
"Bagaimana ini?! Bang Jiel gak bisa ke deteksi"kesal Arjuna kala mencoba mendeteksi keberadaan Azriel dengan menggunakan chip yang ia taruh diponselnya Azriel tapi sepertinya laki-laki itu menghancurkan ponselnya agar tidak disa dilacak.
Aryan juga buntu karena dirinya memakai metode yang sama seperti Arjuna gunakan, dan berkahir lah dirinya hanya bisa menyuruh para bawahannya untuk mencari Azriel kemana pun secara manual.
Aryan juga meminta bantuan dari Amar yang juga merupakan ketua kepolisian negara itu.
Menenangkan istrinya yang mulai menangis sangat khawatir dengan keberadaan anaknya yang tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.
Milan menggigit bibir bawahnya dirinya juga buntu dan melihat situasi disekitarnya yang seperti ini membuatnya merasa tidak berguna.
Ck. Tanpa sadar darah mengalir dari mulutnya karena ia terlalu kuat menggigit bibirnya.
"Hey Lo bisa lacak ponsel Mili? Dia masih aktif"kata Aldres tiba-tiba saat memeriksa nomor Anna dan nomornya masih aktif walaupun panggilannya tak pernah diangkat atau pesannya yang tidak pernah dibalas.
Milan seperti mendapat jackpot dirinya pun langsung menyuruh Arjuna untuk melacak keberadaan Anna melalui aktifnya ponsel dan nomor si gadis.
"Ini sedikit rumit karena gue gak pasang chip tapi gue akan berusaha"gumam Arjuna karena otak dan jari-jarinya sedang bekerja serius untuk menemukan keberadaan Anna yang sedang diselamatkan oleh Azriel itu.
Klik. Triing.
"Ketemu!"seru Arjuna dirinya berhasil menemukan keberadaan ponsel Anna.
"Kirim ke gue sekarang, gue bakal pergi"kata Milan serius yang diangguki Aldres karena dirinya akan ikut dengan Milan.
"Enggak, gue juga ikut"kata Arjuna serius dan yakin dengan perkataannya.
Milan bimbang sedikit merasa takut jika harus membawa Arjuna, tapi melihat Arjuna yang sepertinya akan diam dan tidak memberitahukan lokasinya jika tidak diperbolehkan ikut membuatnya membuang-buang waktu maka dari itu Milan mengangguk mengizinkan.
"Oke"senang Arjuna seraya melepaskan ponselnya yang tersambung dengan CPU komputer Azriel yang ia gunakan untuk mencari keberadaan Azriel dan Anna itu, lokasinya sudah otomatis terkirim ke ponselnya.
Ketiga remaja laki-laki itu keluar dari kamar Azriel dan terburu-buru menuruni tangga bergegas untuk menyelamatkan teman mereka.
"Milan!"
Milan terhenti kala Aryan memanggil namanya, berbalik dan melihat Aryan yang menatap serius sahabat anaknya itu.
"Kau tidak perlu, biar bawahan ayah–"
Milan menggeleng. "Tidak ayah, biar aku mempertanggungjawabkan perbuatanku, karena akulah semua ini terjadi"kata Milan serius pada ayah Azriel itu lantas berbalik dan menyusul Aldres dan Arjuna yang sudah duluan.
***
Azriel melangkah memasuki rumah yang terlihat kosong dan berdebu itu. Rumah itu didalamnya sangat berantakan dengan banyak furniture yang rusak dan berdebu bahkan penerangannya tidak menyala.
Melangkah semakin masuk Azriel tertuju pada cahaya yang terlihat muncul dari pintu yang ada dilantai sebelah gupet tv dengan televisi besar itu yang jatuh pecah terbalik.
Tap.
Menunduk melihat pintu dilantai itu sepertinya jalan untuk menuju ruang bawah tanah. Ia buka pintu itu dan mendapati beberapa anak tangga yang terlihat karena sinar lampu dari sana yang menyala sepanjang lorong menuju ruang bawah tanah rahasia itu.
Tap tap.
Menuruni satu persatu anak tangga disana dan melangkahkan kakinya menyusuri lorong itu dan akhirnya dirinya berhenti dengan nafas yang tercekat kala menemukan wanita gila itu berdiri tersenyum miring menyambut kedatangannya.
"Kau datang untuk menjemput ku wahai pangeran ku?"kata wanita itu merasa senang menatap sosok Azriel yang datang.
Azriel sendiri menegang kala mendengar suara wanita itu masih sama seperti suara menyeramkan yang menjadikannya trauma.
Ia pegang kuat katana ditangannya dan mengarahkan katana itu pada sosok wanita disana dengan gemetaran.
Wanita itu terlihat tersenyum melihat Azriel yang begitu gemetaran dan kentara ketakutan disana.
"Apa ini? Apa pangeranku ingin menghabisiku? Memangnya kau punya keberanian? Lihat saja tanganmu gemetaran seperti itu, biar aku menenangkan mu"kata wanita itu tersenyum dan hendak mendekati Azriel.
