Millisanna

Millisanna
Bab 138



Ray masuk ke bagian UGD dengan terburu-buru kala dirinya selesai menyalin pakaiannya dengan seragamnya langsung pergi ke meja perawat dimana disana ada Maria si kepala perawat.


"Aku dengar Anna akan membawa pasien yang tulang rusuknya patah juga kedua tulang kakinya begitu?!"kata Ray si dokter tulang terburu-buru.


"Iya, mungkin 10 menit lagi helikopter yang membawanya akan segera tiba"kata Maria serius.


Ray mengernyit, apa dirinya tidak salah dengar tadi? Sebuah helikopter? Memangnya–


"Mereka sudah datang, sebaiknya persiapkan brangkar"kata Ravi yang memotong pemikiran Ray itu pada Maria.


Maria pun mengangguk dan menyuruh beberapa perawat untuk bersiap memindahkan pasien karena pasien akan segera di operasi.


Ray sendiri hanya mengikuti mereka dengan bingung sampai dirinya menyadari ada suara baling-baling helikopter yang semakin terdengar jelas.


Helikopter yang dimaksud terlihat akan mendarat di lapangan samping gedung rumah sakit membuat semua yang ada disekitarnya tersapu oleh angin yang dihasilkan oleh baling-baling helikopter.


Helikopter mendarat dengan sempurna dan para perawat bersama dengan Maria juga Ravi bahkan Ray pun segera mendekati helikopter itu yang pintunya dibuka dan memperlihatkan Anna dan pasien yang siap dipindahkan.


"Ruang operasi telah siap kan?"tanya Anna pada Maria.


Kepala perawat itu mengangguk dan bersama mereka mengikuti pasien yang dibawa disana.


"Bagus, Firman kau pergilah ke adik mu, dia ada di ruang anak kan?"kata Anna pada si bocah laki-laki dan Maria mengangguk mengerti dirinya akan menjaga kedua bocah itu kala ibu mereka sedang di operasi.


"Dokter Ray–"


"Aku disini, aku kira pasien lebih gawat dari yang aku lihat dalam laporan"kata Ray memotong perkataan Anna dan berjalan disamping si gadis.


"Ya, aku juga merasa seperti itu, maka dari itu kita harus segera melakukan operasi"kata Anna serius.


Ray mengangguk saja mengerti dan keduanya bersiap untuk melakukan operasi, menyelamatkan satu nyawa yang lainnya.


***


Azriel sampai di rumah sakit dengan selamat dan sudah disambut oleh Ravi di parkiran rumah sakit, kebetulan sekali jadi dirinya tidak perlu susah payah mencarinya untuk ia marahi.


Melepas helmnya ingin sekali ia lempar pada wajah orang paling ia percaya itu namun urung dan berkahir hanya bisa membentak laki-laki itu.


"Bukankah sudah kubilang jangan Anna?! Kau tidak mendengarkan?!"marah Azriel.


Ravi hanya menunduk dan meminta maaf pada sang tuan, dirinya tidak bisa berkutik karena Anna langsung saja naik dan melayangkan argumen yang membuatnya tidak bisa membantah.


"Maafkan saya, ini kesalahan saya"kata Ravi merasa menyesal.


Azriel mendengus mendengarnya, mau lanjut marah pun sudah terlanjur, semuanya sudah terjadi. Dan untungnya tidak ada hal yang terjadi.


"Dia masih melakukan operasi?"tanya Azriel pada akhirnya seraya memberikan pengamannya pada Ravi.


"Ya, kurasa sudah mencapai akhir dari bagian operasi, sedikit meleset dari waktu yang diperkirakan"kata Ravi.


Azriel berhenti dalam kegiatannya melepas pengaman nya menatap Ravi. "Operasinya gagal?"tanya Azriel merasa jantungnya berhenti kala mengucapkan hal tersebut.


Ravi menggeleng tersenyum. "Tentu saja berhasil, Anna sangat handal dan ahli, sedikit meleset karena nyatanya ada luka lain yang tak terduga dan juga memerlukan operasi"jelas Ravi.


***


Azriel masuk ke gedung rumah sakit berjalan menuju lorong ruang operasi dan melihat Maria yang menemani dua bocah yang sedang menunggu ibunya di operasi.


"Kerja bagus untukmu tuan"kata Maria pada Azriel yang datang.


"Bukan masalah"kata Azriel santai lantas melirik pada kedua bocah yang terlihat sangat khawatir itu.


Berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan kedua bocah yang duduk dikursi koridor depan ruang operasi yang lampunya masih menyala itu tanda operasi masih berlangsung untuk menenangkan kedua bocah itu.


"Tenang saja, ibu kalian itu sedang dirawat oleh dokter hebat, kalian tau sendiri kan dokter gadis itu sangat hebat"kata Azriel.


Keduanya mengangguk mengerti walau mereka masih merasa sangat kahwatir dengan kondisi ibu mereka didalam sana.


Mereka menunggu dengan cemas pintu ruang operasi itu terbuka dengan lampu diatas pintu itu padam.


Azriel sendiri tidak kalah cemas dengan kedua bocah disampingnya itu. Anna harus berhasil dalam operasinya kali ini, jika tidak Azriel akan sangat marah dan tidak terima jika Anna tidak mau membantunya mengembalikan ingatannya yang hilang.


Gadis itu sudah berjanji dan Azriel sangat percaya pada gadis itu yang pasti akan menepati janjinya.


Ting.


Lampu diatas pintu padam membuat mereka yang menunggu semakin cemas dan penasaran dengan hasil operasi, mereka semua mendekat kala melihat Anna keluar dari sana bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"Dokter Anna, ibu kami?"tanya Firman langsung pada Anna.


Anna menatap kedua bocah itu yang terlihat sangat khawatir dan cemas itu, dirinya akan sangat merasa bersalah jika dirinya gagal dalam melakukan operasi.


Tersenyum Anna pada mereka. "Operasi ibu kalian berhasil, semuanya akan baik-baik saja selama ibu kalian dirawat intensif di rumah sakit ini"kata Anna menjelaskan.


Kedua bocah yang mendengarnya tidak bisa menutupi betapa bahagianya mereka bahkan keduanya sudah menangis sesegukan berterimakasih pada Anna.


Anna sendiri pun merasa lega kala dirinya kembali berhasil menyelamatkan satu nyawa lainnya karena operasi yang dilakukannya.


Melihat pada Azriel laki-laki itu tersenyum bangga padanya membuat Anna pun mau tak mau mengembangkan senyumannya.


"Baiklah anak-anak bisa ibu meminta kalian untuk mengisi beberapa berkas untuk perawatan ibu kalian?"tanya Maria pada kedua bocah itu.


Keduanya mengangguk mengerti dan dibawa pergi oleh Maria untuk mengisi berkas.


Azriel memberikan gestur menyuruh Ravi untuk mengikuti mereka yang diangguki oleh Ravi yang mengerti.


Lalu atensinya sepenuhnya kembali pada Anna. "Jangan lupa janjimu"kata Azriel langsung.


Anna yang mendengarnya hanya menghela nafas saja. "Ya tentu saja"kata Anna menyanggupinya.


Keduanya pun pergi bersama tidak menyadari Ray yang berada dibelakang mereka menatap mereka dengan tatapan tidak percaya.


"Apa yang gue liat tadi? Bukannya mereka saling membenci?!"serunya tidak percaya.