Millisanna

Millisanna
Bab 30



Kini giliran para siswi yang bertanding. Dan kali ini tim Anna dan Michelle melawan tim Melisa yang kali ini gadis itu ikut main karena merasa dirinya akan baik-baik saja, lagipula dirinya akan menjadi defender.


"Yah kayaknya tim gue gak ada harapan"kekeh Melisa saat mereka berjalan bersisian memasuki lapangan.


Anna yang mendengar pun hanya terkekeh merendahkan diri jika kedua tim seimbang.


Guru olahraga yang menjadi wasit bersiap meniup peluit dan melemparkan bola pertama untuk diperebutkan.


Anna bersiap untuk menjadi perebut bola untuk timnya, walau Anna dibenci teman-teman sekelasnya tapi jika urusan kompetisi seperti ini mereka semua mengandalkannya dan jika tim mereka kalah Anna yang akan disalahkan habis-habisan maka dari itu Anna tidak pernah setengah-setengah.


Pritt.


Anna mendapatkan bola pertama itu dengan lompatan tingginya yang diterima oleh salah satu anggota timnya yang langsung mendribble bola itu menuju keranjang lawan diikuti yang lainnya yang ingin merebut bola dan menghadang pergerakan si pembawa bola.


Anna berlari kencang dan dengan kedua tangannya yang ia naikkan seraya berteriak jika dirinya kosong tak ada yang menjaganya dirinya siap menerima pass.


Teman satu timnya itu pun langsung mengoper bola itu pada Anna yang ia terima dengan baik dan langsung berlari melesat ke arah tiang keranjang dimana disana ada Melisa yang menunggunya akan menghentikannya.


"Gue gak akan kalah lho ya"kata Melisa serius akan menghentikan Anna.


Anna yang melihat kesungguhan Melisa disana membuatnya tersenyum lebar merasa bersemangat, karena ini pertama kali untuknya ada orang lain yang terlihat menikmati permainan walau ada dirinya didalam pertandingan tersebut.


"Coba aja kalo bisa"semangat Anna tidak melambatkan laju larinya dengan percaya diri dan mudah dirinya menghindari Melisa dan memasukan bola ke keranjang lawan.


Poin untuk tim Anna dan Michelle. 2 - 0.


Azriel yang memperhatikan dari samping lapangan dengan anak-anak kelas yang lain dibuat tersenyum tipis ikut merasakan bahagia yang nampak dari senyum ceria Anna disana.


Dirinya pertama kalinya melihat gadis itu tersenyum selama bermain dalam pertandingan di jam olahraga. Karena seingatnya gadis itu tidak pernah tersenyum bahkan terlihat tidak menikmati pertandingannya dan malah terlihat sangat khawatir apalagi saat membuat kesalahan permainan gadis itu akan benar-benar hancur.


Entah apa yang dikhawatirkan Anna kala itu, namun kali ini ekspresi Anna benar-benar berbeda, gadis itu terlihat ceria dan percaya diri membuat Azriel tidak tahan untuk tidak tersenyum melihatnya.


Ternyata dengan adanya seorang yang terlihat menyukaimu itu akan sangat mengubah hidupmu.


Permainan dilanjutkan setelah untuk kesekian kalinya Anna mendapatkan skor untuk timnya.


"Hah hah Lo terlalu jago, gak adil"komentar Melisa dengan nafas terputus-putus hampir seperti saat dirinya kumat.


Anna hanya terkekeh tersenyum malu. "Kamu gak mau ganti? Nafas kamu udah putus-putus gitu"kata Anna sedikit khawatir dengan temannya itu.


"Gak ini cuma kecapean dikit, gue bertekad akan mengalahkan Lo Anna"kata Melisa bersemangat.


Anna mengangguk saja tersenyum dengan tekad yang diperlihatkan Melisa. "Jangan maksain oke?"yang diancungi jempol oleh Melisa sebagai tanggapan.


Dilain sisi Michelle menatap Anna tidak suka karena sedari tadi dirinya memperhatikan Azriel mata laki-laki itu selama pertandingan berlangsung senantiasa memperhatikan Anna bahkan dengan menampilkan senyuman tipisnya yang begitu tampan membuat Michelle kesal.


Sialan, harusnya gue yang diperhatiin, batin Michelle kesal.


Michelle yang bagian defender menatap punggung Anna yang menjadi forward itu. Kepalanya dipenuhi dengan rencana untuk mendapatkan perhatian Azriel, sampai matanya menyadari jika tatapan yang diberikan beberapa orang dari tim lawan sama sepertinya yang mana menatap tidak suka pada Anna.


Memperhatikan dengan serius dua diantara mereka yang saling berbisik-bisik disana Michelle mencoba memfokuskan pada gerak bibir mereka sampai dirinya mengetahui apa yang mereka rencanakan.


Mereka merencanakan akan bermain licik dengan membuat Anna cidera. Terlalu berlebihan hanya untuk sekedar pertandingan di pelajaran olahraga namun Michelle menyukainya.


Ia pun akan mengikuti rencana mereka dengan caranya sendiri yang akan menguntungkannya.


Pritt.


Permainan kembali dimulai untuk menit-menit terakhir, dan tentu saja tim Anna yang tetap mendominasi bahkan Anna semakin bersemangat karena permainan akan segera berakhir.


