Millisanna

Millisanna
Bab 132



Sisilia yang baru saja kembali dari bagian loker staff perempuan karena gagal mengajak Anna datang ke reuni mendadak terdiam dan syok saat dirinya melewati lobi untuk pergi ke UGD itu.


Di lobi dirinya melihat sosok yang tidak disangka-sangka sedang beradu argumen dengan dokter Ray dan setelahnya setelah dokter Ray disuruh pulang oleh direktur rumah sakit sosok itu pergi mengikuti direktur rumah sakit berjalan dihadapannya naik ke lantai dua menuju ruangan direktur.


"Astaga apa mata gue udah rabun?!"keluh Sisilia yang sontak mengucek-ngucek matanya memastikan jika dirinya tidak salah lihat.


Karena dirinya merasa melihat seseorang yang telah mati dengan tidak terduganya mendadak muncul dihadapannya dalam keadaan sangat sehat bahkan semakin tampan dan keren.


"Astaga astaga"gumamnya masih tak percaya dan bergegas menuju UGD, dirinya harus mencari Anna, ya dirinya harus memberitahu Anna apa yang telah ia lihat barusan.


Membuka pintu masuk UGD dengan tidak santai Sisilia langsung mencari sosok Anna mengabaikan beberapa rekan kerjanya yang menatapnya bingung.


Sisilia menyisir semua tempat dan sudut UGD dan mendapati Anna sedang memeriksa pasien di salah satu ranjang disana.


Dengan bergerak cepat Sisilia pun menghampiri Anna dan mengatakan apa yang ingin ia katakan itu.


"Anna Lo pasti gak percaya!"kata Sisilia heboh.


Anna tidak terkejut dan terkesan tidak peduli sedangkan perawat yang menyertainya mengobati pasien yang memar-memar parah karena terjatuh dari sepeda itu terkejut dan memusatkan perhatian pada Sisilia begitu pula si pasien.


"Ada apa?"cuek Anna karena serius dengan luka dilutut pasien.


"Lo pasti beneran gak akan percaya sama apa yang bakal gue bilang ini!"kata Sisilia masih kukuh.


Anna memutar mata malas benar-benar mengabaikan Sisilia sedangkan perawat dan pasien yang penasaran pun menuntut Sisilia untuk segera berbicara dan berhenti membuat mereka penasaran.


"Sebenarnya apa yang mau kamu sampaikan sih?"sebal wanita berumur yang menjadi pasien itu lelah sendiri yang diangguki oleh perawat yang membantu Anna menyetujui.


Sisilia jadi kikuk sendiri namun dirinya benar-benar akan menyampaikan nya kali ini.


"Azriel masih hidup na! Gue yakin! Tadi gue liat orangnya di lobi tadi! Gila makin ganteng aja"kata Sisilia menggebu-gebu dan tidak menyangka Azriel benar-benar menjadi berkali-kali sangat tampan sejak waktu sekolah dulu.


Anna yang mendengarnya sedikit terhenti pergerakannya dalam mengobati itu namun kaget Anna bukan karena kabar Azriel yang masih hidup tapi karena mendengar laki-laki itu sedang berada disini.


"Siapa Azriel mbak?"tanya si perawat junior yang baru bergabung dan ditempatkan di rumah sakit tersebut beberapa hari ini pada Sisilia.


"Itu loh cowok yang katanya di bunuh sama Anna waktu masih sekolah–ups"perkataan Sisilia sontak terhenti kala menyadari dihadapannya itu ada Anna namun menyeringai kala dirinya mungkin saja bisa menggunakan hal ini untuk menjatuhkan Anna dan juga keluar dari ancaman yang diberikan oleh Michelle padanya.


"Iya cowok yang dibunuh Anna dulu nyatanya masih hidup, untungnya dia hidup tapi gak menutup mata kalo Anna ini dulu emang buat cowok itu benar-benar dalam kondisi akan mati"kata Sisilia begitu santai berucap.


