Millisanna

Millisanna
Bab 150



Sreeet.


Mobil yang dikendarai Azriel berhenti begitu saja disisi jalan belakang mobil para bawahannya disana.


"Kenapa kalian diam? Tidak mencari gadis dokter itu apa?!"seru Azriel murka begitu keluar dari mobilnya menghampiri pada bawahannya.


Para bawahan itu terkejut bukan main dan benar-benar sangat terkejut dengan kedatangan Azriel, karena bukannya tidak masuk akal dari ibu kota sampai kesini hanya memakan waktu dua jam setengah bahkan jika keadaan jalanan yang normal pun akan memakan waktu sembilan jam lamanya namun tuan mereka itu dengan gilanya bisa sampai disini hanya dalam waktu dua jam.


"Anu kami sedang mencoba mencari mobil yang membawa nona Millisanna tuan, plat nomor yang digunakan ternyata plat nomor palsu dan juga GPS juga penyadap yang kami simpan diponsel nona Millisanna dibuang oleh si pelaku beserta dengan tas milik nona Millisanna"jelas salah satu dari mereka memberikan laporan sambil memperlihatkan tas milik Anna yang mereka dapatkan.


Azriel menggeram kesal dirinya harus mencari cara lain untuk menemukan si gadis dokter itu. Banyak sekali yang ingin ia tanyakan dan pastikan, Azriel tidak akan terima jika gadis dokter itu mati sebelum memberitahukan semuanya.


"Kenapa kita selalu saja mengalami kasus penculikan seperti ini sih, saat itu wanita gila bermata biru pelakunya dan sekarang dua laki-laki yang bahkan tidak dikenal?"celetuk salah satu bawahannya disana yang langsung disikut oleh pimpinannya memberikan peringatan dengan melirik Azriel.


Azriel sendiri yang mendengarnya hanya memperhatikan para bawahannya itu yang sontak saja mengalihkan pandangan mereka tidak menatap dirinya.


Seolah diingatkan Azriel sontak mengeluarkan ponselnya dan memeriksa sesuatu disana. Dan benar saja titik merah yang menandakan itu adalah Renata tunangannya dan titik merah itu menunjukkan jika Renata sedang ada di kota dimana dirinya berada sekarang.


Untuk apa wanita blasteran itu berada di kota ini? Setahunya wanita itu tidak memiliki kerabat di kota ini, dan lagi kenapa lokasi yang diperlihatkan tengah berada di tempat terbengkalai yang merupakan sebuah bangunan dari pabrik bekas.


Oke ini benar-benar mencurigakan.


Azriel pun sontak kembali masuk kedalam mobilnya dan langsung menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan para bawahannya itu yang syok sendiri.


"Cepat kejar dan ikuti mobil tuan Azriel!"seru pemimpin mereka yang tersadar jika mereka harus segera mengejar Azriel.


***


Splash.


Anna mengernyit kala merasakan tubuhnya basah karena dibanjur dan perlahan kesadarannya pun kembali.


"Ish"meringis kala merasa nyeri dikepalanya namun saat ingin menyentuh lukanya kedua tangannya tidak bisa digerakkan begitu juga dengan kedua kakinya.


Anna yang sudah sepenuhnya tersadar memperhatikan jika dirinya diikat disebuah kursi dan berada ditengah-tengah ruangan yang begitu luas namun terkesan terbengkalai dengan banyaknya lubang-lubang disetiap sisi, atap, dinding, bahkan lantainya yang membuat jadi genangan karena kemarin hujan.


Selesai memperhatikan sekitar Anna meluruskan pandangannya pada seorang wanita yang terlihat berdiri dengan ekspresi begitu congkak sembari melipat kedua tangannya didada.


"Tidur nyenyak putri tidur?"kekeh wanita itu melangkah mendekati Anna dan sosok itu pun terlihat jelas kala sinar bulan yang masuk kedalam bangunan itu menyinari si wanita.


Wanita yang Anna kenal sebagai tunangannya Azriel, tapi tunggu Anna tidak tahu siapa nama wanita didepannya ini.


"Maaf tapi sepertinya aku melupakan namamu, atau mungkin kau memang tidak memberitahukan namamu?"kata Anna tidak berniat untuk memanas-manasi dirinya murni bertanya.


