
Ckiiitt.
Mobil yang dikendarai oleh Anna berhenti tepat didepan bagian unit gawat darurat membuat beberapa penjaga disana terkejut karenanya.
"Tolong segera siapkan brangkar!"seru Anna yang keluar dari mobil itu memutari bagian depan mobil untuk membukakan pintu disebelah Azriel yang sudah tak sadarkan diri.
Para perawat yang berjaga pun datang dengan brangkar yang diminta oleh Anna.
"Satu– dua!!" Azriel pun dipindahkan keatas brangkar.
"Pak tolong parkirkan"kata Anna menunjuk mobil Azriel pada penjaga untuk diparkirkan diparkiran.
Si penjaga yang dimintai tolong oleh Anna yang langsung menghilang dibalik pintu yang tertutup bersama para perawat membawa pasien hanya bisa melongo menatap super car yang digunakan Anna itu.
"Kamu tau cara ngendarainnya?"tanya si penjaga pada temannya.
"Kalo caranya sama kayak mobil kijang sih saya bisa"kata temannya itu.
"Cari di internet aja kali ya"kata si penjaga mengeluarkan ponselnya.
"Iya pak daripada kita harus ganti rugi kalau tuh mobil rusak"sahut temannya setuju dan kedua penjaga UGD itu pun mendadak belajar mengenai mobil super yang dikeluarkan oleh Porsche.
***
"Satu– dua!!"
Tubuh Azriel telah dipindahkan ke ranjang rawat yang ada di UGD itu. Para perawat sontak memasangkan masker oksigen kala merasa nafas Azriel semakin lemah.
"Kondisi fitalnya stabil namun cukup lemah"kata salah satu perawat kala melihat kondisi pasien yang ada pada layar monitor alat yang dihubungkan pada tubuh pasien untuk memonitor kondisinya.
"Oke itu tidak masalah, dia kehilangan banyak darah. Berikan aku suntikan, dan cari tahu tipe darahnya"kata Anna yang sudah mengunakan sarung tangan karetnya meminta salah satu perawat untuk memberikan apa yang dimintanya.
Berhasil mendapatkan sampel darah Azriel perawat yang menerimanya pun langsung pergi untuk mengeceknya dan akan kembali dengan beberapa kantong darah yang dibutuhkan.
"Lakukan CT scan juga, sepertinya ada yang salah dengan kepalanya, aku akan berganti baju"kata Anna pada perawat disana.
"Oh jangan lupa hubungi keluarganya"kata Anna dan pergi untuk berganti pakaian.
Salah satu perawat pun mencari ponsel yang sepertinya ada diantara salah satu saku dipakainya si pasien, dan dirinya mendapatkan disalah satu saku depan celana si pasien.
Sekedar informasi rahasia mereka yang menjadi ahli medis atau yang bekerja di rumah sakit memiliki wewenang untuk mencari tahu tentang pasien mereka entah diberitahu oleh pasien sendiri atau mereka yang mencari tahu dari barang-barang milik pasien jika pasien dalam kondisi yang tidak bisa memberitahu tentang nya pada mereka.
Dan ponsel adalah salah satu barang paling penting untuk mencari tahu tentang pasien karena dari ponsel mereka bisa saja langsung menghubungi keluarga pasien, mereka juga memiliki wewenang untuk mencari tahu sandi ponsel pasien –jika mengunakan sandi– dengan menghacknya.
Sandi ponselnya telah terbuka dan si perawat akan mencari kontak keluarga si pasien yang biasanya langsung mencari nama-nama keluarga inti, entah itu orang tua, kakak atau adik.
Namun terhenti kala melihat lock screen yang digunakan si pasien.
"Hey kenapa sangat lama?"kata rekan perawat nya yang tida mengerti dengan dirinya yang tiba-tiba berhenti itu.
"Pasien ini, siapanya dokter Anna dah?!"seru si perawat terkejut dan sontak memperlihatkan layar ponsel si pasien pada rekannya.
Rekannya yang memeriksa pun tidak kalah terkejutnya dan sontak melihat si pasien yang dilihat sekilas pun sangat tampan.
