
"Afha apa kamu liat adiknya Ii'? Dia ilang Ii' disuruh cari sama mama"
Gadis kecil itu meringkuk memeluk kedua kakinya menaruh kepalanya di bahu Alfha.
"Maaf aku gak liat"kata Alfha merasa bersalah.
Si gadis kecil melihat Alfha yang melihatnya dengan perasaan bersalah, namun si gadis kecil juga jadi merasa bersalah, karena tidak mungkin dengan kondisi Alfha dirinya bisa melihat sang adik.
Si gadis kecil sepenuhnya menghadap Alfha menatapnya dengan sungguh-sungguh menggenggam tangan kecil Alfha dengan tangannya yang lebih kecil.
"Afha ayo keluar, Ii' bantu ayo, diluar ada pasar malam lho ayo kesana"kata gadis kecil itu bersemangat.
Alfha tersenyum saja mengangguk walau dirinya merasa putus asa karena bagaimana dirinya bisa keluar, sudah berkali-kali ia mencoba keluar namun selalu gagal dan berakhir terluka.
Si gadis yang melihat Alfha nya mengangguk ingin keluar juga dirinya pun mencoba mencari cara untuk melepaskan semua ikatan yang mengikat kaki dan tangan Alfha membuat anak itu tidak bisa bergerak.
Melihat ke segala penjuru ruangan berantakan dan berdebu itu si gadis kecil mencari sesuatu yang bisa dirinya gunakan untuk melepas ikatan Alfha.
Dirinya tidak tahu apa namanya yang digunakan untuk mengikat Alfha namun itu sangat sulit dilepaskan dan malah membuat tangannya luka jika memaksanya dibuka hanya dengan tangannya.
Alfha memperhatikan si gadis kecil yang terlihat berjalan kesana kemari itu menyusuri setiap sudut ruangan mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk membuka ikatan Alfha.
Si gadis kecil merasa kesal sendiri karena tidak menemukan sesuatu yang tajam untuk memotong ikatan tersebut.
Mengusak rambutnya lelah sampai dirinya sedikit terjengit karena tangannya merasa nyeri terkena jepit rambut yang digunakannya.
Seperti mendapatkan ide gadis kecil itu melepas jepit rambutnya dan berlari kearah Alfha seraya tersenyum sumringah karena berpikir dirinya bisa menolong Alfha.
Alfha memperhatikan si gadis yang bersusah payah memotong ikatannya itu dengan jepit rambutnya, terlihat tidak berhasil namun gadis itu kukuh semakin menggosok kuat bagian tajam jepit rambut itu untuk memutuskan ikatannya.
Alfha mengernyit saat melihat, bukannya terputus namun jari si gadis yang malah terluka tersayat oleh jepit rambut itu.
"Berhenti!"seru Alfha mendorong tubuh si gadis untuk menghentikan pekerjaannya menyakiti dirinya sendiri.
Si gadis kecil terkejut karena teriakan juga dorongan Alfha yang menghempaskannya. Matanya mulai memanas dan berakhir menangis.
"Hiks.. hiks"
Alfha jadi merasa bersalah karena bertingkah kasar pada si gadis dirinya tidak berniat seperti itu, dirinya hanya ingin menghentikan usaha si gadis untuk melepas ikatannya yang malah menyakiti dirinya sendiri.
"Ii' maaf bukan maksud Alfha–"
Si gadis semakin menangis disana. Si gadis merasa tidak berguna dan usahanya tidak membantu apa-apa dirinya hanya ingin keluar dengan Alfha pergi ke pasar malam tapi dirinya tidak bisa membantu apa-apa untuk si anak laki-laki.
"Maafin Ii', Ii' gak bisa lepasin ikatan Afha hiks.. hiks.."
Tiit tiit tiiitt.
Azriel perlahan membuka matanya merasakan aliran air yang keluar mengalir dari matanya. Berkedip-kedip menyadarkan diri sepenuhnya dan aliran air mata itu semakin mengalir membuatnya mengerang sebal.
Meringkuk kesamping menutup wajahnya mencoba menghentikan air matanya namun malah semakin menangis.
Kenapa dirinya harus memimpikan itu, kenapa dirinya jadi ingat kembali dengan si gadis kecil yang meninggalkannya itu.
Harusnya ia melupakan si gadis yang jahat itu karena meninggalkannya disana, kenapa juga dirinya selalu memimpikan kebersamaan mereka dulu, kenapa?
Tok tok.