Anna berencana poin terakhir dan permainan berakhir.


Dirinya mendribble bola dengan semangat menuju keranjang lawan dengan dijaga oleh dua orang. Satu orang lolos dan satunya masih kukuh menjaganya membuat Anna sedikit kewalahan.


Dirinya pun berniat akan terlepas dengan sedikit bermain teknik yang sering ia lihat di film-film olahraga.


Membuat Anna refleks menjauhkan tangannya yang membawa bola menjauh dari jangkauan lawan yang mana malah menghantam Michelle yang ternyata ada disisinya yang lain membuat cewek itu terhantam tangannya yang membawa bola dengan keras.


Bugh. Bruk.


Michelle terjatuh ambruk pingsan dan Anna juga ikut ambruk seraya meringis kesakitan mencengkram pergelangan kakinya yang tadi sengaja diinjak lawannya.


Azriel yang paling pertama bereaksi terhadap kejadian itu berlari duluan memasuki lapangan hendak membawa Anna ke UKS segera namun guru olahraga nya salah mengira dan menyuruh Azriel yang terlihat bergerak duluan untuk membawa Michelle yang pingsan.


"Azriel tolong bawa Michelle yang pingsan ke UKS segera"perintah guru olahraga mutlak.


Azriel mengigit bibirnya dan mengepalkan kedua tangannya merasa dilema, nyatanya dirinya berlari untuk menolong Anna namun dirinya tidak bisa membantah perintah gurunya.


Dan hasilnya Azriel berjongkok untuk menggendong Michelle yang pingsan dan membawa cewek itu cepat menuju ruang UKS untuk segera mendapatkan pemeriksaan diikuti guru olahraga meninggalkan Anna yang meringis kesakitan disana.


Yang bahkan gadis itu mendapatkan cemoohan yang tidak seharusnya ia dapatkan.


"Gak usah pura-pura ikutan sakit Lo biar kita semua gak nyalahin Lo karena bikin Michelle pingsan"kata cewek yang nyatanya pelaku yang menginjak kakinya.


Anna terdiam mendengarnya bahkan rasa nyeri dikakinya mendadak hilang karena mendengar perkataan tersebut.


"Bangun Lo! Tanggung jawab bikin orang lain pingsan"kata yang lain.


Anna hanya bisa menunduk dan berdiri dengan sulit seperti yang mereka suruh.


"Ambisi boleh tapi jangan bikin orang lain celaka juga"tambah yang lain menghakimi dan meninggalkan Anna sendirian dilapangan.


Anna meremat ujung kaos olahraga gemetar. Dirinya memang salah karena telah membuat Michelle pingsan, dirinya memang pantas dibeginikan, ia menerimanya.


***


Azriel menaruh tubuh Michelle disalah satu ranjang kosong yang ada di UKS.


"Tungguin dia bentar, bapak cari dulu guru penjaga UKS nya"kata guru olahraga nya yang langsung berlari keluar UKS.


Dan selang beberapa detik muncul Melisa dan cewek temen sekelasnya yang lain yang masuk kedalam UKS.


Mengabaikan Michelle Azriel lebih memilih mendekati Michelle yang kepayahan karena sepertinya asma nya kambuh karena pertandingan tadi.


"Ini pakai inhaler"kata cewek yang membawa Melisa itu memberikan inhaler.


Azriel jadi ingat jika cewek itu juga seorang anggota ekskul PMR. "Sekarang Lo periksa dia sambil nunggu penjaga UKS yang lagi dipanggil pak Baron"kata Azriel menunjuk Michelle dengan tidak minat.


Cewek yang disuruh itu pun mengangguk saja setelah menyiapkan minum untuk Melisa yang terlihat sudah mulai enakan setelah memakai inhaler.


"Mau kemana Lo?"tanya Melisa saat melihat Azriel yang hendak pergi keluar itu setelah nafasnya mulai kembali teratur.


Azriel melirik Melisa sebentar dan menjawab pertanyaan gadis itu. "Anna juga luka"jawab Azriel singkat yang langsung melesat keluar UKS.


Melisa yang mendengarnya dibuat mengernyit, mungkin dirinya tidak terlalu memperhatikan karena tadi dirinya kumat dan langsung dibawa oleh cewek teman sekelasnya yang anggota PMR yang juga satu tim dengannya tadi.


Azriel berlari kembali ke lapangan namun tidak ada siapapun disana, membuat Azriel langsung melesat berlari ke kelasnya dan mendapati hanya ada beberapa anak kelasnya disana tanpa ada Anna diantara mereka.


"Yo Azriel gimana kondisinya Michelle dia baik-baik aja kan?"tanya salah satu dari mereka namun diabaikan Azriel karena laki-laki itu langsung kembali melesat pergi begitu melihat seragam Anna masih ada diatas meja gadis itu yang berarti gadis itu belum kembali ke kelas.


Tidak ada dilapangan, UKS juga kelas, berarti gadis itu mungkin ada di kantin.


Ya kantin karena gadis itu membutuhkan es untuk kakinya.


Berlari ke arah kantin Azriel semakin mempercepat larinya menuju tempat tersebut namun mengerem mendadak saat melihat sosok yang dicarinya ada disana taman samping kantin terduduk dibawah salah satu pohon dan terlihat kesakitan.


Azriel menghela nafasnya dan melangkah untuk menghampiri gadis itu.