Millisanna

Millisanna
Bab 12



Hari keberangkatan untuk kelas 11 berkemah, masing-masing kelompok sudah berkumpul dan berbaris untuk mendengarkan pengarahan ketua guru pembimbing acara.


Anna berdiri dibelakang Intan ikut mendengarkan pengarahan. Semuanya memakai pakaian bebas mereka masing-masing terlihat banyak sekali orang-orang yang terlihat berbeda karena tak memakai seragam.


Tapi Anna dibuat melongo melirik Vanessa yang berdiri disana di kelompoknya, dengan penampilan bak model catwalk bahkan gadis itu tak lupa merias wajahnya seperti biasa dan sekarang rambutnya yang panjang itu ujungnya berwarna pirang dan bergelombang.


Anna mengedipkan matanya beberapa kali merasa bingung apa Vanessa tak kena marah dengan rambutnya yang seperti itu?


Berbeda sekali dengan dirinya yang benar-benar simple, celana jeans biru, kaos lengan pendek yang ditutupi jaket Hoodie warna biru langit, rambutnya pun hanya dikuncir kuda seperti biasa.


Dan jangan lupakan kalau Anna hanya membawa koper kecil dan tas ransel nya yang satu kali lebih kecil dari tas yang biasa ia gunakan saat sekolah.


Pengarahan selesai dan Intan menyuruh mereka untuk berkumpul terlebih dahulu untuk memberikan label untuk bawaan masing-masing yang akan ditaruh dibagasi bus mereka.


"Gue cuma bawa satu buat masing-masing mengingat gue liat tas kalian cuma satu yang bakal ditaruh bagasi kan?"tanya intan sembari memberikan masing-masing satu label yang menjadi ciri kelompok mereka.


"Yup, koper doang yang bakal disimpen dibagasi, tas ransel bisa taruh ditempat yang diatas kursi itu"kata Putri yang diangguki yang lainnya.


Mereka pun bergegas menaruh koper mereka yang atas masukan Laras agar koper mereka saling bersisian dalam satu bagian agar mudah dan untungnya ada space yang cukup untuk koper mereka.


"Oke udah semua? Ayo naik"ajak Intan.


Kelompok mereka pun naik dengan diakhiri Anna yang naik terakhir setelah anggota kelompoknya, dilihat ketiga orang perempuan kelompoknya langsung duduk dikursi mereka yang ada didepan lantas tersenyum pada Anna dan tak lupa perkataan intan kalau ada apa-apa bisa chat dia yang diangguki Anna.


Anna pun ikut berjalan dengan para laki-laki anggotanya yang memang kursi mereka hampir dibelakang bus.


Anna melihat nomer nomer diatas kursi mencari kursinya, dan saat mengetahui dimana ia duduk tiba-tiba jantung dan perasaannya mulai tak enak.


Tempatnya duduk sudah ada yang mengisi disana dan yang mengisi adalah Vanessa dan Azriel. Anna kebingungan melihat kesana kemari melihat ke kursi yang kosong dan itu ada dibagian belakang yang dipastikan disana itu bukan kursi nomer 15 tapi kursi yang tertulis nomer 15 sudah ada yang mengisi.


Melirik kebelakang nya menatap teman-temannya yang duduk dikursi depan dan terlihat Putri yang terlihat bingung kenapa Anna tak duduk duduk juga dan malah terus berjalan seperti akan melewati kursinya.


"Anna!"panggil Putri.


Anna tak mendengar karena pikirannya sedang kacau karena ia takut duduk dibelakang yang dimana banyak sekali laki-laki yang duduk disana.


Pergerakan Anna terhenti saat ada tangan yang menahannya dan dilihat itu adalah tangan Azriel membuat Anna semakin bingung.


"Kenapa?"tanya Anna bingung sekaligus semakin gugup karena melihat Azriel yang berdiri dari duduknya dan melihat tatapan Vanessa yang begitu mengerikan padanya.


"Dipanggil tuh"kata Azriel bergeser dan memperlihatkan Putri dibelakangnya.


"Mau kemana? Ini kursi lo kan? Nomer 15"kata Putri menunjuk nomer dikursi yang diduduki Vanessa.


"Eh enak aja! Ini kursi gue tau!"sewot Vanessa.


"Nih liat! Ini punya Anna tertulis nomer 15 bus pertama!"bentak Putri sembari menunujukkan kertas kecil milik Anna.


"Bodo amat pokoknya gue pengen disini!"kata Vanessa kukuh.


Putri sudah jengah dengan cewek sok terkenal seperti Vanessa itu. Ingin sekali Putri jambak rambut melanggar aturan sekolah itu sekarang juga sambil memaki-maki cewek tak tahu diri itu.


"Vanessa!!!!"


"Kenapa?"tanya Intan kebingungan melihat ketuanya itu dibus mereka karena setahunya Dilan berada dibus ketiga yang satu bus dengan para guru pembimbing.


Vanessa gelagapan melihat Dilan yang mendekatinya dengan wajah yang begitu kentara menahan murka.


