Millisanna

Millisanna
Bab 108



Aldres duduk disisian atas loteng rooftop salah satu gedung terbengkalai menatap langit yang terlihat suram tanpa bintang sedikitpun karena polusi ibu kota yang menutupi keindahan langit yang harusnya cerah itu.


Membiarkan angin malam menerpanya Aldres melamun menatap langit memikirkan tentang sesuatu yang benar-benar membuatnya sangat kepikiran.


Karena dirinya baru teringat akan sesuatu dan dirinya akan memastikannya dari seseorang yang bahkan tidak disangka-sangka nya.


Tap.


Aldres menurunkan pandangannya dan melihat orang yang ditunggunya akhirnya datang juga, orang itu menatapnya dengan tidak santai membuatnya terkekeh keki.


Lagipula jika bukan karena masalah ini dirinya sebenernya tak ingin berurusan dengan orang itu.


"Yo! Lama juga Lo, macet huh?"tanya Aldres pada orang itu sekedar basa-basi tanda keramahan dari dirinya yang dengan tulus tidak berpikir untuk mencari masalah, dirinya hanya ingin mendapatkan sebuah fakta.


"Gak usah basa-basi sialan! Apa mau Lo?!"balas orang itu tidak suka dengan orang yang bertele-tele.


Aldres mendengus mendengar kearoganan orang itu, yah mau bagaimana lagi laki-laki itu kan memang memiliki kepribadian yang buruk.


"Jujur sama gue, Lo kenal sama Mili dari kecil kan?"tanya Aldres pada laki-laki itu.


"Jawab gue Azriel!!"lanjut Aldres kala laki-laki itu tidak menjawab pertanyaannya dan hanya diam.


***


Anna duduk di meja belajarnya tidak belajar karena lagi-lagi dirinya hanya diam melamun menatap jepit rambutnya yang dimilikinya saat masih kecil dan tidak menyangka jika sepasang jepit itu ternyata kembali lagi padanya disaat dirinya menginjak usia remaja dan juga dua orang yang memberikan padanya masing-masing satu pasang.


Anna tatap satu persatu jepit itu dan dirinya menyadari sesuatu. Salah satu jepitnya terasa berbeda dan yang berbeda itu adalah warna pada bunga yang seharusnya berwarna merah muda pudar karena sudah berumur namun dijepit tersebut terlihat gelap dan kotor(?).


Anna mencoba mengusap membersihkan hiasan bunga itu dengan jarinya dan benar saja warna gelapnya sedikit hilang dan warna merah muda terlihat.


Anna tatap noda hitam di ibu jarinya yang tadi ia gunakan untuk membersihkan noda itu, merasa aneh Anna pun mencoba membauinya dan dirinya bingung saat mencium bau karat tapi bukan karat biasanya lebih seperti bau darah yang telah mengering.


Anna terkejut kala mendapati fakta tersebut dan ia pun menyadari dibagian telapak tangannya bekas memegang jepit itu pun ada noda hitam kering yang sama seperti tadi.


Apa ini, apa jepit ini dulunya berlumuran darah?


Dilihat satu yang lainnya bersih saja tidak ada rontokan dari noda darah yang kering menghitam itu.


Anna mencoba mengingat masa lalunya namun tidak ada yang bisa merujuk pada akibat dari jepitnya yang berlumuran darah itu.


Lagipula siapa yang memberikan jepit tersebut padanya, Anna tidak tahu siapa yang memberikan jepit tersebut Azriel atau Aldres, dia tidak tahu.


Anna jadi menyesal kenapa dirinya tidak ingat-ingat jepit mana yang diberikan Aldres atau Azriel padanya saat itu.


"Hah lagipun kenapa Anna merasa ada yang dilupain?"gumam Anna merasa nyeri kepalanya kala dirinya mencoba untuk mengingat suatu yang ia rasa sangat penting namun sudah ia lupakan sejak lama.


***


Menunggu Azriel yang terlihat tidak akan menjawab itu membuat Aldres mendengus sebal, kalau begitu biar dirinya cari tahu sendiri saja, tapi sebelum itu ada yang ingin ia sampaikan pada laki-laki itu.


"Heh Azriel!"panggil Aldres dan itu membuat Azriel berjengit terkejut yang berarti laki-laki itu melamun membuat Aldres makin dibuat kesal.


Walau begitu dirinya sudah yakin akan berbicara pada laki-laki itu. "Heh Lo, sini"suruh Aldres menepuk nepuk tempat disebelahnya untuk menyuruh Azriel mendekat.


Azriel sudah duduk disebelah Aldres dengan jarak satu jengkal keduanya terdiam sebentar memandang kedepan dengan kedua kaki yang menggantung menikmati angin malam yang menerpa mereka.


"Lo tau, Mili dulu anak yang pendiam dan manis, bokap nyokap gue yang bawa Mili kerumah saat itu, saat itu Mili dibawa karena gadis itu jadi korban pelecehan seksual oleh beberapa oknum polisi dan juga hampir menjadi korban pembunuhan karena saat Mili kabur dia ditembak dipunggungnya yang jika sedikit lebih kekiri gadis itu benar-benar akan mati ditempat karena peluru tepat pada jantungnya"kata Aldres panjang memulai ceritanya.


Azriel hanya diam mendengarkan.


"Dulu gue benci banget sama Mili karena gadis itu mencuri semua perhatian orangtua juga abang gue saat dia dateng"lanjut Aldres mulai mengingat masa lalu.


