Millisanna

Millisanna
Bab 121



'Terjadi sebuah kecelakaan beruntun disepanjang jalan utama kota S, kecelakaan disebabkan oleh hilangnya kendali sebuah bus yang dikarena mengalami rem blong, bus tersebut menabrak sekiranya 20 mobil dan belasan motor yang sedang mengantri karena lampu merah..'


"Oke perhatian semuanya, mayoritas korban yang mengalami luka serius dan kritis akan dibawa ke rumah sakit ini, dari patah tulang, luka-luka, sampai yang mengalami serangan jantung akan dibawa kemari"kata kepala rumah sakit tersebut memberikan perintah pada para rekan dan bawahannya itu.


"Semua pasien akan datang dalam 10 menit bersiaplah"akhir kata kepala rumah sakit itu.


Anna mengangguk mengerti dan dirinya pun siap untuk menerima para pasien yang datang.


"Dokter Anna, kau akan melakukan operasi pada satu korban yang mengalami jantung bocor dan memiliki sebuah benda asing ditubuhnya, kau bersama dokter tulang akan menanganinya"kata kepala rumah sakit khusus pada Anna.


"Iya pak saya mengerti"


"Pasien datang!"


Rumah sakit dibagian UGD itu begitu ramai kala para petugas kesehatan membawa para korban ke rumah sakit, satu persatu korban diarahkan ke ruangan masing-masing sesuai dengan status luka mereka.


"Dokter Anna pasien mengalami kebocoran jantung–"jelas petugas medis pada Anna yang menghampiri pasien yang akan ditanganinya.


"Pasien mengalami henti jantung!"


"Aku akan melakukan CPR!"seru Anna yang langsung naik keatas brangkar dan mulai memompa dada korban.


"Bawa keruang operasi segera"suruh kepala rumah sakit.


Korban pun dibawa dengan Anna yang masih mencoba mengembalikan detak jantung pasien.


Trilit trilit.


Telepon rumah sakit kembali berbunyi dan kepala rumah sakit yang hendak memeriksa pasien lain sedikir terhenti karena dirinya harus mengangkat telepon tersebut karena dilihat tidak ada perawat yang berjaga disana karena semuanya sedang sibuk.


"Hallo rumah sakit Esparanca, saya kepala rumah sakit, ada yang–"


"Kebetulan pak kepala! Terjadi kebakaran hebat disalah satu hotel ternama di daerah U, para korban luka-luka serius akan dibawa kerumah sakit anda karena puskesmas disekitar sini tidak memiliki tenaga medis ahli yang dapat menanganinya dan lagi mereka kekurangan tempat karena banyaknya korban luka-luka"


Kepala rumah sakit itu syok mendengar penuturan ketua damkar kota S itu dan semakin menegang kala dari luar rumah sakit bisa ia dengar suara sirine beberapa ambulan datang.


Wiu wiu wiu.


"Sialan"seringai kepala rumah sakit itu karena sepertinya mereka semua akan benar-benar sangat sibuk.


***


"Dokter Ray aku sudah selesai, tolong lanjutkan, aku harus keruang operasi lainnya"kata Anna yang mundur setelah menyelesaikan bagian dari operasinya.


Ia telah selesai menghentikan kebocoran jantung dan juga telah berhasil mengeluarkan benda asing yang menusuk melubangi tangan kanan pasien yang bahkan sampai menembus tulang itu, kini giliran Ray sebagai dokter tulang.


"Ya tentu saja serahkan padaku, sebaiknya kau cepat"kata Ray santai menyuruh Anna karena sepertinya ponsel Anna kembali berbunyi karena panggilan untuk meminta bantuan si dokter.


Anna pun keluar dari ruang operasi tersebut dan bergegas menuju ruang operasi yang lain.


"Dia benar-benar luar biasa"gumam Ray seraya mengambil posisi untuk mengoperasi. Menatap kagum dengan hasil kerja Anna yang begitu bagus dan cepat itu.


"Tapi bukan kah dokter Anna membunuh temannya untuk menjadi seperti ini?"


Ray mengangkat wajahnya untuk menatap perawat yang membantunya dalam operasi dan itu membuat sang perawat mendadak kikuk karena ditatap datar oleh Ray.


"Oh benarkah?"kata Ray santai kembali menunduk melanjutkan kerjanya.


"Kurasa itu tidak ada hubungannya"lanjutnya santai.


***


"Pasien luka dalam yang mengalami hernia diafragma benar diruang operasi 3?"kata Anna pada perawat yang berjaga di meja informasi, mungkin hanya sebentar karena kelihatannya perawat itu akan kembali mengurus pasien.


