Millisanna

Millisanna
Bab 116



Azriel berhenti melangkah, dirinya berdiri ditempat terakhir kali ia meninggalkan Anna.


Menatap kosong ke arah depan pada pemandangan kota malam dari atas dirinya menikmati angin yang menerpanya.


Menghela nafas panjang harusnya ia tidak meninggalkan Anna seorang diri disini.


Mengeluarkan ponselnya dan dilihat banyak pesan dari Anna yang masuk dan belum sempat ia lihat apalagi balas karena itu pasti bukan Anna.


Walau begitu Azriel menghubungi nomor tersebut, memastikan kondisi dan keberadaan gadis itu.


Tuutt tuuutt tuuutt.


Didering pertama panggilan diangkat membuat Azriel sedikit menegang kala tidak ada suara yang langsung menjawab panggilannya, Azriel hanya diam mendengarkan dan menyadari terdengar suara samar orang yang kesulitan bernafas.


Dirinya juga bisa mendengar suara bisikan seseorang yang benar-benar sangat samar.


"An–"


"Azriel! Anna disekap dirumah kosong dalem hutan deket tempat kemarin! Duak–"


Tuuutt tuuutt tuuutt. Panggilan diakhiri begitu saja.


Azriel berbalik melihat kebelakang nya pada hutan yang cukup lebat dengan banyak pohon lebat.


Menatap tajam, seperti yang ia duga Anna tidak akan pergi jauh. Melihat kearah ponselnya Azriel akan menolong Anna.


Prak. Dor.


Azriel membanting ponselnya dan menembak hancur ponselnya agar siapapun itu terlebih sahabat dan ayahnya tidak bisa melacaknya.


Dirinya tidak ingin orang luar kembali mendapatkan masalah karena dirinya seperti Anna.


***


Duak!


"Hah sepertinya kau tidak menyayangi nyawamu huh?"kata wanita bermata biru itu mengehela jengah pada Anna yang berani sekali gadis itu memberitahukan keberadaannya pada Azriel.


Anna hanya bisa meringis kesakitan karena terjatuh kelantai dengan kursinya sekalian setelah dihajar oleh wanita gila didepannya itu.


Tubuhnya sudah penuh dengan luka, segala macam luka, dari luka memar dari pukulan benda-benda tumpul, goresan sampai berdarah dari segala macam benda tajam yang dari pisau kecil sampai pisau yang berkarat.


Krak.


"Argh!"jerit Anna kesakitan kala wanita gila itu menginjak lengan atasnya dengan heelsnya kuat bahkan sampai Anna merasa ujung heels tajam itu menusuk lengannya.


Srak. Duak.


Mengangkat kakinya dan langsung menendang wajah Anna dengan heelsnya dirinya benar-benar murka pada gadis sok itu.


Brak.


"Ugh"ringis Anna kala dirinya kembali didudukkan dan wajahnya dipaksa untuk melihat tampang menjijikan wanita gila dengan mata biru itu.


"Kau ini sejak dulu selalu saja merebut pangeranku!"geram wanita itu seraya menampar pipi Anna keras.


Plak.


Anna ikut menggeram. Dirinya kesal sebenarnya apa salahnya pada wanita gila bermata biru ini, dirinya bahkan baru bertemu saat makan bersama dengan Kiara dan lainnya.


"Apa maksudmu sialan?! Aku bahkan tidak mengenalmu sialan! Apalagi pangeran pangeran yang sering kau omongkan itu!!!"teriak Anna muak dirinya tidak tahu apapun tapi dirinya harus benak belur sekarat sampai seperti ini karena wanita gila itu yang selalu menyalahkannya dan mengatakan jika Anna merebut pangerannya.


Grep.


"Ukh" sial Anna tidak bisa bernafas karena wanita gila itu mencekiknya sangat kuat sampai ia merasakan setiap jari dengan kuku palsu yang panjang itu menusuk lehernya sampai berdarah.


"Kau! Kau itu bocah kecil yang merusak segalanya sialan! Aku pikir dengan membawamu pangeranku akan senang padaku, tapi apa kau malah mencuri pangeranku! Dan pangeranku semakin membenciku! Bahkan sampai sekarang Alfha sangat membenciku sialan!"amuk wanita itu semakin kuat mencekik leher Anna.


"Aku senang saat itu kau kabur membuat Alfha sangat menderita dan Alfha akan menjadi bergantung padaku, tapi sialannya orang-orang itu datang tepat setelah kau kabur dan merebut Alfha ku dan bahkan menjauhkan ku dari Alfha ku dengan memasukkan ku ke penjara!"


"Hah tapi yang tidak mereka tahu, aku hanya sebentar dipenjara karena aku dikeluarkan dengan bersyarat karena mereka pikir aku gila dan membawaku ke psikiater, yah Kiara sangat baik dan juga bodoh!"tawa wanita itu membahana.


"Aku tau mentornya Kiara itu adalah dokter psikisnya Alfha seolah semesta memang mentakdirkan aku berjodoh dengan pangeran ku! Tapi mereka semua membuat Alfha ku melupakanku, walau begitu aku menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengambil pangeran ku, tapi saat aku menunggu dengan tenang, kau! Kau malah kembali muncul dan mendekati Alfha ku dasar sialan!"kesal wanita itu menatap Anna berang.