"Semua gue lakuin atas ketidaksukaan gue itu, mengabaikan, menjahili, bahkan menyakiti Mili gue lakuin semua, tapi Lo tau apa yang dilakuin Mili kecil?"tanya Aldres melirik ke arah Azriel yang juga melihat kearahnya.


"Tapi di suatu malam, disaat semua orang tertidur gue melihat sesuatu yang membuat gue benar-benar merasa bersalah karena udah jahat sama dia"


Saat itu di tengah malam Aldres kecil merasa butuh ke toilet dirinya bahkan langsung tersadar dan bergegas ke kamar mandi.


Setelah selesai dari kamar mandi Aldres akan kembali ke kamarnya namun terhenti kala dirinya menyadari jika kamar yang digunakan Mili tidur sedikit terbuka, Aldres pun mencoba mengintip disana dan melihat diatas ranjang Mili yang terlihat menangis lirih memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya disana.


Pertama kali Aldres melihatnya dirinya tidak peduli, namun di malam berikutnya saat dirinya melihat kembali kedalam kamar yang sedikit terbuka itu terlihat Mili yang semakin keras menangisinya dan juga sesekali bergumam tidak jelas.


Dan Aldres pertama kali merasa bersalah, ya dirinya merasa bersalah mungkin karena gadi sore dirinya terlalu mendorong kuat gadis kecil itu sampai terjerembab membuatnya kepala belakang nya terbentur dan juga kedua sikunya yang berdarah.


Pasti karena itu Mili menangis seperti sekarang. Aldres yang merasa bersalah pun berpikir untuk meminta maaf pada Mili karena dirinya merasa sangat bersalah.


"Um Mili.."cicit Aldres kala dirinya masuk kedalam kamar Mili.


"Pergi!! Lepasin!! Kalian jahat!! Pergi!!"teriak Mili tiba-tiba histeris dan beringsut turun dari ranjang dan pergi ke sudut meringkuk gemetar ketakutan.


Aldres yang melihatnya pun semakin merasa bersalah, karena Aldres berpikir seruan itu untuk dirinya, maka dari itu Aldres mendekat dan akan meminta maaf dengan betul.


"Mili maafin Al, Al bersalah, Al–"


"Afha!! Ii minta maaf! Ii yang salah harusnya Ii gak ninggalin Afha!! Afha baik-baik aja kan?"


Aldres kecil terkejut kala Mili tiba-tiba bergerak mendekat padanya memegang kedua tangannya dengan tangan kecilnya yang gemetar dan juga tangisan yang semakin histeris.


"Mili–"


Plak.


"Pergi!!! Lepasin!!"histeris Mili menjauh dari Aldres setelah mengenyahkan tangan Aldres yang akan menggapai wajah kecil Mili berniat menghapus air mata gadis itu.


Aldres tidak tahu apa yang terjadi dengan Mili tapi dirinya merasa ketakutan bahkan dirinya sudah mulai menangis takut melihat kondisi Mili yang seperti nya berubah-ubah.


"Hiks.. mama!! Papa!!!"teriak Aldres kecil ikut menangis kencang karena takut akan kondisi gadis dihadapannya itu.


"Al!! Kenapa?!"seru Gio yang muncul duluan lalu diikuti orangtuanya.


Gio langsung menggendong adiknya yang menangis itu dan kedua orangtuanya terlihat sedang menenangkan Mili yang lagi-lagi dalam kondisi seperti itu.


"Pergi!! Ii gak mau!!"berontak Mili kala kedua orangtua Aldres mencoba mendekat menenangkannya.


"Tenang sayang, ini ayah, gak usah takut berhenti nangisnya kasian kamunya"kata ayah tenang memberikan pendekatan yang terkesan aman agar Mili luluh dan sadar jika dirinya bukan para pelaku yang melecehkan gadis itu.


Ya Mili mengalami trauma parah sejak kejadian itu membuatnya setiap malam selalu terjaga dengan keadaan histeris seperti ini.


"A-ayah?"kata Mili ragu.


"Iya nak, ini ayah, ibu juga ada, semuanya ada disini buat lindungin Mili jadi gak apa-apa hm?"kata ayah tenang.


Perlahan Mili kecil pun berhenti menangis dan melangkah untuk memeluk ayahnya dan terjatuh pingsan dalam dekapan ayah Aldres.


"Sejak malam itu bokap nyokap mutusin buat ngehilangin ingatan tentang insiden itu dengan metode hipnotis ke psikiater, tapi gak disangka ternyata Mili masih inget aja sama insiden itu ya walau pun gak sehisteris kayak dulu tapi gue masih kasian kalo inget Mili punya kenangan buruk kayak gitu di masa lalunya"kekeh Aldres merasa miris.


Tak ada sahutan dari Azriel karena laki-laki itu sejak tadi hanya menunduk menatap kosong ke arah bawah.


"Ah ya gue baru inget kalo dulu Mili gak bisa ngomong L tapi nyebut nama gue Al dia bisa"kekeh Aldres jadi merasa lucu sendiri.


"Karena itu dulu Mili manggil dirinya sendiri Ii karena susah nyebut L"kata Aldres merasa sangat bernostalgia.


Tidak menyadari jika orang disebelahnya sudah banyak berkeringat dingin dan juga nafasnya yang mulai semakin cepat.