Perawat baru itu terkejut mendengarnya dan melirik dokter Anna takut-takut, tidak menyangka dokter hebat dan terkenal seantero dunia dalam bidang kesehatan itu ternyata telah melakukan sesuatu yang mengerikan.


"Perawat Sisil apa yang sedang kau lakukan? Menyebarkan rumor tidak benar? Kau ini perawat atau ibu-ibu komplek?"peringat Maria sang kepala perawat.


Sisilia terjengit terkejut kala mendapatkan peringatan dari Maria itu ditambah dengan pelototan tajam dari wanita dengan dua anak itu.


"Berhenti berbicara bohong, kau ambil beberapa perban dan obat sana, stok disini mulai menipis"perintah Maria.


"Perawat Hani kau bisa melanjutkannya dengan memperban semua luka yang telah aku obati, aku akan pergi untuk memeriksa pasien diruang ICU"kata Anna menyerahkan sisanya pada perawat baru itu.


"Ah ya dokter, serahkan padaku"kata Hani sedikit terkejut dan menerima perintah Anna.


Anna mengangguk dan pergi keluar dari UGD menuju ruang ICU begitu saja meninggalkan Maria dan Hani yang menatapnya.


"Astaga"keluh Maria mendadak merasa lelah, melihat pada Hani yang terjengit karena terkejut tiba-tiba dilihati oleh Maria itu.


"Kau jangan percaya dengan rumor yang tidak mendasar ya"kata Maria sebelum pergi pada Hani.


Perawat baru itu mengangguk saja mengerti dengan gugup.


"Iya mbak, jangan gampang percaya, menurut pengalaman saya yang hidup lebih lama dari kalian, perawat yang tadi itu pastinya iri sama dokter tadi, saya yakin mbak"kata pasien ibu-ibu itu serius.


Hani yang mendengar perkataan pasien itu pun hanya terkekeh kikuk mengangguk dan mulai memperban semua luka di pasien.


***


Clang.


Anna mengambil minuman kalengnya yang ia pilih itu dari mesin minuman yang ada dikoridor menuju ICU itu.


Membukanya dan menenggak satu kali dan setelahnya melamun begitu saja.


Dirinya hanya tidak menyangka akan secepat ini kembali mendengar nama Azriel dan bahkan laki-laki itu ada disini.


Jika dihitung sudah lebih dari tiga bulan sejak Anna berhasil mengoperasi dan mengangkat tumor pada Azriel dan mendengar laki-laki itu ada disini dan dalam keadaan sehat berarti operasinya berhasil. Anna merasa lega dan senang mendengarnya.


Mengangkat tangan kirinya yang dihiasi sebuah gelang tali yang sejujurnya ia dapatkan saat kejadian mengerikan waktu dulu.


Sepertinya ia tidak sadar saat itu saat dirinya terkejut mendapati Azriel mendorongnya untuk menyelamatkannya dirinya tidak sengaja meraih gelang tali berwarna hitam yang selalu dikenakan Azriel itu membuatnya putus dan sebagian dari gelang itu ada padanya.


Gelang yang dijadikan Anna sebagai pengingat betapa mengerikannya dirinya karena membuat Azriel meninggal dan membuatnya selalu mengingat bagaimana kejamnya orang-orang karena merasa marah padanya yang telah membuat Azriel meninggal.


Semuanya akan kembali teringat kala Anna menatap gelang tersebut. Gelang yang sedikit ia modifikasi dengan menambahkan kaitan dan juga pernak-pernik hiasan berbentuk permen tongkat dengan dua sosok anak kecil diantarnya itu benar-benar seperti tempatnya ia menyimpan segala kisah masa lalunya.


"Gelang yang lucu"


Anna terjengit kala mendengar seseorang yang berceletuk dibelakangnya itu dan orang tidak dikenal itu hanya tersenyum saja melihat Anna yang terkejut itu.


Anna ditengah kagetnya bertanya-tanya siapa laki-laki yang tiba-tiba muncul dan berkata seperti itu padanya itu.


Laki-laki itu semakin memperlihatkan senyumannya. "Hai Millisanna, aku Ravi dan aku ingin meminta maaf padamu"