetahui dirinya yang sedang bersembunyi karena sedetik tadi sepertinya mereka saling tatap.
Benar saja si pria pertama langsung menembakkan peluru dari pistolnya kearah Azriel membuat Azriel sontak menghindar keluar dari persembunyiannya dan balas menembak si pria pertama.
Dor dor.
Keberuntungan untuk Azriel yang bisa berlari lebih cepat dan menghindar lebih lincah membuat setiap tembakan pria pertama tidak ada yang mengenainya sampai pistol milik si pria pertama kehabisan peluru.
Melihat kesempatan Azriel sontak berbalik menerjang si pria pertama menyerang dengan sebuah pisau yang ada dibalik jasnya itu saat si pria pertama sedang mengisi ulang amunisinya.
Sraakk.
Walau terlihat lemah namun sepertinya si pria pertama adalah profesional dalam bidangnya. Dengan mudah si pria pertama menghindari pisau Azriel.
Namun Azriel lebih handal, melihat si pria yang menghindar sontak saja Azriel mengangkat tendangannya menendang keras menyerang si pria pertama yang menghindari pisaunya.
Duak.
Melihat si pria pertama terlempar sedikit tak membuang waktu Azriel melanjutkan serangannya dengan menggunakan pisaunya, akan ia tusuk dahi keras si pria pertama itu sampai tembus.
Dor.
Mengabaikan bahunya yang tertembak Azriel melanjutkan serangannya, benar-benar membuat pisaunya menembus tulang dahi si pria pertama yang sangat keras itu yang membuat pria itu mati seketika.
Bruk. Klak klak sraat.
Azriel mencabut pisaunya dari kepala si pria pertama sedikit kesulitan karena cukup dalam ia menusuknya yang mungkin saja menembus otak si pria pertama namun dengan sedikit usaha Azriel berhasil mencabut pisaunya membuat darah memuncrat mengotori wajahnya.
"Dasar monster"kata si pria kedua tidak menyangka melihat rekannya itu akan mati semudah dan semengerikan itu menatap si pelaku yang terlihat berkali-kali lipat menakutkan.
Azriel tidak mengindahkan perkataan orang itu, ia tatap orang itu dengan datar. "Giliran kau, sebaiknya kau siapkan kalimat terbaik sebelum kau menyusul temanmu itu ke neraka"kata Azriel begitu dingin dan tajam melangkah mendekati si pria kedua.
"Kau yang akan pergi ke neraka bajingan!!"teriak si pria kedua begitu kalap akan menghabisi Azriel dengan tembakannya.
Namun yang tidak terduga terjadi, si pria kedua lah yang malah meregang nyawa karena ditembak tepat dijantung dan kepalanya dari belakang.
Bruk.
Azriel menatap datar sosok dengan pistolnya kala tubuh itu ambruk.
"Kau cepat juga"komentar Azriel seadanya pada bawahan terpercayanya itu.
Ravi sendiri hanya bisa terengah-engah karena butuh perjuangan yang bahkan harus mempertaruhkan nyawa untuk mengejar tuannya itu yang benar-benar tidak masuk akal itu.
"Tuan lah yang tidak masuk akal! Bagaimana bisa dari ibu kota ke sini hanya menghabiskan waktu 2 jam?!"seru Ravi benar-benar tidak habis pikir namun walau perkataannya seperti itu Ravi mendekat pada Azriel seraya menyodorkan katana milik Azriel beserta sapu tangan untuk menghapus noda darah diwajah tuannya itu namun seperti yang diduganya sang tuan hanya mengambil katananya dan mengabaikan sapu tangan itu.
"Dimana yang lain?"tanya Azriel pada Ravi walau fokus nya pada pistolnya yang dilihat berisi satu peluru terakhir.
"Mereka akan segera datang"kata Ravi menjawab sembari mengisi ulang peluru pada pistol milik Azriel dan begitu pula dengan miliknya.
"Lambat, kita masuk saja duluan"kata Azriel melangkah untuk masuk kedalam bangunan pabrik terbengkalai itu karena ia yakin Renata berada didalam sana bersama dengan Anna yang telah wanita itu culik.