Namun sepertinya wanita itu memiliki kesabaran setipis tisu dibagi 10 karena bukannya menjawab siapa namanya wanita itu malah memukul tangan Anna dengan tongkat baseball yang dibawanya.


Duak!


"Kau benar-benar menyebalkan ya, sudah tau Azriel adalah milikku tapi kau dengan tidak tahu dirinya mencoba mendekati Azriel?! Mau mengulang kisah lama kalian hah?!"berang wanita itu kembali memukuli kedua tangan Anna bergantian.


Buk buk buak!


Anna hanya bisa menjerit kesakitan, dirinya tidak bisa apa-apa karena dirinya terikat. Berteriak histeris sampai menangis karena kesakitan dan juga ketakutan.


Wanita itu melukai tangannya, miliknya yang paling penting karena dirinya adalah seorang dokter, dokter tanpa tangannya adalah bohong apalagi dirinya yang seorang dokter bedah, akan sangat mustahil melakukan operasi tanpa kedua tangannya.


"Akh! Kumohon! Argh! Sakit! Hentikan! Jangan tanganku kumohon!!!"seru Anna nelangsa.


Duak!


"Seperti yang kau inginkan"kekeh Renata begitu puas menghajar samping wajah Anna dengan tongkat baseball nya.


Wajah Anna dibuat berpaling dan terasa sangat nyeri dengan aliran darah yang mengalir karena hantaman benda tumpul itu.


"Aku sudah tau sejak awal jika kau akan menjadi halangan untukku mendapatkan Azriel seutuhnya"kata Renata memainkan tongkat baseball nya.


Anna sendiri hanya menunduk, pandangannya mengabur setelah kepalanya kembali dihantam itu.


"Seharusnya sejak awal kau harusnya mati, tapi karena kakak sepupuku itu sangat payah jadi dia yang mati bukan kau"keluh Renata.


Anna yang mendengar perkataan wanita itu pun sontak mengangkat wajahnya menatap Renata syok.


"Kenapa? Terkejut? Tidak perlu terkejut karena aku memang adik sepupu dari wanita gila bermata biru yang membuat hidupmu dan Azriel dimasa lalu sangat kesulitan"kekeh Renata begitu terhibur dengan ekspresi yang diperlihatkan oleh Anna itu.


"Dunia memang kecil kau tau, aku saja jatuh cinta pada Azriel karena tak sengaja menemukan buku diary kakak sepupu gila ku itu, lalu saat aku ingin menanyakan soal Azriel padanya ternyata dia sudah mati duluan karena jatuh kejurang setelah membuat Azriel sekarat dan kau hampir mati"kata Renata mulai bercerita.


"Sedikitnya aku menyerah untuk mengetahui Azriel namun seperti takdir Azriel tiba-tiba muncul dihadapan ku sebagai murid baru disekolah ku dan yang paling membuatku bahagia adalah karena dia hilang ingatan!"seru Renata merasa sangat bahagia.


"Karena Azriel yang bilang ingatan membuat laki-laki itu mudah untuk didekati dan aku yang berhasil mendapatkannya setelah kusingkirkan para j*l*ng yang mencoba untuk mendekati Azriel juga"kekeh seram Renata mengingat bagaiman usahanya untuk mengenyahkan para wanita disekolahnya yang hendak mendekati Azriel dan teringat bahkan beberapa dari mereka sampai kehilangan nyawanya membuat Renata benar-benar tertawa terbahak.


"Hahahaha aku ingat bagaimana para j*l*ng itu yang tidak tahan akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri"kekeh Renata merasa lucu sendiri namun tiba-tiba berhenti tertawa dan menatap Anna begitu tajam.


"Tapi aku tau ingatan Azriel mungkin lambat laun akan kembali dan aku tidak bisa mencegahnya, namun aku bisa melakukan hal lain yaitu dengan mengenyahkan wanita yang dicintainya sejak awal"kata Renata dengan seringaiannya yang begitu mengerikan.


Klak.


Anna melotot terkejut kala Renata menodongkan pistol mengarahkan padanya siap akan menembaknya kapan saja.


"Kau tidak boleh membenci ku karena ini, karena sejak awal salah mu sendiri kenapa kau lah yang dicintai Azriel"kata Renata.


"Awasi selalu aku dan Azriel yang berbahagia dari neraka. Bye j*l*ng"


Dor!