Suara ketukan pada pintu kamarnya menginterupsi Azriel dan setelahnya terdengar suara bundanya.
"Jiel sayang, bunda sama ayah mau pergi keluar negeri lagi beberapa minggu, kamu mau dirumah aja apa tinggal dirumah kalian bersama Milan juga Arjuna, nanti bunda minta mereka buat nemenin kamu"
Tak ada jawaban membuat sang bunda berpikir anaknya itu sedang dikamar mandi dan tak mendengarnya membuatnya berpikir akan ia tanyakan kembali saat sarapan nanti.
***
Brum bruumm.
Motor Azriel memasuki kawasan sekolah dan terparkir diparkiran ditempat biasa ia memarkirkan motornya.
Dirinya pergi sendiri karena dirinya sudah mendingan dan juga dirinya pergi duluan setelah sarapan tidak menunggui Milan.
Melepas helm dan mengusak rambutnya merapihkannya seraya menghela nafas, mendapat mimpi tentang si gadis kecil itu membuatnya merasa lelah sendiri.
Memang seharusnya dirinya tidak mengingat-ingat tentang si gadis kecil itu jika pada akhirnya dirinya selalu seperti ini.
"Azriel"
Azriel terkejut karena Anna yang tiba-tiba muncul dibelakangnya yang baru saja turun dari motornya itu, tidak menyangka gadis itu akan menyapanya seperti ini.
Memperhatikan si gadis yang terlihat berbeda, gadis itu menggerai rambutnya dan menghiasinya dengan jepit rambut.
Cantik, batin Azriel terpana dengan sosok Anna.
Namun perlahan dalam pandangannya sosok Anna perlahan jadi seseorang yang berbeda. Seorang gadis dengan dress berwarna biru mudanya sedang menangis.
"Kakak kok nangis?"
Gadis dengan pakaian bagus itu menghentikan isakannya dan menatap dirinya. "Kakak diledekin sama temen-temen kakak, kata mereka kakak jelek"kata gadis itu tersedu-sedu.
Menggeleng tidak setuju dengan perkataan gadis itu. "Enggak kok, kakak cantik"
Dan dari kata itu tidak disangkanya akan membawanya pada kemalangan yang berdampak padanya hingga sekarang.
"Azriel"
Berkedip pandangannya kembali dengan sosok Anna yang memanggil namanya untuk kedua kalinya oleh Anna yang terlihat kebingungan melihatnya yang tiba-tiba melamun.
"Hm?"pada akhirnya Azriel membalas panggilan Anna itu.
Anna terlihat merogoh saku seragamnya dan menyodorkan jepit rambut yang sengaja ia selipkan di handuk yang diberikannya pada Anna kemarin.
"Ini kayaknya punya Azriel maaf kemarin main pake aja"kata Anna merasa bersalah dan mengembalikannya pada Azriel.
"Buat Lo aja"kata Azriel merasa karena jepit itu dirinya jadi mengingat-ingat hal yang seharusnya ia lupakan, biar saja jepit milik si gadis kecil yang menghilang itu ikut menghilang, Azriel tidak mau lagi diingatkan dengan masa lalu nya.
Anna mengangguk saja berterimakasih sekaligus meminta maaf karena sepertinya Azriel marah karena dirinya menggunakan barang milik laki-laki itu tanpa permisi.
"Kalo gitu makasih"kata Anna kembali memasukan jepit itu ke sakunya dan berjalan duluan ke kelas.
"Lo–"
Berhenti berjalan dan berbalik karena Azriel yang sepertinya memanggilnya Anna menunggu laki-laki itu melanjutkan kalimatnya.
"Lo bakal ngegerai rambut Lo seharian?"tanya Azriel tidak disangka-sangka pertanyaan itu akan keluar dari mulutnya.
Mengangguk Anna menjawabnya. "Iya disuruh Melisa, dia bilang katanya Anna lebih cantik kalo rambutnya di gerai"kata Anna santai namun sedetik kemudian dia merasa malu dengan perkataannya sendiri yang seolah mengiyakan jika dirinya lebih cantik saat rambutnya tidak diikat seperti kata Melisa.
Azriel yang mendengarnya tak bisa menahan kekehannya dan hal itu membuat Anna semakin malu karena merasa Azriel menertawai kepercayaan dirinya.
"Kalo udah ketemu Melisa terus gerah bakal diiket kayak biasanya"kata Anna gelagapan memperlihatkan karet rambutnya yang melingkar dipergelangan tangannya seraya pergi berjalan cepat menuju kelas untuk kabur karena malu.