Karena wallpaper yang digunakan si pasien adalah foto yang sepertinya diambil saat mereka masih sekolah dan difoto tersebut terlihat si pasien mencium pipi dokter Anna yang terlihat memakai seragam atlet bela diri.
"Astaga kenapa dunia ini sungguh tidak adil, yang cantik sama yang ganteng, terus gue yang buruk begini sama yang buruk juga gitu?"keluh si perawat meratapi nasibnya.
***
Anna selesai berganti pakaian dengan seragam dokternya, dan berjalan menuju meja perawat penjaga UGD.
"Hasil CT scan pasien yang dibawa dokter Anna telah selesai"lapor perawat disana.
"Apa Azriel– maksud ku apa pasien itu sudah mendapatkan transfusi darahnya?"tanya Anna disela serius mendalami CT scan yang ada dilayar laptop dihadapannya itu.
"Iya, stok darah disini cukup banyak"kata perawat.
Anna mengangguk mengerti dan semakin menajamkan pandangannya fokus pada sesuatu yang terlihat seperti gumpalan dibagian otak kiri Azriel.
"Tumor yang cukup besar"
Anna berbalik dan melihat Ray yang sudah memakai pakaian santainya itu tersenyum padanya. "Kau disini? Ku kira kau setelah dari rumah orangtua mu kau akan langsung packing untuk pulang besok"kata Ray.
"Ah ya, ada suatu hal"kata Anna kembali melihat ke layar laptop.
Seperti yang dikatakan Ray tadi Azriel memiliki tumor didalam kepalanya diotak bagian kanannya dan hal itu membuat Anna kembali mengingat kejadian lampau.
Apa tumor itu muncul dari cidera yang dialami Azriel saat kecelakaan waktu itu?
Anna terdiam, mungkin dirinya tidak membuat Azriel meninggal namun dirinya membuat laki-laki itu hidup dengan sulit, bagaimana bisa Azriel bertahan dengan tumor yang hampir menjadi sebuah kanker itu.
Astaga Anna kau selalu saja membuat susah orang lain.
Ray yang menyadari perubahan raut wajah Anna menjadi terlihat ketakutan itu membuat Ray merasa khawatir.
"Anna–"
Titiitititititit.
Anna dan Ray sontak siaga saat mendengar suara dari alat pendeteksi keadaan pasien.
"Pasien di ranjang nomor 36 mengalami syok hipovolemik!"seru perawat yang menjaga pasien.
Anna sontak bergegas karena Azriel menempati ranjang yang disebutkan.
"Segera pindahkan keruang operasi, panggil dokter anestesi dan juga siapkan kantong darah tambahan"kata Anna serius pada para perawat.
Salah satu perawat akan segera memanggil dokter anestesi namun dihentikan Anna sementara.
"Dan juga panggil kepala UGD, aku akan melakukan pengangkatan tumor"kata Anna serius pada si perawat.
Orang-orang disana terkejut mendengar perkataan Anna itu.
"Tapi Anna kau bahkan belum pernah melakukan pengangkatan tumor dan lagi pasien ini mengalami syok hipovolemik! Kau gila?!"seru Ray syok mendengar keputusan Anna.
Anna menatap Ray serius. "Tidak apa-apa, karena aku harus menepati janjiku untuk menyelamatkan nya"kata Anna.
"Segera bawa keruang operasi"
Perawat pun mendorong brangkar pasien tersebut diikuti Anna menuju ruang operasi meninggalkan Ray yang mematung ditempatnya.
"Ada apa denganmu? Kau tidak biasanya seperti ini"gumam Ray.
Brakk.
Ray melirik pada pintu masuk ruang UGD yang terbuka tidak santai itu dan memperlihatkan beberapa orang disana yang langsung menuju ke meja perawat penjaga.
"Permisi saya ayah dari pasien bernama Alfhazriel, dimana dia sekarang?"
Ray menatap datar beberapa orang disana terlebih pada seorang wanita yang sepertinya ibu dari si pasien yang akan melakukan operasi itu sudah menangis karena syok mendengar anaknya masuk keruang operasi.
Ray pun melirik pada seorang laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya menatapnya tajam.
Apa-apaan tatapannya itu?batin Ray mengernyit tidak suka pada laki-laki itu.