"Dan satu lagi–"


"Uhuk uhuk" Anna terbatuk-batuk kala wanita gila itu melepaskan cekikan pada lehernya membuat Anna dengan tergesa-gesa mengambil nafas yang hampir habis itu.


"Sepertinya kau tidak mengingat apapun soal dulu, membuatku sedikit merasa bersalah karena aku seperti orang jahat yang menyiksamu, padahal kau benar-benar harus disiksa atas apa yang telah kau lakukan diwaktu dulu!"


Jleb.


***


Azriel melangkahkan kakinya menyusuri hutan, dirinya akan menyelematkan Anna bagaimana pun caranya.


Azriel berhenti kala mendengar suara pistol yang siap ditembakkan itu dan dilihat ada satu orang yang terlihat sangat atletis disana menodongkan pistol padanya.


"Sepertinya kau yang sudah menembak Ravi"kata Azriel tajam.


Klak. Tap.


"Hentikan, kita membutuhkannya hidup-hidup dan tanpa luka sedikit pun"kata satu orang lain yang muncul menahan temannya agar tida menembak Azriel.


"Kalau begitu biar kau saja yang mati!"


Klak. Dor! Bruk.


Pria dengan pistol itu terkejut melihat rekannya yang ambruk dengan lubang tepat ditengah dahinya.


"Sialan!"geram pria itu mulai menembaki Azriel yang bergerak cepat kearahnya dan menghindari semua peluru yang diarahkan padanya.


Dor dor dor.


Klekek.


"Sialan"pria itu kehabisan peluru membuatnya bergegas mengisi kembali amunisinya namun kurang cepat karena Azriel telah berada tepat disampingnya.


"Lambat"


Duak!


Bak memukul bola home run, kepala orang itu pecah dan hancur begitu saja begitu Azriel mengayunkan tongkat baseball besi milik teman orang itu yang mati dengan lubang didahinya.


Crat crat. Bruk.


Darah orang itu menciprati wajah dan tubuh Azriel. Ia tatap kedua orang yang ia bunuh itu, tidak merasa bersalah sama sekali karena itu adalah balasan darinya karena telah melukai Ravi.


"Tinggal dua lagi"gumam Azriel melangkahi kedua mayat itu, dirinya harus cepat pergi menyelamatkan Anna.


Tak lama Azriel pun menemukan rumah yang dimaksud Anna tadi, dan sepertinya benar karena disana ada dua orang yang berjaga dengan senjata mereka masing-masing. Satu orang membawa senapan M16 dan juga satu lainnya membawa sebuah katana.


Tap.


Klak. Sriing.


Kedua orang itu langsung waspada mengarahkan senjata dan mengeluarkan pedang nya siap menyerang Azriel yang muncul dengan membawa sebuah tongkat baseball berlumuran darah milik rekan mereka itu.


"Kau! Membunuh mereka?!"seru pria dengan senapan.


"Benar sekali"kata Azriel santai menyeringai dan melesat maju untuk menghajar mereka.


Dor dor dor dor dor!


Orang itu melepaskan tembakannya yang menghujami Azriel namun dengan lihai Azriel menghindari semua hujaman peluru itu dan membuang tongkat baseball nya yang hancur karena menahan banyak peluru itu.


Sraakk.


Melompat mundur kala yang lainnya maju menyerangnya dengan katana.


"Kau akan membayar dosa-dosa mu itu bocah sialan!!"geram pria dengan katana itu murka.


"Tidak, kau yang akan pergi ke neraka menyusul dua temanmu itu"kata Azriel dingin.


Sraakk.


Menghindari ayunan katana itu dengan mudah bersamaan dengan dirinya yang menyiapkan tendangannya yang menghantam tulang rusuk samping pria itu.


Duak krak.


Suara tulang retak begitu terdengar jelas di tengah sunyi hutan itu membuat Azriel menyeringai kala pria itu pun langsung tak sadarkan diri.


Tidak membiarkan pria itu terlempar karena tendangannya Azriel memegangi kepala pria itu dan ia jadikan pria tak sadarkan itu menjadi tameng hidup mencegah banyak peluru yang diarahkan padanya.


Dor dor dor dor dor.


Pria dengan senapan itu sontak menghentikan tembakannya karena syok melihat malah rekannya yang ia bunuh dengan senapannya.


Menggeram kesal kala melihat Azriel yang melesat muncul membuang jasad rekannya yang dijadikan tameng itu muncul dengan katana yang siap membelahnya.


"Sialan"


Syaattt. Crat. Sraak bruk.


Azriel menatap datar pria dengan senapan itu terbelah menjadi dua secara vertikal tepat ditengah-tengah tubuhnya beserta senapannya juga dan jatuh ambruk dengan darah yang mengalir banyak sampai menggenang.


Clak.


Menginjak genangan darah itu ia melewati mayat yang terbelah menjadi dua itu begitu saja dan masuk kedalam rumah tempat Anna disekap itu. Dirinya akan membunuh wanita gila itu dan menyelamatkan Anna.