"Diam! Jangan bergerak!"teriak Azriel dengan nafas terburu-buru memasang sikap waspada pada wanita itu yang hendak mendekatinya itu.
Wanita itu menuruti Azriel dan kembali berdiri tegak disana menatap Azriel.
Ternyata dirinya masih merasa takut dengan wanita didepannya itu.
"Dimana Anna?!"teriak Azriel menanyakan tentang gadis yang sedang ia cari.
"Keterlaluan sekali kau pangeranku, jelas-jelas aku ada dihadapan mu kenapa kau mencari orang lain? Apalagi mencari gadis yang sudah meninggalkan mu dulu?"
Azriel menegang, keseluruhan masa lalu nya kembali muncul dan dengan serentak menyerangnya membuat kepalanya sangat nyeri.
"Akh"ringis Azriel memegangi kepalanya dengan satu tangannya yang bebas.
"Hei bagaimana jika kita membuat kesepakatan"kata wanita itu kembali mendekat membuat Azriel yang sedang menahan nyeri kepalanya dengan kekuatan yang tersisa mengacungkan katananya mencegah wanita itu semakin mendekat.
"Apa maumu?"kata Azriel membuat wanita itu semakin melebarkan senyumannya.
***
Ceklek.
Pintu ruangan yang digunakan untuk menyekap Anna dibuka lebar dan muncullah Azriel yang langsung mendekat pada Anna yang terlihat sangat mengerikan itu.
"Anna?!"seru Azriel yang berjongkok untuk memeriksa kondisi Anna yang terlihat mengerikan dengan kedua matanya yang tertutup.
"Anna sadarkan diri Lo! Lo harus pergi!"kata Azriel terburu-buru melepaskan ikatan dikedua tangan dan kedua kaki Anna.
Anna mengernyitkan dahinya bertanda kesadarannya kembali dan perlahan membuka matanya dan melihat ada Azriel dihadapannya.
"Azriel hiks maafin Anna, Anna ninggalin Azriel dulu harusnya Anna gak pergi ninggalin Azriel hiks hiks"kata Anna menangis keras meminta maaf pada Azriel.
Azriel tersenyum mendengarnya sepertinya gadis itu telah mengingatnya seperti dirinya juga yang telah mengingat masa lalunya dengan jelas dan benar.
"Heh jal*** kecil pengganggu sebaiknya kau cepat pergi sebelum aku berubah pikiran"dari ambang pintu yang terbuka lebar itu muncul wanita bermata biru dalang dari semua kejadian ini.
Anna terjengit menegang terkejut melihat sosok itu yang muncul dengan refleks Anna maju dan melindungi Azriel dibelakang nya walau dirinya juga ketakutan setengah mati dan sempat tersungkur karena kedua kakinya yang luka tapi dirinya tetap akan melindungi Azriel dari wanita gila itu karena Azriel adalah incarannya.
Wanita gila itu memutar mata malas dan mendengus geli Anna yang melihat seperti hendak membunuhnya itu.
"Anna Lo harus pergi"kata Azriel yang berada dibelakang Anna menyuruh Anna untuk pergi.
Anna sontak berbalik menatap Azriel syok.
Anna menggeleng, dirinya tidak mau lari sendiri lagi karena terakhir kali ia lari sendiri semuanya kacau.
"Enggak! Azriel juga harus ikut"kata Anna memaksa Azriel untuk ikut pergi bersamanya.
Azriel tersenyum tipis melihat bagaimana gadis itu sangat mengkhawatirkannya. Maka dari itu ia mengulurkan tangannya meraih wajah gadis itu yang kembali menangis menempelkan dahi satu sama lain dan menenangkan si gadis.
"Lo harus pergi Anna, cari bantuan dan tolongin gue hm"kata Azriel memberikan alasan untuk Anna agar gadis itu mau pergi sendiri.
"Tapi hiks–"Anna sudah menangis sesegukan ia takut kejadian yang lampau akan kembali terjadi kali ini juga.
Dirinya takut dirinya gagal kembali mencari bantuan untuk menolong Azriel seperti saat mereka masih kecil.
"Lo pasti bisa nolongin gue, gue percaya sama Lo"kata Azriel masih mencoba meyakinkan Anna sembari menghapus deraian air mata si gadis yang mengalir.
"Ya?"tanya Azriel untuk memastikan gadis itu mengikuti perintahnya.
Anna menggigit bibirnya kuat menahan tangisan nya seraya mengusak wajahnya menghilangkan tangisannya mengangguk dirinya akan mengikuti perkataan Azriel.
Dirinya akan membawa bantuan untuk menyelamatkan Azriel.
Azriel tersenyum senang mendengarnya ia kembali menarik wajah gadis itu dan memberikan kecupan singkat dibibir sang gadis dan menyuruh gadis itu untuk pergi.
"Nah gue mengandalkan Lo Millisanna"