Anna pun langsung pergi ke ruang operasi tiga. Sementara perawat yang sejujurnya adalah teman satu sekolah Anna itu hanya bisa menatap Anna kagum, ya sejujurnya ia kagum pada Anna karena gadis itu tumbuh menjadi wanita yang hebat dan luar biasa setelah masa sekolah yang begitu sangat mengerikan dulu.


"Permisi! Tolong anak ini! Sepertinya ada yang salah dengan paru-paru nya!"


Perawat itu pun beralih mendengar suara teriakan itu dan melotot tak percaya kala melihat sosok yang terlihat berantakan dan mengalami luka bakar ringan di beberapa bagian tubuhnya sedang mengurus anak kecil yang dibawa olehnya yang ditangani oleh rekan perawat lainnya.


"Astaga mata gue kayaknya mulai siwer gara-gara keramaian mendadak ini"keluh perawat itu menggeleng tidak yakin dengan penglihatannya.


"Perawat Sisil apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah mengurus pasien luka-luka kecelakaan?!"seruan seniornya membuat perawat bernama Sisilia itu tersentak sadar dan langsung meminta maaf pergi menuju pasien yang harus ia obati.


***


Anna selesai melakukan beberapa operasi dari korban kecelakaan sampai ke korban kebakaran sebuah hotel.


Keluar dari ruang operasi setelah selesai mengoperasi korban kebakaran yang memiliki luka bakar yang sangat serius yang juga mengalami penurunan kerja paru-paru yang sangat rendah.


Bersama dengan rekan-rekannya yang membantu operasi Anna mendorong brangkar pasien untuk dipindahkan keruang rawat.


"Dokter Anna, tolong bantuannya!"seru salah satu dokter kala melihat Anna yang selesai operasi itu.


Anna mengangguk dan pamit menyerahkan pemindahan pasien tersebut pada para perawat.


Pekerjaan Anna tidak selesai disana karena nyatanya para korban kebakaran hotel yang tidak mendapatkan tempat di puskesmas terdekat dialihkan kerumah sakit tempatnya bekerja itu.


"Ah perih hiks"ringis seorang wanita yang kesakitan kala Anna membersihkan luka bakar ditangannya.


"Maafkan aku, aku akan lebih pelan"kata Anna merasa bersalah.


Selesai mengobati pasien tersebut Anna beralih ke pasien lain diruangan lain karena sepertinya semua pasien diruangan itu telah selesai diobati.


"Heh kamu dokter! Apa kerjaanmu hah?! Kenapa saya tidak diperiksa?! Saya mengalami luka-luka lihat!!"cegat seorang pasien laki-laki pada Anna.


Anna memperhatikan pasien laki-laki itu yang kelihatannya sudah diobati dengan baik.


"Anda sudah diobati pak–"


"Kalau begitu berikan aku ruangan untuk beristirahat! Bukannya malah disuruh diam duduk disini!"kesal laki-laki itu.


Memang beberapa pasien yang mengalami luka ringan yang telah diobati dibiarkan duduk dijajaran kursi tunggu didalam rumah sakit dan tidak mendapatkan kamar perawatan karena banyaknya pasien yang tiba-tiba datang.


"Tapi pak luka anda sudah diobati dengan baik, anda bisa beristirahat di kursi yang dudukannya menggunakan busa disana"kata Anna menunjuk kursi untuk pasien yang tepat didepan ruang UGD disana.


"Apa kau menelantarkan pasien hah?! Dokter macam apa kau ini?!"marah laki-laki itu bahkan sampai menarik seragam operasi dan jubah dokter Anna.


Anna merasa dongkol, kenapa disaat seperti ini dirinya harus dihadapkan dengan pasien yang menyebalkan seperti ini.


"Tuan tolong bersabar, pasien saat ini cukup banyak dan banyak juga yang memerlukan penanganan lanjutan"kata perawat laki-laki yang membantu Anna.


"Kalau begitu masukan aku ke daftar pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan! Aku ini terluka!"


Buak. Bruk.


Orang-orang disana sontak memekik terkejut tertahan kala pasien laki-laki yang rewel itu terjatuh kelantai setelah seseorang memukul keras wajah laki-laki itu.


"Bagaimana? Mau lagi? Aku bisa saja membuatmu menjadi pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan dasar sialan!"kesal seseorang itu yang menghajar pasien laki-laki rewel itu siap akan menghajar pasien laki-laki menyebalkan tersebut.


Pasien laki-laki itu sontak menggeleng tidak mau dihajar oleh laki-laki itu. Laki-laki itu pun mendengus kesal dan melirik pada Anna yang mendadak mematung menatapnya seolah melihat hantu.


"Apa yang kau lihat?"