"Lo itu udah ngerusak acara sebelum kita berangkat! Balik ke bus Lo! Guru-guru udah jengah sama Lo tau! Balik!"kesal Dilan menarik tangan vanessa dan membawanya keluar dari bus tersebut.


Beberapa orang melongo tak paham, yang tak paham sepertinya hanya kelompok 15 kelompoknya Anna karena dilihat yang lainnya menghela lega karena keberangkatan mereka tidak akan ditunda lagi.


"Sorry oke, anggota kelompok kita yang satu itu emang rada rada, kelompok kita kebetulan kebagi dua 3 cowok dibus ini dan si dilan sama 3 cewek termasuk cewek tadi dibus tiga"kekeh seorang cowok yang duduk dikursi 17 dan diangguki cowok yang duduk dikursi 18 yang sepertinya mereka satu kelompok dengan Azriel yang dikelompok 13.


Putri mengangguk saja mengerti lalu melihat Anna yang masih diam saja sedari tadi. "Dah sana duduk, mau berangkat noh kita"kata Putri mengembalikan kertas nomer kursi Anna saat melihat seorang guru yang memang kebagian menjadi pengawas dibus tersebut yang ternyata duduk disebelahnya datang.


Ternyata disetiap bus ada gurunya, tapi di bus satu dan dua hanya ada satu guru untuk menjadi pengawas sekaligus yang mengabsen sedangkan di bus ketiga guru sisa yang juga menjadi pembimbing semuanya ada disana.


Mungkin kedatangan Dilan tadi karena sedang diabsen dan tak menemukan Vanessa dibus yang seharusnya ia berada.


"Absen, sudah waktunya kita berangkat"kata guru itu saat supir bus itu pun sudah siap.


Azriel menatap Anna. "Tas Lo simpen, Lo boleh duduk disamping jendela"katanya.


Anna mengangguk patuh buru-buru ia menaruh tasnya dibagian atas bus lalu bergegas duduk dikursi samping jendela dengan gugup karena Azriel yang duduk disebelahnya.


Entahlah rasanya Anna merasa kemping pertamanya akan sangat sulit untuk dilupakan.


***


Selama perjalanan bus terlihat ramai karena para murid yang saling mengobrol dan bercanda. Tapi tidak dengan Anna dan Azriel. Sejak bus bergerak mereka tidak mengeluarkan suara apapun, Azriel yang fokus bermain game diponselnya dengan earphone yang menyumpal kedua telinganya sesekali menguap karena merasa mengantuk dan Anna yang terlalu excited melihat suasana diluar bus, kebiasaannya jika duduk disebuah kendaraan disamping jendela.


"Gue ngantuk"keluh Azriel kecil sembari mengucek matanya yang berair diujung setelah menguap besar tadi.


Semalaman dirinya tak tidur karena mendengar ceramah dari sang bunda soal ini itu saat kemping nanti yang dilanjutkan dengan Azriel yang harus mengurusi beberapa pekerjaannya yang diam-diam ia kerjakan bersama dua sahabatnya Milan dan Arjuna.


Perkataan Azriel yang kecil itu terdengar oleh Anna yang membuat gadis itu tiba-tiba berceletuk refleks tanpa disadarinya sendiri karena gadis itu masih betah melihat ke jendela.


"Kalo ngatuk tidur, masih jauh juga"


Azriel bisa mendengarnya karena earphonnya terlepas satu membuat Azriel terkekeh samar dan mengangguk kecil dan mulai memejamkan matanya mencoba tidur karena ia juga sudah bosan bermain dan perjalanan masih sangat jauh.


Anna masih sibuk menatap suasana diluar bus dan tiba-tiba ia merasa haus, baru bergerak akan mengambil minumnya tiba-tiba Anna merasakan sesuatu terjatuh dibahu kirinya.


Melirik ragu kesana dan ia melihat rambut hitam legam yang sangat ia kenali milik Azriel. Menahan nafas dengan perlahan menyenderkan rapat tubuhnya kekursi berusaha tak membuat Azriel merasa tak nyaman karena ada pergerakan yang berakibat cowok itu terbangun.


Menghela saat posisi duduknya sudah nyaman bersender ke kursi dan tak ada tanda-tanda Azriel yang terusik.


Melirik ke ponsel Azriel yang hampir terjatuh dari atas pahanya kalau Anna tak gerak cepat mengambilnya dan memeganginya karena jika ditaruh kembali ke atas paha Azriel Anna berpikir handphone tersebut akan terjatuh lagi nanti.


Anna juga tanpa sadar dengan perlahan melepas earphone yang menyumpal telinga Azriel karena menurut kepercayaan nya memakai earphone saat tidur itu tak baik.


Menghela nafas panjang mempasrahkan diri menjadi bantal Azriel duduk tegak memalingkan wajahnya menatap jendela disampingnya sambil memegangi ponsel beserta earphone milik Azriel dikedua pahanya berharap agar laki-laki disampingnya itu tak sakit leher saat bangun nanti.